Mampukah janda muda menahan diri saat godaan datang dari pria yang paling tabu? Setelah kepergian suaminya, Ayana (26) berjuang membesarkan anaknya sendirian. Takdir membawanya bekerja di perusahaan milik keluarga suaminya. Di sana, pesona Arfan (38), paman direktur yang berkarisma, mulai menggoyahkan hatinya. Arfan, duda mapan dengan masa lalu kelam, melihat Ayana bukan hanya sebagai menantu mendiang kakaknya, melainkan wanita memikat yang membangkitkan gairah terpendam. Di antara tatapan curiga dan bisikan sumbang keluarga, mereka terjerat dalam tarik-ulur cinta terlarang. Bagaimana Ayana akan memilih antara kesetiaan pada masa lalu dan gairah yang tak terbendung, di tengah tuntutan etika yang menguji batas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bangjoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Kebenaran di Balik Krisis
“Ayana...” Suara Vina serak, lebih menusuk dari sekadar bisikan. “Ada yang terjadi dengan Arfan... dan aku pikir, ini ada hubungannya denganmu.”
Ayana merasakan seluruh darahnya seolah ditarik dari tubuhnya. Pucat pasi, ia berdiri mematung di ambang pintu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Kata-kata Vina menggema, bercampur dengan bayangan gelap ruang arsip dan senyum licik Rio.
“A-ada apa, Vina?” Suaranya tercekat. Jantungnya berdebar kencang, firasat buruk menghantamnya tanpa ampun.
Vina menutup telepon, mata tajamnya kini menatap Ayana sepenuhnya, penuh tuduhan yang tak terucap. “Arfan... dia dilarikan ke rumah sakit lagi.”
Lagi? Ayana ingat saat Arfan pingsan di kantor beberapa bulan lalu. Tapi ‘lagi’ mengisyaratkan sesuatu yang lebih parah, yang tidak pernah ia ketahui.
“Apa? Kenapa? Kapan?” Rentetan pertanyaan itu keluar tanpa ia sadari. Ia melangkah maju, tangannya refleks meraih lengan Vina.
Vina menepisnya kasar. “Jangan pura-pura tidak tahu! Kau baru saja keluar dari ruang arsip, kan? Wajahmu seperti melihat hantu. Apa yang kau lakukan di sana? Dokumen apa yang Rio suruh kau cari?”
Ayana mundur selangkah, terkejut dengan nada dan tuduhan Vina. “Aku... aku hanya mengerjakan perintah Rio. Dia menyuruhku mencari beberapa laporan keuangan lama.”
“Laporan keuangan lama?” Vina mendengus sinis. “Dan itu membuatmu pucat seperti itu? Kau tahu apa yang terjadi dengan Arfan? Dia kolaps di ruang kerjanya, setelah menerima pesan dari Rio yang berisi laporan yang sama, yang kemungkinan besar kau temukan dan serahkan padanya!”
Kepala Ayana berputar. Laporan keuangan? Rio tidak meminta laporan keuangan. Dia meminta dokumen-dokumen internal terkait investasi lima tahun lalu, sebuah proyek yang melibatkan almarhum suaminya. Tapi Vina menyebut laporan keuangan.
“Tidak! Aku tidak...” Ayana berusaha menjelaskan, namun kata-kata itu terasa berat, terjebak di tenggorokannya. Ia tahu betapa Rio pandai memutarbalikkan fakta.
“Tidak apa?” Vina melangkah mendekat, auranya memancarkan kemarahan. “Kau pikir aku bodoh? Sejak kau masuk ke perusahaan ini, hidup Arfan berubah. Dia tiba-tiba tertarik lagi pada hal-hal yang dulu ia jauhi, dan sekarang... sekarang dia di rumah sakit karena tekanan yang kau dan Rio ciptakan!”
“Aku tidak tahu apa-apa soal ini, Vina! Aku bersumpah!” Air mata mulai menggenang di mata Ayana. Tuduhan itu terlalu berat.
“Cukup dramamu, Ayana!” Vina menggenggam lengan Ayana kuat-kuat, kukunya seolah menusuk kulit. “Ikut aku ke rumah sakit. Kita lihat sendiri apa yang telah kau lakukan pada Arfan.”
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Ayana duduk membeku di samping Vina, otaknya bekerja keras menyatukan kepingan puzzle yang baru saja dilemparkan padanya. Rio meminta dokumen investasi lama, Vina menuduhnya menyerahkan laporan keuangan yang membuat Arfan kolaps. Apakah Rio menggunakan dokumen yang ia temukan untuk menciptakan laporan palsu? Atau, lebih buruk lagi, apakah dokumen itu sendiri adalah bom waktu yang ia aktifkan tanpa sadar?
Sesampainya di rumah sakit, suasana tegang terasa begitu pekat. Koridor di depan ruang perawatan VIP Arfan dipenuhi kerabat dan rekan kerja. Wajah-wajah cemas, bisikan-bisikan tertahan. Ayana melihat Ibu Arfan, Nyonya Besar, duduk di kursi tunggu dengan wajah pucat pasi, matanya sembab. Di sampingnya, seorang dokter menjelaskan sesuatu dengan ekspresi serius.
Vina langsung menghampiri ibunya, menarik Ayana bersamanya. “Ibu, bagaimana keadaan Arfan?”
Nyonya Besar mendongak, matanya yang sembab kini menatap Ayana dengan kebencian yang mendalam. “Dia... dia kritis, Vina. Jantungnya melemah drastis.”
Kritis. Jantung. Kata-kata itu menghantam Ayana seperti palu godam. Dia ingat Arfan pernah menyebutkan ada riwayat jantung di keluarganya, tapi tidak pernah terbayang separah ini.
“Dokter bilang ini karena tekanan dan stres yang luar biasa,” lanjut Nyonya Besar, suaranya bergetar. Tatapannya kembali mengarah pada Ayana, tajam dan menghakimi. “Sejak Ayana masuk ke dalam hidup kami, sejak semua rahasia lama ini diungkit-ungkit lagi, Arfan terus-menerus tertekan.”
“Rahasia lama?” Ayana memberanikan diri bertanya, meski ia tahu itu mungkin akan memperburuk situasi. Ia merasa harus tahu.
Vina menarik lengannya lagi, kali ini lebih keras, seolah ingin mencengkeramnya. “Jangan sok polos, Ayana! Kau pasti tahu. Ini tentang skandal keuangan lima tahun lalu, yang melibatkan suamimu dan perusahaan. Arfan selama ini mati-matian menutupinya, melindunginya agar nama baik keluarga dan almarhum kakak iparmu tetap terjaga. Tapi sekarang, Rio berhasil menemukan bukti baru, dan dia menggunakannya untuk menekan Arfan agar menyerahkan posisinya di dewan direksi!”
Skandal keuangan. Suaminya. Nama baik keluarga. Dan Arfan melindunginya. Kepala Ayana terasa seperti dihantam ribuan jarum. Jadi, Rio bukan hanya ingin posisi Arfan, tapi juga ingin mempermalukan mendiang suaminya, dan ia... ia tanpa sadar telah membantu Rio. Ruang arsip, dokumen investasi lima tahun lalu... itu semua bagian dari rencana busuk ini.
Sebuah suara langkah tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor. Rio. Ia muncul dengan wajah tegang, berpura-pura cemas. Matanya menangkap Ayana dan Vina, lalu tatapannya beralih ke Nyonya Besar.
“Bagaimana keadaan Paman Arfan, Tante?” Rio bertanya, suaranya dibuat selembut mungkin.
Nyonya Besar menggelengkan kepala, air mata kembali menetes. “Dia masih di ruang ICU, Rio. Dokter belum bisa memastikan apa-apa.”
Rio menghela napas panjang, lalu matanya melirik Ayana sekilas, senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. Senyum kemenangan yang dingin. Ayana melihatnya. Ia tahu. Ia adalah pion dalam permainan ini, dan sekarang pion itu diambang kehancuran.
Tiba-tiba, pintu ICU terbuka. Seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa, wajahnya panik. “Dokter! Pasien...”
Semua mata tertuju pada pintu. Jantung Ayana berdetak semakin kencang, firasat terburuknya semakin nyata. Ia melihat Rio menahan napas, ekspresinya berubah menjadi lebih gelap. Ada apa lagi? Apakah ini akhir dari segalanya? Atau hanya awal dari neraka yang lebih dalam?
“Pasien mengalami... komplikasi serius!” kata perawat itu, membuat seluruh ruangan membeku. “Kami butuh tindakan segera!”
Benar2 membingungkan & bikin gw jd malas utk membaca novel ini lg
Jgn membingungkan pembaca yg berminat utk membaca novel ini