NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:340
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih di tengan badai

Kita flashback sebentar ke beberapa bab sebelum kekacauan tol Banten terjadi, di mana getaran aneh antara Arka dan Hana sebenarnya baru mau dimulai.

Malam itu hujan deras ngguyur Jakarta. Gue baru aja selesai latihan fisik buat stabilin energi naga perak gue yang sering bergejolak semenjak kepergian Baron. Badan gue pegal semua, dan gue mutusin buat neduh di balkon markas ruko sambil sebatang rokok.

SREK.

Suara langkah kaki super halus terdengar dari belakang gue. Nggak perlu nengok juga gue tahu itu siapa. Cuma Hana yang bisa jalan kayak hantu tanpa suara. Dia dateng pake hoodie hitam kebesaran, rambut ekor kudanya agak basah kena cipratan air hujan.

"Belum tidur lu?" tanya gue, ngebuang asap rokok ke luar balkon.

Hana nggak langsung jawab. Dia jalan ke pembatas balkon, natep rintik hujan dengan pandangan kosong. "Nggak bisa tidur. Setiap merem, gue selalu denger suara Kian."

Gue terdiam. Kehilangan Kian emang pukulan telak buat dia, sama kayak gue kehilangan Baron. Kita berdua ini cuma dua orang patah hati yang dipaksa kuat oleh keadaan.

"Lu harus lepasin pelan-pelan, Han. Kian udah tenang," kata gue pelan, nyoba buat jadi pendengar yang baik kayak yang sering Leo bilang.

Hana tiba-tiba nengok ke arah gue. Di bawah remang-remang lampu balkon, mukanya yang biasa judes keliatan rapuh banget. "Gampang buat lu ngomong, Arka. Lu punya Nadia. Lu punya tempat buat pulang. Sedangkan gue? Dari kecil cuma tahu cara bunuh orang. Begitu Kian ilang, dunia gue kosong."

Gue natep matanya yang mulai berkaca-kaca. Insting gue langsung gerak sendiri. Gue maju selangkah, lalu nepok pundaknya pelan, nyoba ngasih kekuatan. "Lu nggak sendiri, Han. Ada gue. Ada Leo. Selama gue masih hidup, Serigala Putih bakal selalu jadi rumah buat lu."

Hana terpaku. Dia natep tangan gue di pundaknya, terus beralih natep muka gue dari deket. Jarak kami deket banget sekarang, sampai gue bisa ngerasa napasnya yang agak memburu.

Mendadak, suasana jadi canggung parah. Ada detak jantung yang ritmenya jadi berantakan, dan itu bukan punya gue doang. Hana buru-buru nepis tangan gue dengan muka yang mendadak merona merah tipis di balik gelapnya malam.

"Gue... gue gak butuh kasihan lu," ketus Hana, langsung balik badan mau masuk ke dalem ruko.

Tapi pas di ambang pintu, dia berhenti bentar tanpa nengok. "Tapi... makasih, Ka. Buat rokoknya. Eh, maksud gue, buat omongan lu."

Gue cuma bisa garuk-garuk kepala yang nggak gatal sambil natep punggungnya yang menjauh. Waduh, kok perasaan gue mendadak jadi agak aneh begini ya?

Gue masih berdiri di balkon, natep rintik hujan sambil mikirin sikap Hana yang mendadak aneh. Begitu gue balik badan mau masuk ke dalem ruko, gue hampir aja jantungan.

Di balik pintu kaca yang agak ketutup gorden, ada siluet orang lagi bersedekap sambil senyum-senyum mesum. Begitu gue dorong pintunya, bener aja. Si Leo lagi nyender di tembok sambil megang cangkir kopi, mukanya ngeledek parah.

"Ehem... 'Selama gue masih hidup, Serigala Putih bakal selalu jadi rumah buat lu...' Anjay, puitis bener Tuan Muda Naga kita," tiru Leo pake suara yang dilebay-lebayin.

"Lu ngapain di situ, Maling?" gue langsung nampol lengan Leo pelan. "Nguping lu ya?"

"Bukan nguping, Bosque, tapi menyaksikan tumbuhnya benih-benih asmara di tengah badai," kata Leo sambil ketawa cekikikan. Dia ngerangkul pundak gue, mukanya langsung berubah agak serius tapi tetep santai. "Tapi serius, Ka. Gue baru pertama kali liat Hana sekaku itu depan cowok. Biasanya kalau ada cowok sedeket itu, udah bolong lehernya pake karambit. Lu emang punya daya pikat magis, ya."

"Jangan ngaco lu. Hana itu mantannya Kian, sahabat kita. Gue cuma nyoba nenangin dia doang karena dia lagi rapuh," bantah gue, nyoba buat tetep rasional meskipun dalam hati gue agak kepikiran juga sama tatapan Hana tadi.

"Iya, gue tahu. Tapi hati orang siapa yang tahu, Ka?" Leo nyruput kopinya santai. "Apalagi lu berdua selalu taruhan nyawa bareng belakangan ini. Cuma pengen ngingetin aja... lu harus hati-hati jaga hati. Jangan sampe naga perak lu malah kejebak di antara singgasana CEO (Nadia) atau pelukan sang assassin (Hana). Bisa perang dunia ketiga ruko kita."

Omongan Leo yang biasanya asal bunyi kali ini kerasa kayak jleb banget di dada gue. Gue cuma diem, natep lorong kamar ruko yang sepi. Di ujung lorong itu, kamar Hana udah ketutup rapat.

Gue tahu gue sayang sama Nadia, dunia gue ada di dia. Tapi gue juga gak bisa bohong kalau ada sedikit rasa ingin melindungi yang besar banget setiap kali liat Hana rapuh kayak tadi. Malam itu, di bawah rintik hujan Jakarta, gue sadar kalau takdir gue gak cuma rumit soal darah dan pertempuran, tapi juga soal perasaan yang mulai salah arah.

Keesokan paginya, suasana di dalam ruko mendadak jadi sepi yang gak enak. Biasanya jam segini Leo udah ribut muter musik jedag-jedug sambil ngopi, tapi sekarang dia cuma diam di depan laptopnya, curi-curi pandang ke arah gue dan Hana yang lagi duduk berhadapan di meja makan.

Gue sibuk ngunyah roti tawar, mata gue lurus natep botol selai. Sementara Hana di depan gue sibuk ngupas apel pake pisau kecilnya dengan kecepatan yang konstan. Gak ada yang buka suara.

"Ehem," Leo sengaja batuk kencang banget. "Ini ruko apa kuburan? Tegang amat, kayak mau digerebek warga."

Gue langsung melotot ke arah Leo. Si kampret itu cuma nyengir kuda tanpa rasa bersalah.

Gue melirik Hana sekilas. Cewek itu tetep datar, tapi pas dia mau motong apelnya jadi dua, pisaunya agak meleset dikit. Sret. Kulit apelnya kepotong ketebalan. Jelas banget dia lagi gak fokus gara-gara kejadian di balkon semalem.

"Hari ini kita ada jadwal ngecek rute logistik sisa aset Baron di Jakarta Utara," kata Hana tiba-tiba, suaranya sedingin es kayak biasa, tapi nadanya agak buru-buru. "Gue pergi sendiri aja."

"Gak bisa," potong gue cepat, refleks nahan tangannya yang lagi megang pisau.

Begitu kulit tangan gue bersentuhan sama pergelangan tangannya, Hana langsung narik tangannya ketakutan kayak abis kesetrum listrik. Mukanya yang putih bersih langsung merona merah tipis sampai ke kuping.

Gue berdehem canggung, buru-buru narik tangan gue balik. "Maksud gue... daerah sana masih rawan sisa-sisa anak buah Sakti Langit. Kita pergi berdua. Biar Leo yang jaga sistem di sini."

Leo yang ngeliat pemandangan itu langsung nutup mukanya pake bantal sofa, nahan tawa sampai badannya gemeteran. "Iya, Han... mending berdua. Kalau lu sendiri, ntar Bos naga kita gak bisa tidur mikirin lu."

"Leo, diem atau karambit gue melayang ke mulut lu?" ancam Hana dengan nada judes andalannya, tapi kali ini gak ada hawa membunuh sama sekali di matanya. Dia langsung berdiri, masukin apel yang belum selesai dikupas ke kotak makan, dan jalan cepet-cepet ke luar ruko.

Gue cuma bisa ngehela napas panjang, nengok ke Leo yang sekarang udah ketawa ngakak bebas. Perjalanan ke Jakarta Utara hari ini kayaknya bakal jadi perjalanan paling canggung seumur hidup gue. Benih itu beneran udah tumbuh, dan gue gak tahu cara nyabutnya gimana tanpa harus nyakitin siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!