Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — Jangan Pergi
“Aku ga bakal biarin lo sendirian.”
Kalimat itu terdengar pelan.
Namun cukup membuat dada Naresha terasa sesak.
Di tengah ruangan gelap penuh darah dan bisikan menyeramkan…
Suara Arven justru menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap tenang.
Cowok itu menggenggam tangan Naresha erat.
Hangat.
Berbanding terbalik dengan dinginnya hawa di sekitar mereka.
Penjaga terus melangkah perlahan mendekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara langkah beratnya menggema di seluruh ruangan.
Setiap langkah membuat simbol merah di lantai menyala semakin terang.
Dan bisikan-bisikan di kepala Naresha semakin keras.
“Pengikat…”
“Berikan dia…”
“Dia milik kami…”
Naresha memejamkan mata kuat-kuat.
“Kepala gue sakit…”
Arven langsung menarik Naresha sedikit menjauh dari lingkaran merah.
“Jangan dengerin mereka.”
Namun Pak Damar justru berjalan perlahan mendekati Penjaga.
Tatapannya tenang.
“Percuma melawan.”
Arven langsung menatap pria itu tajam.
“Bapak bener-bener gila.”
Pak Damar tersenyum tipis.
“Kamu pikir aku menikmati semua ini?”
“Kalau ga menikmati kenapa lo lanjutin?!”
Suara Arven menggema penuh emosi.
Untuk pertama kalinya…
Cowok itu benar-benar kehilangan kesabarannya.
Pak Damar terdiam beberapa detik.
Lalu perlahan menatap Penjaga.
Tatapannya berubah kosong.
“Karena dulu aku juga gagal menyelamatkan seseorang.”
Deg.
Naresha langsung menoleh.
Ekspresi pria itu mendadak terlihat lelah.
Tua.
“Dulu aku pikir aku bisa menghentikan semuanya,” lanjutnya lirih. “Tapi Penjaga selalu meminta korban.”
Sunyi.
Evelyn menatap Pak Damar dengan air mata hitam perlahan jatuh dari matanya.
“Kamu bohong…” bisiknya pelan.
Pak Damar memejamkan mata sesaat.
“Waktu itu aku ga punya pilihan.”
“KAMU PUNYA!”
Suara Evelyn tiba-tiba berubah menjerit.
Ruangan langsung bergetar keras.
Bayangan hitam bergerak liar di dinding.
“Kamu bilang aku bakal selamat!” tangisnya. “Kamu bilang semuanya bakal berhenti!”
Deg.
Naresha langsung membeku.
Tatapannya perlahan beralih ke Pak Damar.
Dan pria itu…
Tidak menyangkalnya.
Arven mengepalkan tangan kuat-kuat.
“Lo jebak dia…”
Pak Damar menunduk pelan.
“Awalnya aku memang percaya ritual itu bisa dihentikan.”
“Tapi ternyata?”
Pak Damar tersenyum pahit.
“Sekali Penjaga bangun… dia ga akan berhenti.”
Sunyi.
Penjaga kini berdiri tepat di depan lingkaran merah.
Tubuhnya yang tinggi membuat seluruh ruangan terasa kecil.
Dan walaupun tidak memiliki wajah…
Naresha bisa merasakan makhluk itu sedang menatapnya.
“Mendekat…”
Suara banyak orang keluar dari tubuh Penjaga sekaligus.
“Terima ikatan…”
Naresha refleks mundur.
Namun tiba-tiba tubuhnya terasa berat.
Kakinya sulit digerakkan.
“Astaga…”
Simbol merah di lantai mulai bersinar sampai ke bawah kakinya.
Seolah menariknya masuk.
Arven langsung memegang tubuh Naresha.
“Sha!”
“Aku ga bisa gerak…”
Pak Damar menegang melihat itu.
“Cepat…”
Tatapannya berubah panik untuk pertama kali.
“Kalau ikatannya selesai sekarang, semuanya terlambat.”
Arven langsung menatap pria itu penuh amarah.
“BUKA CARANYA!”
Pak Damar terlihat ragu beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata pelan,
“Buku itu…”
Tatapannya mengarah ke buku hitam tua di lantai.
“Harus dihancurkan sebelum ritual selesai.”
Deg.
Naresha langsung teringat ucapan Evelyn sebelumnya.
Kalau buku itu hancur…
Penjaga akan hilang.
Tapi para pengikat juga akan lenyap.
Arven menatap buku itu lama.
Rahangnya menegang.
Sementara Evelyn perlahan mundur.
Tatapannya dipenuhi ketakutan.
“Jangan…” bisiknya lirih.
Air mata hitam jatuh di pipinya.
“Aku ga mau hilang…”
Dan mendengar suara itu…
Naresha merasa dadanya sakit lagi.
Ia tahu Evelyn menderita.
Tahu perempuan itu sudah lama terjebak.
Namun tetap saja…
Membayangkan Evelyn menghilang selamanya terasa menyakitkan.
Penjaga tiba-tiba mengangkat tangannya ke arah Naresha.
“Pengikat baru…”
Suara itu menggema keras.
Simbol merah mulai merambat ke kaki Naresha seperti akar hitam.
Tubuhnya semakin dingin.
Pandangan mulai kabur.
“Ven…”
Arven langsung memegang wajah Naresha pelan.
Tatapannya panik.
“Hey. Lihat gue.”
Naresha berusaha fokus menatap cowok itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia melihat ketakutan besar di mata Arven.
Bukan takut pada hantu.
Tapi takut kehilangan dirinya.
“Jangan pergi…” bisik Arven lirih.