NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

POV: Nara

"Kalau begitu, katakan apa yang terjadi." Tangannya semakin erat mencengkeram lenganku.

"Lepasin Dev, sakit," suaraku serak menahan tangis.

"Jangan ada yang ditutupi dariku, aku tidak suka," ucapnya tegas.

Aku tertawa kecil mendengar itu, "kalimat itu terdengar lebih pantas untukmu." Aku menatapnya sinis.

Dev terlihat bingung.

"Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?" tanyaku

"Apa yang kamu bicarakan, Nara? Tidak ada yang aku sembunyikan."

"Apa kamu belum selesai dengan seseorang?" tanyaku akhirnya.

Keningnya mengerut, wajahnya tampak bingung. "Bahkan aku tidak punya siapa pun selain kamu."

"Apa kamu meniduri semua wanita yang ada di sekitarmu, Dev?"

Ia mengusap wajahnya frustasi, "bicara yang benar, Nara. Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan?"

"Aku bertemu dengan seorang wanita sewaktu di toilet tadi, dia menunjukkan padaku sebuah video." Wajahku mendekat padanya, "dan kamu tahu apa isi video itu?"

Dev terdiam, menunggu kalimatku.

"Video saat kamu sedang berhubungan badan dengan wanita itu." Suaraku lirih hampir seperti berbisik di depan wajahnya.

Seketika ruangan menjadi hening.

"Apa yang dia katakan padamu?" tanyanya.

Aku berbalik, membuka pintu kamarku dan meninggalkannya tanpa menjawab. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya keluar. Rasanya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Orang yang seperti apa Devandra itu? Apakah dia bukan pria baik seperti dugaanku selama ini? Pikiranku penuh, kepalaku terasa pusing.

Tiba-tiba pintu terbuka, Dev masuk ke kamarku, ia duduk di sampingku meraih tanganku.

"Nara, aku bisa jelaskan semuanya." Tangannya mengusap pipiku.

"Namanya Shilla, dia bekerja di penerbitan milikku. Saat aku masih belum sembuh dari depresiku atas kehilangan, lalu Shilla datang mengulurkan tangannya."

Dadaku berdegup kencang setiap mendengar kalimatnya.

"Selama itu, dia selalu ada di sisiku, tanpa pernah aku minta. Bahkan tanpa ragu dia juga menyerahkan dirinya padaku."

Aku menoleh tajam padanya, "kamu menyukainya?"

Dev langsung menggeleng, "tidak pernah sama sekali."

"Lalu kamu semurah itu? Mau mencicipi sesuatu yang bahkan tidak kamu sukai." Tegasku.

Dev menghela nafas berat, "Nara... aku seorang pria. Tolong mengertilah. Dan waktu itu aku sedang di fase benar-benar kacau. Apapun akan aku lakukan jika itu bisa menyembuhkan lukaku."

"Dengan meniduri wanita, Dev?" suaraku serak, air mataku terus mengalir.

Dev menunduk, lagi-lagi menghela nafasnya. Aku tahu ada rasa bersalah dalam dirinya.

"Aku minta maaf, Nara."

Aku menarik tanganku dari genggamannya. Tapi kemudian dia meraih wajahku membuatku menoleh padanya.

"Tapi setelah aku memilikimu, setelah kamu hadir dalam hidupku. Aku menjauh darinya."

Dev memelukku erat, "tolong maafin aku! Semua itu sudah berlalu dan sekarang aku hanya milikmu."

Walaupun perasaanku masih terasa pedih, walaupun bayangan video itu masih terus berputar-putar di kepalaku. Tapi Dev benar, itu hanya masa lalu. Lagi-lagi... aku terseret dalam masa lalunya.

...***...

POV: Devandra

"Aku ingin bertemu."

Setelah kukirim pesan itu, aku langsung bergegas menuju mobil dan pergi menuju suatu tempat yang sudah ku atur.

Sesampainya di sana, aku menghentikan mobilku di bawah gedung tua yang sudah kosong. Suasananya tampak sunyi, bangunan tinggi itu mulai dipenuhi lumut hijau. Sesekali burung walet terbang mengitari bangunan kosong itu.

Pohon besar yang berada di teras gedung itu membawa angin berhembus kencang menerpaku. Aku melirik jam di tanganku, pukul delapan pagi. Beberapa saat kemudian, aku mendengar pintu mobil tertutup, suara langkah sepatu high heels berada di atas latai semen, perlahan mendekatiku.

"Kamu sudah menunggu lama?" Wajahnya tampak begitu ceria. "Sudah lama sekali... aku merindukanmu." Senyum itu muncul dari sudut bibirnya yang merah merona.

Aku tidak langsung menjawab, ada beberapa ingatan yang muncul begitu saja—tentangnya.

"Jangan pernah mengganggu Nara," suaraku rendah.

Aku bisa melihat perubahan di wajahnya, senyuman ceria itu lenyap dalam sekejap. Dia tertawa sinis, "jadi ini balasanmu setelah semua yang kulakukan?"

"Dari awal aku memang tidak pernah menginginkan mu," jawabku ketus.

"Aku sudah berikan semuanya padamu, Dev," teriaknya.

"Aku tidak pernah meminta, kamu yang datang dan menawarkan dirimu."

Dia tertawa, namun dibalik tawanya ada amarah yang memuncak. "Dasar pria menyedihkan, setelah bosan denganku lalu mencari pelacur baru yang bahkan wajahnya mirip dengan masa lalunya."

Plak! Tamparan itu mendarat tiba-tiba di pipinya, kalimatnya membuatku tak bisa menahan diri.

"Aku paling tidak suka ada orang yang menghina pasanganku," tegasku padanya.

Ia menatapku tajam.

"Kalau sampai aku mendengar kamu mendekati Nara lagi, aku tidak akan membiarkanmu." Tanganku menyingkap helai rambut yang menutupi wajahnya. "Karirmu di perusahaanku sangat bagus, jangan sampai kamu kehilangannya."

Itu lebih mirip seperti ancaman, aku pergi meninggalkannya dengan sebuah tanda yang ku berikan—pipi yang memerah dan air mata yang berlinang. Sebagai tanda bahwa aku tidak sedang main-main.

^^^***^^^

POV: Nara

Aku keluar dari kamar, menunju dapur untuk mengambil minum. Kubuka kulkas basar itu mengambil air dan menuangkannya di gelas. Aku melihat bibi Sumi tengah mondar-mandir, membereskan rumah.

"Bik... Dev ada di kamarnya?" tanyaku

"Bapak sedang tidak di rumah, Non. Tadi pagi pergi buru-buru."

Aku mengerutkan kening, "kemana?"

"Katanya ada urusan mendadak, bibi disuruh mastiin Non Nara untuk makan. Bibi sudah buatkan sarapan."

Tidak biasanya Dev pergi tanpa berpamitan denganku. Ada apa? Dia kemana?

Aku melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja, bibi sudah menyiapkan sarapan untukku, atas perintah Dev, aku tahu. Pria itu tidak pernah berhenti memperhatikanku, dia selalu peduli pada apapun tentangku, memperhatikan dan mengatur pola makanku, bahkan ia juga menyediakan stok vitamin untukku, katanya aku harus menjaga kesehatanku.

Aku sebenarnya tidak lapar, tapi jika itu sudah menjadi perintah Dev, aku harus menurutinya. Karena ada orang lain yang akan menjadi sasaran kemarahan Dev—bibi Sumi. Pernah suatu hari, aku tidak menuruti kemauan bibi untuk makan, pada akhirnya bibi Sumi lah yang menanggung kemarahan Dev. Setelah melihat kejadian itu, dan sejak saat itu pula apapun yang bibi perintahkan untukku, aku selalu menurut.

Setelah selesai makan, aku kembali ke kamarku. Tiba-tiba aku melihat Dev baru memasuki pintu dapan. Aku berhenti dan memperhatikannya,

"Kamu dari mana?"

Dia tersenyum, mengacak rambutku. "Aku baru saja selesai membereskan masalah."

"Masalah?" tanyaku bingung.

"Sekarang kamu tidak perlu bersedih lagi, perempuan itu tidak akan mengganggumu lagi."

Aku terperanjat, "kamu bertemu dengannya?"

"Iya, ini menjadi pertemuan pertama setelah sekian lama, dan akan menjadi pertemuan terakhir."

Aku tersenyum sinis, "kamu masih bisa bertemu dengannya, setiap saat. Bukankah dia bekerja di perusahaanmu?"

"Aku jarang ke sana dan aku tidak peduli dengannya. Atau... Kamu mau aku pecat dia?"

Aku kaget dan langsung menggeleng, "tidak perlu."

Aku tidak sejahat itu, menghancurkan hidup orang lain hanya karena aku membencinya. Aku berharap, setelah ini masalah benar-benar selesai. Tidak ada lagi orang dari masa lalu yang datang mengusikku. Demi apapun, aku lelah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!