Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.
Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.
Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUDUT TIMUR
Sophia berjalan pelan di lorong rumah yang luas, matanya tak lepas menatap setiap detail—perabot antik, lukisan besar yang menggantung rapi di dinding, karpet tebal yang menutupi lantai marmer, dan lampu kristal yang memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Namun, seiring langkahnya, kalimat Alex terdengar bergema di benaknya, Jika kau ingin berkeliling sekitar rumah ini, tolong jangan ke arah timur.
Rasa penasaran tiba-tiba muncul semakin kuat. Sophia menggigit bibir bawahnya, napasnya sedikit tertahan. Hatinya berkata jangan… tapi pikirannya bersorak untuk melihat apa yang tersembunyi di arah yang dilarang itu.
Dengan hati-hati, ia mulai bergerak ke arah timur, langkahnya perlahan dan nyaris tak bersuara. Setiap kali menengok ke kiri dan kanan, Sophia merasa seperti seorang pencuri yang menyelinap di tengah rumah—waspada terhadap setiap gerakan, setiap suara, bahkan bayangan yang menari di dinding.
Lorong itu semakin sepi saat ia mendekat ke sisi timur rumah. Dinding-dindingnya lebih gelap, tirai tebal menutupi jendela sehingga cahaya hampir tak menembus. Aroma kayu tua dan lilin yang samar menguar di udara, menambah sensasi misterius. Setiap detik langkahnya terasa lebih berat, jantungnya berdebar cepat, tapi rasa ingin tahu menuntunnya terus maju.
Sementara itu, bayangan pintu-pintu berukir dan koridor yang berliku-liku membuat Sophia semakin waspada. Ia menahan napas setiap kali terdengar suara langkahnya sendiri di lantai marmer, seolah rumah itu memantau setiap gerakannya.
Langkah Sophia semakin mantap, meski hati kecilnya berdebar kencang. Lorong panjang itu membawanya ke sebuah tangga besar yang menjulang ke lantai atas. Tangga itu terbuat dari kayu gelap yang mengkilap, dengan pegangan berukir rumit yang tampak kokoh namun anggun.
Sebelum menempatkan kakinya di anak tangga pertama, Sophia menengok ke kiri dan kanan sekali lagi, seolah memastikan tidak ada siapa pun yang mengawasinya. Sunyi menyelimuti rumah megah itu, hanya terdengar suara napasnya sendiri dan detak jantung yang berdengung samar di telinganya.
Dengan hati-hati, ia mulai menaiki undakan tangga satu per satu. Setiap langkah menghasilkan suara lembut yang memantul di dinding tinggi, membuat Sophia semakin menegang. Tangga itu memutar perlahan, dan semakin ia naik, terdengar suara desah yang samar—yang satu menggoda yang satu menikmatinya.
Sophia menahan napas, langkahnya perlahan mereda begitu kakinya menapak puncak tangga. Ia berhenti sejenak, tubuhnya membeku, dan wajahnya menegang—matanya membulat menatap pemandangan di depannya dengan campuran kaget dan tak percaya.
Sungguh, suasana itu begitu sempurna, begitu indah, begitu intim hingga Sophia seolah melihat adegan romantis dalam film-film yang selama ini hanya ia tonton—seorang pria tidur dibawahnya sedangkan seorang wanita berparas cantik berada di atasnya.
Begitu menyadari kehadiran Sophia, keduanya menoleh cepat ke arahnya. Mata Sophia membesar, jantungnya berdegup kencang, dan ia seketika merasa seperti tertangkap menyelinap di dunia yang seharusnya bukan untuk matanya.
Sophia tertegun, tubuhnya gemetar tanpa bisa dikendalikan. Mata besarnya menatap tajam ke arah dua sosok itu, jantungnya berdegup kencang seperti hendak melompat keluar dari dadanya. Udara terasa berat di sekitarnya, seakan setiap detik melambat, memberi ruang bagi rasa takut dan penasaran yang bercampur menjadi satu.
"Nona Sophia!" Panggil seseorang dari bawah. Dan, itu suara Alex.
“A-Aku minta maaf,” Ucap Sophia, suaranya nyaris seperti bisikan, terbata-bata karena campuran takut dan gugup. Tubuhnya yang kaku seketika terasa berat, namun ia memaksakan diri untuk bergerak. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berbalik, matanya masih melirik ke arah dua sosok itu sekejap sebelum menunduk menatap tangga di depannya.
Setiap undakan tangga terdengar jelas di telinganya—suara langkah kaki yang menapak marmer atau kayu menggaung di lorong luas, seakan menyoroti kehadirannya yang tak diundang. Tangan Sophia secara refleks menempel di pegangan tangga, jari-jarinya menekan erat, sementara napasnya terengah, cepat dan tidak beraturan.
Rasa panik bercampur lega membuat jantungnya berdebar kencang. Ia menuruni anak tangga satu per satu, seakan setiap langkah menjauhkan dirinya dari situasi yang membuatnya terkejut dan gemetar. Namun mata Sophia tak bisa sepenuhnya lepas dari pemandangan ruang lantai atas—bayangan dan cahaya yang menyelimuti ruangan itu masih menempel dalam benaknya, meninggalkan sensasi takjub yang bercampur rasa takut.
“Non Sophia,” Suara Alex terdengar tenang namun tegas begitu Sophia kembali ke lorong utama. Ia berdiri tidak jauh dari pintu ruang tamu, wajahnya serius tapi tak menunjukkan kemarahan.
Sophia menahan napas, tubuhnya masih sedikit gemetar. Ia menunduk, menatap lantai marmer yang mengilap, seakan mencari keberanian untuk menjawab. "A-Aku minta maaf, Alex. A-Aku hanya..."
"Kau sudah menemukan jawabannya lebih dulu, Non Sophia."
Sophia memicingkan sebelah alisnya. "Ma-maksudmu?"
Alex tak menjawab, namun tubuhnya bergerak dengan tenang. Ia berbalik perlahan, langkahnya mantap, dan jemarinya bergoyang lembut di udara, seolah memberi isyarat halus, Ikuti aku. Gerakan itu sederhana, tapi memiliki otoritas yang tak bisa ditolak.
Sophia menelan ludah, jantungnya masih berdegup kencang, namun ia tahu tidak ada pilihan lain selain menurut. Dengan napas tertahan, ia hanya mengangguk pelan, menuruti isyarat pria tersebut.
****