Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Sahabat yang Menjadi Mimpi Buruk
“Aku pernah lihat dia di rumah…”
Suara Nadira terdengar kecil.
Tubuhnya masih membeku sambil menatap layar laptop di depannya.
Video itu berhenti tepat di wajah pria berhoodie hitam tersebut.
Buram.
Namun cukup jelas untuk dikenali.
Arsen langsung memperbesar gambar itu beberapa kali.
Tatapannya berubah makin dingin.
“Kamu yakin?”
Nadira mengangguk pelan.
“Dia sering datang waktu aku kecil.”
Jantungnya berdetak makin keras.
“Papa selalu manggil dia Om Adrian.”
Deg.
Ruangan mendadak terasa sesak.
Nama itu lagi.
Adrian.
Nama yang terus muncul sejak tadi.
Dan sekarang semuanya mulai tersambung.
“Jadi…” Nadira menelan ludah, “orang yang nabrak mobilku dulu adalah Adrian?”
Arsen belum menjawab.
Tatapannya masih fokus pada layar.
“Belum tentu dia yang nyetir.”
“Tapi dia ada di sana.”
“Iya.”
Suasana kembali hening.
Namun kali ini bukan hening biasa.
Ini hening yang dipenuhi rasa takut.
Karena semakin dekat mereka pada jawaban…
Semakin mengerikan kenyataannya.
Arsen langsung memanggil anak buah kepercayaannya malam itu juga.
Namanya Damar.
Pria tinggi dengan tatapan tajam yang selalu terlihat serius.
“Cari semua informasi tentang Adrian.”
Damar mengangguk cepat.
“Adrian Pratama?”
Deg.
Nadira langsung menoleh.
“Kamu kenal dia?”
Damar terlihat ragu sesaat sebelum menjawab.
“Dulu dia cukup terkenal.”
“Sebagai apa?”
“Partner bisnis lama keluarga Maheswara.”
Tatapan Arsen langsung berubah.
“Partner?”
“Iya.”
Nadira mulai merasa kepalanya sakit lagi.
Semuanya makin rumit.
“Kamu tahu dia sekarang di mana?”
Damar menggeleng.
“Sudah hilang cukup lama.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kecelakaan Nona Nadira.”
Deg.
Ruangan mendadak dingin.
Arsen menyandarkan tubuh ke sofa sambil menyipitkan mata.
“Menarik.”
“Yang lebih aneh…” Damar melanjutkan pelan, “nama Adrian hampir nggak pernah disebut lagi setelah itu.”
Nadira memeluk dirinya sendiri.
Karena itu berarti…
Keluarganya benar-benar sengaja menghapus keberadaan pria itu.
Pukul dua pagi.
Namun tidak ada yang bisa tidur.
Nadira duduk di ruang tengah penthouse sambil memandangi hujan di luar jendela.
Kepalanya penuh.
Arsen datang membawa selimut lalu menyampirkannya di pundaknya.
“Kamu bakal sakit kalau terus di sini.”
“Aku nggak ngantuk.”
Pria itu duduk di sampingnya.
Dekat.
Terlalu dekat.
Namun kali ini Nadira tidak menjauh.
Ia terlalu lelah untuk melawan perasaannya sendiri.
“Aku takut, Arsen.”
Tatapan pria itu langsung melunak.
“Takut apa?”
“Kalau ternyata keluargaku lebih buruk dari yang aku kira.”
Arsen diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Kamu bukan keluarga kamu.”
Deg.
Kalimat sederhana itu lagi-lagi membuat dadanya hangat.
“Aku pernah mikir…” Nadira tersenyum kecil hambar,
“mungkin hidupku bakal gampang kalau aku lahir jadi orang biasa.”
Arsen menatapnya lama.
“Orang biasa juga punya masalah.”
“Iya, tapi mungkin nggak sesakit ini.”
“Aku nggak yakin.”
Nadira menoleh.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Ia benar-benar memperhatikan wajah Arsen.
Pria itu terlihat lelah.
Sangat lelah.
“Kamu juga capek ya?”
Arsen tertawa kecil.
“Akhirnya kamu sadar.”
“Aku serius.”
Tatapan Nadira melembut.
“Kamu terus jagain aku dari awal.”
Dan sialnya…
Arsen malah tersenyum tipis.
“Karena aku mau.”
Jantung Nadira langsung tidak aman lagi.
Kenapa pria ini selalu bisa bicara sesantai itu sementara dirinya nyaris mati karena deg-degan?
“Arsen…”
“Hm?”
“Kamu nggak boleh terlalu baik sama aku.”
“Kenapa?”
“Karena aku makin susah mundur.”
Deg.
Untuk sesaat…
Tatapan Arsen berubah sangat dalam.
Berbahaya.
Dan detik berikutnya pria itu mendekat perlahan.
“Nadira.”
Napas gadis itu mulai kacau.
“Aku udah bilang…”
Suara Arsen rendah.
“Berhenti lari.”
Jantung Nadira benar-benar tidak normal sekarang.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia ingin menyerah.
Namun tepat saat suasana mulai berubah—
Suara pintu terbuka membuat mereka langsung menjauh cepat.
Nayla berdiri di ambang pintu sambil menatap mereka diam.
Deg.
Nadira langsung panik.
“Nayla…”
Namun saudara kembarnya justru terlihat tenang.
Terlalu tenang.
“Aku ganggu ya?”
“Nggak,” jawab Nadira cepat.
Nayla tersenyum kecil.
Senyum tipis yang sulit dibaca.
“Aku cuma mau minum.”
Ia berjalan ke dapur tanpa bicara lagi.
Namun suasana sudah telanjur berubah canggung.
Dan Nadira mulai merasa bersalah lagi.
Keesokan paginya Nayla menghilang.
Mamannya panik setengah mati.
“Dia nggak ada di kamar!”
Papanya langsung marah besar.
“Security mana?!”
Nadira buru-buru menelepon Nayla.
Tidak aktif.
Jantungnya mulai tidak tenang.
“Dia nggak mungkin pergi sendiri setelah semua ini…”
Arsen langsung mengambil kunci mobil.
“Kita cari.”
Sementara itu…
Nayla duduk sendirian di sebuah café kecil di pinggir kota.
Matanya kosong menatap secangkir kopi dingin.
Semalaman ia tidak bisa tidur.
Bukan karena Rafael.
Bukan karena Adrian.
Tapi karena satu hal yang paling tidak ingin ia akui.
Cara Arsen menatap Nadira.
Ia melihatnya jelas tadi malam.
Tatapan yang tidak pernah Arsen berikan padanya.
Dan itu menyakitkan.
Sangat menyakitkan.
“Nayla.”
Tubuh Nayla langsung menegang.
Suara itu…
Ia mengenalnya.
Perlahan Nayla mengangkat kepala.
Dan wajahnya langsung pucat.
“Om Adrian…”
Pria paruh baya itu tersenyum tipis lalu duduk di depannya.
Rapi.
Tenang.
Dan terlihat sangat normal.
Padahal pria itu seharusnya menghilang bertahun-tahun lalu.
“Kamu tumbuh cantik.”
Nayla langsung berdiri panik.
“Kamu jangan dekat-dekat keluargaku lagi!”
Namun Adrian justru tertawa kecil.
“Ayahmu belum cerita apa-apa ya?”
Deg.
Nayla langsung membeku.
“Apa maksudnya?”
Pria itu menatapnya lama.
Tatapan yang membuat bulu kuduk Nayla meremang.
“Kasihan.”
“Apa?”
“Kalian semua hidup di atas kebohongan.”
Napas Nayla mulai tidak stabil.
“Kamu yang nyebabin kecelakaan Nadira?”
Adrian diam beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Bukan cuma Nadira yang ada di mobil malam itu.”
Deg.
Jantung Nayla langsung jatuh.
“Apa?”
Tatapan Adrian berubah dingin.
“Harusnya malam itu ada satu orang lagi.”
“NAYLA!”
Nadira langsung berlari masuk ke café begitu melihat saudara kembarnya di sana.
Namun langkahnya langsung berhenti.
Karena Adrian duduk tepat di depan Nayla.
Pria itu perlahan menoleh.
Dan untuk pertama kalinya…
Nadira melihat wajah jelas dari pria yang menghantuinya selama bertahun-tahun.
Deg.
Kepalanya langsung sakit hebat.
Potongan ingatan mulai muncul lagi.
Suara pria itu.
Tawanya.
Dan malam hujan berdarah itu.
“Nadira…”
Suara Adrian terdengar pelan.
Seolah mengenalnya sangat baik.
Arsen langsung berdiri di depan Nadira protektif.
Tatapannya tajam seperti siap membunuh.
“Jangan dekat-dekat dia.”
Adrian tertawa kecil.
“Arsen Wijaya.”
Ia bersandar santai di kursi.
“Kamu mirip ayahmu.”
Tatapan Arsen langsung menggelap.
“Aku nggak akan ulang dua kali.”
Namun Adrian sama sekali tidak takut.
Justru pria itu terlihat santai.
“Aku cuma mau ngobrol.”
“Kita nggak punya bahan obrolan.”
“Oh ada.”
Tatapan Adrian perlahan jatuh ke Nadira.
Dan senyum kecil muncul di wajahnya.
“Terutama sama dia.”
Tubuh Nadira langsung dingin.
“Aku nggak kenal kamu.”
“Kenal.”
Jawaban Adrian terlalu cepat.
Dan terlalu yakin.
“Kamu cuma lupa.”
Kepala Nadira kembali nyeri.
Bayangan samar muncul lagi.
Dirinya kecil.
Menangis.
Dan Adrian berdiri sambil memegang sesuatu di tangannya.
Cincin?
Tidak…
Kalung.
“Nadira!”
Suara Arsen membuyarkan lamunannya.
Ia baru sadar tubuhnya hampir jatuh.
Arsen langsung menahan pinggangnya cepat.
“Kamu pucat.”
Namun Adrian justru memperhatikan mereka dengan senyum aneh.
“Lucu.”
Tatapannya bergeser antara Arsen dan Nadira.
“Kalian ternyata sedekat ini.”
Nadira langsung merinding.
Ada sesuatu dalam nada suara pria itu yang membuat tidak nyaman.
“Apa maumu?” tanya Arsen dingin.
Adrian tersenyum tipis.
“Aku cuma mau lihat…”
Tatapannya kembali ke Nadira.
“…apa dia sudah mulai ingat semuanya.”
Sunyi.
Café itu terasa terlalu sempit sekarang.
Terlalu menyesakkan.
“Aku nggak ngerti apa yang kamu omongin,” bisik Nadira.
“Belum.”
Adrian berdiri perlahan.
Lalu mendekat satu langkah.
Dan Arsen langsung bergerak maju menghalanginya.
Namun pria itu hanya tersenyum kecil.
“Kalau kamu ingat malam itu…”
Tatapannya tajam menusuk Nadira.
“Kamu bakal tahu siapa yang sebenarnya membunuh keluargamu.”
Deg.
Napas Nadira langsung berhenti.
“Apa…?”
Namun Adrian sudah berjalan pergi.
Meninggalkan mereka dalam kebekuan.
Dan untuk pertama kalinya…
Nadira merasa dirinya benar-benar tidak mengenal keluarganya sendiri.