Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam penyelamat
“Lo mau ke mana, Bro, malam-malam gini?” tanya Radit saat melihat Xavero yang sudah rapi.
“Gue mau cari kerja tambahan, Dit,” jawab Xavero.
Radit mengerutkan kening. “Malam-malam gini?”
Xavero mengangguk. “Iya, Dit. Siapa tahu ada kerjaan tambahan buat gue. Part-time juga nggak apa-apa.”
“Lo nggak capek? Kita baru saja pulang kerja, Bro.”
Xavero menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Dit. Selagi tenaga gue masih oke,” jawabnya santai. “Gue keluar dulu ya, Dit.”
Radit hanya bisa mengangguk. Ia tahu, tekad Xavero sudah bulat dan tak mungkin dicegah.
Radit menatap punggung Xavero yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Semoga keluarga Mahendra mendapatkan balasan atas apa yang mereka lakukan pada orang sebaik lo, batinnya pelan.
Di atas motornya, Xavero mengelilingi kota Eldoria. Malam itu, ia benar-benar berniat mencari pekerjaan tambahan. Hinaan dan cacian dari keluarga Mahendra masih terngiang, membakar tekadnya untuk bekerja lebih keras, agar suatu hari nanti harga dirinya tidak lagi diinjak.
Ia menarik gas. Angin malam menerpa wajahnya.
Hingga tiba-tiba—
Brugh!
Xavero mengerem mendadak.
Tak jauh di depan matanya, sebuah mobil menabrak pohon dengan keras.
Xavero terdiam sesaat, lalu buru-buru turun dari motor dan berlari menghampiri mobil tersebut.
“Ya Tuhan…” gumamnya saat melihat bagian depan mobil yang hancur.
“Tolong…” terdengar suara pelan dari dalam.
Xavero segera berusaha membuka pintu mobil. “Panas…” gumamnya, namun ia tetap memaksa membuka pintu bagian depan.
Saat berusaha menarik pintu itu, Xavero melirik ke bagian depan mobil.
Bau bensin langsung menyengat hidungnya. Asap tipis keluar dari kap mesin yang penyok, disertai suara berdesis halus.
Matanya langsung melebar.
“Sial…” gumamnya pelan.
Namun ia tidak berhenti.
Ia terus berusaha membuka pintu demi menyelamatkan orang di dalamnya. Beberapa saat kemudian, pintu itu akhirnya terbuka.
Di dalam, terlihat seorang wanita meringkuk di bagian bawah dekat pedal.
Xavero segera membantu wanita itu dengan hati-hati.
Wanita itu menatap Xavero dengan mata sayu, lalu perlahan menutup matanya.
“Sadar, Nona…” ucap Xavero, namun tidak ada respons.
Xavero memeriksa denyut nadinya di leher, dan ia sedikit lega, wanita itu masih hidup.
Tanpa membuang waktu, ia menggendong wanita itu keluar dari mobil.
Hingga…
Duar!
Ledakan keras mengguncang udara malam.
Xavero refleks membalikkan tubuhnya, memeluk wanita itu erat sambil menunduk.
“Ugh—!”
Suara ledakan membuat telinganya berdenging. Tubuhnya sedikit terhuyung, napasnya memburu.
Beberapa serpihan kecil menghantam punggungnya, membuatnya meringis pelan.
Beberapa detik…
Dunia terasa sunyi, hanya dengungan di telinganya yang tersisa.
Hanya suara api yang berkobar dan napas Xavero yang memburu.
Ia perlahan mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arah mobil yang kini sudah menjadi kobaran api.
Matanya melebar sedikit.
“Syukurlah…” gumamnya pelan.
Tangannya masih memeluk tubuh wanita itu erat, seolah memastikan bahwa dia benar-benar selamat.
Ia menunduk, menatap wajah pucat wanita itu.
“Hampir saja…” ucapnya lirih, napasnya masih belum stabil.
Xavero menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ada rasa lega yang benar-benar terasa.
Ia masih sempat menyelamatkannya.
Ia masih berhasil.
Ia tidak terlambat.
Perlahan, ia memindahkan wanita itu ke tepi jalan, menjauh dari kobaran api.
“Tahan… ya,” ucapnya pelan, meski tahu wanita itu tidak sadar.
Tangannya sedikit gemetar saat ia merogoh ponsel dari saku.
Dengan cepat, ia menekan nomor darurat.
“Halo, ada kecelakaan di jalan menuju hutan Eldoria, dekat tikungan barat. Mobil meledak, ada korban selamat satu. Tolong kirim ambulans secepatnya.”
Setelah menutup telepon, Xavero kembali menatap wanita itu.
Rambutnya berantakan, wajahnya kotor oleh debu dan sedikit darah di pelipis.
Namun tetap terlihat, bukan orang biasa.
Pakaiannya, aksesori yang masih melekat, semua menunjukkan itu.
Xavero menyipitkan mata sedikit.
“Tahan dulu, ya…” gumamnya lagi.
Ia melepas jaketnya, lalu menutup tubuh wanita itu perlahan agar tidak terlalu terkena angin malam.
Setelah beberapa saat, suara sirene mulai terdengar, memecah keheningan malam.
Xavero menghela napas panjang sekali lagi, kali ini lebih tenang.
Ia sedikit bersandar di tepi trotoar, tetap di samping wanita itu, tidak beranjak sedikit pun.
Pandangan Xavero kembali tertuju pada wanita tersebut.
Dua orang paramedis segera turun dari ambulans dengan gerakan cepat dan terlatih.
“Korban di mana?” tanya salah satu dari mereka.
“Di sini,” jawab Xavero singkat, sambil sedikit menyingkir agar mereka bisa mendekat.
Paramedis langsung berjongkok di samping wanita itu. Salah satunya memeriksa denyut nadi, sementara yang lain menyorotkan senter kecil ke arah matanya.
“Masih ada nadi. Tapi lemah,” ucapnya serius.
“Cepat, kita angkat.”
Mereka segera membuka tandu lipat dari ambulans, lalu dengan hati-hati memindahkan tubuh wanita itu ke atasnya.
Xavero memperhatikan tanpa berkedip.
Tangannya masih sedikit kaku, seolah kejadian barusan belum sepenuhnya selesai di kepalanya.
“Tuan,” panggil salah satu paramedis.
Xavero menoleh.
“Anda yang menolong korban?”
Xavero mengangguk. “Iya.”
Paramedis itu mengangguk cepat. “Kami butuh Anda ikut ke rumah sakit sebagai saksi. Sekalian untuk keterangan awal.”
Xavero terdiam sejenak.
Matanya melirik ke arah wanita itu yang sudah mulai dimasukkan ke dalam ambulans.
Lalu kembali ke paramedis.
“Baik,” jawabnya singkat.
Paramedis itu menunjuk ke arah ambulans. “Kalau bisa ikut di dalam—”
Xavero menggeleng pelan.
“Saya ikut pakai motor saja. Saya di belakang.”
Paramedis itu mengangguk memahami. “Baik, kami langsung berangkat. Jangan terlalu jauh.”
Xavero mengangguk.
Pintu ambulans ditutup.
Tak lama—
“Wiuu… wiuu…”
Sirine kembali meraung, dan ambulans melaju cepat meninggalkan lokasi.
Xavero berdiri beberapa detik di tempat.
Menatap ke arah api yang masih menyala dari sisa mobil yang hancur.
Lalu ia menarik napas panjang.
Tanpa banyak pikir, ia berbalik, menaiki motornya.
“Semoga lo kuat…” gumamnya pelan, entah untuk wanita itu… atau untuk dirinya sendiri.
Brum!
Mesin motor kembali menyala.
Tanpa ragu—
Xavero melaju, mengikuti ambulans yang kini sudah lebih dulu membelah jalanan malam Eldoria.
°°
Di lorong rumah sakit yang sepi, suara langkah kaki yang berlari terdengar, memecah kesunyian yang menyelimuti.
Langkah itu berhenti tepat di depan meja resepsionis.
Seorang pria dengan setelan rapi, napasnya sedikit tersengal seolah baru saja berlari, menatap petugas di depannya dengan wajah tegang.
“Korban kecelakaan yang baru saja masuk… di mana dia sekarang?” ucapnya cepat.
Resepsionis itu sempat terkejut dengan nada panik pria tersebut, tapi segera kembali profesional.
“Mohon tenang, Tuan,” ujarnya lembut. “Korban baru saja dibawa ke ruang penanganan. Saat ini masih dalam tindakan dokter.”
Pria itu mengerutkan kening, jelas tidak puas dengan jawaban singkat itu.
“Kondisinya bagaimana?” tanyanya lagi, nadanya lebih mendesak.
“Untuk saat ini kami belum bisa memberikan detail,” jawab resepsionis tetap tenang. “Tim medis masih melakukan penanganan intensif.”
Pria itu menghembuskan napas berat, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
“Pastikan dia ditangani oleh dokter terbaik,” ucapnya dingin, tapi penuh tekanan.
Resepsionis mengangguk cepat.
“Tentu, Tuan. Semua pasien mendapatkan penanganan terbaik dari tim kami.”
“Siapa yang membawa adik saya ke sini?” tanya pria itu lagi.
“Itu dia orangnya, Tuan,” jawab resepsionis sambil menunjuk ke arah Xavero yang duduk di depan ruang UGD.
Pria itu menoleh, lalu tanpa berkata apa-apa langsung menghampiri Xavero.
“Apakah Anda yang telah menyelamatkan adik saya?” ucapnya tepat di hadapan Xavero.
Xavero mengangkat wajahnya. “Apa yang ada di dalam ruangan UGD itu adik Anda?” tanyanya balik.
Pria itu mengangguk. “Iya. Dia adik saya yang mengalami kecelakaan di jalan menuju hutan Eldoria,” jawabnya.
Xavero mengangguk pelan, lalu beranjak dari duduknya. “Benar, Tuan. Saya yang menyelamatkan adik Anda,” ucapnya dengan sopan.
Pria itu terdiam beberapa detik.
Tatapannya menelusuri wajah Xavero, tajam dan menilai, seolah ingin memastikan kebenaran dari setiap kata yang baru saja diucapkan.
Lalu, perlahan, ekspresinya sedikit melunak.
“Terima kasih,” ucapnya akhirnya. Suaranya tetap tenang, tapi kali ini ada ketulusan yang terselip di dalamnya. “Jika bukan karena Anda, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada adik saya.”
Xavero menggeleng pelan.
“Saya hanya kebetulan lewat, Tuan.”
“Kebetulan yang menyelamatkan nyawa seseorang tetaplah bukan hal kecil,” balas pria itu singkat.
Hening sejenak.
Suara langkah perawat yang berlalu-lalang di lorong menjadi satu-satunya pengisi suasana.
Pria itu kembali berbicara, kali ini nadanya lebih serius.
“Bagaimana kejadiannya?” tanyanya. “Apa yang sebenarnya terjadi di sana?”
Xavero menarik napas pelan, lalu mulai menjelaskan.
“Saya lihat mobilnya sudah menabrak pohon. Bagian depan hancur, dan mesin mulai panas. Saya mendengar suara minta tolong dari dalam, jadi saya coba buka pintunya.”
Ia berhenti sejenak, mengingat kembali detik-detik itu.
“Waktu saya berhasil buka, kondisinya sudah lemah. Saya langsung membawanya keluar, dan tidak lama setelah itu mobilnya meledak.”
Tatapan pria itu berubah.
Ada kilatan emosi di sana—campuran antara takut… dan marah.
“Meledak?” ulangnya pelan.
Xavero mengangguk.
“Iya, Tuan. Kalau terlambat sedikit saja… mungkin keadaannya akan berbeda.”
Pria itu mengepalkan tangannya.
Rahangnya mengeras.
Ia merogoh ponselnya dari saku jasnya, lalu segera menelepon seseorang.
"Telusuri detail kecelakaan Naura. Pastikan tidak ada yang terlewat. Saya yakin ini bukan kecelakaan biasa.”