NovelToon NovelToon
Mantu Idaman

Mantu Idaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"

"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.

"Sah"

" Sah"

Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.

"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.

Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.

"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandra kecelakaan

Dunia seolah berhenti.

"Apa?," suara Xena berubah. Tajam dan tegang.

Rasti langsung menatapnya. Wajahnya memucat.

"Di mana?" tanya Xena cepat.

"Kami di rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian, Pak. Tolong segera ke sini."

Sambungan terputus. Beberapa detik Xena tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam ponsel. Rasti berdiri ditempatnya. Langkahnya sedikit goyah, tapi ia tetap mendekat.

"Itu...sandra?"

Xena mengangguk pelan.

"Ada apa?"

"Kecelakaan."

Rasti menelan ludah. Dadanya kembali terasa sesak. Tapi kali ini bukan karena cemburu, melainkan sesuatu yang lebih manusiawi.

"Kau harus ke sana."

Kalimat itu keluar begitu cepat dati yang ia kira . Xena menatapnya dalam, seolah ingin memastikan, "Kau yakin?"

Rasti mengangguk, meski matanya mulai berkaca-kaca, "Pergi."

"Rasti.."

"Dia membutuhkanmu sekarang."

Xena terdiam.

"Aku tidak akan kemana-mana," lanjut Rasti pelan.

"Tapi..."

"Kalau kau tidak pergi...kau yang akan menyesal," potong Rasti cepat.

Kalimat itu tepat. Dan jujur. Xena menghela nafas panjang. Lalu mengangguk. Ia menggenggam tangan Rasti sebentar.

"Tunggu aku."

Rasti mengangguk, "Iya."

Xena tidak berkata lagi. Ia berbalik dan keluar dengan langkah cepat. Pintu tertutup dan Rasti...kembali sendiri di kamar itu. Namun kali ini, ia tidak merasa ditinggalkan.

Di rumah sakit, langkah Xena terdengar tergesa di lorong yang panjang. Nafasnya sedikit memburu.

"Pasien kecelakaan atas nama Sandra?" tanyanya pada perawat.

"Di ruang ICU, Pak."

Langkah Xena langsung terhenti sesaat.

"ICU?" ucapnya lirih.

"Iya, Pak. Kondisinya sempat kritis saat datang. Sekarang masih dalam penanganan intensif."

Tanpa menunggu lagi, Xena langsung bergegas. Langkahnya semakin cepat. Lorong rumah sakit terasa panjang. Di depan pintu ICU, ia berhenti. Kaca transparan itu memperlihatkan sosok Sandra di dalam. Tubuhnya dipenuhi alat medis.

DEG

Jantung Xena berdegup. Untuk sesaat Xena hanya berdiri. Diam. Tangannya perlahan mengepal. Perasaan itu datang lagi. Bukan cinta yang sama seperti dulu. Tapi rasa bersalah sebagai seseorang yang pernah berarti. Seorang dokter keluar dari ruangan.

"Anda keluarga pasien?"

Xena menatapnya, "Saya...orang terdekatnya."

Dokter itu mengangguk pelan, "Pasien mengalami benturan di kepala dan pendarahan ringan. Kami sudah menangani, tapi 24 jam ke depan sangat penting."

Xena menelan ludah, "Apakah dia sadar?"

"Belum. Tapi tadi sempat merespon sebentar sebelum masuk ICU."

"Xena mengangguk, " Terima kasih, Dok."

"Anda bisa menunggu."

Dokter itu pergi. Xena kembali menatap ke dalam. Untuk pertama kalinya sejak ia mengakhiri hubungan mereka. Ia merasa hidup berubah dalam satu detik.

Di rumah... Rasti masih duduk di tepi ranjang. Tangannya saling menggenggam erat. Pandangannya kosong. Namun pikirannya tidak di sana. Satu jam...dua jam...tiga jam belum ada kabar. Sampai saat ini Xena belum menghubunginya.

Jam terus bergerak. Detiknya terdengar semakin jelas di kepala Rasti. Namun sampai sekarang tidak ada kabar. Tangannya dingin. Jari-jemari nya saling menggenggam erat.

"Kenapa belum...?" bisiknya pelan.

Perasaannya campur aduk. Antara cemas, takut, marah dan curiga. Takut jika keadaan di sana lebih buruk dati yang dibayangkan. Curiga jika Xena kembali pada masa lalunya. Rasti menarik nafas pelan. Namun justru terasa berat. Ragu. Ia meraih ponselnya. Layar menyala. Jempolnya sempat berhenti di atas nama Xena.

Ia menekan panggilan itu. Nada tersambung terdengar. Sekali...dua kali...tiga kali...namun tidak diangkat. Rasti menutup matanya perlahan. Dadanya kembali sesak.

"Tidak. Aku harus percaya."

Ia menurunkan ponselnya. Tangannya gemetar.

Akan tetapi...

Di rumah sakit, Xena masih duduk di kursi depan ICU. Tubuhnya sedikit membungkuk. Siku bertumpu di lutut. Kedua tangannya menyatu di depan wajahnya.

Ponsel bergetar. Nama Rasti muncul, Xena melihatnya lama. Namun, ia tidak mengangkatnya. Ia tidak tau harus berkata apa.

Beberapa saat l, ponsel itu kembali gelap.

Pintu ICU terbuka, seorang perawat keluar, "Pak?"

Xena langsung bangkit, "Iya."

"Pasien sudah sadar. Tapi masih lemah. Anda boleh masuk."

Langkah Xena terhenti sejenak. Namun akhirnya ia mengangguk, "Baik."

Di dalam ICU, suasana sunyi. Hanya suara alat medis yang terdengar. Sandra terbaring lemah. Wajahnya pucat. Matanya setengah terbuka. Saat pintu terbuka, Xena masuk. Air mata itu langsung jatuh.

"Kau datang..." suaranya pelan.

Xena berdiri di samping ranjang, "Bagaimana kau sekarang?"

"Aku hampir...mati, Xena..." bisiknya.

Xena tidak menjawab, tangannya memegang sisi ranjang. Mencoba menahan diri

"Aku takut..." suaranya kini bergetar.

Xena menunduk sedikit, "Aku di sini."

Jawaban itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Sandra menangis. Tangannya bergerak pelan. Mencari. Xena melihatnya. Lalu ia menggenggam tangan itu. Sandra menutup mata. Air matanya menetes dari sudut matanya.

"Jangan pergi."

Kalimat itu pelan. Namun menghantam dada. Xena terdiam, jantungnya berdegup. Wajah Rasti seketika terlintas di pikirannya. Xena menutup matanya sejenak. Menarik tangannya perlahan dari genggaman Sandra.

"Aku tidak akan pergi sekarang... sampai kau pulih," ucapnya pelan.

Sandra membuka matanya. Menatap Xena lama. Air matanya jatuh lagi, "Terima kasih."

***

Satu bulan berlalu, Xena memapah tubuh Sandra ke kamar mandi. Sejak kecelakaan itu Xena masih terus bersamanya.

"Pelan-pelan," ucap Xena.

Sandra menggenggam lengan Xena lebih erat saat langkahnya sedikit goyah, "Pelan-pelan."

Sandra mengangguk kecil. Wajahnya masih pucat, tapi jauh lebih hidup dibanding sebulan lalu.

"Aku bisa sendiri," ucap Sandra pelan, meski tangannya tidak benar-benar lepas.

Xena berhenti sejenak,lalu menatapnya, "Kalau kau bisa sendiri, kau tidak akan hampir jatuh tadi."

Sandra tersenyum tipis, Ada lelah dan ada sesuatu yang lain, "Iya, aku tau."

Xena tidak membalas. Ia membantu Sandra masuk ke kamar mandi, lalu berhenti di ambang pintu.

"Aku tunggu di luar."

Sandra menganggu

Sandra menggenggam lengan Xena lebih erat saat

Sandra tersenyum tipis. Ada lelah… dan ada sesuatu yang lain.

"Masih galak saja," gumamnya.

Xena tidak membalas. Ia membantu Sandra masuk ke kamar mandi, lalu berhenti di ambang pintu.

"Aku tunggu di luar."

***

Sementara di rumah utama, Rasti membantu Siti memasak sarapan untuk keluarganya. Suasana rumah itu semakin hangat. Mira mulai menerima Rasti sebagai menantunya. Namun hari demi hari, minggu demi minggu, Rasti menghabiskan tanpa kehadiran Xena di sisinya.

Ia mulai menyadari bahwa dari awal dirinya memang bukan pilihan pertama. Pisau di tangannya berhenti sesaat saat memotong sayur. Perutnya tiba-tiba terasa mual.

HUEK HUEK HUEK

"Ada apa, Nyonya?" tanya Siti.

Pasti menggeleng pelan, lalu beberapa detik kemudian rasa mual kembali menjalar.

HUEK HUEK HUEK.

Siti langsung panik. Tangannya mengusap punggung Rasti yang masih membungkuk di depan wastafel.

"Nyonya...pelan-pelan... tarik nafas dulu..." ucapnya cemas.

Rasti memegang pinggiran meja. Nafasnya memburu. Wajahnya pucat, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

"Aku... tidak apa-apa, Bu," bisiknya pelan, meski suaranya lemah.

Namun tubuhnya tidak bisa berbohong. Rasa mual itu datang lagi. Siti langsung mengambilkan segelas air.

"Minum dulu, Nyonya..."

Rasti menerima gelas itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia meneguk pelan. Nafasnya mulai lebih teratur, tapi wajahnya masih terlihat lelah.

"Kita panggil Ibu saja ya?" tanya Siti ragu.

Rasti menggeleng cepat, "Jangan... nanti Mama khawatir."

Namun terlambat, dati arah pintu dapur Mira susah berdiri di sana. Tatapannya langsung tertuju pada Rasti.

"Ada apa?"

Rasti langsung berdiri tegak, berusaha tersenyum, "Cuma... pusing sedikit, Ma."

Mira tidak langsung percaya. Ia melangkah mendekat l. Tangannya menyentuh Rasti.

"Duduk."

Rasti menurut. Tak ada bantahan. Mira memperhatikan wajah menantunya itu lebih seksama. Pucat, lemas dan membuatnya menyimpulkan sesuatu.

"Sejak kapan?"

Rasti terdiam sejenak, "Barusan saja, Ma."

"Tidak, Nyonya. Tadi juga Nyonya Rasti sempat mual. Dua kali." potong Siti akhirnya.

Mira menatap Rasti lagi, "Mual?"

Rasti menunduk, "Iya, Ma."

Hening beberapa dering. Lalu Mira menarik nafas pelan. Tatapannya berubah. Kini lebih tajam dan penuh perhitungan.

"Kapan kau terakhir kali datang bulan?"

DEG

1
amatiran
awal yang bagus 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!