Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.
Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan
Siang datang tanpa permisi. Cahaya matahari menerobos masuk, terlalu terang, terlalu menusuk. Meisyah sudah berdiri di dekat jendela cukup lama—lebih lama dari yang ia sadari. Matanya menelusuri kerumunan orang di bawah sana; langkah mereka cepat, tujuan mereka jelas sangat berbeda dengannya.
“...Aku mau keluar.”
Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Pelan, namun cukup keras untuk membuatnya sendiri terdiam. Ia mengulanginya dalam hati: keluar bukan kabur hanya… keluar.
Pintu kamar terbuka. Ibunya masuk, seperti biasa: rapi, tenang, terkendali.
“Udah makan, Mei” tanyanya singkat.
Ia mengangguk pelan, sebuah kebohongan kecil yang sudah menjadi kebiasaan
" Ada yang ingin Mama bicarakan.” Nada suara ibunya berubah, menjadi lebih berat dan serius.
Mei menoleh, menunggu kata kata yang akan keluar dari bibir nya.
“Dokter bilang kondisimu sudah jauh lebih baik,” jeda sejenak, matanya menatap lurus ke arahnya “dan… kita juga harus mulai memikirkan masa depanmu.”
Masa depan, kata kata itu lagi yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang, dan aliran darahnya tersumbat, tapi ia hanya diam tidak langsung menjawab.
“Fero akan lebih sering datang ke sini,” lanjut ibunya, seolah melanjutkan kalimat yang belum selesai. “Dia yang paling mengerti kondisimu sekarang.”
Mei menatap ibunya tajam. “Kenapa harus dia? Apakah dulunya sudah ada ikatan perjanjian?"
Perempuan cantik ber-make glowing sedikit mengernyit, seolah pertanyaan itu aneh ditanyakan oleh anaknya “Karena dia yang tahu dirimu dan akan mendampingi.” Jawaban itu dilontarkan dengan cepat, tegas, seolah-olah tidak perlu dipertanyakan lagi.
Mei menarik napas panjang, mencoba menahan getar di dadanya. “ Mei tahu Ma, tapi jangan bicarakan itu dulu, disaat tubuh Mei belum pulih, masih ada waktu."..
" Kamu sudah pulih Mei, " bisik Ibunya menekan, " kamu sudah ingat keluarga, Fero "
" Tapi bukan laki laki itu ?"
" Tidak pantas membicarakannya, Mei, kamu sendiri yang mengatakan untuk melupakan."
Gadis itu terdiam, ada perasaan bersalah dan keinginan bertemu dengannya, bukan sebagai seorang istri yang terlupa tapi hnya menjawab pertanyaan mengganjal dan menggelitik menghantui tidurnya setiap malam
" Mei tidak mau membicarakan itu lagi, Ma, Mei mau keluar sebentar.”
Tatapan ibunya langsung menajam. “Keluar?”
“Hanya sebentar,” desaknya, suaranya bergetar halus. " Mei… pengen lihat sesuatu.”
“Apa?”
Pertanyaan sederhana itu membekukan lidahnya. Ia tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu—membuatnya terlihat lemah di mata mereka.
“Belum waktunya,” kata perempuan itu dingin.
Meisyah menatap lantai seolah mencari jawaban di sana. “...Mei cuma ingin menghirup udara segar, Mei capek disini."
“Kamu bisa mendapatkannya di sini, jendela bisa dibuka.” Jawaban itu terlalu cepat, terlalu rapi, terlalu logis hingga mematikan semua keinginan nya.
Mei mengalihkan pandangannya, jarinya meremas ujung bajunya hingga putih. “..Mei tidak nyaman di sini.”
Sunyi menyergap ruangan, keheningan yang mematikan.
Ibunya tidak langsung menjawab, detik-detik berlalu lambat, sebelum akhirnya “Itu karena kamu belum terbiasa, bukan karena salah, hanya belum terbiasa.
“Biasakan.”
Kalimat itu diucapkan pelan, namun tidak menyisakan ruang untuk debat. Itu bukan saran tapi perintah.
Namun gadis itu tidak biasa diperintah, mungkin sejak dulu, ingatan yang pupus," Apa yang harus di biasakan ?biasa sakit ? biasa lupa ? Apa itu yang mama inginkan?"
Perempuan itu tersedak, matanya membesar," Mei...ini semua untuk kesembuhan mu, agar kamu bisa melanjutkan hidupmu lebih baik lagi."
" Tidak ada yang lebih baik disini." jawabnya ketus.
Sebelum ibunya merespons, pintu diketuk, Fero masuk, sekutu ibunya, seperti biasa tenang, tepat waktu, hadir bagai bayangan yang tak bisa dihindari memindai ruangan, menangkap ketegangan di udara dengan cepat.
“Maaf apakah aku mengganggu?” tanyanya sopan.
“Tidak,” jawab ibunya cepat, wajahnya kembali lembut.
Mei tidak bergerak, tanpa respon.
Fero melangkah masuk, mendekat tanpa membuat suara. “Ada apa?” tanyanya lembut, penuh perhatian palsu.
Ibunya yang menjawab duluan. “Mei mau keluar.”
Fero berhenti melangkah menatapnya lekat. “Kenapa?”Nada suaranya tetap datar, tenang.
Meisyah menatap balik, mencari celah. “...Aku pengen lihat sesuatu diluar.”
“Apa?”
Lagi pertanyaan yang sama. Dan lagi, Meisyah tidak punya jawaban.
Fero tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. “Kalau kamu tidak tahu mau ke mana… berarti itu bukan kebutuhan, Meisyah, Itu hanya impuls.”
Kalimat itu halus, terdengar sangat masuk akal, namun menekan dadanya hingga sesak.
“Kadang,” lanjutnya, langkahnya semakin mendekat, “yang kamu rasakan sekarang bukan karena kamu butuh kebebasan, tapi karena kamu kehilangan arah.”
Kehilangan arah.
Gadis itu menunduk, rasanya benar atau mungkin hanya dipaksa untuk percaya bahwa itu benar.
“Dan itu wajar,” tambah Fero, suaranya merendah, menenangkan. “Makanya… kamu tidak perlu buru-buru keluar.”
Buru-buru padahal ia bahkan belum sempat bergerak satu inci pun.
“Fokuslah untuk pulih dulu.” Kalimat yang sama seperti nya menenangkan tapi itu menekan.
Mei mengangguk pelan, sebuah refleks pertahanan diri dalam tubuhnya, di sudut matanya, melihat bahu ibunya mengendur, tampak lebih tenang.
Fero kini berdiri cukup dekat tidak menyentuhnya, namun kehadirannya sudah cukup untuk mengepung. “Kita pelan-pelan saja, ya?”
Kita?
Meisyah menutup matanya sebentar tapi saat membukanya kembali, pandangannya tidak jatuh pada Fero, melainkan ke atas meja samping tempat tidur, pada kotak besar yang terbaring di sana. Entah mengapa, dadanya terasa semakin berat, seolah gravitasi di ruangan bekerja dua kali lebih kuat, khusus untuknya.
Jika aku tidak keluar... aku tidak akan pernah tahu
Kalimat itu hanya bergema di dalam kepalanya, tidak berani keluar menjadi suara. Dan itulah yang membuat dadanya semakin sesak.
Di luar, matahari tetap terang membakar, Orang-orang tetap berjalan dengan tujuan mereka masing-masing.
Dan di dalam tubuhnya ia duduk kembali, diam terkurung rapat di dalam batas-batas dibuat oleh orang lain. Untuk pertama kalinya, kesadaran itu menusuknya dengan jelas: mengurungnya bukan dinding-dinding rumah sakit ini, melainkan pilihan yang belum sempat ia buat untuk dirinya sendiri.