PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Perjamuan Para Manekin dan Logika Macaron
Suasana di ruang keluarga utama kediaman Duke Wiraatmadja siang itu benar-benar menjadi ujian kesehatan mental yang luar biasa bagi siapa pun yang memiliki denyut nadi. Jika biasanya ruangan luas dengan pilar-pilar marmer putih dan ukiran emas itu hanya diisi oleh keheningan yang kaku, formal, dan sedingin es kutub, kini auranya telah bermutasi menjadi medan perang kecanggungan yang tak kasatmata. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul lengkap, memasang pose masing-masing seolah-olah mereka adalah koleksi patung di museum lilin yang sangat mahal namun sedang berada di bawah tekanan gravitasi yang tidak wajar.
Duke Lyon, sang "Singa Perbatasan" yang biasanya menaklukkan medan perang hanya dengan sekali ayunan pedang besar, kini duduk di kursi sayapnya yang megah. Ia berpura-pura sangat sibuk meninjau dokumen militer yang sangat penting. Masalahnya, dokumen strategis tentang pergerakan pasukan di perbatasan Utara itu sebenarnya sedang dipegang terbalik, dan sang Duke tampaknya terlalu tegang untuk menyadarinya. Matanya yang tajam terus bergerak ke kiri dan ke kanan, bukan membaca teks, melainkan memindai setiap inci wajah Rosalind yang duduk di seberangnya dengan tatapan waspada.
Duchess Elena, di sisi lain, berusaha mempertahankan citra keibuannya dengan merajut. Namun, tangannya bergerak dengan kecepatan cahaya, menciptakan suara klik-klik-klik dari jarum perak yang terdengar seperti detak bom waktu. Rajutannya kini sudah kehilangan bentuk estetik; alih-alih menjadi syal musim dingin yang anggun, benda itu lebih mirip jaring ikan yang kusut dan penuh simpul akibat benang wol yang saling melilit secara acak. Keringat dingin sesekali merembes dari pelipisnya yang halus.
Xander, sang putra mahkota keluarga yang biasanya sekeras batu karang, kini mengasah pedang pusakanya dengan gerakan yang sangat lambat dan ritmis. Suara gesekan logam yang tajam itu menimbulkan sensasi ngilu yang merambat hingga ke sumsum tulang setiap orang di ruangan itu. Sementara Evelyn, Paman Baskara, Bibi Ratna, Celine, dan Julian duduk melingkar di sofa beludru dengan tubuh tegak yang tidak alami. Mereka tidak berani saling pandang, seolah-olah satu kontak mata saja akan memicu ledakan besar yang sudah lama terpendam.
Di tengah-tengah "peradaban patung hidup" itu, duduklah Erika dalam tubuh Rosalind. Ia tampak sangat mungil dan rapuh di atas sofa besar berbahan beludru biru dongker tersebut. Sofa itu seolah menelan tubuh kecilnya yang baru berusia 14 tahun, mempertegas betapa ringkihnya kerangka Rosalind akibat pengabaian dan sakit menahun yang ia derita. Mengenakan gaun sutra baru berwarna putih gading dengan renda-renda yang rumit dan pita berwarna mawar di pinggangnya, Rosalind terlihat seperti boneka porselen dari dinasti kuno yang bisa pecah berkeping-keping jika ada seseorang yang bersin terlalu keras.
Wajahnya yang pucat mulai sedikit merona karena sinar matahari siang yang menembus jendela kaca patri yang berwarna-warni, namun matanya menatap tajam, penuh selidik, ke piring perak murni yang tersaji di meja rendah di depannya.
"Rosalind, Sayang... ini adalah Macaron dan Éclair spesial yang dibuat secara pribadi oleh koki terbaik kerajaan," ucap Duchess Elena dengan nada suara lembut yang sedikit bergetar. Ia memberikan senyum yang dipaksakan, berusaha keras menahan rasa ingin tahu yang sudah meledak di ubun-ubunnya mengenai "siaran batin" yang terus bergema di kepalanya sejak pagi tadi. "Hanya untukmu. Cobalah sedikit, Nak. Kau butuh tenaga untuk memulihkan kesehatanmu."
Rosalind menatap kue-kue cantik yang berwarna-warni itu dengan dahi yang berkerut dalam, menciptakan lipatan kecil di antara alisnya yang melengkung indah. Sebagai mantan agen rahasia modern bernama Ghost Viper yang terbiasa makan nasi bungkus dengan bungkusan kertas minyak di pinggir jalan saat sedang mengintai target, atau paling mewah makan steak wagyu di restoran bintang lima saat sedang menyamar sebagai sosialita, ia tahu ini adalah makanan mahal. Namun, akal sehatnya sebagai manusia dari abad ke-21 belum bisa menerima presentasi makanan di dunia fantasi ini yang terlihat terlalu... berlebihan.
[ (Rosalind):]
["Aduh... ini makanan apa sih? Bentuknya kayak kancing baju raksasa warna-warni yang habis dicelup cat tembok. Apa ini beneran bisa dimakan atau cuma pajangan hiasan meja biar rumah ini kelihatan elit di mata tamu? Jangan-jangan ini jebakan Batman lagi! Di luarnya manis warna pink pastel lucu begini, tapi siapa tahu di dalemnya sudah disuntik obat tidur dosis tinggi supaya aku pingsan seketika. Terus pas aku merem, mereka langsung bungkus aku pake bubble wrap dan dipaketkan ke kerajaan tetangga lewat jasa ekspedisi kilat buat jadi upeti?! Hmmm... mencurigakan banget! Liat tuh es krimnya di wadah kristal itu, warnanya hijau mencolok kayak slime, jangan-jangan itu sebenarnya ekstrak racun katak pohon dari rawa hitam yang bisa bikin kelumpuhan saraf?"]
Seluruh keluarga yang mendengar ocehan batin itu hampir saja tersedak udara secara bersamaan. Duke Lyon yang pura-pura membaca dokumen terbalik itu tanpa sadar meremas kertasnya hingga sobek. Xander yang sedang mengasah pedang secara tidak sengaja menggores ibu jarinya sendiri dengan ujung logam tajam. Perihnya tidak seberapa, tapi pusing di kepalanya luar biasa.
'Kancing baju raksasa?!' pikir Xander dengan wajah yang semakin kaku. 'Adikku sayang, itu Macaron impor dari Kerajaan Selatan yang harganya satu keping saja setara dengan gaji satu bulan prajurit kavaleri elite! Dan itu bukan racun katak, itu matcha kualitas premium yang dikirim langsung oleh kaisar sebagai tanda hormat!'
Rosalind kemudian beralih menatap piring lain. Ada sebuah kue cokelat panjang yang dihiasi dengan krim putih di atasnya.
[ (Rosalind):]
["Terus itu kue cokelat panjang yang ada krim putihnya di atas... bentuknya kok mirip... eh, astaga Rosalind , jangan berkata jorok! Jaga martabatmu sebagai mantan agen Ghost Viper! Oke deh, aku nggak akan bilang bentuknya mirip kotoran kucing yang kena salju. Tapi beneran deh, ini meja makan atau laboratorium eksperimen kimia?! Mana ada makanan yang warnanya kayak pelangi begini kalau nggak pake zat pewarna tekstil? Apa mereka mau bikin ususku jadi disko dan lampunya kelap-kelip di dalem perut?!"]
Julian yang sedang memegang cangkir tehnya langsung gemetar. Teh panasnya nyaris tumpah ke celana sutranya yang mahal. 'Kotoran kucing?!' batin Julian meronta. 'Itu Éclair cokelat Belgia yang cokelatnya dipanen hanya setahun sekali! Rosalind, tolonglah, hargai sedikit selera makan kami!'
Rosalind tidak berhenti di situ. Ia kini melirik sebuah buah yang bentuknya bulat sempurna dan berwarna ungu cerah, tergeletak di atas piring perak kecil.
[ (Rosalind):]
["Nah, kalau buah yang ini... bentuknya bulat, ungu, tapi kenapa berkilau kayak habis diolesi minyak goreng? Apa ini buah dari pohon terlarang yang kalau dimakan bikin orang jadi jatuh cinta pada pandangan pertama sama orang yang pertama kali dilihatnya? Klise banget plot novelnya kalau begitu. Aku nggak mau bangun-bangun terus tiba-tiba jatuh cinta sama Duke Lyon. Itu namanya hubungan sedarah yang dilarang! Idih, ngeri banget. Padahal kan aslinya Lyon ganteng sih, kalau dia bukan bapakku, mungkin sudah aku ajak kencan pake strategi infiltrasi hati."]
Duke Lyon yang mendengar pujian "ganteng" di tengah-tengah kecurigaan "buah terlarang" itu mendadak merasa dadanya sesak. Ia tidak tahu apakah harus senang dipuji putrinya atau sedih karena dianggap ingin melakukan sihir cinta pada anaknya sendiri.
[ (Rosalind):]
["Oke deh, jangan berkata jorok dan jangan berburuk sangka dulu. Mari kita cek biometriknya."]
Rosalind memfokuskan pandangannya, mengaktifkan Penglihatan Taktis secara halus.
[Objek: Macaron Stroberi]
[Kandungan: Gula 80%, Tepung Almond, Ekstrak Stroberi Alami, Tanpa Racun.]
[Status: Aman untuk dikonsumsi (tapi hati-hati diabetes).]
[Objek: Matcha Ice Cream]
[Kandungan: Krim, Teh Matcha, Madu, Tanpa Racun Katak.]
[Status: Aman dan sangat menyegarkan.]
[ (Rosalind):]
["Oh... aman ya? Ternyata sistem Nana beneran berguna buat filter makanan gratisan. Baguslah. Tapi tetep aja, cara mereka ngeliatin aku makan itu lho... horor banget. Kayak aku ini subjek penelitian yang lagi dikasih makan biar cepet besar terus diambil ginjalnya. Lihat tuh si Paman Baskara, sapu tangannya nempel terus di hidung, apa dia lagi nahan bau badanku? Padahal tadi pagi Mina sudah mandi asalkan aku pake air mawar tujuh rupa sampai aku merasa kayak kembang tujuh rupa."]
Paman Baskara langsung menjauhkan sapu tangannya dengan gerakan kaku. Ia berusaha memasang wajah yang paling ramah yang bisa ia bentuk, meski hasilnya lebih mirip seringai menyeramkan.
"Rosalind," panggil Paman Baskara dengan suara yang dipaksakan ceria. "Paman sengaja membawakanmu gaun-gaun baru dari butik terbaik di ibu kota. Apa kau menyukainya? Jika tidak, Paman bisa membeli seluruh butiknya untukmu."
[ (Rosalind):]
["Wah, Paman Baskara mendadak jadi sugar daddy? Mencurigakan level maksimal! Kemarin pas aku sekarat dia malah asyik korupsi dana tambang, sekarang mau beli butik? Pasti ada udang di balik bakwan ini. Dia pasti mau aku tetap diam soal asistennya yang namanya Hans itu. Tenang saja Paman, rahasiamu aman bersamaku... selama fasilitas ini tetep lancar jaya! Hahaha!"]
Baskara menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa setiap detak jantungnya sedang dipantau oleh keponakannya yang misterius itu.
Rosalind akhirnya mengulurkan tangannya yang kurus, mengambil satu buah Macaron berwarna merah muda. Ia menggigitnya sedikit. Matanya seketika melebar. Teksturnya yang renyah di luar namun lumer di dalam, dengan ledakan rasa stroberi yang murni dan manis, menyapu seluruh indra perasanya.
[ (Rosalind):]
["ASTAGA! INI ENAK BANGET! Demi segala jenis senjata api di dunia, koki di rumah ini beneran penyihir kuliner! Rasanya kayak ada malaikat yang lagi menari salsa di lidahku! Oke, aku tarik kata-kataku tadi. Ini bukan kancing baju, ini adalah surga dunia yang dipadatkan jadi bunderan kecil. Aduh, mau nangis rasanya... di duniaku dulu, makanan seenak ini harganya bisa bikin tagihan kartu kreditku menjerit."]
Melihat Rosalind yang mulai makan dengan lahap meskipun tetap dengan gerakan yang sangat anggun dan perlahan (karena tubuh Rosalind memang tidak bisa bergerak cepat), Duchess Elena mengembuskan napas lega yang panjang. Setidaknya, putri mereka tidak mogok makan.
Namun, kedamaian sesaat itu kembali pecah saat Evelyn melangkah maju, membawa sebuah kotak perhiasan perak kecil.
"Rosalind... ini ada kalung dari batu safir yang sangat langka. Ini... untuk merayakan kesembuhanmu," ucap Evelyn dengan suara yang manis namun penuh kepalsuan yang ia sendiri rasakan.
Rosalind menatap kalung itu, lalu menatap Evelyn.
[ (Rosalind):]
["Duh, Kak Evelyn... kalungnya bagus sih. Safir biru ya? Warnanya cantik, kayak mataku. Tapi sayang, niat di baliknya kotor banget. Kakak kasih ini cuma biar aku nggak ngadu ke Ayah soal surat pemberontakan palsu yang mau Kakak kasih ke Pangeran Cedric itu, kan? Duh, Kakak ini bener-bener definisi 'menyuap adik sendiri pake batu'. Padahal kan kalau Kakak pinter dikit, batu ini bisa dijual buat beli literasi otak biar nggak gampang ditipu cowok!"]
Evelyn membeku. Tangannya yang memegang kotak kalung itu bergetar. Ia menatap Duke Lyon yang sedang menatapnya dengan pandangan dingin yang seolah bertanya: "Surat pemberontakan apa lagi yang kau sembunyikan?"
Evelyn ingin menangis di tempat. Ia menyadari bahwa di ruangan ini, tidak ada satu pun rahasia yang aman selama batin Rosalind tetap "berbicara" dengan kejujuran yang brutal.
[ (Rosalind):]
["Tapi ya sudahlah, barang bagus jangan ditolak. Rezeki anak transmigrasi sholehah. Aku terima saja."]
Rosalind mengambil kotak itu dengan senyum tipis yang sangat manis. "Terima kasih, Kak Evelyn. Kalungnya indah sekali. Rosalind akan menjaganya dengan baik, seperti Kakak menjaga... rahasia kita."
Kalimat itu terdengar seperti sebuah ancaman yang dibalut dengan madu. Evelyn hanya bisa mengangguk kaku, merasa seolah ia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis yang berwajah malaikat.
Sesi minum teh itu pun berlanjut dengan suasana yang semakin ganjil. Rosalind terus memakan makanannya sambil menghujat satu per satu dosa dan keanehan anggota keluarganya di dalam batin, sementara keluarga Wiraatmadja duduk di sana, mendengarkan setiap penghinaan itu dengan wajah yang berusaha tetap tenang namun hati yang tercabik-cabik.
Mereka semua sadar: mulai hari ini, meja makan keluarga Duke bukan lagi tempat untuk berbincang, melainkan tempat untuk diadili oleh batin seorang gadis kecil yang mereka sebut "Putri Sampah". Dan bagi Rosalind , ini adalah awal dari "Rebahan Elite" yang sangat produktif—menghancurkan mental musuh sambil menikmati Macaron kelas dunia.
[ (Rosalind):]
["Hah... nikmatnya dunia tipu-tipu ini. Besok minta apa lagi ya? Apa aku minta dibuatin kolam renang air anget di tengah salju? Atau minta Xander buat jadi pelayan pribadiku sehari? Kayaknya seru liat si Kanebo Kering itu pake celemek pelayan sambil bawain baki martabak manis. Hahaha! Ayo, Ghost Viper, buat mereka makin pusing!"]
Duke Lyon hampir saja merobek dokumen terbaliknya menjadi dua bagian. Xander memejamkan mata, membayangkan dirinya harus memakai celemek. Sesi minum teh ini benar-benar menjadi neraka dunia bagi klan Wiraatmadja yang agung.