NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 Hari-Hari Pertama Bersama Kirana

Kamis pagi, sehari setelah kelahiran Kirana, ruang rawat inap Alya berubah jadi taman bunga. Buket-buket mawar, lili, dan bunga matahari memenuhi sudut ruangan, ditemani balon-balon pink berbentuk hati dan bintang.

Ratna dan Reyhan Senior datang pukul delapan pagi lebih pagi dari jam kunjungan resmi. Tapi karena mereka kakek-nenek, perawat kasih dispensasi khusus.

"Dimana cucu Nenek?" tanya Ratna begitu masuk. Matanya berbinar, sangat berbeda dari Ratna yang dulu dingin dan formal.

Alya yang sedang duduk di ranjang sambil menyusui Kirana tersenyum. "Dia lagi makan, Bu. Sebentar lagi selesai."

Ratna duduk di sofa dengan tidak sabar, tangannya gelisah di pangkuan. Reyhan Senior berdiri di samping dengan senyum tipis tapi senyum yang tulus.

Arka yang sejak tadi pagi nempel terus sama ibunya, langsung berlari ke kakek-neneknya. "Nek! Kek! Kirana cantik banget! Rambutnya banyak! Dan dia kecil banget tapi kuat!"

"Wah, Kakak Arka udah jadi kakak beneran ya?" Ratna memeluk cucunya dengan sayang.

"Iya! Tadi pagi aku bantu Mama gantiin popok Kirana! Aku nggak takut sama sekali!"

Reyhan yang baru keluar dari kamar mandi ikut nimbrung. "Nak, kamu cuma pegangin kapas. Ayah yang ganti popoknya."

"Tapi aku bantuin kan?" Arka cemberut, pipinya menggembung lucu.

Semua tertawa.

Setelah Kirana selesai menyusu, Alya bersihkan mulut mungilnya dengan lembut. "Bu, mau gendong?"

Ratna langsung berdiri. Tangannya gemetar. "Boleh?"

"Tentu, Bu. Ini cucu Ibu."

Dengan sangat hati-hati, Ratna menerima Kirana. Begitu bayi mungil itu ada di pelukannya, air matanya tumpah.

"Astaga... dia... dia mirip Reyhan waktu bayi." Suaranya bergetar. "Rambutnya hitam lebat, alis tebal, hidung mancung... Tapi dia lebih cantik. Jauh lebih cantik."

Reyhan Senior mendekat, menatap cucu perempuannya dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan lembut, penuh cinta.

Ratna membisikkan sesuatu pada Kirana. "Kirana, Nenek janji akan jadi nenek yang baik buat kamu. Nenek akan sayang kamu tanpa syarat. Nenek akan peluk kamu setiap kali kamu butuh. Nenek nggak akan ulangi kesalahan yang Nenek lakukan sama Ayah kamu."

Reyhan yang mendengar itu merasakan dadanya sesak. Ia berjalan mendekat, memeluk ibunya dari samping. Pelukan yang dulu tidak pernah ada, sekarang terasa natural.

"Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah berubah."

"Terima kasih juga sudah kasih Ibu kesempatan kedua."

Jumat Siang Pulang ke Rumah

Dua hari setelah melahirkan, Alya dan Kirana diizinkan pulang. Reyhan datang menjemput dengan car seat yang sudah terpasang sempurna hasil belajar dari tutorial YouTube semalam suntuk.

"Rey, kamu yakin car seat-nya udah bener?" tanya Alya sambil melihat suaminya mengecek kencangan sabuk untuk kesepuluh kalinya.

"Aku udah cek lima kali. Udah aman. Tapi biar aku cek sekali lagi." Reyhan mengencangkan sabuk lagi.

Alya tertawa, meski tubuhnya masih sakit. "Rey, santai. Kirana nggak akan kemana-mana."

"Aku tahu. Tapi ini anak pertama yang aku bawa pulang dari rumah sakit." Suaranya pelan. "Waktu Arka lahir, aku nggak ada. Jadi sekarang... aku nervous."

Alya meraih tangannya. "Kamu akan jadi ayah yang luar biasa. Kamu udah buktiin sama Arka."

Setelah yakin semuanya aman, mereka berangkat. Reyhan mengemudi super pelan lebih pelan dari kakek-kakek. Mobil-mobil di belakang klakson berkali-kali.

"REY, KITA NGGAK AKAN SAMPAI RUMAH SAMPAI BESOK KALAU KAMU NYETIR SEGINI LAMBATNYA!" protes Alya.

"Keselamatan putri kita lebih penting dari kecepatan!" jawab Reyhan tegas, tetap setia di 30 km/jam di jalan yang limitnya 60 km/jam.

Arka yang duduk di belakang bersama Alya tidak bisa berhenti menatap Kirana. "Mama, Kirana cantik banget ya waktu tidur. Kayak putri."

"Iya, sayang. Dia putri-nya Kakak."

"Aku akan jaga dia baik-baik. Nggak akan biarkan siapapun ganggu dia."

Di Rumah Chaos Pertama

Begitu sampai rumah, realita memukul mereka keras.

Kirana yang tadinya tidur nyenyak langsung menangis begitu masuk pintu. Tangisannya keras, nyaring.

"Kenapa dia nangis?! Ada yang sakit?!" Reyhan panik, mengangkat Kirana dari car seat dengan gerakan canggung.

"Rey, pelan-pelan. Support kepalanya," instruksi Alya sambil berjalan perlahan jahitannya masih sakit.

"Aku udah support! Tapi dia tetap nangis!"

"Mungkin dia laper. Kasih ke Mama."

Alya duduk di sofa, mulai menyusui. Tapi Kirana menolak. Kepalanya menggeleng-geleng, tangis makin keras.

"Dia nggak mau makan. Kenapa?!" Alya mulai panik.

Arka yang melihat orang tuanya panik, ambil inisiatif. "Mama, Papa, tunggu. Aku baca di buku baby care, kalau baby nangis, cek dulu: laper, popok, atau kepanasan."

Reyhan menatap anaknya dengan kagum. "Arka benar. Coba cek popoknya."

Mereka buka popok Kirana basah dan penuh.

"Oh! Dia butuh ganti popok!" Reyhan berlari ambil perlengkapan.

Tapi begitu popok dilepas, Kirana tiba-tiba pipis. Menyemprot. Langsung ke wajah Reyhan.

"WAAAHHH!" Reyhan teriak sambil nutup wajah.

Alya dan Arka tertawa terbahak-bahak. Reyhan yang biasanya cool dan composed, sekarang basah kena pipis baby.

"Rey, itu kenapa nggak di-cover dulu?!" Alya tanya sambil ngakak.

"AKU LUPA! Aku lupa baby perempuan juga bisa semprot!" Reyhan mengusap wajahnya dengan tissue.

Setelah popok diganti (dengan cover), Kirana langsung tenang dan tertidur.

"Lihat? Dia cuma nggak nyaman," kata Arka bangga. "Aku udah bilang kan harus cek popok."

Reyhan mengacak rambut Arka. "Kakak Arka memang pintar. Ayah harus belajar banyak dari kamu."

Malam Pertama Sleepless Night

Malam pertama di rumah adalah neraka.

Kirana tidur dengan pola kacau: tidur 30 menit, bangun nangis, tidur 45 menit, bangun nangis lagi. Berulang sepanjang malam.

Pukul dua pagi, Reyhan dan Alya sudah seperti zombie. Mata merah, rambut berantakan, baju penuh muntahan baby.

"Rey... aku nggak kuat lagi... aku butuh tidur sebentar..." Alya menyusui Kirana untuk kesekian kalinya.

"Kasih ke aku. Kamu tidur. Aku yang gendong."

"Tapi"

"Nggak ada tapi-tapian. Kamu baru melahirkan. Butuh recovery. Tidur."

Setelah Kirana selesai menyusu, Reyhan mengambilnya dan mulai mondar-mandir di kamar.

"Kirana, sayang, ini tengah malam. Ayah capek. Mama capek. Kakak Arka tidur. Kamu juga harus tidur." Suaranya lembut, mengayun-ayun.

Tapi Kirana tetap rewel. Menangis kecil.

Reyhan coba berbagai posisi gendong. Nyanyi lagu nina bobo (suaranya fals). Dance pelan kayak di video. Nggak ada yang berhasil.

Akhirnya, dalam keputusasaan, ia coba sesuatu yang random.

"Jadi, Kirana, binary search tree itu adalah data structure di mana setiap node punya maksimal dua children. Left child lebih kecil dari parent, right child lebih besar..."

Entah kenapa mungkin karena suara Reyhan monoton, mungkin karena Kirana bingung bayi mungil itu mulai tenang.

"Oh, kamu suka algoritma? Ayah lanjut ya. Untuk traverse binary search tree, kita bisa pakai in-order, pre-order, atau post-order..."

Lima belas menit kemudian, Kirana tertidur pulas di dada ayahnya.

Reyhan berdiri membeku, takut bergerak. Satu jam ia berdiri seperti patung, sampai yakin Kirana benar-benar tidur nyenyak. Baru ia letakkan putrinya di box bayi.

Ketika akhirnya berbaring di samping Alya, ia menatap langit-langit dengan senyum lelah.

Ini baru hari pertama. Masih ada beratus-ratus malam lagi. Tapi aku nggak akan menyesal. Untuk Kirana, untuk Alya, untuk Arka... aku akan lewati apapun.

Minggu Pagi Kecemburuan Pertama Arka

Hari ketiga, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Arka yang selama ini excited jadi kakak, tiba-tiba pendiam. Nggak lagi lari-larian tiap Kirana bangun. Nggak lagi semangat bantu ganti popok. Bahkan saat Kirana nangis, ia tetap di kamar, baca buku sendiri.

Reyhan sadar waktu sarapan. Arka duduk di meja makan, cemberut, main-main dengan makanan tanpa makan.

"Nak, kamu nggak suka omelet Ayah?" tanya Reyhan.

"Suka." Jawabnya pelan, tanpa tatap.

"Tapi kamu nggak makan."

"Aku nggak laper."

Reyhan dan Alya saling pandang. Ada yang salah.

Setelah sarapan, Reyhan ajak Arka ke taman belakang. Berdua.

"Nak, Ayah mau ngobrol. Ada yang mau Ayah tanya."

Arka duduk di ayunan, menunduk.

"Kamu marah sama Ayah atau Mama?"

Arka geleng.

"Kamu sakit?"

Geleng lagi.

"Kamu... sedih?"

Arka diam lama. Lalu angguk pelan.

Reyhan duduk di ayunan sebelahnya, pegang tangan Arka. "Kenapa sedih? Cerita sama Ayah."

"Ayah... sejak Kirana lahir, Ayah sama Mama jadi sibuk banget. Kalian nggak ada waktu buat aku lagi. Kalian cuma peduli sama Kirana."

Hati Reyhan remuk.

"Nak, lihat Ayah."

Arka angkat wajah. Matanya berkaca-kaca.

"Ayah sama Mama memang sibuk karena Kirana masih baby. Dia butuh banyak perhatian. Tapi itu nggak berarti Ayah sama Mama nggak peduli sama kamu. Kamu tetap anak kami. Kamu tetap penting."

"Tapi Ayah janji mau bantuin aku bikin robot. Tapi Ayah lupa karena sibuk sama Kirana..."

Reyhan sesak. Ia memang lupa.

"Nak, Ayah minta maaf. Ayah lupa. Itu salah Ayah. Tapi dengerin—Ayah nggak akan pernah berhenti sayang sama kamu. Cinta Ayah ke kamu nggak berkurang. Malah bertambah, karena Ayah bangga kamu jadi kakak yang baik."

"Tapi Ayah nggak punya waktu buat aku..."

"Ayah akan buat waktu. Mulai sekarang, setiap Sabtu pagi, adalah waktu khusus Ayah dan Arka. Cuma kita berdua. Nggak ada Kirana, nggak ada Mama. Kita bisa bikin robot, ngoding, apapun yang kamu mau. Oke?"

Mata Arka berbinar. "Serius, Yah?"

"Serius. Ini janji Ayah. Dan Ayah nggak akan lupa lagi."

Arka memeluk ayahnya erat. "Makasih, Yah. Aku cuma takut kehilangan Ayah sama Mama."

"Kamu nggak akan pernah kehilangan kami, Nak. Nggak akan pernah."

Sore Hari Quality Time Arka dan Alya

Sorenya, setelah diskusi, Reyhan ambil alih urusan Kirana. Alya ajak Arka keluar berdua.

"Mama, kita mau kemana?" Arka penasaran.

"Es krim date. Kayak dulu, sebelum Kirana lahir."

Mata Arka berbinar. "SERIUS?!"

"Serius. Ayo."

Mereka pergi ke ice cream shop favorit. Sambil makan es krim, Alya bicara jujur.

"Arka, Mama minta maaf."

"Maaf kenapa, Ma?"

"Mama terlalu fokus sama Kirana sampai lupa... kamu juga masih kecil yang butuh perhatian Mama. Mama lupa kalau kamu juga butuh Mama."

"Mama nggak lupa kok. Mama cuma sibuk"

"Tapi itu nggak adil buat kamu. Mulai sekarang, Mama akan pastikan kamu tetap dapat perhatian yang sama. Setiap malam sebelum tidur, Mama akan baca buku buat kamu. Nggak peduli selelah apapun Mama. Itu waktu khusus kita. Oke?"

Air mata Arka jatuh. "Makasih, Ma. Aku cuma takut Mama lupa sama aku karena sekarang ada Kirana."

Alya peluk anaknya erat. "Mama nggak akan pernah lupa sama anak pertama Mama. Kamu yang bikin Mama jadi Mama. Kamu yang ajarin Mama cara jadi orang tua. Kamu spesial."

Mereka berpelukan lama. Orang-orang di kafe tersenyum haru.

Malam Hari Family Bonding

Malam itu, setelah Kirana tidur (untuk sementara), mereka berempat duduk di ruang keluarga.

Arka duduk di pangkuan Reyhan. Alya di samping, menyusui Kirana yang setengah tidur.

"Nak," Reyhan mulai, "Ayah mau bilang sesuatu."

Arka menatap serius.

"Keluarga kita sekarang bertambah. Ada Kirana. Tapi itu nggak berarti cinta Ayah dan Mama ke kamu berkurang. Cinta itu nggak terbagi cinta itu berlipat. Ayah sayang kamu dan Kirana dengan cara berbeda, tapi sama besarnya."

"Beda gimana, Yah?"

"Ayah sayang kamu sebagai anak pertama. Anak yang ajarin Ayah jadi ayah, yang bikin Ayah belajar arti cinta tanpa syarat. Dan Ayah sayang Kirana sebagai putri kecil Ayah baby yang rapuh yang harus Ayah lindungi. Tapi cintanya... sama besarnya."

Arka berpikir. Lalu mengangguk. "Aku ngerti, Yah. Dan aku minta maaf udah cemburu sama Kirana. Dia kan cuma baby. Dia butuh Ayah sama Mama lebih banyak dari aku."

Alya langsung nangis. "Arka... kamu anak yang sangat pengertian. Mama bangga sama kamu."

"Ayah juga bangga." Reyhan cium kepala Arka. "Kamu kakak terbaik yang Kirana bisa punya."

Arka tersenyum. Ia bangkit, berjalan ke ibunya, lalu dengan hati-hati menyentuh kepala Kirana.

"Kirana," bisiknya lembut, "Kakak minta maaf udah cemburu sama kamu. Kakak janji mulai sekarang akan jadi kakak yang baik. Kakak akan bantu Ayah sama Mama jaga kamu. Kakak sayang kamu."

Seolah mendengar, Kirana melepas puting ibunya. Membuka mata sekilas. Lalu tersenyum senyum kecil bayi.

"MAMA! AYAH! KIRANA SENYUM! DIA SENYUM SAMA AKU!" teriak Arka girang.

"Itu mungkin cuma gas" Reyhan mulai.

"NGGAK! Itu senyum beneran! Dia dengar aku! Dia suka aku!"

Alya dan Reyhan tertawa. Biarkan Arka percaya itu senyum untuknya.

Malam itu, di ruang keluarga yang redup, mereka berempat merasakan sesuatu yang istimewa.

Keluarga yang sedang belajar menemukan keseimbangan.

Cinta yang berkembang dan tumbuh.

Tantangan yang dihadapi bersama.

Ikatan yang semakin kuat setiap hari.

Dua Minggu Kemudian New Normal

Dua minggu setelah kelahiran Kirana, mereka mulai menemukan ritme.

Reyhan bisa menggendong Kirana satu tangan sambil ngetik di laptop multitasking level expert. Alya bisa tidur di sela-sela waktu Kirana tidur. Arka sudah terbiasa dengan tangisan tengah malam, bahkan bisa tidur nyenyak meski adiknya nangis.

Dan yang paling penting mereka semua happy.

Lelah? Banget.

Chaos? Tiap hari.

Tapi bahagia? Sangat bahagia.

Karena mereka keluarga.

Keluarga Mahardika yang utuh. Yang saling mencintai. Yang akan menghadapi segala tantangan bersama.

Selamanya.

[Bersambung]

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!