Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Lain
Selesai berlatih singkat dengan Yu Xuan, Shu Hua merasa sangat senang, terlebih lagi ketika mengingat jika ia telah menang dari Yu Xuan. Dan itu artinya, Yu Xuan akan mengabulkan satu permintaan dari Shu Hua.
"Tapi kamu tadi bermain curang, Shu Hua. Kemenangan itu tidak bisa dihitung. Kita harus bertanding ulang!" tuntut Yu Xuan.
"Curang? Siapa? Aku?" tanya Shu Hua, tidak merasa jika dirinya memang telah berbuat curang.
"Iya. Kamu. Memangnya siapa lagi? Kamu menyerang aku dengan cara seperti itu. Itu tidak adil!"
"Lah, dari mana sih tidak adilnya? Lagipula saat itu kamu tidak memberikan peraturan apa-apa, jadi sah-sah saja aku melakukan sedikit trik agar bisa menang. Dan satu lagi, jangan ungkit hal ini di depan Kak Li Hua! Aku tidak suka dengan orang yang ember!" seru Shu Hua.
"Sepertinya di dunia ini kamu hanya takut kepada Li Hua."
"Terserah kamu mau bilang apa, tapi yang jelas, lakukan saja apa yang aku katakan. Kamu mengerti?!"
Saat itu Yu Xuan tidak menjawab, dia hanya sedikit menggerakkan kepalanya. Dan saat itu, gerakan kecil yang dilakukan Yu Xuan langsung Shu Hua anggap sebagai tanda setuju. Namun, betapa kagetnya Shu Hua saat Yu Xuan memberitahu kepada Li Hua tentang kecurangan yang Shu Hua lakukan saat mereka sedang makan bersama sambil tertawa puas.
"Dasar pembohongan!" teriak Shu Hua sambil memukul lengan Yu Xuan.
"Bukannya tadi kamu sudah janji tidak akan membicarakan hal ini kepada Kakak? Tapi kamu kenapa bilang? Dasar pembohong!" cecar Shu Hua.
Sama seperti Shu Hua yang sebelumnya telah mengelak mengakui telah berbuat curang, Yu Xuan pun juga membalas dengan melakukan hal yang sama kepada Shu Hua.
"Lah, kapan aku bilang berjanji tidak akan mengatakan apa-apa kepada Li Hua? Ingat-ingat lagi, memang aku ada bilang 'iya'? Seingatku sendiri, aku tidak ada mengatakannya," tangkas Yu Xuan.
Shu Hua menghela napas panjang.
"Iya, aku tahu kalau kamu tidak menjawab secara langsung. Tapi tadi kamu 'kan mengangguk. Dan itu tandanya kamu setuju!"
Yu Xuan berusaha untuk menahan tawa yang saat itu hampir pecah. Dan di sisi lain, Mei dan Li Hua hanya menjadi penonton dari pertengkaran yang terasa manis saat itu.
"Seingatku aku tidak mengangguk. Saat itu aku hanya sedikit menggerakkan kepalaku, dan sepertinya saat itu kamu sudah salah paham kepadaku, Shu Hua." Yu Xuan tampak senang menggoda Shu Hua, membuat Shu Hua merasa jengkel kepadanya.
Di tengah suasana yang terasa begitu hangat, Shu Hua melihat tawa di wajah Li Hua. Sudah begitu lama rasanya ia tidak melihat sang kakak bisa tertawa dengan begitu lepas semenjak mereka terjebak di Dinasti Tianzhu.
Ketika melihat senyum dan juga tawa di wajah Li Hua, Shu Hua bertekad akan mempertahankan semua itu. Shu Hua berjanji kepada dirinya sendiri untuk menuntaskan semua misi agar ia dan Li Hua bisa segera kembali ke dunia mereka yang sebenarnya. Dan untuk melakukan itu, Shu Hua harus bisa mengendalikan kekuatannya!
Saat Yu Xuan belum selesai menikmati makan siangnya, Shu Hua yang penuh dengan api semangat langsung menarik Yu Xuan untuk kembali berlatih.
"Ayo, bangun! Sudah cukup makannya! Jika makan terlalu banyak nanti kamu akan buang-buang waktu lagi untuk buang air! Ayo cepat, kita harus berlatih! Jangan jadi guru yang pemalas!" seru Shu Hua.
Di dalam mulut Yu Xuan, makanannya belum terkunyah sempurna. Yu Xuan diseret paksa oleh Shu Hua, dan sialnya Yu Xuan tidak bisa melawan dan hanya bisa berteriak kepada Mei untuk membawakannya makanan ke tempat latihan.
"Tapi aku belum merasa kenyang," akunya.
"Mei, nanti tolong antarkan makanan sisanya ke tempat latihan, ya!" teriak Yu Xuan.
→→→
Sesampainya di tempat latihan, barulah Shu Hua melepaskan Yu Xuan. Dan selanjutnya, Shu Hua menuntut kepada Yu Xuan untuk langsung mengajarinya bela diri dan penggunaan pedang yang benar.
"Sudah cukup main-mainnya. Sekarang aku ingin kamu mengajarkan aku point utamanya. Bela diri dan pedang. Bertarung denganku melawan pedangku. Bukankah itu cara yang lebih instan untuk mencapai keberhasilan yang memuaskan?" Shu Hua ingin memanggil pedangnya, namun Yu Xuan cepat menghentikan niat Shu Hua.
"Jangan panggil pedangmu!" seru Yu Xuan.
"Kenapa? Kamu masih ingin mengajak aku berlatih seperti bermain-main lagi? Kamu tahu 'kan, saat ini aku tidak punya waktu untuk bermain-main! Aku harus bisa menguasai kekuatan ini secepat mungkin!" tekan Shu Hua.
"Tentu saja aku tahu tentang itu. Saat ini perang sudah berlangsung, dan sebentar lagi rakyat akan menderita. Dan semua tragedi itu terjadi, kamu harus sudah siap untuk memberikan bantuan kepada mereka yang benar-benar perlu bantuanmu. Tapi, Shu Hua... kamu tahu, segala hal yang aku minta kamu lakukan itu bukan tanpa alasan. Semua punya alasan tersendiri," tutur Yu Xuan.
"Pedang itu bukan mainan. Pedang itu senjata. Senjata yang bisa memberikan kamu dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, membunuh. Kemungkinan kedua, menyelamatkan. Jika salah ambil langkah, kamu bisa termakan ilmu dan berakhir menjadi jahat dan tidak terkendali. Apakah kamu tahu itu?"
Ini adalah pertama kalinya Shu Hua mendengar tentang hal itu. Termakan ilmu hitam? Berubah jadi jahat? Sebelumnya Guru Bai Yun tidak mengatakan apa-apa tentang semua itu.
"Barusan kamu bilang apa? Termakan ilmu hitam? Menjadi jahat? Maksudnya? Apakah mungkin kekuatan yang ada pada diriku dan Kak Li Hua bisa mengambil kendali atas diri kami dan berubah menjadi kekuatan hitam yang jahat dan membahayakan orang lain?" tanya Shu Hua, merasa sangat tidak percaya dengan tebakannya kala itu.
"Kamu benar. Apakah sebelumnya Kakekku tidak mengatakan hal itu kepadamu dan kakakmu?" tanya Yu Xuan.
"Dia sebelumnya tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu," jawab Shu Hua.
"Mungkin Kakek lupa untuk mengatakannya. Dan yang terpenting untuk saat ini adalah, kamu sudah tahu hal itu, jadi jangan merasa pelajaran dariku terlambat. Tidak ada yang bisa didapat dengan instan di dunia Shu Hua. Dan aku juga yakin di duniamu hal yang sama juga berlaku."
Shu Hua terdiam, tidak bisa memberikan jawaban lain karena merasa apa yang Yu Xuan katakan itu benar dan tidak salah.
"Baiklah. Maafkan aku karena aku tidak bersabar. Kalau begitu, mulai sekarang aku akan belajar sungguh-sungguh dari kamu." Shu Hua mengambil langkah, mendekat kepada Yu Xuan, kemudian menggenggam erat tangan Yu Xuan dengan mata yang berbinar-binar.
"Bagaimanapun caranya, kamu harus bisa membuat aku menjadi lebih kuat, Yu Xuan. Tidak peduli dengan metode pelatihan seperti apa yang akan kamu terapkan, aku akan patuh tanpa banyak mengeluh. Aku berjanji! Karena itu... tolong jadilah guru yang baik untukku! Aku harus benar-benar bisa mengendalikan kekuatan ini! Kumohon..." Shu Hua meminta dengan wajah memelas yang tampak sangat manis bagi Yu Xuan.
'Dia terlalu manis!' teriak Yu Xuan dalam hatinya.
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄