Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - Topeng Polos
Di dalam kamar, sepasang pengantin baru sedang bermesraan. Setelah pulang pesta penyambutan Nala, mereka berdiam diri di dalam kamar. Zara yang baru saja selesai menghapus riasan dan mengganti pakaiannya, memilih duduk di samping suaminya.
“Kenapa, yang? Ada masalah?” tanya Zara saat melihat raut wajah Arsyad yang terlihat banyak pikiran
Arsyad hanya tersenyum, kemudian menarik Zara hingga jatuh ke pangkuannya. Menyembunyikan wajahnya di bahu Zara.
Zara yang melihat suaminya sedang ingin dimanja mengelus rambut suaminya. Memeluknya dengan tepukan menenangkan.
“Yang, kau mengenal Nala cukup lama?” tanya Arsyad tiba-tiba
Meskipun heran, Zara tetap menjawabnya. “Iya, kami mengenalnya cukup lama. Mungkin sejak kelas 3 SMP. Dia dulu anak pindahan yang dingin banget, butuh hampir 1 tahun untuk kita jadi dekat banget. Ya kira-kira kita baru dekat saat kita memasuki SMA.”
“Berarti kalian mengenal cukup lama,” ujar pelan Arsyad
“Ya. Dan kau tau, Nala lah yang mengajakku di dunia modeling. Dia mengajarkan bermain piano bahkan membiayaiku les balet.”
“Apakah kau mengenal betul Nala? Seluk beluknya? Maksudnya seperti mantan kekasihnya, gitu?”
Zara semakin heran dengan Arsyad. Ini kali pertama Arsyad terlihat ingin tau seluk beluk temannya. Bahkan dulu saat ia mengenalkan Maya dan Citra, Arsyad tak pernah menanyakan hal yang detail. Dia hanya merasa cukup tau latar belakang orang-orang yang berada di dekatnya, dan dia akan mengurus sisanya sendiri.
“Kenapa kau menanyakan soal Nala?” Kerutan di dahinya tak bisa ia kondisikan. Zara mungkin mencintai Arsyad, namun jika suaminya ini berniat mengganggu Nala tak akan ia biarkan. Baginya, Nala adalah keluarganya, adik bungsunya. Adik bungsu yang harus selalu ia jaga bagaimanapun situasi dan kondisinya. Tak akan ia biarkan siapapun menyakitinya, termasuk suaminya sendiri.
Arsyad yang tau bahwa Zara mulai berpikiran buruk soal niatannya segera mengetuk dahi Zara. “Tenang saja, nggak ada niatan buruk aku ke Nala.” Mengelus dahi Zara perlahan adalah caranya untuk menenangkan Zara yang sedang berpikir negatif.
“Seperti yang kau tau, aku dan Agas ingin menjodohkan Kak Arya dengan Nala. Hanya saja—“
“Hanya saja apa? Kau merasa Nala tak cocok dengan Kak Arya? Dengar ya, Kak Arya yang nggak cocok dengan Nala tau!” Zara secara spontan merasa kesal sendiri meskipun belum mendengar kalimat lengkap dari suaminya. Dia langsung berdiri, berpindah tempat dari pangkuan suaminya itu.
Arsyad yang melihat itu tertawa kecil. Mana berani ia menilai seseorang yang begitu dilindungi oleh istrinya yang hebat ini. Dirinya tau bagaimana persahabatan Zara dengan ketiga temannya. Meskipun tau sedikit, tapi dirinya juga mampu menilai bahwa pertemanan mereka sangat solid.
Berjalan perlahan, Arsyad memeluk istrinya dari belakang. Mengelus perut istrinya, mengecup pipi istrinya yang tampak manis itu.
“Bukan merasa nggak cocok, sayang. Hanya saja, aku merasa sepertinya Kak Arya sudah mengenal Nala jauh sebelum acara pernikahan kita.”
Mendengar dugaan Arsyad, Zara berputar ke belakang. Menatap suaminya seksama, mencari kebohongan di dalamnya. Nyatanya nihil. Dia tak menemukannya, yang dikatakannya adalah kejujuran.
“Kenapa kau merasa begitu?”
“Karena responnya yang terlihat ingin memancing sesuatu di ingatan Nala saat acara.”
“Memancing?”
“Iya, kau tau bukan. Kakakku itu bertanya-tanya soal gelang yang bahkan aku dan yang lain tak menyadarinya.”
Zara terdiam. Memang benar, saat itu terlihat aneh. Arya yang baru mengenal Nala, langsung menanyakan banyak hal termasuk gelang yang bahkan orang normal akan memilih diam dibanding merasa ikut campur atau terlalu terlihat ingin tau. Namun, mengingat profesi Arya terdahulu membuatnya memaklumi.
“Kau kan tau, Kak Arya dulunya polisi. Mungkin dia masih terbawa cara kerjanya sebagai polisi. Memindai dari hal yang terkecil dan menanyainya. Memastikan segala informasi yang bisa ia dapat.”
Mendengar itu, Arsyad merasa itu terdengar masuk akal. Arya memang memiliki mata yang tajam, bahkan instingnya pun juga tajam. Hanya saja, terasa ada yang mengganjal. Namun dirinya tak mengetahui hal itu. Ada lubang dalam perlakuan Arya, namun dirinya tak tau apa itu.
“Kau terlalu banyak pikiran, sayang. Aku tau, kamu hanya ingin Kak Arya segera menikah juga kan. Bertemu cintanya seperti dirimu dan Agas.”
“Ya. Aku hanya ingin melihat Kak Arya bahagia. Kau tau, Kak Arya begitu bekerja keras siang dan malam saat Wijaya Group hampir tumbang. Jika Wijaya Estate Group jatuh, maka Wijaya Prime Media akan jatuh juga.”
Zara memeluk suaminya erat. Dia tau betapa sayangnya Arsyad dengan Arya. Bagi Arsyad, Arya adalah panutannya. Sosok idola yang tak tergantikan. Sama seperti dirinya. Baginya Nala, Citra dan Maya adalah segalanya. Mereka adalah keluarganya. Tak ada yang boleh menyakiti mereka, bahkan seujung kuku pun tak boleh.
“Lalu, soal perjodohan itu masih mau di lanjut?” tanya Zara pelan
“Menurutmu gimana?” Arsyad dilanda kebingungan. Dia ingin melanjutkan rencananya, namun dia tak ingin membuat dua pihak itu menjadi marah kepadanya. Melangkah jauh, mungkin akan menimbulkan risiko yang fatal.
“Menurutku biarkan mereka saling mengenal. Jika terlihat Kak Arya tampak ingin mendekati Nala, kita bantu. Tapi ingat, jangan paksa Nala!” peringat Zara. Dirinya tak ingin Nala menjalani suatu hubungan melalui paksaan.
Arsyad tersenyum dan mengangguk pasti. Mana mungkin ia biarkan adik kesayangan istrinya di sakiti. Sekarang, Arsyad hanya perlu mencari informasi soal Nala. Segalanya. Ia harus menyiapkan panggung untuk kakaknya.
...****************...
Malam Hari
Dipta yang baru saja sampai di rumah bersama istri dan anaknya merasa heran rumah yang terlihat sepi. Makanan di atas meja masih tertata rapi. Ini sunyi, sunyi yang sangat aneh.
“Mas, ini rumah sepi banget. Nala ada pamit mau pergi kah?” tanya Maya sambil menggendong putra mereka.
“Tak ada. Dia tak ada pamit jika ingin pergi.”
Keduanya merasa heran. Melihat jam dinding, pukul 7 malam yang menandakan bahwa pekerja di rumah sudah pulang ke rumah mereka.
“Mas telepon Bi Sarti dulu.”
Maya mengangguk, kemudian memilih naik, masuk ke dalam kamar putranya yang telah tertidur dalam gendongannya.
“Gimana mas?” tanya Maya saat melihat suaminya menyusul dirinya di kamar putra mereka.
“Kata Bi Sarti, Nala tak keluar kamar sejak siang. Bahkan melewatkan makan siangnya. Saat di panggil, tak ada sahutan dari kamar. Bibi berpikir Nala sedang tidur, jadi tak ingin mengganggunya. Saat sore pun, Bi Sarti hanya mengetuk pintu sebentar dan memberitahu dari balik pintu.”
“Mas, mana mungkin Nala tidur selama itu?”
“Ya karena itu, mas mau ke kamar Nala dulu. Mau ngecek dia. Gini nih kalau nggak dipantau, suka sekali sembrono!” kesal Dipta melihat tingkat kecerobohan adiknya tak berubah. Masih sama seperti dulu. Padahal Nala sudah dewasa. Inilah yang membuat selalu protektif pada wanita dewasa yang sebenarnya masih seperti anak kecil yang manja.
Tok...
Tok..
“Nala, buka pintunya sekarang!” Nada yang sedikit meningkat, Dipta terasa kesal karena tak ada respon apapun dari Nala.
Dipta kembali mengetuk. Hanya saja, kali ini lebih ia keraskan.
“Nala, buka pintunya!”
Dipta menghentikan ketukannya saat melihat hendel pintu bergerak.
“Iya bang, apa sih?” lirih Nala
Pandangan Dipta dari bawah ke atas. Sandal rumahan berbulu, kemudian naik melihat piyama berwarna merah muda dengan motif kelinci. Tak lupa sebuah tudung piyama berbentuk kelinci. Hanya saja, pandangannya terpaku pada mata Nala yang membengkak.
Dipta menakup wajah adiknya itu. Ia melihat dengan seksama mata adiknya yang membengkak dengan jejak air mata disana.
“Kau menangis?”
Nala mengangguk. “Iya bang, buku harian milik ayah membuatku sedih. Kangen.” Suara serak milik Nala masih terdengar jelas.
“Mana buku itu?”
Nala segera masuk ke dalam kamar dan memberikan bukunya. “Ini bang!”
“Kau membacanya sampai mana?” tanya Dipta. Dirinya baru saja ingat bahwa ada beberapa hal yang mungkin lebih baik ia sembunyikan. Contohnya soal ayahnya mengetahui siapa selingkuhan ibunya saat masih bersama ayahnya atau keluarga baru ibunya. Dipta tak ingin adiknya merasa sakit hati kembali dan memicu ingatannya lebih jauh lagi.
“Ah, sampai aku membuat cincin untuk ayah dan ayah bilang aku sedang melamarnya. Padahal kan itu hadiah!” canda Nala
Dipta tertawa mendengar itu. Dirinya memang sempat membaca buku itu dulu. Mengingat tulisan ayahnya yang terlihat konyol itu, namun ia merindukan candaan ayahnya. Dipta mengelus kepala adiknya yang ia yakin bahwa adiknya juga sedang merindu.
“Kau yakin, hanya sampai itu?” Dipta sedikit tak mempercayai perkataan adiknya
“Iya bang, kenapa?” Wajah polos adiknya masih sama. Dirinya bernapas lega bahwa pikiran buruknya tidak terjadi.
“Tidak ada, tapi buku ini abang sita. Sekarang ayo makan, abang temani kamu.”
“Tapi bang—“
“Nggak ada tapi-tapian. Ayo!” Dipta menarik Nala agar berjalan mengikutinya. Nala yang awalnya tampak polos dan lugu kini berubah menjadi datar.