Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 TIBA TIBA NAIK JABATAN
Setelah perbincangan semalam yang penuh dengan dramatis tapi sedikit melegakan hati Kesya dengan Dila , keesokannya Kesya mulai kembali melangkah memasuki lobi kantornya di Swastamita Karya. Pagi itu, dia kembali bekerja sebagai staf administrasi, tapi dengan semangat yang lebih tinggi.gak seperti biasanya saat Kesya menjadi ninja kantor dengan penuh drama.kesya kali ini harus menggunakan setiap detik waktunya sebaik mungkin, bukan cuma untuk menghindari dari pemecatan kerjanya, tapi untuk membuktikan bahwa dia adalah staf terbaik yang pernah perusahaan itu miliki.
"gak ada lagi pizza perpisahan palsu, Keysa" bisiknya pelan pada diri sendiri sambil menarik napasnya dalam-dalam. "Hari ini, harus bekerja dengan semangat tanpa batas!"
dia menyambut sapaan dari rekan-rekannya termasuk Risa dengan senyum cerah, senyum yang menyembunyikan fakta kebohongan bahwa baru kemarin dia hampir dipecat dan di hari sebelumnya dia berpura-pura ulang tahun demi perayaan makan besar dengan rekan-rekan kerjanya.
Tepat pukul 09.00, Kesya sudah duduk di kursi kerjanya, dengan lincahnya dia mulai mengetik di keyboard dengan cepat dan mulai menyelesaikan tumpukan pekerjaannya. Suasana kantor saat itu terasa normal, hanya suara pelan dari bilik-bilik kerja rekan yang lainnya. Semua terlihat damai.
Tunggu dulu... kayanya ini terlalu damai.
Kesya mendadak merasakan hawa dingin dan merinding. mendadak perasaanya kurang enak.dia melihat perlahan ke arah pintu ruang CEO yaitu ruangan Aksa yang terbuat dari kaca tebal yang buram dan...
DEG!
Pintu itu terbuka.
Dari balik pintu itu, keluarlah Aksa. Pria berjas mahal itu terlihat Wajahnya yang selalu datar, dan dingin .membuat orang selalu bertanya-tanya apakah dia pernah tersenyum atau cuma lupa gimana caranya.
Aksa gak berhenti di mana pun. Dengan Langkahnya yang begitu percaya diri itu membawanya lurus,matanya terlihat tajam dan fokus. tanpa melihat ke kanan ataupun ke kiri,Aksa langsung menuju satu-satunya meja yang dia tuju: yaitu meja Kesya.
Seketika, seluruh di dalam ruangan kantor itu hening. suara ketikan di keyboard tadi yang tadinya terdengar menjadi hilang dan suasana berubah hening .Ini seperti adegan film menegangkan di mana seekor buaya sedang mendekati, dan orang itu tahu bahwa diri mereka lagi dalam bahaya.
Kesya menegakkan punggungnya,dia mencoba menelan ludah dengan tenang dan gak boleh terlihat panik.dia sambil mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang dia buat lagi saat dia tiba pagi di kantor ini.
Apakah aku lupa membalas email dari Aksa? Apakah aku salah cetak surat? Atau jangan-jangan, dia akhirnya tahu soal kebohongan ulang tahun kemarin itu?kata batin kesya dengan gugup
Aksa berdiri tegap tepat di samping meja Kesya, bayangannya aksa seperti menutupi seluruh tubuh Kesya.
"Kesya" kata Aksa dengan suara datar, tapi terdengar jelas di keheningan. "Ikut aku ke ruangan sekarang"
Kesya merasa jantungnya mau copot saat itu juga. Matanya langsung melihat panik ke Raya, dan raya yang hanya bisa memberinya tatapan kasihan seperti dia akan menghadapi ajal kematian.
Ketegangan itu mulai membuatnya jadi gugup.
Dengan langkah yang berat, Kesya mengikuti Aksa yang lagi menuju ke ruangannya. Sepanjang di perjalanan yang singkat itu, dia merangkai kalimat pembelaan di kepalanya. Aku gak salah! Aku udah kerja keras! Aku bisa jelaskan soal pizza kemarin!
pada saat mereka masuk, Aksa menutup pintu yang dari kaca tebal itu dengan berbunyi klik bersuara pelan. Kesya cuma berdiri kaku saja di depan meja besarnya Aksa, Kesya siap menerima hukuman atau surat pemecatannya yang mungkin tertunda kemarin.
"Duduk, Kesya" perintah Aksa sambil menunjuk kursi di depannya.
Kesya duduk di kursi,siap di usir dari kantornya kapan aja. "Maaf, Pak. Ada masalah apa lagi? aku janji aku sudah menyelesaikan semuanya dengan baik dan teliti,untuk masalah terkait pekerjaan atau hal lain pun diluar udah aku selesaikan"kata Kesya
Aksa menghela napas
Kesya terkejut, dia bisa bernapas panjang juga ternyata?,batin Kesya
lalu Aksa menjatuhkan map coklat di atas meja ,tepat di depan kesya.
"aku memanggil kamu ke sini bukan untuk memecat kamu,dari kemarin kamu selalu bahas soal pemecatan kamu terus" kata Aksa, nadanya sedikit merendah tapi masih kaku. "Ada hal lain yang lebih penting dari sekedar pemecatan sekarang"kata aksa datar
Kesya mengangkat alisnya. Lebih penting dari pemecatan? Apa? Aku harus mengurus visa imigrasi ikan peliharaannya yang ada didalam aquarium itu?kata batin kesya sambil melihat ikan itu
"aku sudah memikirkan ini berkali-kali" lanjut Aksa. "aku butuh seseorang yang bisa bekerja di bawah tekanan, yang teliti, dan yang paling penting... yang berani mendebat aku"
Kesya menahan tawa gugup.
Hah? Berani mendebat? Aku aja hampir dipecat karena berani mendebat kemarin!
"Mulai hari ini" kata Aksa, matanya melihat dengan tajam langsung ke matanya Kesya. "aku mau kamu jadi Sekretaris Pribadi aku."
Kesya membulatkan mata. Dia sontak kaget dan gak percaya. Itu bukan cuma kejutan. rasanya seperti ada bom yang meledak tepat di depannya
"Hah?" Kesya Kaget tanpa menduga dia mengeluarkan suara yang hampir keras. "Sekretaris pribadi? aku, Pak? Tapi,kenapa harus aku? Dan.. Sekretaris pak Aksa yang sebelumnya kemana?"
"Sudah di pecat" jawab Aksa tanpa jeda "Kerjanya gak bisa disiplin. Lambat. gak bisa cekatan."kata Aksa datar
"Oh, jadi dia dipecat karena alasan itu ,lagi pula ,siapa juga yang bisa bertahan lama bekerja dengannya kalau sifatnya seperti ini,pantas saja".
batin Kesya, dengan sedikit meledek.
"Tapi, kenapa harus aku,yang menggantikannya Pak?" Kesya bertanya dengan nada yang benar-benar bingung.
Aksa menyandarkan punggungnya dengan santai ke kursi, ekspresinya masih terlihat datar tapi ada aura yang gak bisa terbantahkan.
"Karena aku,mau kamu! aku tahu kinerja kamu baik selama menjadi staf administrasi. Kamu teliti, dan yang penting... kamu gak takut menghadapi aku. aku butuh orang seperti itu di samping aku.dan gak salah juga kan kalo aku mau angkat jabatan kamu menjadi Sekretaris pribadi."
Aksa mengambil jeda, lalu nadanya kembali tegas, datar, dan selesai.
"aku gak suka ditolak. dan kamu Kesya, harus siap!"
Kesya terdiam.rasa emosinya kini mulai sedikit memuncak di dalam dirinya dia merasakan: panik, terkejut, dan yang paling aneh, rasa ingin tertawa dengan keras karena situasi yang konyol ini. dia ragu, bahkan sangat ragu. Ini sangat tiba-tiba, tanpa ada aba-aba.
tapi, mengingat dengan janjinya semalam untuk gak mengecewakan Aksa, dia spontan mengangguk setuju. "Baik, Pak. aku siap. aku akan mencobanya."kata Kesya dengan percaya diri
Aksa mengangguk singkat,tanpa membuang waktu lebih lama, Aksa mengambil teleponnya yang ada di meja.
"Bagus. Beres" katanya.
Kesya pun belum sempat bertanya apa yang beres ,saat itu Aksa mulai mengumumkan di grup kantornya melalui telepon, suaranya yang tegas dan datar terdengar jelas dan sedikit terdengar mematikan.
Perhatian semuanya. Per hari ini, Kesya Inara bukan lagi staf administrasi. Dia sekarang adalah Sekretaris Pribadi aku yang baru. Harap semua staf membantu transisi pekerjaannya. Sekian."kata aksa
Klik. Teleponnya langsung ditutup.
Kesya cuma bisa terdiam di tempat, dia gak bisa berbuat apa-apa lagi. dia baru saja diangkat jabatannya menjadi sekretaris CEO yang paling angkuh dan terkenal galak di kantor ini. Perasaan yang aneh mulai timbul terasa dalam diri kesya, tapi dia cuma bisa menegaskan pada dirinya sendiri: mulai sekarang dia akan bekerja dengan lebih baik,dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang baru. sesuai janjinya, dan gak akan mengecewakan Aksa yang entah kenapa juga, tiba-tiba Kesya percaya padanya.
Semoga saja berani mendebat Aksa itu gak berarti aku akan dipecat setiap minggu.
kata batin Kesya dengan pasrah