"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilangkan
Suster dan Dokter berusaha mencari golongan darah yang sangat langka itu.
“Samuel!” Satu nama langsung teringat di kepala Arlan. “Saat ini hanya dia yang bisa menyelamatkan Mika,” ujarnya menurunkan ego.
“Tapi, Tuan?!” Asistennya tampak ragu.
Arlan langsung menghubungi Samuel. Di ujung panggilan itu terdengar begitu memanfaatkan sebuah keadaan.
Sekitar beberapa jam Samuel datangan dengan Barra.
“Cepat masuk!” ucap Arlan.
Namun, Samuel justru mengulur waktu lebih lama. Dokter Hendra sudah kehabisan kesabaran.
“Pak, Anda ini nggak sayang sama anak?”
Samuel menyilangkan tangannya, sambil tersenyum meledek. “Sayang kalau uang udah ditransfer.”
Arlan meremas tangannya. Tetapi ia berusaha untuk tidak bertengkar disaat genting.
Arlan langsung mengeluarkan ponsel dan mentransfer sejumlah Rp 100 Juta Rupiah. “Cepat masuk, sebelum kesabaranku habis!”
Samuel pun masuk dan mengecek darah. Setelah itu transfusi darah dimulai. Di luar ruangan, Barra terlihat begitu cemas. Beberapa kali Arlan melihat tangan Bara mencengkeram kursi begitu erat.
Tatapan penuh curiga Arlan jelas terlihat. Hustan yang sadar cucunya begitu sinis melihat anak Samuel pun menyenggol tangan Arlan.
“Gadis itu pasti baik-baik aja. Jangan begitu khawatir,” ujar Hustan.
lirikan dingin Arlan menatap mata kakeknya. “Kek, jangan anggap aku udah lupa sama sikap Kakek ke dia!”
Hustan langsung terdiam. “Hm, anak ini sama kayak bapaknya!” batin Hustan.
Tak beberapa kemudian, Samuel keluar dari ruangan dokter. Tubuhnya terlihat lemas. Namun, lesunya itu penuh dengan kejanggalan.
“Ayo, Barra kita pulang!” katanya pada anaknya.
“Pak, Anda terlalu banyak diambil darahnya. Sebaiknya, istirahat dulu,” ucap Dokter Hendra.
Samuel langsung mengangkat tangannya menolak. “Oh, nggak perlu. Aku lebih kuat dari anak itu!” jawabnya. “Ayo, Barra cepat!” Mereka pun pergi dengan cepat.
Dokter Hendra pun kembali ke dalam ruang UGD. Sebelum sempat langkah penuh ke ruang itu, Arlan menghentikannya.
“Apa darahnya aman?” tanya Arlan.
“Semua udah dicek, nggak ada penyakit apa pun!” jawab Dokter Hendra.
Arlan menghela napas sambil mengangguk. Penanganan Mika pun berlanjut.
Sekitar dua jam kemudian, Dokter Hendra keluar ruangan. Awalnya kondisi Mika sangat baik setelah melakukan transfusi darah.
Namun, secara tiba-tiba keadaannya bertambah buruk. Alarm ruangan berbunyi.
“Dok, pasien mengalami kejang hebat!”
“Ayo, segera periksa!”
Arlan yang sejak tadi di depan ruang UGD pun panik. Beberapa kali menanyakan kepada suster, tetapi tidak dihiraukan.
Begitu juga Dokter Hendra. Ia mondar-mandir tanpa memperdulikan Arlan.
“Minggir-minggir! Bawakan alat jantung, cepat! Kamu periksa kembali darah yang ada di lab!” perintahnya pada semua staf yang bekerja.
“Aduh, anak ini … cuma anak gadis miskin aja, sampai nangis begitu!” batin Hustan.
Didalam ruangan, Dokter Hendra memakai alat Defibrilator untuk membuat jantung Mika.
"Dok, jantung pasien semakin lemah!" ucap Suster.
"Coba lihat darah di lab tadi! Mana laporannya!" Dokter Hendra geram.
Tak lama kemudian Asisten Dokter Hendra datang. "Dok, dikantong darah pasien terdeteksi ada zat yang berbahaya. Aku kurang pasti zat apa itu, tapi ini pasti penyebabnya!"
"Ok, hentikan transfusinya, sekarang! Ganti infus yang baru berisi penawarnya!" perintah Dokter Hendra.
Selama dua jam empat puluh menit, penanganan darurat. Akhirnya, Mika melewati masa kritisnya. Bukti kantong darah diletakkan dalam kantung hitam.
"Dok, sekarang bagaimana?!"
"Udah kalian jangan panik. Jaga pasien untuk beberapa saat. Aku akan bicara dengan Tuan Arlan," jelas Dokter Hendra.
Pintu ruang UGD terbuka. Arlan sudah mencegat Hendra saat diambang pintu.
"Gimana keadaannya?!" tanyanya cemas.
"Arlan, sebaiknya kamu harus tangkap mereka. Mereka hampir aja membunuh Mika!" kata Dokter Hendra antusias.
Arlan memegang barang bukti. "Apa yang mereka lakukan?!"
Arlan menarik napas cukup panjang. Tangannya dikepal erat. Saat Dokter Hendra menjelaskan semuanya, amarah Arlan tidak bisa dijelaskan lagi.
"Kenapa tega sama anak sendiri?!" celetuk Hustan. "Arlan kamu harus bertindak, ini udah kriminal!" katanya.
Arlan pun pergi. Barang bukti diserahkan pada Dokter Hendra.
"Bajingan harus mati!" Mata Arlan memerah. Jelas ia sangat marah.
Sementara Hustan pun ikut membantu. "Hendra, kamu hubungi polisi, sekarang!"
"Siap Tuan Besar!"
Saat mereka sibuk untuk membantu Mika atas percobaan pembunuhan, Tristan datang. Hustan bertemu dengannya.
"Kek, gimana keadaan Mika?" tanyanya.
"Tristan kebetulan sekali kamu ke sini. Tolong, kamu jaga sebentar Mika, kalau ada apa-apa segera hubungi Kakek!"
Tristan mengangguk bingung. Saat Hustan pergi, Tristan pun masuk ke dalam ruangan. Melihat keadaan Mika yang sangat tidak baik.
"Mika kamu harus sama aku. Kalau kamu sama Arlan terus, kamu akan banyak musuh yang dihadapi!" bisiknya cukup pelan.
Sedangkan Arlan masih dalam perjalanan. Beberapa mobil dari anggotanya pun ikut dalam pencarian si pelaku alias Samuel.
"Lapor Tuan, menurut koordinat tempat tinggal mereka, rumahnya ada di depan sana!" kata Asisten.
"Turun di beberapa rumah sebelumnya!" perintah Arlan.
Klik! Klak!
Arlan telah memasukkan beberapa peluru ke dalam pistolnya. Bersiap menghabisi penganggu.
Saat sampai, Arlan turun dengan gagahnya. Pengawal telah mendobrak rumah mereka. Ternyata, mereka tengah bersiap untuk melarikan diri.
Dor! Dor!
Pengawal menembak asal sebagai peringatan. Mereka semua tertunduk takut. Samuel dan Barra yang banyak mulut terbungkam.
Arlan memasuki rumah mereka. Tidak banyak bicara. Ia duduk di sofa mewah yang tentu hasil uang menjual Mika.
"Ampun Tuan Arlan!" Samuel bersimpuh di kaki Arlan. Barra pun melakukan hal yang sama.
Tetapi Arlan hanya diam. Samuel terus memegang kaki Arlan sambil memohon. Tatapan mata Arlan pada Asistennya, langsung berbeda.
"Lepaskan bodoh!" kata Asisten sambil menendang Samuel.
Arlan memandangi pistolnya. Membolak-balikkan tanpa berkata apa pun. Sementara Samuel sudah keringat dingin. Barra yang keras kepala dan angkuh, sampai terkencing ditempat.
Kraak!
Pematik pistol sudah ditarik. Ia arahkan tepat di kepala Samuel.
"Jangan ... jangan! A—aku disuruh!" ucap Samuel terbata.
Namun, alasan apa pun Arlan tidak ingin mendengarnya. Ia meminta Asistennya untuk memberikan Samuel selembar kertas.
"Hei, tulis wasiatmu sekarang! Tulis yang benar! Kalau sampai tulisan itu tidak sesuai yang aku inginkan, aku pastikan matimu akan lebih cepat!" Ancam Arlan.
"Ba—baik." Tangannya gemetar. "Apa yang harus ditulis, Tuan!"
"Semua hartamu yang nggak seberapa ini, pastikan jatuh atas nama Mika! Meski aku tau ... kamu bukan orang tuanya!" kata Arlan mengintimidasi.
Deg.
Mata Samuel melotot. "Darimana dia tau, Mika bukan anakku?" batinnya.
Buk!
"Apa yang kamu tunggu!" tanya Arlan sambil menekan pistolnya di kepala Samuel.
Samuel pun menulis surat wasiat. Tangannya sangat gemetar. Aura Arlan semakin kuat sebagai Bos berkuasa.
Saat wasiat itu selesai ditulis. Arlan menarik tangan Samuel. Disayatnya pakai pisau.
"Pakai darahmu sebagai stempel!"
Arlan orang paling psikopat yang pernah dilihat Samuel. Ia tidak akan segan membunuh orang yang menganggu hidupnya.
Dor!
"Ayah!"