Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Tangan dari Kegelapan
Tangan hitam raksasa itu terus mencengkeram tepi celah dengan kekuatan yang sangat luar biasa juga menakutkan.
Jari-jarinya perlahan mulai menekan ruang di sekitarnya, menciptakan suara retakan batu yang sangat memekakkan telinga siapa pun.
KRAAK!
Retakan baru segera menyebar ke seluruh langit-langit Aula Delapan Gerbang, membuat debu kuno berjatuhan sangat deras.
Tekanan aura yang memenuhi seluruh ruangan aula kini bertambah berat, membuat dada Lin Yuan terasa menjadi semakin sesak.
Bahkan mengangkat pedang besinya kini terasa jauh lebih sulit bagi Lin Yuan akibat adanya tekanan gravitasi yang kuat.
Namun tatapannya tetap tenang, dia terus mengamati setiap perubahan kecil yang terjadi di hadapannya dengan penuh kewaspadaan tinggi.
Lelaki tua di sampingnya menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Jangan pernah gegabah dalam menghadapi serangan makhluk itu."
"Tangan raksasa tersebut sebenarnya bukanlah tubuh aslinya," lanjutnya dengan nada suara yang terdengar sangat serius.
Lin Yuan sedikit mengernyitkan dahinya karena merasa sangat heran. "Bukan tubuh aslinya? Apa maksud perkataan Senior?"
Lelaki tua menggelengkan kepalanya perlahan sambil terus menatap celah kegelapan yang berada tepat di atas kepala mereka berdua.
"Itu hanyalah sebagian kecil dari kekuatan yang berhasil menembus segel kuno yang selama ini mengurungnya."
"Kalau tubuh aslinya benar-benar keluar, maka seluruh Menara Takdir ini sudah lama hancur menjadi debu."
Lin Yuan kembali menatap tangan hitam dan menyadari bahwa pergelangan tangan itu menghilang di balik celah hitam.
Seolah tangan tersebut masih terikat oleh sesuatu yang tidak terlihat namun memiliki kekuatan pengikat yang sangat luar biasa.
Di sekitar celah itu, delapan rantai cahaya raksasa terus bergetar hebat sambil memancarkan rune kuno yang sangat rumit sekali.
Setiap kali tangan hitam berusaha maju, rune-rune tersebut langsung bersinar terang dan melepaskan percikan cahaya yang sangat menyilaukan.
Tangan hitam itu sedikit mundur, namun hanya untuk sesaat sebelum akhirnya kembali mendorong ke depan dengan kekuatan besar.
BOOOM!
Seluruh aula berguncang hebat, dan salah satu rantai cahaya mulai dipenuhi oleh retakan halus yang sangat mengkhawatirkan.
Wajah lelaki tua berubah menjadi semakin serius saat melihat kondisi segel kuno yang mulai melemah secara drastis.
"Ini tidak baik, segel pertahanan utama kita mulai melemah."
Lin Yuan memandang delapan rantai cahaya tersebut dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu mengenai fungsi aslinya.
"Apakah rantai-rantai cahaya itu yang selama ribuan tahun ini bertugas untuk menahan agar makhluk itu tidak pernah keluar?"
"Benar sekali, selama ribuan tahun mereka telah setia menjalankan tugasnya untuk melindungi dunia dari ancaman kegelapan yang besar."
"Dan setiap pewaris yang lulus ujian akan meninggalkan sebagian kekuatannya untuk terus mempertahankan kekuatan dari rantai-rantai cahaya tersebut."
Jantung Lin Yuan berdegup lebih cepat saat menyadari bahwa warisan para pewaris sebenarnya bukanlah harta melainkan sebuah pengorbanan.
Suara berat kembali bergema dari balik kegelapan dengan nada suara yang dipenuhi oleh ejekan yang sangat tajam sekali.
"Kalian semua... apakah masih memiliki keinginan untuk mencoba bertahan di tengah keputusasaan yang sudah sangat nyata di depan mata?"
Setiap kata yang diucapkannya membuat rune pada rantai cahaya meredup, menunjukkan betapa besarnya pengaruh kekuatan suara dari makhluk itu.
Lin Yuan menggertakkan giginya rapat-rapat menahan tekanan aura yang mampu memengaruhi formasi segel raksasa yang sangat kuat tersebut.
Makhluk itu benar-benar berada pada tingkat kekuatan yang tak dapat dia bayangkan oleh akal sehatnya sendiri.
Lelaki tua melangkah maju dan perlahan mulai membentuk segel tangan yang sangat rumit untuk memicu kekuatan dari rantai.
Dalam sekejap, delapan rantai cahaya kembali bersinar terang dan rune-rune kuno mulai berputar dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
Tangan hitam itu mendadak berhenti bergerak, dan untuk pertama kalinya makhluk di balik kegelapan tersebut terdiam membisu tanpa suara.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara tawa pelan yang bergema memenuhi seluruh penjuru aula dengan nada suara yang meremehkan sekali.
"Hahaha... berapa lama lagi kau sanggup bertahan di tempat ini, wahai sang penjaga terakhir dari era lama?"
Kalimat itu membuat tubuh lelaki tua sedikit bergetar, namun dia memilih untuk tidak memberikan jawaban apa pun atas ejekan.
Lin Yuan memperhatikan perubahan ekspresi wajah lelaki tua itu dan akhirnya memahami bahwa dia telah menjaga tempat ini sendirian.
Mungkin dia sudah berada di sini jauh sebelum segala peradaban manusia yang Lin Yuan kenal sekarang.
Pada saat itu, Benih Jalan Pedang di jiwa Lin Yuan tiba-tiba berdenyut pelan dan mengalirkan cahaya putih ke pedangnya.
Pedang besi itu berdengung lirih seolah sedang merespons sesuatu yang berada di balik delapan rantai cahaya yang sedang bersinar.
Lelaki tua langsung menoleh dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa keterkejutan yang sangat besar terhadap fenomena yang terjadi.
"Apakah itu... sebuah resonansi jiwa yang sangat langka?" bisiknya dengan nada suara yang terdengar mustahil.
Pedang besi Lin Yuan tiba-tiba memancarkan satu garis cahaya putih yang melesat lurus ke arah salah satu rantai kuno.
Saat cahaya itu menyentuh permukaan rantai, rune-rune yang semula meredup mendadak kembali bersinar terang benderang seperti sebuah matahari kecil.
Seluruh Aula Delapan Gerbang kembali bergemuruh hebat, dan untuk pertama kalinya wajah makhluk di balik kegelapan tersebut mulai berubah.
Sepasang mata merah itu kini menatap lurus ke arah pedang besi di tangan Lin Yuan dengan tatapan penuh keheranan.
Keheningan menyelimuti aula sebelum akhirnya suara berat itu kembali terdengar dengan nada yang tidak lagi dipenuhi oleh ejekan tajam.
"Pedang besi yang sudah sangat usang itu... mengapa benda tersebut masih bisa ada dan bertahan hingga saat ini juga?"
Lin Yuan sendiri ikut tertegun melihat reaksi makhluk tersebut, ia memandang pedang besinya yang masih dipenuhi oleh banyak bekas goresan.
Tidak ada sedikit pun aura artefak tingkat tinggi, namun mengapa makhluk mengerikan itu justru sangat memperhatikan pedang yang biasa ini?
Lelaki tua di sampingnya perlahan mulai tersenyum tipis setelah melihat fenomena resonansi yang sangat luar biasa antara pedang dan segel.
"Jadi begitu... ternyata Guru bukan tanpa alasan yang kuat untuk memilihmu sebagai seorang pewaris dari Gerbang Takdir."
Lin Yuan segera menoleh menanyakan maksud perkataan lelaki tua tersebut, namun sang senior justru menggelengkan kepalanya dengan sangat perlahan.
"Sekarang kau belum cukup kuat untuk mengetahui jawaban yang sesungguhnya mengenai misteri besar di balik pedang besi milikmu ini."
Di balik celah hitam, makhluk bermata merah kembali menggerakkan tangannya namun dengan gerakan yang jauh lebih lambat dari sebelumnya.
Tatapannya kini tidak lagi tertuju pada segel, melainkan tertuju lurus pada sosok Lin Yuan yang berdiri tegak di tengah aula.
"Tidak kusangka setelah sekian lama waktu berlalu, aku kembali melihat jejak kekuatan itu di tangan seorang manusia yang lemah."
Alis Lin Yuan berkerut mendengar kata "jejak", namun sebelum sempat bertanya, makhluk itu tiba-tiba tertawa dengan sangat pelan sekali.
"Hahaha... menarik sekali, aku baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar menghancurkan segel kuno ini."
Tawanya menggema ke seluruh aula, tetapi kali ini suaranya tidak lagi mengandung niat menyerang secara langsung terhadap jiwa Lin Yuan.
Lelaki tua justru menjadi semakin waspada dan segera berdiri di depan Lin Yuan untuk memberikan perlindungan dari serangan jiwa lawan.
"Jangan pernah menatap matanya terlalu lama jika kau tidak ingin kehilangan kesadaran jiwamu sendiri di dalam dunia kegelapan itu."
Lin Yuan segera mengalihkan pandangannya, namun ia tetap merasakan kesadarannya sedikit bergetar akibat adanya kekuatan asing yang mencoba masuk.
Keringat dingin membasahi dahinya saat menyadari bahwa ia baru saja menghadapi sebuah serangan jiwa yang berbentuk godaan yang kuat.
Lelaki tua mengangguk menjelaskan bahwa itu adalah godaan yang akan semakin mudah menjerat seseorang yang memiliki keinginan kuat.
Lin Yuan menarik napas panjang dan memejamkan matanya, membiarkan cahaya putih dari Benih Jalan Pedang mengusir seluruh hawa dingin tersebut.
Tatapannya kembali jernih saat ia membuka mata, membuat lelaki tua mengangguk puas melihat kekuatan mental yang dimiliki oleh Lin Yuan.
Di balik celah hitam, makhluk bermata merah kembali tersenyum tipis sebelum akhirnya perlahan mulai menarik tangan hitamnya ke kegelapan.
"Kau memang berbeda, pewaris muda, tetapi semua yang berada di dalam menara ini pada akhirnya akan menjadi milikku sepenuhnya."
Begitu kalimat itu selesai, sepasang mata merah tersebut mulai menghilang sedikit demi sedikit dari balik celah kegelapan yang pekat.
"Aku akan setia menunggumu di Gerbang Kesembilan," suara terakhirnya menggema sebelum akhirnya dia benar-benar lenyap dari pandangan mata mereka.
Mendengar kalimat tersebut, tubuh lelaki tua langsung membeku seketika, sementara wajah Lin Yuan berubah menjadi sangat serius dan penuh tekad.
.........
Bersambung...