NovelToon NovelToon
Cinta Di Raga Baru

Cinta Di Raga Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nayla hidup dalam pernikahan penuh luka, suami tempramental, mertua galak, dan rumah yang tak pernah memberinya kehangatan. Hingga suatu malam, sebuah kecelakaan merenggut tubuhnya… namun tidak jiwanya.
Ketika Nayla membuka mata, ia terbangun di tubuh wanita lain, Arlena Wijaya, istri seorang pengusaha muda kaya raya. Rumah megah, kamar mewah, perhatian yang tulus… dan seorang suami bernama Davin Wijaya, pria hangat yang memperlakukannya seolah ia adalah dunia.

Davin mengira istrinya mengalami gegar otak setelah jatuh dari tangga, hingga tidak sadar bahwa “Arlena” kini adalah jiwa lain yang ketakutan.

Namun kejutan terbesar datang ketika Nayla mengetahui bahwa Arlena sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun, Zavier anak manis yang langsung memanggilnya Mama dan mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Nayla bingung, haruskah tetap menjadi Arlena yang hidup penuh cinta, atau mencari jalan untuk kembali menjadi Nayla..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Nayla sekarang ingat, kalau dia pingsan setelah sidang dan kebenaran terungkap, Nayla juga ingat kalau Roy sudah berada di tangan polisi.

"Mas, apa aku sudah bebas?" tanya Nayla saat Davin sedang membuka obat untuk Nayla.

"Tentu, kamu sudah membuka topeng Roy, dan terima kasih kerja samanya karena kamu tidak berubah-ubah saat memberi keterangan didepan polisi." jawab Davin.

Dari yang Davin ceritakan, Nayla paham, kalau sekarang, Roy akhirnya mendekam di balik jeruji besi. Semua kebohongan dan rekayasanya runtuh satu per satu, menyeret Roy pada hukuman yang pantas. Nama Davin perlahan bersih dari tuduhan, sorotan tajam publik mulai mereda, dan Arlena, setidaknya di mata orang-orang, kembali menjadi Nyonya Wijaya yang terhormat.

Nayla merasa lega, tapi entah kenapa, Nayla merasa semuanya justru baru dimulai.

Ada hal-hal aneh yang terus menghantui Nayla sejak Nayla sadar dan terhitung sudah dua hari ini.

Setiap kali Nayla berhadapan dengan Davin, kepalanya seperti dipaksa memutar ulang potongan masa lalu Arlena. Bayangan Arlena yang dingin, ucapan-ucapan tajam yang melukai, tatapan kosong saat Davin mencoba bertahan sendirian dalam pernikahan yang nyaris runtuh. Nayla bisa melihatnya begitu jelas, seolah ia berdiri di sudut ruangan, menyaksikan Arlena versi lama memperlakukan Davin tanpa perasaan.

Dan itu menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi saat Nayla bersama Xavier.

Anak kecil itu menatapnya dengan mata yang terlalu dewasa untuk usianya. Nayla seolah melihat bayangan Arlena yang dulu duduk di sofa tanpa melirik, sibuk dengan ponsel, membiarkan Xavier memanggil “Mama” berkali-kali tanpa jawaban. Bayangan itu muncul begitu nyata, sampai Nayla harus menutup mata dan menarik napas dalam-dalam agar tidak goyah.

“Ma…?” suara Xavier terdengar ragu.

Nayla langsung memeluk Xavier erat, seolah takut anak itu akan menghilang.

“Maaf… maafin Mama ya,” bisik Nayla berulang kali, meski ia tahu Xavier belum tentu mengerti sepenuhnya.

Sejak pulang dari rumah sakit. Permintaan maaf menjadi rutinitas bagi Nayla.

Setiap hari Nayla meminta maaf kepada Davin, kepada Xavier. Davin memaklumi sikap istrinya, sedangkan Nayla, meminta maaf untuk hal-hal yang tidak ia lakukan, tetapi ia rasakan. Untuk luka yang bukan ia ciptakan, tetapi kini ia tanggung.

Davin semakin kebingungan. Ia melihat perubahan besar pada istrinya. Arlena menjadi jauh lebih lembut, terlalu sering merasa bersalah, terlalu sering menangis tanpa sebab yang jelas. Kadang Davin menangkap tatapan Arlena yang kosong, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak bisa ia lihat. Sangat berbeda dengan Arlena yang waktu itu jatuh dari tangga, pada saat sebelum masuk penjara, Arlena masih ceria, tapi sekarang seperti memendam kesedihan.

“Len… kamu baik-baik saja?” tanya Davin.

Nayla hanya tersenyum tipis. “Aku cuma… capek, Mas.”

Namun Davin tahu itu bukan sekadar lelah. tapi lebih sedang memendam sesuatu.

Davin akhirnya memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan ibunya, setelah berdiskusi panjang dengan ibunya, dan menimbang semua kejadian yang Arlena alami, mulai dari kasus hukum, tekanan publik, perubahan sikap yang ekstrem, Davin akhirnya mengambil keputusan.

“Kita ke psikiater,” kata Davin tegas namun lembut. “Bukan karena kamu gila. Tapi karena kamu butuh bantuan.”

Nayla menunduk. Ada rasa takut yang menggelayut di dadanya.

"Apa disana aku bisa membongkar semuanya? Kalau aku ini bukan Arlena?" tanya Nayla didalam hati.

"Bagaimana jika dokter juga tidak percaya?" banyak sekali pertanyaan di kepala Nayla.

Namun di balik ketakutannya, Nayla juga merasakan secercah harapan kecil.

"Mungkin, di sanalah jawabannya, aku bisa cerita tanpa di hujat." kata Nayla didalam hati.

Nayla berjanji ke dirinya sendiri untuk tidak takut menceritakan tentang bayang-bayang yang terus menghantuinya. Tentang kenapa ia masih berada di tubuh Arlena. Dan tentang apakah suatu hari nanti, Arlena akan benar-benar kembali. Nayla terus menguatkan dirinya. Nayla menanamkan dalam pikirannya, psikiater bukanlah hakim yang akan menghakimi, melainkan ruang paling aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan. Setelah berkali-kali meyakinkan hati yang masih gemetar, akhirnya Nayla mengangguk saat Davin mengajaknya pergi.

Di ruang praktik yang tenang, dengan aroma lavender yang menenangkan, Nayla duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya berwajah lembut, Dokter Siska nama yang tertera di name tag.

“Silakan cerita, Bu Arlena,” ucap dokter itu dengan suara hangat, tanpa tekanan.

Dan untuk pertama kalinya… Nayla bercerita semuanya. Tentang dirinya yang bernama Nayla. Tentang kematian Nayla, dendam yang Nayla bawa, dan tubuh yang bukan milik Nayla.

Nayla juga menceritakan tentang Arlena, Roy, Davin, Xavier, dan rasa bersalah yang menumpuk tanpa henti. Juga tentang bayang-bayang Arlena saat ini.

Nayla berbicara panjang lebar, kadang terputus oleh tangis, kadang oleh napas yang sesak. Davin yang duduk di sampingnya hanya menggenggam tangan istrinya, memilih diam namun hadir sepenuhnya. Meskipun Davin merasa cerita istrinya tidak masuk akal, jelas-jelas yang ada di sampingnya adalah Arlena tapi masih mengaku kalau dia bukan Arlena, setidaknya itu yang ada di otak Davin.

Dokter Siska mendengarkan tanpa memotong. Tidak ada tatapan kaget. Tidak ada senyum sinis. Hanya anggukan pelan dan mata yang penuh empati.

Setelah Nayla selesai, ruangan itu hening sejenak.

“Bu Arlena,” kata Dokter Siska akhirnya, “apapun yang Anda rasakan itu nyata bagi Anda. Entah Anda menyebut diri Anda Arlena atau Nayla, yang jelas jiwa ini sedang kelelahan.”

Nayla menatap dokter itu dengan mata basah.

“Kadang,” lanjut Dokter Siska lembut, “seseorang membangun identitas baru untuk bertahan hidup dari trauma yang terlalu berat. Dan itu bukan kesalahan.”

Nayla tercekat. Dan merasa kalau dokter Siska percaya dengannya.

“Saya tidak akan memaksa Anda memilih siapa diri Anda,” kata Dokter Siska lagi. “Tapi saya ingin memberi satu saran. Tetaplah hidup sebagai Arlena. Tubuh ini, kehidupan ini, dan orang-orang yang mencintai anda adalah kenyataan Anda saat ini.”

Nayla menghela napas panjang.

“Jika di dalam hati Anda merasa sebagai Nayla,” Dokter Siska tersenyum tipis, “maka dengarkan kata hati itu. Lakukan hal-hal baik yang selama ini Anda lakukan. Itu bukan kesalahan, itu justru proses penyembuhan.”

Dokter Siska mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Bayang-bayang masa lalu Arlena yang terus muncul bukan untuk menghukum Anda. Itu pengingat. Dan satu-satunya cara menghentikannya adalah dengan memaafkan diri sendiri.”

Air mata Nayla jatuh lagi. Dan Nayla merasa saran dari dokter benar, saat ini dia adalah Arlena.

“Semuanya sudah berlalu,” ucap dokter itu tegas namun menenangkan. “Kesalahan, kebodohan, luka, baik milik Arlena maupun Nayla. Sekarang saatnya berdamai. Dengan masa lalu, dan dengan diri sendiri.”

Davin menggenggam tangan Arlena lebih erat.

Di dada Nayla, ada sesuatu yang perlahan mencair. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus pergi, tidak harus menghilang, tidak harus memilih mati atau hidup.

Nayla merasa, ia tidak harus menjadi siapa-siapa. Cukup menjadi Arlena yang baru, dengan hati Nayla di dalamnya.

Sepanjang perjalanan pulang, Davin memeluk Arlena dari samping. Bukan pelukan yang menuntut, bukan pula pelukan yang ingin tahu segalanya. Hanya pelukan yang sunyi, hangat, dan penuh penerimaan.

Davin tidak bertanya. Tidak menyinggung apa pun yang Arlena ceritakan di ruang praktik tadi.

Davin memilih diam, karena Davin tahu, kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan jawaban, melainkan tempat pulang.

Arlena bersandar di bahu Davin. Nafasnya masih belum sepenuhnya tenang, tetapi detak jantung Davin yang stabil membuat Nayla merasa aman. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi, Nayla tidak merasa sendirian di tubuh ini.

Davin mengusap punggung istrinya pelan, seolah berkata tanpa kata, Aku di sini. Aku tidak pergi.

Di dalam pelukan Davin, Nayla yang selama ini bersembunyi di balik nama Arlena, merasakan sesuatu yang asing namun menenangkan. Tidak ada penghakiman, tidak ada kecurigaan, tidak ada tuntutan untuk segera sembuh.

Dan Davin, dengan diamnya, sedang berusaha menjadi rumah bagi Arlena, tempat Arlena boleh rapuh, boleh bingung, boleh hancur, lalu perlahan bangkit kembali.

Di balik kaca mobil yang memantulkan cahaya senja, Arlena memejamkan mata. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya percaya, bahwa kali ini, ia benar-benar tidak harus berlari lagi. Dan Nayla harus yakin kalau ini adalah jalan hidupnya.

1
Yuni Anto
/Whimper/Thor mkasih update nya/Doubt/Thor Napa Nayla pingsan 🤩 apa lagi hamil muda y🥰 semangat terus un😍/Determined//Determined//Determined//Angry//Angry//Determined//Determined//Determined/💪💪💪💪 terus y Thor n sehatt selalu 🥰🥰🥰😍
Erunisa: di bikin hamil sekarang atau nanti aja yah kira-kira?/Shy/
total 1 replies
Yuni Anto
🥰KKA author 🥰 tersayang mkasih update nya 🥳🥳🥳🥰bulan ini di kasih update terbaru 2x🤩🤩🥳🥳🥰🥰🥰💪 semangat terus ya Thor 💪😍 sehat selalu Bwt kka/Determined//Angry//Determined//Angry/😍
Erunisa: terima kasih kaka, semoga kaka juga sehat
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mantab Nayla
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Putra Satria
🥰wah my 🩷 Thor 🩷 cinta banyak 2 bwt kka🥰 mkasih update terbaru hari ini 💪💪💪 terus y
Yuni Anto
🥰 makasih 🥰 update terbaru nya 💪💪💪 terus y Thor 🥳🥳🥳🥳🥰
Yuni Anto
next Thor 🥰
kawaiko
Gemes deh!
Rizitos Bonitos
Plot yang rumit tapi berhasil diungkap dengan cerdas.
Re Creators
Wah seru banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!