Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Pagi itu, Rumah Sakit Medika tidak lagi terasa mencekam. Aroma antiseptik yang tajam perlahan memudar, digantikan oleh aroma harapan yang samar. Dokter telah memberikan lampu hijau; kondisi fisik Rania sudah stabil, pendarahannya berhenti, dan detak jantung kecil di dalam rahimnya masih berdenyut dengan kuat—sebuah keajaiban kecil di tengah badai besar.
Aris datang lebih pagi dari biasanya. Ia membawa kursi roda ke depan pintu kamar, namun Rania menolak dengan senyum tipis. Ia ingin berjalan sendiri, merasakan lantai di bawah kakinya, seolah ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih bisa berdiri tegak meski dunianya telah miring.
"Pelan-pelan, Ran," Aris memegang sikunya dengan sangat protektif, sementara Ibu Lastri dan Bapak Suprapto membawa tas-tas berisi perlengkapan selama di rumah sakit.
Perjalanan pulang menuju rumah mereka di Jakarta Selatan terasa begitu sunyi. Begitu mobil memasuki gerbang rumah, Rania terpaku menatap bangunan minimalis itu. Rumah ini adalah saksi bisu tawanya, tangisnya, dan setiap janji yang pernah diucapkan Damar. Pohon kamboja di halaman depan tampak meranggas, seolah ikut merasakan kesedihan pemiliknya.
Begitu pintu depan terbuka, sejuta kenangan menyerbu indra penciuman Rania. Bau kayu cendana dari pengharum ruangan yang disukai Damar masih tertinggal. Di sudut ruang tamu, ada bingkai foto besar mereka saat berlibur di Bali tahun lalu. Rania melangkah masuk, menyentuh permukaan meja kayu jati di ruang makan, tempat mereka biasanya merencanakan masa depan sambil sarapan.
"Rumah ini... terlalu banyak suaranya, Bu," bisik Rania saat mereka sudah duduk di ruang tengah.
Ibu Lastri mengusap punggung menantunya. "Sabar, Nak. Kalau kamu tidak kuat melihatnya, kita bisa tutup gordennya."
Rania menggeleng. Ia menatap Bapak Suprapto dan Ibu Lastri yang duduk di depannya, lalu beralih menatap Aris yang berdiri di dekat jendela, seolah sedang berjaga dari serangan yang tidak terlihat.
"Bapak, Ibu... Rania sudah berpikir semalaman," suara Rania terdengar tenang, namun ada keteguhan yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Rania tidak bisa terus tinggal di sini. Setiap sudut rumah ini hanya akan mengingatkan Rania pada kebohongan Damar. Setiap malam di sini hanya akan membuat Rania menjadi gila karena terus menunggu pintu depan terbuka."
Bapak Suprapto mengernyit. "Lalu, kamu mau ke mana, Nak? Apa kamu mau pindah ke apartemen atau rumah kontrakan lain di Jakarta?"
"Tidak, Pak," Rania menarik napas panjang, menatap kedua orang tua angkat suaminya itu dengan penuh kasih. "Rania ingin menjual rumah ini. Rania ingin menjual semua aset yang tersisa di Jakarta. Rania ingin ikut Bapak dan Ibu pulang ke Semarang."
Suasana mendadak hening. Ibu Lastri menutup mulutnya dengan tangan, matanya langsung berkaca-kaca. Aris, yang tadinya menatap keluar jendela, berbalik dengan wajah yang sulit dibaca.
"Ke Semarang, Nak?" tanya Bapak Suprapto dengan suara bergetar.
"Iya, Pak. Rania ingin memulai hidup baru di sana. Rania ingin membangun usaha kecil-kecilan, mungkin membuka klinik mandiri atau apotek di dekat rumah Bapak di kampung. Rania ingin membesarkan anak ini di lingkungan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang penuh rahasia ini," Rania menjeda kalimatnya, air matanya mulai menetes. "Rania ingin menanti kepulangan Damar di sana, di tempat asalnya. Kalau suatu saat dia sadar dan ingin mencari kami, dia tahu ke mana harus pulang. Ke rumah orang tuanya."
Mendengar keputusan itu, kebahagiaan yang tulus terpancar dari wajah tua Bapak Suprapto dan Ibu Lastri. Selama ini, kekhawatiran terbesar mereka adalah membiarkan Rania sendirian di Jakarta yang keras ini. Membawa Rania pulang ke Semarang adalah mimpi yang tidak berani mereka ucapkan karena takut menyinggung perasaan menantunya yang mandiri.
"Gusti Allah... Rania," Ibu Lastri langsung menghambur memeluk Rania. "Ibu sangat bahagia, Nak. Ibu janji, di Semarang nanti, Ibu akan menjagamu siang dan malam. Ibu akan masakkan jamu, Ibu akan temani kamu sampai persalinan. Kamu tidak akan sendirian lagi."
Bapak Suprapto pun mengangguk mantap, menyeka air matanya dengan kasar. "Bapak setuju, Ran. Tanah di samping rumah masih luas, kalau kamu mau bangun klinik kecil, Bapak yang akan urus tukangnya. Kita mulai hidup baru di sana. Kita lupakan semua pahit yang ada di Jakarta. Kita tunggu Damar di tempat dia dilahirkan."
Rania merasakan kehangatan yang sudah lama hilang kembali menyusup ke hatinya. Di Semarang, ia tidak perlu berpura-pura menjadi istri dokter yang sempurna. Di sana, ia hanya akan menjadi Rania, seorang ibu yang sedang berjuang demi anaknya.
Namun, di sudut ruangan, Aris berdiri mematung. Hatinya mencelos. Semarang? Itu berarti Rania akan pergi menjauh darinya. Rania akan berada di luar jangkauan pengawasannya setiap hari. Jarak Jakarta-Semarang memang tidak sejauh benua lain, namun bagi Aris, itu terasa seperti memindahkan pusat dunianya ke galaksi lain.
"Aris," panggil Rania, memecah lamunan pria itu. "Kau tidak keberatan kan kalau aku pergi? Kau sudah terlalu banyak berkorban untukku di sini. Aku tidak mau terus menjadi beban bagimu."
Aris menatap mata Rania yang penuh harapan. Ia melihat rona kehidupan mulai kembali ke wajah wanita itu hanya dengan memikirkan rencana kepindahannya. Meski hatinya perih, Aris memaksakan sebuah senyum hangat—senyum khas "penjaga" yang selalu ia berikan.
"Keberatan? Tentu saja tidak, Ran," bohong Aris, suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak. "Semarang adalah pilihan yang sangat cerdas. Udara di sana lebih bersih, lingkungannya lebih tenang untuk kehamilanmu. Dan ada Bapak dan Ibu yang bisa menjagamu 24 jam. Aku justru merasa jauh lebih lega."
Aris berjalan mendekat, menepuk bahu Bapak Suprapto. "Pak, tolong jaga Rania baik-baik di sana. Saya akan tetap sering berkunjung. Jakarta-Semarang sekarang dekat, bisa ditempuh lewat tol atau kereta cepat. Saya akan tetap memantau perkembangan kasus Damar dari sini."
"Tentu, Aris. Kamu itu sudah seperti anak kami sendiri. Pintu rumah di Semarang selalu terbuka lebar untukmu," ujar Bapak Suprapto dengan tulus.
Rania merasa lega luar biasa. Keputusan ini terasa benar di dalam jiwanya. Menjual rumah ini berarti memutus rantai masa lalu yang menyakitkan. Ia tidak butuh kemewahan Jakarta jika itu hanya berisi kebohongan. Ia lebih memilih hidup sederhana di kampung namun dikelilingi oleh ketulusan.
Sore itu juga, suasana rumah yang tadinya suram mulai terasa sibuk dengan rencana baru. Bapak Suprapto mulai menelepon kerabat di Semarang untuk menyiapkan kepulangan mereka. Ibu Lastri mulai memilah barang-barang dapur mana yang akan dibawa dan mana yang akan disumbangkan.
Sementara itu, Aris mengajak Rania duduk di teras depan, menikmati semilir angin sore yang menerpa wajah mereka.
"Kau benar-benar yakin tentang ini, Ran?" tanya Aris lirih, hanya mereka berdua yang bisa mendengar.
Rania mengangguk pasti. "Sangat yakin, Ris. Aku butuh udara baru. Aku butuh tempat di mana orang tidak mengenalku sebagai 'istri kontraktor yang suaminya hilang'. Di Semarang, aku hanya akan menjadi anak Ibu Lastri. Itu cukup bagiku."
Aris menunduk, memainkan kunci motornya. "Uang hasil penjualan rumah ini nanti, simpanlah dengan baik. Gunakan sebagian untuk membangun klinikmu, dan sisanya simpan untuk masa depan anakmu. Jangan pikirkan lagi utang-utang kantor. Anggap itu semua sudah selesai."
Rania menatap Aris dengan pandangan yang dalam. "Ris, aku tahu bukan 'piutang lama' yang menutup utang kantor itu. Aku tahu itu uangmu. Aku tidak sebodoh itu, Ris."
Aris tertegun. Ia tidak menyangka Rania akan menyadarinya secepat itu.
"Jangan bahas itu sekarang, Ran," Aris mencoba mengelak.
"Kenapa kau lakukan itu, Ris? Miliaran rupiah... kau memberikan segalanya untukku. Kenapa?" suara Rania bergetar.
Aris menatap lurus ke depan, ke arah jalanan yang mulai gelap. "Karena bagiku, kau lebih berharga dari angka-angka itu, Ran. Aku tidak punya istri, aku tidak punya anak. Uang itu tidak ada gunanya jika aku hanya menyimpannya di bank sementara orang yang paling berharga dalam hidupku sedang menderita. Anggap saja itu investasi... investasi untuk melihatmu bisa tersenyum lagi seperti sekarang."
Rania tidak mampu membalas kata-kata itu. Ia hanya bisa menggenggam tangan Aris dengan erat. Di dalam hatinya, ia berjanji bahwa suatu hari nanti, ia akan membalas semua kebaikan pria ini, meski ia tahu Aris tidak pernah memintanya.
"Terima kasih, Aris. Selalu kamu yang ada untukku," bisik Rania.
Malam itu, mereka mulai mengemasi barang-barang. Rania masuk ke kamar utama untuk terakhir kalinya. Ia mengambil koper besar dan mulai memasukkan pakaiannya. Saat ia membuka laci meja rias, ia menemukan sebuah kotak kecil berisi perhiasan pemberian Damar. Ia ragu sejenak, lalu memutuskan untuk membawanya. Bukan untuk dipakai, tapi sebagai modal tambahan jika suatu saat ia membutuhkannya di Semarang.
Ia juga mengambil album foto pernikahan mereka. Ia membukanya perlahan. Ada foto Damar yang sedang memegang tangannya di depan pelaminan. Rania mengusap wajah suaminya di foto itu.
"Aku pergi ke rumahmu, Damar," bisiknya. "Aku akan menunggumu di sana, bersama anak kita. Jika kau masih memiliki hati, kembalilah sebagai pria yang pernah kucintai, bukan sebagai bayangan yang kau ciptakan."
Rania menutup album itu dengan mantap. Ia mematikan lampu kamar, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan. Baginya, kegelapan ini adalah akhir dari satu bab yang sangat menyakitkan, dan fajar di Semarang esok hari adalah awal dari bab yang baru.
Di luar, Aris masih berdiri di dekat motornya, menatap ke arah balkon kamar Rania. Ia tahu, mulai besok, hidupnya akan berubah. Ia akan menjadi pria yang sering melakukan perjalanan Jakarta-Semarang di akhir pekan. Ia akan menjadi pria yang terus memburu "Dara" demi memberikan keadilan bagi Rania.
Cinta Aris tidak pernah berubah. Mau di Jakarta, mau di Semarang, atau di ujung dunia sekalipun, ia akan tetap menjadi perisai bagi Rania. Dengan hati yang mantap, ia menaiki motornya dan melaju menembus malam, bersiap untuk mengurus segala administrasi penjualan rumah Rania agar wanita itu bisa segera terbang menuju ketenangan yang ia dambakan.
Semarang kini menjadi titik koordinat baru bagi harapan Rania, dan bagi Aris, itu adalah tempat baru di mana ia akan terus menjalankan sumpah sucinya: mencintai tanpa harus memiliki, menjaga tanpa harus diminta.