NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

KEJATUHAN SANG TAK TERHINGGA -

Sebelum waktu mengenal angka, Ia adalah segalanya.

Di singgasana hampa yang melampaui dimensi, Sang Sovereign memerintah atas hukum realitas. Namun, keabadian ternyata adalah penjara yang membosankan. Kekuatan absolut hanyalah kutukan tanpa akhir.

Maka, Ia memutuskan untuk melepaskan segalanya. Ia ingin merasakan apa yang disebut batas.

Singapura, Sektor Tujuh. Era Global Baru.

Suara tangis bayi pecah di sebuah panti asuhan kecil saat hujan meteor melintasi langit dunia. Tidak ada yang menyadari bahwa di malam itu, hukum alam semesta bergeser satu derajat.

Tujuh tahun kemudian, keinginan itu menjadi kenyataan yang merepotkan.

Arthur menatap telapak tangannya yang mungil dan halus. Kulitnya tidak lagi sekeras inti bintang, melainkan lembut seperti manusia pada umumnya. Namun, di balik itu, energinya tetap tidak terbatas.

Baginya, berjalan di atas trotoar terasa seperti menginjak kulit telur yang rapuh. Jika ia tidak berhati hati saat bersin, satu benua bisa terhapus dari peta.

"Hidup sebagai manusia ternyata sangat melelahkan," gumamnya.

Suara sirine meraung di kejauhan. Langit berubah warna menjadi ungu pekat tanda bahwa lubang dimensi baru saja terbuka. Masyarakat berlarian panik, mencari perlindungan dari ancaman yang disebut The Architects.

Di tengah arus manusia yang ketakutan, Arthur tetap berdiri diam. Ia hanya memegang tas sekolahnya dengan erat, menatap langit dengan tatapan bosan.

Ia tidak ingin menjadi pahlawan. Ia tidak ingin dunia tahu siapa dia sebenarnya. Namun, jika kebisingan ini terus berlanjut, ia tidak akan bisa mengerjakan PR nya dengan tenang.

Arthur menghela napas panjang. Jari tengahnya mulai menekuk ke arah ibu jari.

"Hanya sekali saja," bisiknya pada kegelapan. "Setelah ini, aku harus segera pulang."

Satu getaran kecil di udara terjadi. Realitas di sekitarnya seolah olah membeku sesaat, tunduk pada perintah sang bocah yang kini dikenal sebagai Bocil Kematian.

Inilah awal dari kebohongan terbesar dalam sejarah manusia.

. . .

Episode 1

- INSIDEN SUSU KOTAK -

Sektor Tujuh adalah pusat teknologi yang tidak pernah tidur. Di sini, gedung-gedung pencakar langit terhubung oleh jembatan kaca magnetik, dan mobil terbang memenuhi jalur udara setiap detiknya.

Namun, di antara gemerlap logam dan kaca tersebut, ada sebuah toko kelontong tua di pinggiran distrik yang masih menjual barang-barang manual.

Arthur berdiri di depan lemari pendingin toko itu. Matanya yang bulat menatap tajam ke arah deretan kotak susu rasa stroberi.

"Dua puluh koin emas," gumamnya, sambil merogoh saku celana pendeknya yang berisi beberapa koin receh.

Bagi anak tujuh tahun lainnya, memilih susu mungkin adalah hal biasa. Tapi bagi Arthur, ini adalah kalkulasi yang rumit. Ia harus memastikan sisa uang jajannya cukup untuk membeli baterai konsol gamenya besok.

Ia akhirnya mengambil satu kotak susu dan berjalan menuju kasir.

Penjaga toko, seorang pria tua dengan kacamata tebal, menatap Arthur dengan senyum ramah. "Hanya ini, Arthur? Tumben tidak membeli cokelat."

Arthur hanya menggeleng datar. "Gula tidak baik untuk metabolisme anak kecil, Kek."

Tepat saat Arthur hendak menyentuhkan koinnya ke mesin pembayaran, sebuah alarm melengking keras di seluruh penjuru kota. Suaranya begitu memekakkan telinga, membuat burung-burung mekanik berterbangan panik dari atap gedung.

“Peringatan Level Calamity! Seluruh warga harap segera menuju bunker bawah tanah! Ini bukan latihan!”

Suara robotik itu berulang-ulang melalui pengeras suara kota. Getaran hebat mulai terasa dari bawah tanah, membuat botol-botol di rak toko berjatuhan dan pecah.

"A..apa? Level Calamity?" Penjaga toko itu pucat pasi. Tangannya gemetar hebat.

Di layar monitor toko, siaran langsung menunjukkan sesuatu yang mengerikan di pusat Sektor Tujuh. Sebuah celah raksasa terbuka di langit, dan dari sana muncul sesosok makhluk menyerupai kelabang raksasa dengan ribuan kaki berbentuk pedang.

Setiap kali makhluk itu bergerak, gedung di sekitarnya terbelah menjadi dua seperti kertas.

"Arthur! Cepat lari ke bunker belakang!" teriak si kakek penjaga toko sambil menarik tangan Arthur.

Arthur tidak bergerak. Ia justru menatap susu kotak di tangannya yang mulai retak karena tekanan udara dari luar.

"Kek," suara Arthur terdengar dingin di tengah suara ledakan yang mulai mendekat.

"Lari, Nak! Jangan pikirkan susunya!"

Arthur perlahan melepaskan pegangan tangan si kakek. Tatapannya yang tadi polos, kini berubah menjadi sangat tajam tatapan yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang bocah.

"Aku sudah membayar susunya. Dan makhluk itu mengganggu transaksi kita," ujar Arthur pelan.

Di langit, Valerius Pahlawan Peringkat Satu sedang berjuang keras. Ia menerjang maju dengan pedang cahayanya, namun hanya butuh satu kibasan kaki kelabang itu untuk melempar Valerius hingga menabrak menara komunikasi.

Valerius terbatuk darah. "Mustahil... kulitnya tidak bisa ditembus..."

Monster itu mengeluarkan raungan yang menghasilkan gelombang ultrasonik, menghancurkan kaca-kaca di radius tiga kilometer. Ia bersiap untuk menghujamkan kepalanya ke arah distrik pemukiman, tepat di mana toko Arthur berada.

Arthur berjalan keluar toko dengan santai. Angin kencang akibat serangan monster itu membuat rambut hitamnya berantakan, namun ia tidak bergeming.

Di matanya, kelabang raksasa itu hanyalah serangga kecil yang sangat berisik.

Ia menaruh susu kotaknya di atas tong sampah dengan hati-hati agar tidak tumpah lebih banyak. Kemudian, ia mengangkat tangan kanannya.

"Terlalu banyak kebisingan untuk satu sore yang tenang," keluh Arthur.

Ia menyatukan jari tengah dan jempolnya. Ia tidak mengumpulkan energi. Ia tidak memanggil kekuatan sihir. Ia hanya mengubah konsep berat di ujung jarinya menjadi setara dengan massa sebuah planet kecil.

Tik.

Arthur menyentil udara ke arah monster yang jaraknya masih dua kilometer darinya.

Apa yang terjadi selanjutnya tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Udara di depan jari Arthur meledak secara linear. Sebuah garis kehampaan tercipta, melesat menembus bangunan dan langsung menghantam kepala kelabang raksasa itu tepat di tengah dahinya.

Dampaknya seketika.

Kepala monster itu hancur hingga ke tingkat molekul. Tidak ada darah, tidak ada daging yang tersisa hanya debu halus yang langsung terbakar oleh panas gesekan udara.

Gelombang kejut dari sentilan itu terus merambat ke atas, membelah kumpulan awan hitam di langit Sektor Tujuh hingga bersih total. Sinar matahari kembali menyinari kota yang hancur dalam sekejap mata.

Seluruh sistem sensor GDC (Global Defense Council) mendadak eror. Angka kekuatan yang terdeteksi melampaui batas maksimal yang bisa dibaca mesin.

Valerius, yang masih bersandar di puing bangunan, menyaksikan pemandangan itu dengan mulut terbuka. Ia melihat musuh yang hampir membunuhnya lenyap begitu saja.

Arthur menghela napas. Ia mengambil kembali susu kotaknya yang tersisa setengah, lalu menyesapnya menggunakan sedotan plastik.

"Masih enak," gumamnya.

Ia melihat Valerius dari kejauhan. Pria berbaju emas itu sedang berusaha berdiri, menatap ke arah tempat Arthur berada dengan wajah penuh ketidakpercayaan.

Arthur tahu, jika ia tinggal di sana lebih lama, hidup tenangnya akan berakhir hari ini.

"Hei, Paman Berbaju Emas!" teriak Arthur dengan suara cemprengnya, kembali berakting menjadi anak kecil biasa.

Valerius tersentak. Ia melompat turun dari puing-puing dan mendarat di depan Arthur. "Nak? Apa kau melihat apa yang terjadi? Siapa yang membunuh monster itu?"

Arthur menunjuk ke arah pedang patah milik Valerius. "Tadi paman yang melakukannya, kan? Paman keren sekali! Monster itu meledak saat paman mengayunkan pedang!"

Valerius mengernyit bingung. "Aku? Tapi... aku bahkan tidak menyentuhnya."

"Paman pasti lupa karena terlalu kuat!" Arthur tersenyum lebar, senyum yang sangat tulus hingga Valerius mulai meragukan ingatannya sendiri.

"Lihat! Semua orang melihatmu berdiri di sana!" Arthur menunjuk ke arah drone media yang mulai berdatangan di langit.

Valerius menatap drone-drone tersebut. Ia tahu reputasinya adalah segalanya bagi stabilitas dunia. Jika ia mengaku kalah, moral masyarakat akan runtuh.

Ia menatap bocah di depannya. Arthur tampak seperti anak kecil biasa yang sedang ketakutan dan mencari perlindungan. Tidak mungkin bocah ini yang melakukannya, pikir Valerius.

"Ya... mungkin itu jurus rahasiaku yang keluar secara tidak sadar," bohong Valerius pada dirinya sendiri, demi harga diri dan perdamaian dunia.

Arthur tersenyum puas di balik kotak susunya. Bagus, tetaplah menjadi tamengku, pahlawan palsu.

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!