para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan
wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap
"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Pemikiran bahwa lelaki adalah makluk yang hanya memiliki hati seperempat dari seharusnya membuatku enggan mempercayakan hatiku pada makluk yang disebut lelaki, tubuh yang terluka mungkin bisa terobati dan beransur - ansur membaik tapi tidak dengan hati hewan pun bisa mati karena patah hati, begitu pun dengan kami kaum wanita.
bagaimana pun kaumku adalah sosok yang lemah dan kata cinta semakin menghancurkan kami dengan kerasnya kehidupan dan kerasnya kenyataan yang semakin menenggelamkan kami akan kehancuran.
Pemikiran itu terlalu ku terapkan akan hidupku dan contoh kongkrit yang tertampang nyata akan itu adalah dedi, lelaki berhati seperempat dengan sikap dan keanggkuhannya membuatku benar - benar menjadikan objek pembenaran akan pemikiranku itu.
lelaki yang kusebut suamiku adalah lelaki diktator, bossy angkuh dan kejam itu sangat berpotensi menghancurkan perasaan perempuan, sialnya aku adalah korbannya.
Sesampainya di kota kecil yang di sarankan ana, aku segera menelpon ana dan menumpahkan seluruh keluh kesahku.aku berkata
“ana, hiks ana. Aku mungkin lebih baik mati saja” ujarku pertama kali kala sambungan telpon terhubung.
“kau gila, suamimu boleh selingkuh goblok jangan” semprot ana padaku.
“aku hiks aku binggung ana, apa yang harus ku lakukan sekarang” kataku di tenggah-tengah isakanku.
“kau bilang kau akan masuk pesantren kenapa sekarang nanya lagi!” ujar ana terdengar gemas padaku.
“iya itu awalnya tapi tapi” ujarku penuk ke putus asaan.
“tapi apa?” kata ana sewot
“aku hamil anaknya goblok. Sekarang dia akan menikahi jalang itu lalu aku harus bagaimana dengan anak ini” kataku semakin kalut saja
“aghh” jerit ana di seberang sana.
“please bukan sekarang waktunya tuk kaget ana”
“kapan kau tahu?” tanya setelah beberapa mencoba menetralkan suaranya.
“baru banget, gue mual pas di atas pesawat, ku pikir aku mabok tapi sebelumnya emang gue sering puyeng dan muntah-muntah.” Keluhku dengan tanggisan yang tidak bisa ku bendung lagi.
“aghh lo goblok ya” jerit ana ikut frustasi denganku.
“apa aku gugurkan saja ya” kataku dengan nada layaknya cicitan.
“apa, lo bilang apa tadi?”
“kalo gue gugurin gimana?” kataku kalut sembari mondar-mandir menggigiti kuku ibu jariku.
“egh lo goblok ya. Sadar usia goblok, kalo lo gugurin sekarang dan besok-besok lo ngak bisa punya anak lagi gimana? Sadar usia bisa ngak sih. Lo ngak mungkin cerai dari dedi langsung dapet laki baru, nah kalo lo ngak dapat-dapat laki terus lo udah monopus gimana?” bentak ana lagi dengan suara yang membuatku harus menjauhkan telpon genggam dari telinggaku.
“terus gua gimana ana, lo mau gue datang kembali dan bilang kalo gue hamil jadi mereka berdua ngak boleh nikah gitu?. Goblokan mana coba sama apa yang ku lakukan sekarang ini”
“…”
“ana, jangan diam gue harus gimana sekarang”
“auuu agh lo yang punya masalah kok gue yang rempong sih”
“kan lo sahabat gue”
“sahabat yang baik ngak menyesatkan sahabatnya ban*sat.”.
“kalimat itu lebih cocok untuk lo ya. Kalo bukan karena saran lo gue kerja di san ague juga ngak bakal ketemu dajjal itu” jeritku tanpa sadar.
“jadi maksud lo, lo nyalahin gue begitu?” kata Ana tidak terima perkataanku.
“gue ngak tahu, yang jelas lo harus bantu gue sekarang”
“mau gue bantu gimana, lo hamil terus mau tinggal di pesantren kayaknya kurang tepat deh. Lo bukannya nuntut ilmu malah nyusahin orang-orang sana”
“…”
“aku bakal nyuruh orang itu nyariin lo rumah deh kalo gitu”
“mmm”
“eghh udah ya, laki gue pulang, tar kalo dia tahu, aksi kabur lo percuma” katanya
“…” seketika telpon terputus sepihak dan itu karenaku.
Orang yang di perintah ana untuk menjemputku akhirnya menghubunggiku, katanya dia sudah menunggu di pintu kedatangan.
Walau pun dengan perasaan masih gundah, aku mendatanggi dia. Orang itu benar menunggu sembari memegang sebuah kertas besar tertuliskan namaku.
Kudekati dia lalu menggoperkan koper milikku padanya, tidak lama setelahnya sebuah mobil berhenti di depan kami dan mobil itu yang membawa tubuhku pergi dari bandara. Mobil telah melaju dan bergabung dengan kendaraan yang semakin bayak saja.
“pak”
“ya nona” jawabnya lembut
“perintahnya ana bagaimana?”
“nyonya ana meminta saya menjemput anda lalu mengantarkan ke pesantrent terbaik di kota ini”
“ooo, rencana sudah berubah pak”
“berubah gimana non?”
“mmm bapak udah menikah belum?” kataku seketika keluar dari pembahasan kami. Orang itu tidak seketika menjawab, dia sempat bertukar pandangan dengan sang sopir lalu menggaruk kepalanya yang kutahu tidak gatal sama sekali.
“jangan khawatir pak, saya kayaknya hamil, saya butuh seseorang memenemani saya periksa, kalo udah benar baru saya menentukan rencana” kataku acuh dan menatap kaca jendela yang ada di sampingku.
“oo heheh iya nona, tapi istri saya ada di rumah sekarang” jelasnya masih canggung.
“tenang, saya sudah menikah kok bukan pezinah yang ke bablasan” ujarku blak-blakan.
“heheh” cenggirnya.
“jadi bagaimana nona, kemana kita sekarang?” tanyanya hati-hati.
“kita pulang ke rumah bapak untuk jemput istri bapak, setelahnya antar kami ke dokter”
“iiya nyonya” ujarnya menggubah panggilan untukku.
Mobil akhirnya berbalik haluan dan menuju salah satu perumahan yang sederhana bahkan bisa di katakana cukup kurang layak huni. Ku hembuskan nafas kasar lalu turun dari mobil. Lelaki suruhan Ana itu bernama Pak kardi.
Pak Kardi memiliki 1 orang istri berana ratna dan 4 orang anak yang tergolong masih kecil-kecil. Istri pak kardi tidak jauh berbeda dengan wanita-wanita seorang ibu rumah tangga pada seharusnya.
Awalnya istri pak Kardi menatapku penuh curiga tapi saat setelah mendapat penjelasan dari suaminya, ibu Ratna mulai memperbaiki tatapanya padaku.
Setelah ratna berganti pakaian pergilah kami ke salah satu tempat praktek dokter yang katanya pelayanannya bagus, di sana aku bisa sekalian melakukan USG. Untuk bertemu dokter ternyata tidak mudah, ada beberapa wanita hamil dan pasangan bahkan keluarga mereka yang sedang mengantri.
Cukup lama aku menunggu hingga giliranku tiba. Saking lamanya kami menunggu, Anak pak kardi yang paling kecil bahkan sudah tertidur sedari tadi di pangkuan ibunya.
Di pertemuanku dengan dokter, kami melakukan sedikit wawancara tentang masa reproduksi tubuhku, masa menstruasi bahkan waktu terakhir kali aku dan suami berhubungan.
Semuanya ku jawab dengan samar-samar karena sedari awal memang kau tidak terlalu peduli dengan priode mensku jadi saat seharusnya aku mens namun nyatanya tidak terjadi aku malah tidak ambil pusing.
Banyak factor yang menyebabkan seseorang tidak menstruasi dan salah satu factor penyebab itu yang terjadi padaku. ku pikir tidak menstruasi bukan pertanda hamil melainkan ada gangguan dalam tubuh atau bisa jadi factor lainnya lalu ketika tubuh sudah kembali rileks akan kembali pada normalnya, nyatanya tidak.
Dokter memintaku melakukan tes urin dan kabar buruknya hasilnya positif lalu karena tidak yakin, dokter membantuku untuk melakukan USG. Dalam sana kini terlihat layar monitor bewarna hitam putih layaknya tulisan abstrak.
Aku sudah sering melihat hal itu di TV tapi yang tidak bisa ku sangka adalah, jika janin itu berada dalam rahimku bahkan sudah terbentuk menyerupai manusia alient
“selamat bu, anda hamil” kata dokter berama Ayu.
“makasih” kataku dengan wajah datar.
Bukan, bukan aku tidak senang tapi pikiran, masa lalu, masalah yang menimpaku yang membuatku kalut bukan main. Aku tidak mendengar perkataan dokter yang jelas kini aku sudah terduduk dengan penuh rasa frustasi.
Ku genggam erat hasil usg yang dokter itu berikan, bayi itu ternyata sudah berusia hampir tiga bulan lebih, itu berarti aku hanya perlu menunggu kurang enam bulan lagi untuk bertemu manusia kecil itu.
Derai air mata bercucuran tapi aku sendiri tidak tahu harus bagaimana, dan tetesan air mata ini karena apa. Mungkin kah sedih karena menggumpati bapak biologi bayi yang ku kandung ataukah tangis haru kala tahu dia tumbuh sehat di dalam sana.
“sekarang kita kemana nyonya?” tanya kardi.
“antar ke hotel deh pak, saya ngak jadi santri” kataku lesu.
“hotel mana bu?” tanyanya lagi.
“tidak tahu, yang jelas saya mau istirahat dulu” kataku memijik kening.
“…” mereka semua diam setelah mendengar kalimat itu.
Mobil tetap melaju hingga kami tiba di salah satu hotel yang ternyata sangat trategis dengan pusat pembelanjaan. Setelah melakukan registrasi, aku merebahkan tubuhku di kasur dengan rasa yang bukannya nyaman tapi serasa kian menggusik hingga menusuk.
Beberapa hati tinggal di sana, aku baru mencari rumah kontrkan siap huni, untunglah tumah itu tidak terlalu jauh dari pusat kota sekaligus tidak terlalu terpencil juga. Di sana, aku mulai memulai semuanya.
Selama berpindah ke kota yang ku tempati sekarang ini, aku menutup diri baik dengan orang sekitar mau pun orangtuaku. Semua akses komunikasi, terakhir kali pun handphoneku aktif, adalah di bandara untuk menghubunggi ana.
Di kota kecil ini, aku memperkerjakan seorang asisten yang udah berumur, namanya bu Asi. Ibu Asi ini adalah wanita matang berstatus janda dan memiliki anak 3 orang. dari beliaulah aku belajar banyak tentang kehamilan dan mengatasi rasa sakit dan mual yang berlebih.
Selain ibu Asi, Istri pak Kadri juga beberapa kali berkunjung dan membantuku untuk beberapa pekerjaan jika ibu Asi berhalangan. Usia kandunganku tanpa terasa sudah memasuki bulan ke tujuh, ku pikir tidak ada yang special dari bulan ke tujuh, namun ibu asi menyarankanku untuk melakukan syukuran dan memanjatkan doa agar aku dan janin yang sedang ku kandung selamat.
Mau tidak mau aku menghubunggi melakukan saran dari ibu Asi, tapi setelah ritual itu kami lakukan, pertanyaan yang selama ini di pendam oleh ibu asi akhirnya terucap juga. Ibu asi berkata
“kok nyonya ngak pernah di kunjungin keluarga?” tanyanya hati-hati.
“keluarga saya ngak tahu saya di kota ini bu” jawabku jujur.
“kok bisa?” tanyanya heran.
“saya menghindari mereka bu, rumah tangga saya sedang ada masalah” kataku lagi.
“tapi mereka tahu kalo nyonya sedang hamil?” tanya lagi dengan wajah serius.
“…” aku memilih menggeleng sembari menggelus perutku lembut.
“nyonya, saat melahirkan itu sangat penting bagi seorang wanita. Kita tidak tahu ajal itu seperti apa, apa lagi jika keluarga tidak tahu keberadaan anak yang nyonya. Menjadi anak yatim itu sudah musibah untuk seorang anak apa lagi tidak di akui keluarga kandungnya”
“…”
“ibu ngak maksa cuman coba pertimbangkan kembali” ujarnya menggelus tanganku lalu lembut, setelah itu dia mulai beranjak meninggalkanku.
Dua hari setelahnya aku baru selesai memikirkan perkataan ibu Asi. Aku bukannya tidak ingin orangtuaku tahu tapi memberi tahu mereka, berarti membiarkan dedi menggetahui keberadaanku.
Aku sempat bimbang selama sebulan karena ucapan ibu Asi tapi setelahnya terlupakan begitu saja. Aku sibuk menggurusi ngidamku yang jelas sangat terlambat.
Mualnya kini berlebih, kata dokter ini karena pikiranku yang terlalu kalut sehingga janin terganggu, mual berlebih sih masih bisa ku tanggani tapi saat aku terlalu lelah lalu terjadi pendarahan, saat itu aku di rundung panik bukan main.
ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi
hmmmm 🤔🤔??