Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tebak-tebakan
Ryan duduk tenang di bangku baca perpustakaan. Sebuah buku tentang pemrograman dan IT setia menemani jam istirahatnya. Ya. Hanya menemani. Karena meskipun terlihat fokus pada buku di tangannya, pikiran Ryan melayang jauh mengingat percakapannya dengan Dawai tentang cita-cita.
Ryan bisa saja kuliah di universitas paling top di dunia, mengambil jurusan IT yang dia minati sejak di bangku sekolah menengah pertama. Hanya saja, Ryan tahu, orangtuanya tidak akan mengijinkannya untuk melakukan itu. Dia adalah pewaris tunggal. Ayahnya sangat menaruh harapan padanya.
"Apa buku ini semenarik itu?" sebuah suara menyadarkan Ryan.
"Miss Dawai?" Ryan terkejut melihat Dawai sudah duduk di sebelahnya sambil melongok melihat ke arah isi buku yang dibacanya.
"Sama sekali ngga paham," kata Dawai sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ryan menutup bukunya.
"Sepertinya kamu lebih sering menghabiskan waktu istirahat mu disini ya?" tanya Dawai pada Ryan.
"Eh? Ah, iya," jawab Ryan singkat. Dawai mengerutkan alisnya.
"Eh? Oh, maaf. Saya ganggu ya. Lanjutin aja. Saya juga mau nyari bacaan," kata Dawai lalu hendak beranjak dari duduknya.
Ryan dengan cepat menarik tangan Dawai. Dawai terkejut. Lalu, seketika Dawai duduk kembali. Sedetik kemudian Ryan melepaskan tangan Dawai dan menatap gurunya yang manis itu dengan tatapan kikuk, lalu tertunduk.
Dawai menghela nafas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba terpacu hanya dengan sentuhan tangan dari Ryan.
"Maaf, Miss," kata Ryan lirih. Dawai terdiam, menunggu apa yang akan Ryan katakan selanjutnya.
Diam.
"Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, saya siap mendengarkan," kata Dawai akhirnya, tak sanggup melihat wajah Ryan yang terlihat bingung dan sedih.
Ryan masih mengunci bibirnya. Masa depannya sudah jelas. Tak mungkin bisa diubah hanya karena dia ingin. Menjadi pewaris adalah satu-satunya hal yang sudah pasti harus dia lakukan.
"Ryan?" panggil Dawai. Ryan menatap Dawai. Tatapannya terlihat begitu sendu dan rapuh.
Ryan meletakkan kepalanya di bahu Dawai. Mata Dawai membulat. Dawai hendak mendorong tubuh Ryan, tapi tangan Ryan bergerak cepat menahan tangan Dawai.
"Sebentar saja, Miss. Sebentar saja," kata Ryan lirih. Dawai terdiam. Dengan tangannya yang lain dia menepuk-nepuk kepala Ryan lembut.
Ryan, entah mengapa, merasakan ketenangan dalam aroma citrus yang menyeruak dari Dawai. Tangan Dawai yang mungil terasa begitu lembut menepuk kepalanya yang sedari tadi terasa berat memikirkan masa depannya.
'Cita-cita... hanyalah sebuah impian,'
***
"Ryan mana?" tanya Rendra pada Rafa dan Reno setelah memenuhi panggilan dari guru matematika di ruang guru.
"Biasa. Palingan ke perpus," jawab Rafa.
Rendra kemudian berlalu menuju perpustakaan. Dia ingin berbagi kabar dari Bu Ina dengan Ryan. Bu Ina, guru matematika super killer, menawarkan pada Rendra ujian simulasi untuk masuk universitas negeri paling favorit di kota sebelah. Bu Ina menilai Rendra memiliki kemampuan untuk itu.
'Gue rasa, Ryan juga bakal ikutan,' pikir Rendra.
Tak berapa lama, Rendra tiba di perpustakaan. Seperti biasa, perpustakaan sepi. Hanya ada dua petugas perpustakaan yang duduk di tempatnya terlihat sedang asyik berkasak-kusuk ketika Rendra memasuki perpustakaan.
Perpustakaan SMA Bina Bangsa cukup luas. Koleksi bukunya pun cukup banyak. Dari karya sastra lama, karya sastra baru, beberapa novel terjemahan, buku referensi pelajaran, hingga buku non-fiksi. Bangku baca terletak di sudut paling jauh dari pintu masuk dan terhalang oleh beberapa rak buku besar.
Rendra berjalan menyusuri rak-rak besar untuk menuju bangku baca yang biasanya hanya berisi Ryan seorang. Namun, jam istirahat kali itu berbeda. Saat Rendra akan berbelok menuju ruang baca, dia disuguhi pemandangan yang menusuk hatinya.
Ryan terlihat menahan Dawai yang hendak pergi. Tak lama kemudian, Ryan terlihat menyandarkan kepalanya pada bahu Dawai yang duduk menghadapnya. Tak sampai disitu, Dawai bahkan terlihat menepuk-nepuk pelan kepala Ryan.
Tangan Rendra mengepal. Rahangnya mengeras. Dia sama sekali tak menyangka Ryan mencuri kesempatan untuk bermesraan dengan Dawai di perpustakaan.
'Bukankah dia bilang hanya menggoda gue? Bukannya dia nggak tertarik?'
"Kriiiing..." bel tanda jam istirahat berakhir telah berbunyi, menyadarkan Rendra untuk segera pergi dari perpustakaan sebelum Ryan dan Dawai melihatnya.
"Sial!" umpat Rendra sambil berjalan cepat menuju kelasnya.
Sementara itu, Ryan mengangkat kepalanya perlahan saat bel berbunyi. Dawai tersenyum. Khawatir.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Dawai pada Ryan, memastikan perasaan Ryan. Ryan tersenyum tipis.
"Miss, jangan sembarangan meminjamkan bahu pada orang lain," kata Ryan lirih, lalu beranjak dari duduknya.
"Eh?"
"Terlebih pada cowok yang sedang rapuh," lanjut Ryan lalu pergi meninggalkan Dawai yang masih mencerna perkataan Ryan.
Ryan berjalan perlahan keluar dari perpustakaan. Tangan kanannya menutupi mata kanannya. Dia tersenyum.
'Gawat!'
Sepanjang sisa pelajaran hari itu, baik Rendra maupun Ryan sama-sama tak bisa fokus. Rendra sesekali melirik ke arah Ryan yang terlihat biasa saja —malah terlihat sedang tak baik-baik saja— di mata Rendra.
Ryan sesekali memijat dahinya agar pikirannya dapat kembali fokus pada pelajaran hari itu. Rendra tahu, Ryan sedang tak fokus. Ryan akan selalu memijat dahinya ketika sedang memikirkan hal lain padahal dia sedang melakukan sesuatu yang lain dari yang dia pikirkan.
'Mikirin apa sih dia? Miss Dawai? Sial!'
***
'Ryan kenapa ya?' pikir Dawai cemas saat duduk di ruang guru. Masih teringat jelas wajah Ryan yang sendu menatapnya.
"Miss, jangan sembarangan meminjamkan bahu pada orang lain. Terlebih pada cowok yang sedang rapuh,"
Kata-kata Ryan tiba-tiba muncul tanpa permisi.
'Eh? Apa maksudnya?' Dawai bingung sendiri.
Adit mengerutkan kedua alisnya, mengamati Dawai yang sedang melamun. Tangan Dawai memegang ponsel, tapi matanya menerawang lurus ke depan.
"Ehem... Miss," panggil Adit. Dawai masih bergeming.
"Miss Dawai?" panggil Adit sekali lagi dengan suara yang agak sedikit lebih keras dari sebelumnya. Dawai terkejut.
"Eh? Ya? Ada apa, Pak Adit?" tanya Dawai salah tingkah.
"Miss Dawai nggak enak badan? Atau..." tanya Adit ragu-ragu.
"Oh. Nggak. Nggak apa-apa. Saya baik kok. Terimakasih," kata Dawai agak sedikit malu.
"Syukur kalo gitu. Dari tadi Miss Dawai keliatannya agak gimana gitu," kata Adit ragu-ragu.
"Oh? Ah, nggak apa-apa. Cuma sedikit kepikiran sama murid yang nggak seperti biasanya," kata Dawai.
"Murid? Nggak seperti biasanya? Siapa?" tanya Adit penasaran.
"Eh? I-itu..."
"Kriiiing..." tanda bel ganti jam pelajaran berbunyi. Sepertinya, Dawai harus berterimakasih pada bel kali ini, karena ini adalah waktunya Dawai untuk mengajar kelas X-7.
"Ah! Permisi, Pak. Saya ada kelas," kata Dawai sambil mengambil beberapa buku di atas mejanya dengan cepat. Adit mengangguk kikuk.
Dawai segera meninggalkan mejanya dan berlalu keluar ruang guru dengan terburu-buru. Adit menatap punggung Dawai hingga di telan pintu masuk ruang guru.
'Siapa murid yang mengganggu pikiran Miss Dawai? Rendra? Siapa lagi?!'
***
semngaatt ya thorrr