NovelToon NovelToon
Jangan Salahkan Aku, Ibu

Jangan Salahkan Aku, Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Bullying dan Balas Dendam / Hamil di luar nikah / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: Widhi Labonee

kisah nyata seorang anak baik hati yang dipaksa menjalani hidup diluar keinginannya, hingga merubah nya menjadi anak yang introvert dengan beribu luka hati bahkan dendam yang hanya bisa dia simpan dan rasakan sendirian...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widhi Labonee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesal

Keesokan harinya Tiwi tetap mau pulang ke rumahnya, dia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Bayu akhirnya mengalah dan mengantar Tiwi pulang. Gadis itu sekarang berubah menjadi semakin pendiam. Ada rasa sesal dan benci yang sangat mendalam pada Bayu yang Tiwi rasakan. Tapi dia juga menyadari jika hal itu terjadi karena kecerobohan nya membiarkan cowok itu dn tidak mampu melawannya. Selama perjalanan Tiwi diam dan meneteskan airmata. Bayu yang menyadari hal itu segera meraih tubuh kekasihnya kedalam pelukannya.

“Aku akan bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi Sayang, percayalah, cuma kamu di hidupku selamanya. Kamu akan menjadi satu-satunya istri ku sekarang nanti sampai akhir… jangan nangis lagi ya Sayang… “ bujuk Bayu pada kekasih hatinya ini.

Tiwi semakin terisak-isak dalam dekapan lelaki yang telah merampas masa depannya itu. Hatinya hancur , dia takut bagaimana jika dia hamil nanti? Apakah dia akan gagal menyelesaikan sekolah nya? Ingin dia berteriak, untuk sekedar melepaskan beban dalam hatinya. Tapi dia tidak mau dikatakan gila oleh orang-orang didalam bus ini. 

Ketika sudah sampai didepan rumah, Tiwi pun turun, Dengan langkah gontai dia masuk ke dalam rumah setelah sempat melambaikan tangannya ke arah kekasihnya di jendela bus tadi.

“Kenapa Wi?” Tanya sang Ibu yang melihat kedatangan anak gadisnya yang terlihat kusut itu 

Dipegangnya dahi sang anak, betapa kagetnya jika masih panas. 

“Masuk sana, segera ganti baju, lalu rebahan di kamar Mbah mu, biar aku ambilkan kompres hangat dulu,” ujar Riyanti.

Tiwi pun menuruti apa yang dikatakan oleh ibunya. Dia segera masuk kedalam rumah, mn iku kamar sang nenek dan ganti baju langsung tiduran. Badannya masih terasa sangat lemas. Karena pagi setelah subuh tadi saat semua sedang sibuk di rumah belakang, Bayu malah kembali meminta haknya. Kali ini Tiwi hanya diam pasrah, dia sudah tidak punya daya untuk melawan. Namun Bayu seolah tidak ada puasnya. 

Bu Mirah masuk ke kamarnya, melihat sang cucu yang terbaring lemah itu.

“Kamu kenapa Ndhuk? Habis jatuh?” tanya sang nenek penuh tanda tanya.

Tiwi tidak mampu menjawab, dia meminta dipeluk oleh sang nenek lalu dia menangis terisak-isak di pelukan Bu Mirah.

“Ssstt… sabar, nanti ya kamu cerita, sekarang kamu tidur dulu, atau mau maem?” Tawar sang nenek.

Tiwi menggelengkan kepalanya, dia tidak lagi memiliki nafsu makan. Dia hanya ingin menangis dan tidur. Akhirnya oleh Bu Mirah dia diselimuti, lalu dibiarkan tidur, ada sisa isak kecil yang terdengar lirih dari mulut Gadis yang sudah tidak gadis lagi itu.

—-------

Malam pun tiba, setelah seharian Tiwi tidur, disuapi bubur dan minum Paracetamol, badan Tiwi berangsur membaik. Kini sang Nenek sudah ikutan berbaring di sebelahnya.

“Kenapa kamu melakukannya Ndhuk? Kenapa kamu berani melanggar larangan Mbah?” sang nenek berkata lirih. Suaranya mengandung penyesalan yang teramat dalam.

Padahal Tiwi belum bercerita apapun, tapi wanita tua itu sudah mengetahui segalanya. 

“Bagaimana jika kamu nanti hamil? Apakah kamu nggak takut dihajar habis-habisan oleh Bapak Ibumu yang kejam itu Nak?”ujar Mbah Mirah sendu.

Tiwi kembali menangis terisak-isak, diapun memiliki ketakutan yang sama.

“Aku dipaksa Mbah, aku ditipu, aku tidak mengira jika dia akan melakukan itu padaku… hiks..hiks…”tangis Tiwi.

Wanita tua itu terdiam, diusapnya rambut sang cucu perlahan. Raut kecewa jelas tergambar diwajah yang sudah berkeriput itu.

“Setelah ini, jangan mau lagi kalau diajak. Bukankah sebentar lagi kamu ujian akhir?” 

Dada Tiwi bagai dihantam palu godam, dia sangat ingin lulus sekolah dan melanjutkan kuliah agar menjadi orang sukses. Tapi apakah masih bisa? Sedangkan dia sekarang adalah perempuan yang tidak memiliki masa depan.

“Sudah, jangan menangis terus. Percuma. Yang ada mata mu akan semakin bengkak, dan ibumu akan curiga. Toh semua sudah terlambat, yang hilang tidak pernah bisa kembali utuh lagi. Sekarang kamu harus menjauh darinya, fokus ke pelajaranmu dulu, agar kamu bisa lulus dengan nilai yang bagus,” nasehat sang Nenek begitu menancap di kepalanya.

“Ayo tidur, bukankah besok kamu harus berangkat pagi-pagi sekali?” Tanya Bu Mirah lagi 

“Nggeh Mbah … “ jawab Tiwi kalem.

Dan kedua wanita beda generasi itupun melamun dengan pikiran masing-masing sebelum akhirnya terlelap dalam kelelahan berpikir.

—--------

Kelas telah usai, waktunya pulang sekarang, pelajaran tambahan juga sudah mereka lalui barusan.

“Teman-teman, ada formulir pendaftaran ke perguruan tinggi pilihan, kalian boleh ikutan mencoba. Ini aku bagi satu persatu, langsung diisi dan segera dikembalikan padaku yaaaa ..” ujar Farida sang ketua Kelas dengan suara lantangnya itu.

Masing-masing anak mendapat satu lembar formulir yang harus dilengkapi dengan data nilai dari semester awal hingga semester lima, lalu boleh memilih Universitas dan jurusan serta fakultasnya.

Tiwi mempelajari dengan seksama, setelah mengisi data diri dan nilai rapor, dia pun menulis jika ingin mengambil di UI, sastra Jepang.

Bayu yang melihat hal tersebut, menjadi kecewa, mengapa kekasih nya tidak ikut dirinya memilih UGM, jurusan yang dipilih nya adalah Sastra Jawa.

Ketika semua sudah mengumpulkan ke Farida, tanpa sepengetahuan Tiwi, Bayu merubah pilihan Universitas di formulir milik Tiwi menjadi UGM sastra Perancis.

Hanya dirinya yang mengetahui, Tiwi sang pemilik formulir pun tidak menyadarinya jika isian di dalamnya sudah berubah.

Sudah beberapa hari ini, Tiwi membatasi pembicaraan dengan Bayu, setiap waktu dia pergunakan untuk belajar dan belajar. Bayu yang merasakan perubahan sikap kekasih hatinya itupun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

“Sayang, aku tau aku sangat salah padamu, tapi ku mohon jangan diamkan aku begini. Kecuekanmu itu sungguh sangat menyiksaku Sayang,” ujar Bayu lembut.

Tiwi hanya diam menanggapi nya. Hatinya masih sakit dengan semua perlakuan Bayu padanya. Dia hanya bisa berharap semoga dia tidak hamil. Jangan sampai apa yang sudah di perjuangkan selama ini akan hancur lebur tiada guna.

“Bicaralah Yang.. jangan diamkan aku seperti ini..” Bayu masih tidak menyerah merayu sang kekasih hatinya ini.

“Aku hanya ingin konsentrasi belajar untuk menghadapi Ujian Akhir Bay. Sehancur apapun hidupku, tapi aku masih ingin lulus dengan nilai yang bagus,” jawab Tiwi akhirnya.

Bayu mengangguk kecil, dia sangat menghormati keputusan sang kekasih, bahkan dia pun akhirnya menjadi terpacu untuk ikut belajar dan berusaha mendapatkan nilai terbaik pada saat kelulusan nanti. Mereka berdua pun memutuskan untuk belajar bersama dengan giat dan mengesampingkan hasrat berpacaran, merubahnya menjadi bersaing secara sehat untuk meraih predikat terbaik di kelas dan jurusan nya ini.

“Wi, bagaimana jika kita bertaruh, siapa yang memperoleh nilai lebih baik dari yang lain, maka dia berhak mengajukan satu permohonan,” tantang Bayu pada Tiwi.

Gadis itu menoleh, sepertinya seru juga ya, 

“Hm, baiklah… boleh minta apapun ya?” tanya Tiwi serius 

Bayu mengangguk mantab.

“Baiklah .. mari kita bertaruh..”

Bayu tersenyum lebar.

“Deal?” Tanyanya pada Tiwi.

“Deal …” jawab Tiwi pasti.

********

Siapakah yang bakalan jadi juara? Yang nilainya lebih baik dari lainnya?

1
Widhi Labonee
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!