NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Mencekam di Villa (part 2)

Malam itu, entah mengapa, Angkasa gelisah. Tidurnya sama sekali tak senyenyak biasanya. Jam 01.25. Mata Angkasa tak merasakan kantuk sedikitpun.

Angkasa memutuskan untuk bangun dan duduk di tepi tempat tidurnya. Dia meraih ponselnya di atas nakas. Angkasa menekan ikon panggilan. Ada nama Nia dalam daftar riwayat panggilannya.

"Jelas dia tidur," gumam Angkasa.

Meski begitu, ibu jarinya tetap menekan nama Nia. Panggilan tersambung. Angkasa menunggu. Dia yakin Nia sedang tidur pulas.

"Dia tidur atau pingsan?" gumam Angkasa sambil memutuskan sambungan teleponnya, kemudian mencoba menelepon lagi.

"Tuuutt... Tuuutt..."

Angkasa berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju balkon. Angin dini hari menusuk hingga menembus kulit Angkasa yang berdiri di balkon sambil menatap langit malam dan menunggu panggilan teleponnya diangkat.

Di dataran yang lain. Nia tengah berjuang sekuat tenaga —meronta, menendang— apapun yang bisa dia lakukan untuk menghindar dari Tuan Laksono. Namun, sepertinya usahanya sia-sia. Nia benar-benar tak bisa menyingkirkan Tuan Laksono dari atas tubuhnya.

"Sshh... Sshh... Sshh... Tenang, Nia. Ini tak akan lama," kata Tuan Laksono sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam kaos oversize yang dikenakan Nia. Nia kembali meronta.

"Coba kamu diam. Kamu akan merasakan hal yang jauh lebih nikmat daripada kamu terus berontak seperti ini, Sayang," kata Tuan Laksono sambil mengusap perut Nia. Nia menghentak-hentakkan kakinya berusaha menahan gejolak aneh saat Tuan Laksono menyentuh perutnya.

"Nia Sayang, yang tenang. Papa akan..."

Ponsel Nia berdering. Tuan Laksono melirik ke arah ponsel Nia yang berada di atas nakas.

"Ck!"

Tuan Laksono terlihat marah. Nia menatap ponselnya dengan tatapan tak berdaya. Nia tahu siapa yang meneleponnya selarut itu tanpa harus melihat layar ponselnya. Ponsel Nia berhenti berdering.

"Gangguan pergi," kata Tuan Laksono sambil tersenyum. Senyuman yang begitu mengerikan di mata Nia.

Tuan Laksono kembali melancarkan aksinya. Kali ini, Tuan Laksono menaikkan kaos oversize Nia. Nia meronta lebih kuat. Namun, Tuan Laksono juga semakin kuat menindih Nia. Saat kaos Nia akan terbuka hingga mengekspos bagian dadanya, ponsel Nia kembali berdering. Nia menatap ponselnya dengan airmata yang mengalir entah sejak kapan.

"Ck! Kenapa dia menelpon kamu malam-malam? Merusak suasana saja," Tuan Laksono lagi-lagi terlihat marah. Namun, dia tak berhenti. Dia terus menaikkan kaos Nia hingga kulit mulus Nia terekspos.

Nia masih mencoba berontak, berguling. Namun posisinya benar-benar terkunci. Ponsel Nia terus berdering. Sepertinya Angkasa berniat terus menelepon Nia sampai Nia menjawab panggilan teleponnya.

"Tok... Tok... Nia..." suara Bayu terdengar dari balik pintu. Mata Nia membulat. Nia berusaha berteriak namun tentu saja tak ada suara yang keluar.

Tuan Laksono terdiam lalu memejamkan matanya. Rahangnya mengeras, menahan amarah karena aksinya lagi-lagi akan terbongkar di depan puteranya.

"Nia, kamu tidur?" tanya Bayu dari balik pintu.

Nia masih terus berusaha berontak. Tuan Laksono menatap Nia dengan tatapan tajam seolah mengancam Nia untuk diam.

"Nia? Kamu di dalem?" tanya Bayu yang heran karena ponsel Nia terus berdering.

Tuan Laksono harus melepaskan Nia untuk bisa meraih ponsel yang berada di atas nakas. Dan jika Nia lepas, habislah sudah.

Bayu berjalan menjauh dari kamar Nia, menuju bagian dapur villa. Disana, Bayu melihat pecahan gelas di atas dan di bawah meja dapur. Bayu mengerutkan kedua alisnya.

"Nia?" panggil Bayu, mencoba berjalan menuju pintu belakang terkunci.

Perasaan Bayu semakin tak enak. Bayu menuju kembali ke depan. Pintu depan juga masih terkunci dari dalam. Bayu kembali ke kamar Nia, menggedornya dengan suara keras.

"Nia! Jawab Kakak!" teriak Bayu sambil menggedor pintu kamar Nia dengan keras.

Tuan Laksono segera panik. Nia masih terus berusaha teriak.

"Kenapa, Bay? Malem-malem kok heboh?" tanya Nyonya Lestari sambil berjalan menuju Bayu.

Bayu segera masuk ke kamar Nyonya Lestari. Matanya membulat mendapati papanya tak ada disana. Bayu kembali menggedor pintu kamar Nia dengan lebih keras. Nyonya Lestari semakin bingung.

"BRENGSEK!!! BUKA PINTUNYA!!! NIAAA!!!" teriak Bayu. Nyonya Lestari yang tadinya bingung menjadi takut melihat Bayu terlihat begitu marah.

Bayu memutuskan mendobrak pintu Nia. Berkal-kali Bayu membenturkan tubuhnya pada pintu yang begitu kokoh itu. Lalu Bayu berlari cepat menuju ruang makan dan menyeret satu kursi makan. Bayu menghantamkan kursi makan ke gagang pintu dengan sekuat tenaganya. Pintu kamar Nia terbuka sedikit.

Apa yang ada di dalam kamar Nia sungguh membuat Nyonya Lestari terpaku. Suaminya terlihat berantakan berdiri di samping tempat tidur Nia yang tak kalah berantakan. Yang paling membuat Nyonya Lestari perih adalah Nia yang meringkuk di atas tempat tidurnya, menyembunyikan seluruh wajah ke dalam lututnya dengan tangan masih terikat sesuatu yang terlihat seperti tali. Bayu dengan cepat berlari menuju papanya.

"BRENGSEK!!!" teriak Bayu sambil melayangkan tinju ke wajah Tuan Laksono. Tuan Laksono tak menghindar. Dia jatuh tersungkur ke lantai.

"Kenapa? Kenapa papa lakuin hal ini lagi?!" tanya Bayu sebelum akhirnya kembali meninju wajah Tuan Laksono.

Seakan tersadar, Nyonya Lestari melihat ke arah putera dan suaminya.

"Lagi?" tanya Nyonya Lestari lirih.

Hening.

Hanya isak tangis Nia yang terdengar dan ponsel Nia yang masih berisik, menandakan Angkasa masih berusaha mengganggu malamnya.

Nyonya Lestari berjalan perlahan menuju Nia, terhuyung-huyung, dengan kaki yang seperti tak bisa lagi menapak bumi. Nia masih terisak, tertunduk, meringkuk. Bayu masih mencengkeram krah baju Tuan Laksono. Wajah Tuan Laksono sudah terlihat merah karena pukulan Bayu dan sudut bibirnya berdarah.

Nyonya Lestari duduk di tepi tempat tidur Nia. Ponsel Nia sudah berhenti berdering tepat saat Nyonya Lestari duduk. Nyonya Lestari menatap Nia dengan tatapan penuh rasa bersalah dan luka. Tangannya gemetar saat hendak meraih tubuh Nia yang juga terlihat gemetar hebat. Tangan Nyonya Lestari menyentuh pucuk kepala Nia.

"Nia," suara Nyonya Lestari terdengar serak. Nia masih terisak.

Nyonya Lestari naik ke atas tempat tidur Nia, membuka ikatan tangan Nia dengan berlinang airmata.

"Kamu pasti sangat ketakutan kan?" tanya Nyonya Lestari. Suaranya bergetar.

Nyonya Lestari menyibakkan rambut panjang Nia yang menutupi wajahnya, mencoba mengangkat kepala Nia yang tertunduk. Mata Nyonya Lestari membulat saat melihat mulut Nia yang masih tersumpal sapu tangan. Dengan tangan gemetar, Nyonya Lestari mengeluarkan sapu tangan dari mulut Nia. Tangis Nia pecah. Nyonya Lestari segera memeluk Nia.

Bayu menghempaskan Tuan Laksono. Dadanya begitu nyeri mendengar tangis Nia malam itu. Bayu tertunduk, merasa begitu bersalah tak dapat melindungi Nia dari papanya sendiri.

Tangis Nia meraung, seolah memanggil Angkasa yang berada berkilo-kilo meter jauhnya.

'Bawa aku pergi dari sini, Ang,'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!