Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
" Terima kasih Brian. Kau memang pria terbaik di muka bumi ini."
Brian tersenyum. Dengan sambungan telepon yang telah di matikan oleh Anita.
Sampai pikiran pria itu tak sengaja memikirkan Inara. Yang selama ini tak pernah ia manjakan dengan hadiah.
" Tok. Tok.."
Pintu di ketuk secara perlahan dari luar.
" Masuklah Tom. " teriak Brian dari dalam.
" Ini tuan kopi yang anda minta."
" Hmm.. Letakan saja disana." kata Brian sembari menatap serius ke arah berkas yang saat ini tengah ada di tanganya.
" Baik tuan. Kalau begitu saya undur diri dulu."
" Tunggu Tom.."
" Ya tuan. Ada yang bisa saya bantu? " Tom menatap Brian lekat. Yang kini sedang melepas kaca mata bacanya secara perlahan.
" Hmm.. Bisakah kau membantuku mencarikan sebuah hadiah untuk wanita? "
Kening Tom berkerut dalam.
Hadiah untuk seorang wanita?
Apakah tuannya itu sedang menyuruhnya untuk menyiapkan hadiah untuk Anita atau untuk wanita lainnya. Seperti salah satu kolega yang saat ini sedang melakukan kerja sama dengan mereka karena sedang berulang tahun.
Mengingat jika hal itu memang sering perusahaan mereka lakukan untuk menyenangkan klien.
Namun setelah di pikir ulang secara cermat.
Tak ada satu pun klien yang dalam waktu dekat ini sedang berulang tahun.
Jadi bisa Tomi pastikan jika hadiah itu akan di siapkan untuk Anita.
Mengingat betapa gilanya, Brian mencintai Anita selama ini.
Bahkan ketika sudah di sakiti pun pria itu tetap memilih untuk kembali dengan Anita dan memaafkan wanita berparas lembut itu.
" Hadiah untuk seorang wanita, tuan? "
" Ya. Kau pilihkan saja yang terbaik dari semua yang terbaik. Dan ingat. Harganya harus yang paling mahal , Tom. Aku tak ingin terlihat terlihat miskin karena telah memberikan hadiah murahan ."
" Baik tuan saya mengerti." Tom pun berbalik pergi meninggalkan ruangan Brian.
Dengan meninggalkan Brian tersenyum sendiri. Sembari membayangkan. Bagaimana senangnya wajah Inara setelah mendapat kado darinya itu.
Sampai sedetik kemudian. Senyuman di wajah Brian pun surut. Ketika ia tersadar dengan kebodohan yang saat ini tengah ia lakukan.
" Sial! Kenapa aku malah jadi memikirkan wanita itu? " rutuk Brian pada dirinya sendiri.
Sampai pria itu memilih untuk fokus ke arah berkas - berkas yang belum selesai ia periksa.
Dan coba menyingkirkan segala sesuatu tentang Inara. Yang akhir - akhir ini selalu menghantuinya.
___
" Bagaimana .. Apakah semuanya sudah siap? " tanya Inara pada Ana yang saat ini sedang duduk di depannya.
Ana yang di tanya pun terlihat langsung mengangguk dan segera memberikan sebuah map coklat besar kepada Inara yang tampak tenang mengambilnya.
Jujur saja , Ana sedikit merasa takut dengan wajah dingin yang di tunjukan oleh Inara itu.
Bagaimana tidak takut. Aura yang biasanya terlihat hangat seperti peri surga. Kini malah terlihat dingin dan kejam. Bagaikan iblis penghuni neraka yang baru saja keluar neraka , dan sekarang seolah sedang mendapat tugas, bersiap mencari mangsa untuk ia bawa ke neraka untuk di siksa.
" Semuanya sudah lengkap. Kau tinggal berikan saja itu pada Brian. Jika kau malas. Aku bisa menyuruh salah satu pelayan di kediaman kita untuk mengirimnya."
" Tidak perlu. Biar aku saja yang memberikan surat cerai ini padanya. Saat ini aku tak ingin membuat kegaduhan. Aku yang dulu bersedia menjadi pengantin pengganti untuknya. Dan sekarang aku juga yang ingin mengakhiri semua ini."
" Kau... Benar - benar sudah yakin ingin bercerai dengannya? " tanya Ana memastikan lagi , seolah tak percaya jika Inara benar - benar akan bisa melepaskan Brian begitu saja.
Mengingat betapa cintanya Inara pada Brian. Bahkan rasa cinta Inara terhadap Brian sudah terjadi waktu kecil.
Ya.. Ana mengetahui semua itu karena sedari kecil mereka berdua memang selalu bersama.
Alih - alih terlihat seperti tante dan ponakan. Kedua wanita itu malah terlihat seperti saudara kandung. Karena umur mereka yang terpaut tak terlalu jauh berbeda.
" Ya.. Aku sudah sangat yakin Ana. Semua bisa ku terima. Tapi tidak dengan sebuah pengkhianatan." dengan kobaran cinta yang sudah mati. Kedua mata Inara pun menghunus tajam.
Menurutnya bertahan dengan pria yang berkhianat merupakan hal terbodoh untuk ia lakukan sebagai seorang wanita yang memiliki segalanya.
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra