NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan Filosofi

Pendar kekuningan dari lentera minyak menyapu setiap sudut ruang keluarga berdinding kayu itu. Di atas meja makan, nyala api kecil dari sebatang lilin tampak menari-nari gelisah, meliuk ke arah barat setiap kali embusan angin malam menyusup lewat celah jendela.

Udara malam yang biasanya menggigit, kini terasa lebih hangat. Suara bariton sang ayah yang berpadu dengan gumaman rendah seorang tabib desa mengisi kekosongan ruangan.

Di salah satu sudut beralas tikar pandan, terbaring tubuh Takahiro. Pemuda asing yang berhasil diseret Cate keluar dari hutan sore tadi.

Sejak tersedot oleh pusaran portal putih misterius itu, kelopak mata pemuda tersebut belum juga terbuka. Ia tergolek tak berdaya sementara sang tabib sibuk membalurkan ramuan herbal ke atas luka-lukanya.

Tak jauh dari sana, Cate terduduk kaku di atas lincak, kursi panjang dari anyaman bambu. Gadis itu sama sekali tak berniat mencampuri urusan orang tuanya.

Matanya terpejam rapat. Jemarinya bertaut kuat, menekan pangkal hidung dan dahinya secara bersamaan. Alisnya menukik tajam, sementara kepalanya menunduk dalam-dalam, menahan beban pikiran yang sedari tadi meremas dadanya.

Sebuah sentuhan hangat mendadak mendarat di bahu kirinya. Bellinda, sang ibu yang mewariskan warna rambut merah maroon itu pada Cate, duduk merapat.

Di bawah temaram cahaya lentera, sepasang netra semi-biru milik wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan sorot keibuan.

"Ada apa, Nak?" tanyanya lembut, mencondongkan tubuh hingga wajahnya berdekatan dengan tangan Cate yang menutupi muka. "Kenapa kamu terlihat seperti orang yang khawatir?"

Perlahan, Cate menurunkan tangannya yang gemetar. Ia menoleh, mempertemukan pandangannya dengan mata sang ibu. Namun, pertahanan itu tak berlangsung lama.

Hanya dalam hitungan detik, rasa bersalah kembali menang, memaksa Cate memalingkan wajah dan membiarkan tatapannya jatuh kosong menatap lantai semen yang usang.

"Maafkan aku, Bu... gara-gara aku nggak bawa kayu bakar itu, sekarang Ibu nggak bisa masak apa-apa."

Suara serak yang bergetar itu menyayat hati Bellinda. Ia tahu betul seberapa besar rasa tanggung jawab putrinya. Alih-alih merajuk karena dapur tak mengepul, tangan kanannya beranjak dari pundak, beralih membelai lembut helaian rambut pendek Cate.

"Tidak apa-apa, ini bukan salah kamu, kok."

Cate kembali mengangkat dagunya. Mata merahnya menatap raut tenang sang ibu dengan tatapan nanar, tak mampu membalas lewat kata-kata.

"Kayu bakar memang penting buat keluarga kita. Tanpa itu, kita tidak bisa melakukan apa-apa."

Mendengar pembenaran itu, kepala Cate kembali tertunduk loyo. Hatinya kian mencelos.

"Iya, aku tahu itu, Bu," jawabnya bergetar.

Bellinda menggeser duduknya sedikit ke kanan. Ia menarik tangannya, lalu menautkan jemari di atas pangkuan, sementara dagunya bersandar pelan di atas kedua ibu jarinya. Ia tampak menerawang jauh ke seberang ruangan.

"Kalau dipikir-pikir, Ibu jadi teringat pesan dari nenekmu dulu sewaktu Ibu masih muda."

"Pesan dari nenek?" ulang Cate pelan, suaranya nyaris menyerupai bisikan pada diri sendiri.

Pandangan Bellinda tak sengaja jatuh pada sosok Joe Armstrong, suaminya, yang tengah berdiri tegap mengobrol dengan sang tabib di dekat pilar bambu.

Mengamati siluet punggung suaminya, ingatan Bellinda terseret melintasi waktu. Ia seolah melihat bayangan Joe muda di masa lalu, berdiri di titik yang sama dengan tubuh penuh luka.

Saat itu, pemuda nekat tersebut pulang tanpa membawa satu pun hewan buruan dari hutan rimba. Namun dengan napas tersengal, ia berhasil memapah tubuh temannya yang sudah di ambang maut akibat keegoisan Joe sendiri saat berburu.

Bellinda juga ingat betul bagaimana ibunya yang baru pulang dari ladang meledak marah di ambang pintu. Sang nenek tidak peduli pada buruan yang lepas, melainkan murka pada arogansi Joe yang awalnya memprioritaskan tangkapan hingga nyaris mengorbankan nyawa kawannya.

Mengingat kepingan masa lalu itu, sudut bibir Bellinda terangkat getir. Dadanya berdesir hangat. Di satu sisi ia masih mengingat kecerobohan suaminya dulu, namun di sisi lain, ia luar biasa bangga.

Putrinya hari ini membuktikan kelasnya—Cate tak mengulang kesalahan ayahnya, ia merelakan kayu bakar demi memprioritaskan nyawa orang lain sejak awal.

Bellinda mengerjapkan mata, menggeleng pelan untuk membuyarkan ilusi masa lalu itu. Ia kembali menatap Cate.

"Jadilah seperti semut. Walaupun mereka kecil, mereka adalah bukti nyata dari kekuatan kolektif."

'Kekuatan kolektif?' frasa asing itu berdengung di dalam kepala Cate. Keningnya berkerut makin dalam. Ia memutar otak, mencoba membedah teka-teki dari mendiang neneknya itu, tapi otaknya menemui jalan buntu.

Melihat dahi putrinya yang berlipat karena bingung, Bellinda tersenyum kecil. Tak perlu menunggu Cate bertanya, ia segera menyambung kalimatnya.

"Biar Ibu jelaskan secara singkat, biar gampang kamu mencernanya."

Cate menelan ludah, memusatkan seluruh perhatiannya pada sang ibu. Bibirnya terkatup rapat, bersiap menyimak.

"Semut. Mereka kecil dan lemah jika bekerja sendirian. Tapi, jika mereka melakukannya bersama, maka mereka akan terlihat kuat meski mengangkat beban yang lebih berat dari ukuran tubuh mereka."

Bak kabut tebal yang tiba-tiba tersapu angin kencang, pencerahan itu menghantam dada Cate. Sepasang mata merahnya membulat sempurna. Pesan itu bukan sekadar wejangan usang.

Ada makna mendalam yang tiba-tiba meresap ke dalam situasinya saat ini. Bahwa melepaskan kayu bakar untuk menyelamatkan satu beban nyawa bukanlah sebuah kerugian, melainkan awal dari kekuatan untuk saling menopang.

"Aku mengerti!" serunya tegas. Rasa bersalah yang tadi menindih pundaknya seketika menguap. Cate melompat bangkit dari lincak, tak lagi menunduk lesu. Ia memutar tubuhnya, bersiap melangkah ke arah sang ayah dan tabib.

Bellinda sempat mengerjapkan mata, sedikit terkejut melihat putrinya tiba-tiba dipenuhi energi yang meluap-luap.

"Kau mau ke mana, Nak?" tanyanya lembut, menahan langkah Cate sesaat.

Gadis itu berhenti. Alih-alih berbalik sepenuhnya, ia hanya menoleh dari atas bahu, memamerkan seulas senyum penuh arti di sudut bibirnya.

"Aku mau jadi seekor semut kecil yang bisa melakukan apapun. Jadi... aku putuskan untuk membantu ayah, agar pengobatan pemuda itu cepat selesai."

Usai melontarkan tekad tersebut, Cate kembali mengayunkan langkah mantap mendekati pusaran kesibukan ayahnya.

Di atas lincak, Bellinda tak perlu membalas dengan kata-kata. Gurat kekhawatiran di wajah wanita itu telah luntur, berganti dengan senyum hangat yang mengembang sempurna.

Tuah pepatah usang itu berhasil menyalakan kembali bara di dada Cate, dan tak ada yang lebih membuat hatinya tenteram selain melihat putrinya bangkit dengan semangat yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!