Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 4
Di sebuah restoran mewah, duduk seorang wanita paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun. Meski usianya telah berkepala lima, aura kecantikannya sama sekali tak pudar. Wibawanya masih terpancar kuat, membuat siapa pun yang memandang tak bisa sembarangan mendekat.
Isabella duduk anggun di salah satu meja, ditemani secangkir teh hangat yang mulai kehilangan uapnya. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, tanda kesabaran yang mulai menipis. Ia sedang menunggu putra tunggalnya, Max.
Saat mengingat alasan pertemuan ini, raut wajah Isabella langsung berubah kesal. Bayangan ketika dirinya tak diizinkan masuk ke ruang CEO oleh putranya sendiri kembali terlintas jelas di kepala.
“Benar-benar keterlaluan anak itu!” geram Isabella pelan.
Ia mendengus panjang, lalu menyilangkan tangan di dada.
“Lihat saja. Aku sudah hampir satu jam menunggu, tapi si bujang lapuk itu belum juga menampakkan batang hidungnya.”
Isabella terus mengomel tanpa henti, sampai tak menyadari sosok tinggi yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Apa Mama sudah selesai dengan omelannya?”
Suara bariton yang berat dan dingin itu sontak membuat Isabella menoleh. Ia mendongak dan mendapati putranya berdiri menjulang dengan ekspresi datar.
“Oh, ternyata kau, si bujang lapuk!” cibir Isabella santai.
Max memutar bola matanya malas.
“Tidak bisakah Mama berhenti memanggilku dengan sebutan itu?”
Ia benar-benar muak. Namanya Max Alexander Wijaya—nama yang menurutnya keren, berkelas, dan berwibawa. Namun semua itu hancur hanya karena sang ibu lebih suka memanggilnya bujang lapuk hanya karena ia belum menikah.
“Tidak akan,” jawab Isabella tegas. “Selama kamu belum punya istri, Mama akan terus memanggilmu begitu.”
Max menarik kursi lalu duduk dengan wajah kesal.
“Memangnya apa salahnya belum menikah? Apa kalau menikah kita jadi lebih kaya? Apa aku jadi makin awet muda? Tidak, kan? Jadi di mana letak masalahnya? Menikah atau tidak, tidak ada perubahan apa pun.”
Kalimat panjang itu baru saja selesai saat sebuah jitakan mendarat telak di kepalanya.
“Dasar bodoh!” Isabella mendesis. “Sekali-kali bicara serius, Max!”
Max mengusap kepalanya sambil meringis.
“Usiamu sudah tiga puluh tahun. Kamu anak tunggal keluarga Wijaya. Kalau kamu tidak menikah, siapa yang akan menggantikan posisimu di perusahaan? Siapa yang akan menjagamu saat tua nanti?”
Nada suara Isabella perlahan berubah lirih.
“Mama dan Papa sudah tua. Kami tidak akan selalu ada di sampingmu.”
Ia menatap putranya dalam-dalam.
“Apa kamu tidak kasihan pada papamu? Di usianya sekarang, seharusnya dia sudah menikmati masa pensiun.”
Belum selesai, Isabella kembali menyerang.
“Semua teman-teman Mama sekarang duduk manis di rumah sambil bermain dengan cucu mereka. Lalu kamu? Kapan, Max?”
Ceramah panjang itu hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri bagi Max. Bukan karena ia tak peduli, melainkan karena kalimat semacam itu sudah terlalu sering ia dengar.
Itulah sebabnya ia malas bertemu sang ibu.
Namun kalimat berikutnya membuat tubuh Max menegang.
“Jadi, Mama sudah menyiapkan calon untukmu.”
“UHUK!”
Max tersedak kopi yang baru saja diminumnya. Ia terbatuk keras sambil menatap ibunya tak percaya.
“Apa? Jodoh?” katanya terbata. “Mama bercanda, kan? Mama tidak benar-benar mencarikanku pasangan, kan?”
“Tidak.” Isabella tersenyum penuh kemenangan. “Mama serius. Gadis ini pasti cocok untukmu. Cantik, baik, sopan. Tipikal menantu idaman.”
Max menatap ibunya penuh curiga. Matanya menyipit tajam.
“Siapa?”
“Ada, pokoknya dari keluarga terpandang. Beberapa hari lalu Mama bertemu dia di mal. Waktu itu Mama hampir dijambret di parkiran, lalu dia datang menolong.”
Isabella tampak antusias.
“Keren sekali! Perempuan, tapi berani menghajar preman itu sendirian.”
Kecurigaan Max semakin besar.
“Dari keluarga mana?”
Isabella berpikir sejenak.
“Kalau tidak salah... Gabrielsen. Mama lupa namanya, tapi marganya Mama ingat.”
Max terdiam.
‘Gabrielsen? Apa mungkin... dia? Tapi tidak mungkin. Dia, kan...’
Lamunannya buyar ketika Isabella kembali bicara.
“Pokoknya malam ini Mama mau kamu pulang. Kita akan adakan pertemuan keluarga. Mama mau kamu menikah dengan gadis pilihan Mama. Titik! Tidak ada bantahan.”
Isabella berdiri, merapikan tasnya, lalu melambaikan tangan santai.
“Mama pergi dulu, sayang. Bye.”
Ia pergi begitu saja, meninggalkan Max yang masih terpaku di kursinya.
Pikiran Max penuh sesak, terutama oleh satu nama: Gabrielsen.
Tanpa membuang waktu, ia merogoh ponselnya dan menekan nomor seseorang.
Begitu sambungan tersambung, Max langsung bicara tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya menyapa.
“Cari rekaman CCTV di mal Jalan X. Aku mau videonya dalam satu menit. SEKARANG!”
Tut.
Panggilan diputus sepihak.
Max segera bangkit dan pergi menuju apartemennya.
Sementara di tempat lain, Jayden menatap ponselnya dengan wajah kusut.
“Untung gajiku besar. Kalau tidak, entah sudah kuumpat dia berapa kali,” gerutunya frustrasi.
~
“Mama, Papa di mana? Kok Alya dari pulang sekolah belum lihat Papa?”
Di ruang tamu, Alya berpapasan dengan ibunya, Helena.
Biasanya, saat pulang sekolah, ia selalu melihat ayahnya duduk santai dengan koran dan secangkir kopi. Namun hari ini rumah terasa asing. Yang menyambutnya justru bayangan sang ibu dengan wajah dingin.
“Nggak tahu,” jawab Helena cuek.
Alya mengernyit.
“Kok bisa nggak tahu? Mama seharian di rumah, kan?”
PRANG!
Helena membanting cangkir teh ke lantai. Pecahannya berhamburan, bahkan sebagian mengenai kaki Alya.
Gadis itu tersentak ketakutan.
“Berisik!” bentak Helena. “Kenapa sih kamu berisik sekali?! Mama nggak tahu Papa kamu di mana, dan Mama juga nggak peduli! Mau dia hidup atau mati, Mama nggak urus!”
Alya membeku.
Ini pertama kalinya ibunya membentaknya sekeras itu.
Air mata mulai menggantung di pelupuk matanya.
“M-Mama... barusan membentak Alya?”
“Iya! Kenapa?” Helena menunjuk wajah putrinya. “Mama pusing memikirkan kita yang sebentar lagi jatuh miskin, sedangkan kamu santai-santai saja!”
Napas Helena memburu oleh emosi.
“Mending kamu seperti kakakmu, kerja cari uang bantu keluarga ini!”
Ia menatap Alya dengan jijik.
“Jangan jadi seperti Papa kamu. Bisanya cuma diam di rumah, nggak mau berusaha!”
Setelah itu Helena pergi begitu saja, meninggalkan Alya yang berdiri dalam sunyi dan gemetar.
Padahal semua tuduhan itu tidak benar.
Tyo sudah berusaha semampunya. Ia bahkan menggadaikan rumah mereka. Namun semua itu tetap tak cukup menutup utang-utang yang menumpuk.
Tak lama kemudian, Helena menerima telepon.
“Bagaimana, sayang? Apa yang terjadi di sana?”
“Seperti biasa. Tapi anak itu hari ini membuatku stres.”
Suara pria di seberang terdengar lembut dan menggoda.
“Kenapa memikirkan hal tak penting? Lebih baik temui aku. Tidakkah kau rindu kehangatanku?”
Helena tersenyum tipis.
“Kau ini... selalu tahu apa yang kubutuhkan. Baiklah, aku ke sana sekarang.”
“Aku menunggumu, sayang.”
~
“Apa?! Jadi...?”
Jayden menatap Max penuh heran dari sofa apartemen mewah itu.
“Memangnya ada apa dengan video itu?”
Menurut Jayden, itu hanya rekaman biasa: Tante Isabella dijambret, lalu seseorang dari keluarga Gabrielsen datang menolong.
Namun Max menatap layar dengan wajah tak percaya.
Tangannya mengepal.
“Jadi... aku akan dijodohkan dengan dia?”
Wajah Max menegang, antara terkejut dan tak terima.
“Yang benar saja...” batinnya memberontak.