Leora Alinje, istri sah dari seorang CEO tampan dan konglomerat terkenal. Pernikahan yang lahir bukan dari cinta, melainkan dari perjanjian orang tua. Di awal, Leora dianggap tidak penting dan tidak diinginkan. Namun dengan ketenangannya, kecerdasannya, dan martabat yang ia jaga, Leora perlahan membuktikan bahwa ia memang pantas berdiri di samping pria itu, bukan karena perjanjian keluarga, tetapi karena dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam semakin liar seiring musik DJ yang diputar tanpa jeda. Dentuman bass terasa menekan dada, membuat siapa pun larut dalam irama. Para wanita di dalam klub mengenakan pakaian ketat dan pendek gaun mini, atasan terbuka, kain berkilau yang menempel di kulit. Semua tampak biasa di tempat itu, seolah batasan memang sengaja ditinggalkan di luar pintu masuk.
Udara dipenuhi bau alkohol yang pekat. Campuran minuman keras, soda, dan keringat bercampur dengan aroma parfum mahal. Setiap sudut terasa hangat, berat, dan memabukkan bahkan sebelum gelas pertama benar-benar habis.
Leora berdiri di tengah keramaian dengan gaun merah ketat sexy khas pesta malam. Warnanya menyala di bawah cahaya neon, mengikuti gerak tubuhnya yang tenang tapi percaya diri. Ia tidak berusaha menonjol, tapi tetap terlihat. Di tempat seperti itu, kehadirannya menyatu dengan suasana bebas, tanpa rasa canggung.
Leonard berdiri beberapa langkah darinya.
Penampilannya santai ala pantai, kemeja ringan dan celana kasual. Tidak ada kesan ingin menyesuaikan diri, juga tidak terlihat terganggu. Wajahnya datar, sikapnya tenang, seolah klub malam itu hanya ruang singgah sementara. Ia tidak memperhatikan siapa yang menatap Leora, tidak pula menunjukkan reaksi pada gerak-geriknya.
Baginya, apa pun yang dilakukan Leora malam itu bukan urusannya.
Leonard akhirnya duduk di kursi tinggi dekat bar, tubuhnya sedikit bersandar ke belakang. Gelas di tangannya sudah berganti beberapa kali alkohol dingin dengan rasa tajam yang perlahan membuat kepalanya ringan. Suasana malam mulai terasa lebih longgar baginya. Senyum tipis yang jarang muncul itu kini sesekali terlihat, meski matanya tetap sayu.
Di hadapannya, lantai dansa penuh.
Para penari wanita bergerak mengikuti DJ, lampu strobo memotong siluet tubuh-tubuh yang bergoyang. Leonard duduk menghadap ke arah itu, menikmati keramaian bersama para turis lain di sekitarnya tertawa singkat, angkat gelas, sesekali mengangguk mengikuti irama. Malam terasa bebas, tanpa tanggung jawab, tanpa aturan.
Sementara itu, Leora larut sepenuhnya di tengah lantai dansa.
Ia berjoget bersama para turis asing pria-pria bertubuh kekar, kulit kecokelatan, tawa lepas, gerakan penuh energi. Musik DJ menghantam keras, dan Leora mengikutinya tanpa ragu. Gaun merah ketat itu bergerak mengikuti tubuhnya, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya memancarkan kesenangan yang jujur.
Entah sejak kapan, di tangannya sudah ada gelas anggur.
Leora sendiri tak terlalu ingat kapan ia mengambilnya. Yang ia tahu, minuman itu dingin, rasanya ringan, dan membuat kepalanya hangat. Di sekelilingnya, banyak pasang mata melirik. Beberapa pria sengaja mendekat, bahu bersenggolan, gerakan tubuh terlalu dekat tapi Leora tidak menolak. Ia tetap menari, seolah semua itu hanyalah bagian alami dari malam DJ di Prancis.
Liburan, pikirnya.
Momen seperti ini tidak datang setiap hari.
Seorang pria mendekat dan menyodorkan gelas lain padanya. Leora sempat ragu sepersekian detik, lalu tersenyum kecil.
"Ah… aku sudah dua puluh tahunan ke atas. Harusnya tidak apa-apa. Lagipula tidak setiap hari minum alkohol."
Ia menerima gelas itu, meneguknya, lalu kembali bergoyang bersama pria itu. Musik semakin keras, kepalanya semakin ringan, langkahnya mulai sedikit sempoyongan tapi senyumnya tidak hilang.
Dari kejauhan, Leonard menatap.
Pandangan matanya tajam meski kepalanya hampir mabuk. Gelas di tangannya terhenti di udara saat melihat Leora terlalu dekat dengan pria lain. Ia tidak bergerak, hanya menatap lama, dingin, dan penuh tekanan yang tak diucapkan.
Lalu seorang turis lain mendekat ke Leora.
Tubuhnya lebih besar, dada terbuka tanpa baju, hanya mengenakan celana santai pantai. Ia menyodorkan gelas alkohol lagi pada Leora yang sudah agak oleng. Tangan Leora hampir menyentuh gelas itu
Namun lebih cepat, tangan Leonard menyambar gelas tersebut.
Leonard sudah berdiri di depan Leora, tubuhnya tegak, wajahnya dingin, matanya menatap lurus pria itu.
“Dia orangku,” ucapnya datar tapi tegas.
“Jangan macam-macam.”
Turis itu tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung.
“Relax, bro,” katanya santai, malah mengambil gelas lain dan menyodorkannya ke Leonard. “Minum saja.”
Leonard tidak membalas senyum. Ia hanya menatap sebentar, lalu turis itu mengangkat bahu, meneguk minumannya sendiri, dan pergi kembali ke keramaian seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Oh kau ternyata" Ucap leora sambil sempoyongan
Leonard belum sempat mengatakan apa pun ketika tubuh Leora tiba-tiba oleng. Kakinya tak lagi mampu menopang dirinya, dan ia jatuh menabrak dada Leonard. Tangan Leora refleks meraih bagian depan kemeja Leonard asal, hanya untuk bertahan agar tidak jatuh sepenuhnya.
Leonard menahan tubuhnya dengan satu tangan, wajahnya mengeras.
“Berapa gelas sampai kau seperti ini?” tanyanya datar, nyaris tenggelam oleh dentuman musik.
Leora mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sayu, fokusnya tak benar-benar utuh. Ia tampak berpikir keras, lalu terkekeh kecil.
“Empat gelas…” gumamnya.
Ia berhenti, mengerutkan kening.
“Eh—bukan. Lima.”
Leora mengangkat satu jari lagi, tertawa kecil sendiri.
“Atau… mungkin tujuh? Aku lupa.”
Nada suaranya ringan, hampir menggoda, seolah jumlah itu hal sepele.
Leonard mendengus tipis.
“Kau masih terlalu muda untuk minum-minum seperti ini.”
Leora tersenyum samar, kepalanya miring sedikit. “Kamu serius banget… padahal ini liburan,” katanya ngelantur, suaranya lembut dan sembrono.
Leonard menatapnya sepersekian detik, lalu menarik napas pendek.
“Baik. Kita pulang ke hotel. Sekarang.”
Tanpa memberi kesempatan Leora membantah, Leonard mengangkat tubuhnya. Leora sempat terkesiap kecil, lalu lengannya otomatis melingkar lemah di leher Leonard. Ia tidak lagi berusaha berdiri sendiri.
Leonard melangkah keluar dari keramaian klub, meninggalkan dentuman DJ, lampu neon, dan bau alkohol yang pekat. Angin malam pantai menyambut mereka saat keluar, sedikit menenangkan.
Di sepanjang jalan menuju area parkir, Leora kembali berbicara tanpa arah.
“Tadi…” katanya pelan, menatap entah ke mana. “Para pria turis itu… jogetnya mantap. Mereka gagah.”
Leonard tetap berjalan, langkahnya mantap.
“Lebih mantap barangku.”
Leora mengerjapkan mata, mencoba mencerna. “Ha?”
Leonard hanya menggeleng pelan, tidak menjelaskan apa pun.
Beberapa langkah kemudian, mobil mereka sudah terlihat. Leonard membuka pintu, masih menggendong Leora yang kini sepenuhnya bersandar padanya.
......................
Mobil melaju meninggalkan area klub, suara musik perlahan menghilang digantikan dengung mesin dan desir angin pantai. Leora duduk di kursi penumpang, tubuhnya menyamping karena tak lagi kuat menahan keseimbangan. Kepalanya beberapa kali hampir terjatuh ke depan.
Leonard menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya menahan tubuh Leora di bahu agar ia tidak terguling, gerakannya kaku lebih seperti refleks daripada perhatian.
“Kau minum terlalu banyak,” ucap Leonard dingin, matanya tetap lurus ke jalan.
“Bukankah tadi aku sudah bilang jangan minum berlebihan.”
Leora menggerakkan kepalanya pelan, alisnya berkerut seolah kalimat itu butuh usaha ekstra untuk dipahami.
“Aku… nggak berlebihan,” bantahnya lirih. “Aku masih sadar kok.”
Leonard mendengus. “Sadar?”
Ia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. “Kau bahkan tak bisa duduk tegak.”
Leora terkekeh kecil, terdengar tidak terima. “Kamu lebay… semua orang juga minum di sana.”
“Itu bukan alasannya,” potong Leonard cepat. Nadanya mulai tajam. “Kau tidak tahu batasmu.”
Leora menghela napas panjang, kepalanya bersandar lebih berat ke tangan Leonard.
“Kamu marah?” tanyanya polos, nyaris menantang.
Leonard diam beberapa detik.
"kau membuatku repot"
Leora mengangkat bahu lemah. “Ya sudah… maaf,” katanya asal, jelas tidak sepenuhnya serius.
Leonard tidak menanggapi. Ia mengencangkan pegangannya sedikit agar tubuh Leora tetap stabil, lalu kembali menyetir dengan ekspresi datar. Tidak ada kata-kata lembut, tidak ada perhatian berlebihan hanya keheningan yang tegang mengisi sisa perjalanan menuju hotel.
Mobil melaju menembus kegelapan malam. Jalanan pesisir sudah sepi, hanya lampu jalan yang sesekali lewat, menunjukkan waktu yang sudah lewat tengah malam. Jam di dashboard menunjukkan pukul 00.00 tepat.
Leora tiba-tiba menggerakkan tubuhnya gelisah.
Lalu
buk!
Tangannya memukul bagian depan mobil, tepat di atas laci dashboard.
“Berhenti…” katanya terengah. “Aku rasa… aku mau muntah.”
Leonard refleks mengerang pelan.
“Ya ampun…”
Ia langsung membanting setir ke sisi jalan, menginjak rem perlahan hingga mobil menepi dengan aman. Begitu mesin dimatikan, Leonard turun lebih dulu dan berjalan cepat ke sisi penumpang. Pintu dibuka, dan Leora hampir jatuh kalau saja Leonard tidak sigap menahannya.
Leora turun dengan langkah limbung, lalu jongkok di pinggir jalan.
“Hurghh—”
“Huekk—”
Leonard berdiri kaku sesaat, jelas bingung harus bagaimana. Wajahnya berkerut, napasnya tertahan. Akhirnya ia berjongkok di belakang Leora dan refleks memijat bagian belakang lehernya, gerakannya kasar tapi stabil lebih karena panik daripada lembut.
“Astaga… ini yang terjadi kalau kau minum sembarangan,” omelnya kesal.
“Aku sudah bilang jangan berlebihan. Kau pikir ini lucu?”
Leora tidak menjawab.
“Huekk—”
Ia masih muntah, tubuhnya gemetar kecil.
Leonard mendecakkan lidah, tangannya tetap di leher Leora meski wajahnya jelas tidak sabar.
“Bandel sekali,” katanya ketus. “Besok kalau kepalamu sakit, jangan mengeluh.”
Leora akhirnya berhenti. Tubuhnya masih membungkuk, napasnya berat, kepalanya terasa ringan seperti kosong. Leonard tetap berjongkok di belakangnya beberapa detik, memastikan tidak ada lagi reaksi tiba-tiba.
“Sudah?” tanyanya singkat.
Leora hanya mengangguk lemah.
Leonard menarik napas panjang, lalu berdiri lebih dulu. Ia membuka pintu mobil dan mengambil botol air putih dari dalam, lalu kembali ke sisi Leora.
“Minum,” katanya sambil menyodorkan botol.
Leora menerimanya tanpa banyak respons, meneguk sedikit asal-asalan. Tubuhnya masih oleng.
Leonard menatapnya sekilas, lalu berkata dengan nada perintah,
“Lepas jaketmu.”
Leora mengangkat wajah, bingung. “Kenapa…”
“Cepat,” potong Leonard dingin. “Jaketmu pengap.”
Dengan gerakan lambat, Leora melepas jaketnya. Gaun merah ketat itu kembali terlihat jelas di bawah lampu jalan yang redup. Leonard tidak berkomentar apa pun, langsung berbalik ke mobil dan membuka bagasi kecil.
Ia mengambil sesuatu sebuah tube kecil krim terapi.
Leonard kembali dan menyodorkannya ke Leora.
“Oleskan di lehermu. Ini hangat, bisa bantu.”
Leora hanya menatapnya sebentar, lalu menurunkan tangan, jelas tidak benar-benar mengurus apa pun.
Leonard mendecak pelan.
“Menyusahkan,” gumamnya.
Tanpa menunggu lagi, ia mengambil krim itu, memencet sedikit, lalu mendekat. Tangannya terangkat ke arah leher Leora, mengoleskan krim dengan gerakan cepat dan singkat tepat di bagian belakang leher dan pundak.
Jarak mereka terlalu dekat.
Leonard menyadarinya seketika. Detak jantungnya sempat melonjak tanpa alasan jelas. Ia bisa merasakan napas Leora, melihat gaun merah itu terlalu dekat dengan pandangannya. Tangannya berhenti sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya.
Lalu ia menarik diri.
“Selesai,” katanya cepat, seolah menutup sesuatu yang tak ingin ia pikirkan.
Leonard kembali menyodorkan botol air.
“Minum lagi. Pelan.”
Leora menuruti kali ini, lalu bersandar lemah.
"Aku hanya mabuk bukan masuk angin.." Ucap leora lemah.
Leonard tidak berkata apa-apa lagi. Ia membantu Leora berdiri, membukakan pintu, memastikan ia duduk dengan aman di kursi penumpang. Setelah itu, ia menutup pintu, berjalan cepat ke sisi pengemudi, dan masuk ke mobil.
Mesin dinyalakan.
Tanpa menunggu lebih lama, Leonard langsung tancap gas, membawa mobil melaju kembali ke jalan gelap menuju hotel.