NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Degup di Dalam Lift

Kadang yang kita hindari justru jadi orang pertama yang membaca retak di hati kita.

...Happy Reading! ...

...*****...

Hidup tetap berjalan, meski hati kita diam-diam mogok. Dan sayangnya, tidak ada tombol jeda meskipun mood sedang amburadul.

Hari ini aku termasuk salah satu manusia mogok itu. Walaupun rasanya ingin menghilang dari bumi, aku tetap menyeret kakiku ke kantor dengan wajah yang kupaksa tampak ceria.

Masalah kemarin belum benar-benar pergi. Bukan karena tidak bisa dilupakan, tapi karena terlalu nyeri untuk dibuang begitu saja.

Sama seperti kejadian di taman sore kemarin yang membuatku masih tidak percaya bahwa Saka masih peduli dan mengingat apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan moodku.

Mengingat itu, entah kenapa membuatku sedikit merasa bahagia di antara masalah yang sedang menghadang.

Aku sampai di kantor dengan naik ojol. Motorku masih teronggok tidak berdaya di rumah. Mungkin olinya sudah menjerit minta diselamatkan.

Begitu melangkah masuk ke lobi, napasku langsung tertahan.

Saka.

Berdiri di depan lift. Jas hitam. Wajah dingin. Postur tenang. Seperti patung lilin mahal... yang bernapas. Entah kenapa kehadirannya terasa seperti menyita seluruh oksigen di ruangan.

Kenapa dia ada di sini? Tidak ada jadwal meeting hari ini. Tasha pun tidak bilang apa-apa.

Aku menatapnya sebentar, lalu langsung mencari jalan kabur. Mataku menangkap sosok Yasmine di meja resepsionis. Tanpa pikir panjang, aku meluncur ke arahnya. Padahal mestinya aku ke mesin absen, bukan lari seperti tokoh utama sinetron yang kepergok selingkuh.

Yasmine menatapku dengan alis naik sebelah. "Lo kenapa, Ca. Dikejar mantan?"

Aku masih ngos-ngosan. "Enggak. Cuma pengin ketemu lo."

Dia menyipitkan mata curiga. "Tumben banget. Biasanya lo nyapa lewat chat doang. Jangan-jangan lo lagi kabur dari seseorang?"

"Ih, lebay amat. Masa gue gak boleh kangen sama lo?"

"Boleh. Tapi biasanya lo kangen cuma sama kasur."

Aku mendesah panjang. "Udah ah, gue masuk dulu. Nanti disangka bolos absen."

Setelah melambaikan tangan, aku berjalan cepat ke arah mesin absensi. Menempelkan ID card, lalu menunggu pintu terbuka.

Langkahku menuju lift terasa seperti jalan menuju takdir yang tidak kuinginkan.

Tepat saat lift terbuka, seseorang berdiri di sampingku.

Tebak siapa.

"Selamat pagi, Nona Cayra," ucapnya ringan.

Ya Tuhan. Dia masih di sini. Bukankah semesta seharusnya membantuku menghindari momen ini.

"Selamat pagi, Pak Saka," balasku sopan. Aku harus tetap profesional. Dia klien penting. Dan berbahaya.

"Silakan masuk duluan," ucapnya sambil memberi isyarat kecil.

Aku melangkah masuk ke lift. Tentu saja, dia ikut masuk. Kenapa tidak sekalian Tuhan lempar kami ke escape room?

Lift menutup. Hening. Cahaya putih di dalam lift terasa terlalu terang. Seolah spotlight sengaja diarahkan pada ketidaknyamananku.

Hanya suara AC dan detak jantungku yang menggema seperti drum bass di festival musik.

Aku bisa mencium aroma parfumnya. Bukan wangi menyengat seperti pebisnis arogan, tapi aroma tenang dan bersih. Wangi yang mengganggu dalam cara yang menyenangkan. Dan sedikit bikin hilang logika.

"Nona Cayra?"

Aku menoleh. "Ya, Pak?"

"Kau terlihat berbeda hari ini."

"Berbeda bagaimana?"

Dia menatapku cukup lama, seolah sedang menganalisis isi kepalaku. Tatapannya tidak menghakimi. Justru seperti seseorang yang sedang mencari titik patah.

Kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Tapi kalau ini nyata... kenapa sesak banget?

"Kau terlihat cantik hari ini. Tapi seperti ada bagian dari dirimu yang tertinggal di tempat lain."

Aku terdiam. Detik itu, dunia rasanya ikut berhenti.

Baru kali ini ada yang membaca suasana hatiku sedalam itu hanya dari tatapan.

"Saya cuma kurang tidur," jawabku akhirnya, nyaris berbisik.

"Kau tidak boleh mengabaikan kesehatanmu."

Kalimatnya sederhana. Tapi nadanya terlalu hangat. Bukan seperti seorang CEO yang bicara pada mitra kerja, melainkan seseorang yang peduli.

Atau seseorang yang pura-pura peduli.

Ting.

Lift terbuka.

Saka melangkah lebih dulu. Tapi sebelum keluar sepenuhnya, dia menoleh.

Matanya sempat turun ke arahku sepersekian detik, lalu kembali menatap lurus seperti biasa. Tapi ekspresinya tidak sekaku tadi. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa lunak.

Tatapannya lurus. Suaranya tenang.

"Kalau kesehatanmu terganggu, kau tidak akan maksimal dalam menangani proyek Manterra."

Lalu dia pergi. Begitu saja. Seolah semua kalimat tadi hanyalah bagian dari presentasi.

Aku berdiri mematung. Mataku kosong, tapi pikiranku masih sibuk menafsirkan suaranya tadi.

Beberapa detik kemudian, dengan langkah setengah sadar, aku ikut keluar dari lift. Tapi rasanya, sebagian diriku masih tertinggal di dalam. Tepat di tempat kami berdiri berdampingan.

Di kaca dinding luar, pantulanku tampak sama kusutnya dengan pikiranku.

Aku mencibir pelan. "Ya ampun. Jadi tadi bukan perhatian. Cuma takut proyeknya gagal."

Tapi kenapa aku berharap itu tadi bukan cuma soal pekerjaan?

Aku mendengus kesal. "Dasar orang aring. Arogant but charming."

Tapi kenapa sih, meskipun mulutku mencibir, hatiku malah berdebar seperti orang nunggu pengumuman kelulusan. Dasar Cayra, lemah di adegan lift.

Dan entah kenapa, bayangan Saka tidak mau pergi dari kepalaku.

Tatapannya tadi terlalu jujur. Ucapannya terlalu lembut sampai membuatku ingin membentur dinding lift.

Dan jantungku masih berdetak. Seperti konser EDM. Meriah. Tapi kacau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!