NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

***

Cahaya fajar yang pucat merayap masuk melalui celah tirai beludru, namun bagi Lilianne, sinar itu terasa seperti pisau yang mengiris matanya. Perutnya bergejolak hebat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha bangkit, namun rasa pusing yang luar biasa menghantam kepalanya, membuat dunia seakan berputar.

"Ugh... Lisa..." rintihnya tertahan.

Lisa, yang sudah berjaga di samping ranjang sejak tengah malam, dengan sigap membawa wadah perak. Lilianne memuntahkan cairan bening dengan tubuh yang bergetar hebat.

Peluh dingin membasahi keningnya, dan rambut peraknya yang indah kini tampak kusam karena keringat. Ia menyandarkan tubuhnya yang lemas pada dada Lisa, bernapas pendek-pendek.

"Bertahanlah, Yang Mulia," bisik Lisa dengan suara parau, tangannya gemetar saat menyeka bibir Lilianne dengan kain sutra hangat. "Tabib Agung mengatakan ini normal bagi benih kekaisaran yang kuat. Anda sedang mengandung seorang pangeran, Lilianne... seorang pewaris."

Lilianne menatap keluar jendela, ke arah salju yang mulai mencair di dahan-dahan pohon. Matanya yang berwarna perak tampak meredup, penuh dengan kelelahan yang mendalam. Di dalam rahimnya, ada kehidupan baru yang sedang tumbuh—buah dari malam-malam penuh dominasi dan rintihan yang melelahkan.

Ini adalah tiketku untuk tetap hidup, atau alasan bagiku untuk lebih cepat mati di tangan musuh, batinnya dengan getir. Ia merasa seperti wadah kosong yang kini diisi oleh kepentingan politik dua keluarga besar. Ia luluh bukan karena cinta, melainkan karena ia mulai menerima takdirnya sebagai bagian dari mesin kekuasaan Valerieth.

Keheningan pagi itu pecah oleh derap langkah sepatu bot yang kaku di koridor. Bukan langkah Arthur yang berat dan penuh tuntutan, melainkan langkah teratur para pengawal inti kaisar.

Tok! Tok! Tok!

Pintu terbuka tanpa menunggu izin. Seorang ajudan senior kaisar berdiri di ambang pintu dengan wajah sedingin batu. "Yang Mulia Putri Mahkota, atas perintah langsung Yang Mulia Kaisar, Anda diminta menghadap di Istana Mawar Putih. Sekarang juga. Tanpa pelayan, tanpa pengawal pribadi, dan tanpa Putra Mahkota."

Lisa tersentak, wajahnya pucat pasi. "Tapi Yang Mulia Putri sedang sakit! Beliau bahkan tidak bisa berdiri tegak—"

"Lisa, cukup," potong Lilianne dengan suara lemah namun tajam. Ia mencengkeram pinggiran ranjang, memaksakan dirinya untuk duduk tegak meskipun perutnya kembali bergejolak. "Ini adalah perintah Kaisar. Tolong, bantu aku berpakaian."

Dengan bantuan Lisa yang terus terisak pelan, Lilianne dibalut dengan gaun beludru biru tua yang sangat tebal. Gaun itu berat, seolah menambah beban di pundaknya. Lisa menyematkan bros perak berbentuk serigala Utara di dadanya—lambang terakhir dari identitasnya sebagai seorang Eisenhardt sebelum ia sepenuhnya ditelan oleh kegelapan Valerieth.

Lilianne berjalan menyusuri koridor panjang menuju Istana Mawar Putih, sebuah bangunan terpisah yang jarang dikunjungi siapapun. Istana itu adalah tempat di mana waktu seolah berhenti—sebuah monumen kesedihan bagi Ratu Seraphina.

Setiap langkah yang diambil Lilianne terasa seperti siksaan. Area kewanitaannya yang baru saja pulih kini harus menahan beban tubuhnya yang lemas. Rasa pusing membuatnya beberapa kali hampir limbung, namun ia mencengkeram dinding marmer yang dingin untuk tetap tegak. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan penguasa tertinggi kekaisaran ini.

Ketika pintu aula utama terbuka, bau lili hutan yang sangat kuat menyerang indranya. Aroma itu begitu dominan hingga Lilianne harus menutup mulutnya sejenak agar tidak muntah. Di ujung ruangan, di bawah lukisan raksasa mendiang ratu, duduklah seorang pria tua yang tampak ringkih namun masih memiliki aura otoritas yang menakutkan.

Kaisar Valerius.

Lilianne melangkah maju, kakinya terasa berat. Di tengah ruangan, ia melakukan curtsey yang paling sempurna meskipun pandangannya mulai kabur karena mual.

"Suatu kehormatan bagi saya memenuhi panggilan Anda, Yang Mulia Kaisar."

Kaisar tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada lukisan istrinya. "Duduklah, Lili. Kau tampak seputih salju yang hampir mencair."

Lilianne duduk di kursi kayu yang keras, berusaha mengatur napasnya. "Maafkan kondisi saya yang kurang pantas, Yang Mulia. Benih di dalam rahim saya... sedikit menuntut."

"Itu adalah darah Valerieth," Kaisar akhirnya berbalik. Wajahnya penuh keriput duka, matanya biru seperti Arthur, namun redup oleh penyesalan. "Darah yang haus kekuasaan, darah yang tak tahu cara beristirahat. Aku memanggilmu ke sini bukan sebagai penguasamu, tapi sebagai seorang ayah yang melihat bayangan kehancuran pada putranya sendiri."

Kaisar batuk dengan suara parau yang menyakitkan. "Aku melihat Arthur semalam saat berita kehamilanmu tersebar. Dia meninggalkan medan latihan seolah-olah seluruh dunia terbakar. Dia menatapmu bukan hanya sebagai istri, Lilianne. Dia menatapmu dengan obsesi yang menakutkan."

Lilianne menunduk, tangannya meremas kain beludru gaunnya. "Yang Mulia Putra Mahkota... adalah pria yang sulit dimengerti."

"Dia adalah monster yang kuciptakan," potong Kaisar dengan nada penuh penyesalan. "Setelah Seraphina meninggal, aku membiarkan duka mengonsumsi nuraniku. Aku mendidik Arthur untuk menjadi pedang tanpa perasaan. Aku mengajarinya bahwa kelembutan adalah aib. Dan sekarang... aku melihat dia memperlakukanmu seolah-olah kau adalah tawanan perang yang sangat ia cintai."

Kaisar bangkit dengan susah payah, berjalan mendekati Lilianne dengan langkah yang terseret. Ia mengeluarkan sebuah kunci emas kecil dari balik jubahnya dan sebuah gulungan kertas kuno yang sudah menguning.

"Anak yang kau kandung itu... jika dia lahir laki-laki, Arthur akan menjadikannya seorang penakluk yang lebih kejam darinya. Namun, jika kau ingin melindunginya, kau harus memiliki kekuatan yang lebih besar dari sekadar status sebagai Putri Mahkota."

Lilianne mendongak, matanya bertemu dengan mata Kaisar. "Apa maksud Anda, Yang Mulia?"

"Di bawah altar Istana Mawar Putih ini, terdapat ruang penyimpanan rahasia Seraphina. Dia meninggalkan sebuah wasiat dan daftar faksi-faksi rahasia yang masih setia pada garis darah permaisuri, bukan pada militer Arthur," Kaisar menggenggam tangan Lilianne yang dingin dengan tangan tuanya yang gemetar. "Gunakan ini untuk membangun pertahananmu sendiri. Jangan biarkan Arthur tahu tentang kekuatan ini."

Lilianne terpaku. "Mengapa Anda memberikan ini kepada saya? Bukankah Anda ayahnya?"

"Karena aku mencintai kekaisaran ini, dan aku tidak ingin melihat cucuku tumbuh dalam kegelapan yang sama dengan ayahnya," bisik Kaisar dengan suara yang pecah. "Jinakkan singa itu, Lilianne. Jika kau tidak bisa melunakkan hatinya, maka kau harus cukup kuat untuk mematahkan pedangnya."

Tiba-tiba, pintu aula terbuka dengan hantaman keras. Arthur berdiri di sana dengan jubah tempur yang masih berdebu, napasnya memburu. Matanya yang biru gelap berkilat marah saat melihat Lilianne berada di dekat ayahnya.

"Ayahanda! Berani sekali Anda memanggilnya ke sini tanpa izin dariku!" geram Arthur, melangkah cepat menuju mereka.

Lilianne dengan sigap menyembunyikan kunci emas itu di balik lipatan gaunnya. Rasa pusing kembali menghantamnya, dan kali ini ia tidak bisa menahannya. Tubuhnya limbung.

"Lili!" Arthur menangkap tubuh istrinya sebelum menyentuh lantai. Ia mendekap Lilianne dengan posesif, matanya menatap tajam pada kaisar seolah-olah sang ayah adalah musuh yang baru saja melukai miliknya yang paling berharga.

Lilianne, dalam kesadarannya yang mulai menipis karena mual dan pusing, menatap wajah Arthur yang panik. Di balik ketakutan pria itu, Lilianne tahu... permainan sesungguhnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar ibu dari pewaris; ia kini memegang kunci kehancuran atau keselamatan takhta Valerieth.

"Aku... aku baik-baik saja, Yang mulia," bisik Lilianne sebelum matanya terpejam sepenuhnya, pingsan dalam pelukan suaminya yang kejam, namun kini gemetar karena ketakutan kehilangan dirinya

***

Bersambung...

1
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!