NovelToon NovelToon
Love, On Pause

Love, On Pause

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Nisa Amara

Jovita Diana Juno dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Adam Pranadipa tepat tiga bulan sebelum pernikahan mereka. Sementara itu, Devan Manendra lekas dijodohkan dengan seorang anak dari kerabat ibunya, namun ia menolaknya. Ketika sedang melakukan pertemuan keluarga, Devan melihat Jovita lalu menariknya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan, dan sudah membicarakan untuk ke jenjang yang lebih serius. Jovita yang ingin membalas semua penghinaan juga ketidakadilan, akhirnya setuju untuk berhubungan dengan Devan. Tanpa perasaan, dan tanpa rencana Jovita mengajak Devan untuk menikah.

update setiap hari (kalo gak ada halangan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisa Amara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Jovita berbaring di kasurnya sambil memandangi telapak tangannya yang memerah. Rasa panas masih mengendap di kulit, membuatnya semakin kesal pada keadaan. Ia menghela napas pelan, matanya kosong menatap langit-langit.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan. Devan membuka pintunya perlahan, hanya menampakkan separuh tubuh.

“Ayo makan,” ucapnya singkat.

Jovita memandangnya tanpa suara. Ada sisa marah, ada malu, dan ada gengsi.

“Cepetan. Makanannya keburu dingin,” ucap Devan lagi.

“Iya, sebentar,” jawab Jovita lirih, akhirnya menyerah.

Devan pergi lebih dulu ke ruang makan. Dengan gerakan malas, Jovita bangkit dan keluar. Makanan yang dipesan Devan sudah ada di meja, masih hangat.

Ia duduk, menatap piringnya sejenak. Lalu perlahan meraih sendok. Namun begitu jari-jarinya menyentuh gagangnya, rasa perih langsung menyengat. Ia menarik tangan refleks, menghela napas frustrasi.

Devan meliriknya sekilas. Tanpa komentar, ia menarik piring Jovita, menyiapkannya.

“Udah dibilang jangan gunain tanganmu dulu,” katanya sambil mengaduk makanan pelan.

Jovita menatapnya datar. “Terus gimana aku bisa makan?”

“Ada tanganku,” kata Devan singkat.

Jovita langsung menoleh cepat, menatapnya dengan tatapan sulit dibaca, bingung, heran, dan sedikit tidak percaya. Tapi Devan tetap santai. Ia mengangkat sendok dan menyuapi Jovita.

Jovita menoleh menjauh sedikit. “Gak perlu, aku makan sendiri nanti,” katanya, terdengar sok kuat.

Devan hanya menghela napas. “Makan sekarang aja. Kamu megang sendok aja gak bisa, gimana mau makan sendiri?”

Jovita mengatup bibir, kesal pada kenyataan. Devan meletakkan sendok sebentar, menunggu dengan sabar, sorotnya tidak berpaling.

“Jovita,” panggilnya pelan. “Aku gak marah lagi, jadi kita akhiri perang dingin ini, hm?”

Jovita meliriknya dari sudut mata. Ada rasa lega yang muncul, tapi sikapnya tetap keras. Justru rasanya makin kesal karena Devan bersikap terlalu tenang.

Devan kembali mengangkat sendok. Namun kali ini, ia sengaja mendekatkannya ke hidung Jovita, menggoda dengan aroma makanan.

Jovita spontan menghindar. “Ish… aku makan, jadi berhenti lakuin itu,” omelnya, dahi mengerut tajam.

Devan menahan tawa, bibirnya terangkat nakal. “Buruan makan, aku juga laper.”

Akhirnya, meski wajahnya penuh gengsi, Jovita membuka mulut. Dan Devan menyuapinya perlahan.

Begitu malam tiba, Devan kembali melakukan rutinitas barunya, menyuapi Jovita dengan sabar, lalu mengoleskan salep ke luka bakar di tangan dan kakinya.

Begitu selesai, Jovita langsung masuk ke kamar. Rasa sakitnya mereda, dan emosi yang selama dua hari menumpuk pun perlahan luruh. Sementara itu, Devan turun ke bawah untuk membuang sampah.

Saat ia kembali dan hendak masuk ke kamarnya, pintu kamar Jovita tiba-tiba terbuka. Wanita itu muncul dan berdiri di ambang pintu, membuat Devan berhenti melangkah.

“Kenapa?” tanya Devan, satu alis terangkat penasaran.

Jovita tidak langsung menjawab. Ia berdiri kaku, seperti sedang mengumpulkan keberanian.

“Kamu baik-baik aja?” ulang Devan, sedikit lebih lembut.

Jovita mengangguk perlahan. “Itu…” suaranya nyaris tak terdengar. Sesekali ia melirik Devan, lalu cepat-cepat menunduk lagi. “Tolong beliin aku pembalut,” ucapnya akhirnya, sangat pelan.

Devan terdiam sejenak, jelas sedang memprosesnya.

“Aku mau beli sendiri, tapi…”

“Oke,” potong Devan cepat, tanpa banyak tanya. “Cuma itu?” Jovita mengangguk kecil.

“Tunggu sebentar,” katanya sebelum berbalik meninggalkan apartemen.

Jovita mengembuskan napas panjang, lega, tapi juga sedikit malu, lalu kembali masuk ke kamarnya.

Sementara itu, Devan sudah tiba di apotek. Ia berdiri terpaku di depan deretan rak khusus pembalut, matanya bergerak ke kiri dan kanan, membaca setiap tulisan pada kemasan. Semakin lama ia melihat, semakin bingung wajahnya.

“Mana yang harus kubeli? Kenapa ada banyak jenisnya?” gumamnya frustasi. Ia sempat mengulurkan tangan, hendak mengambil salah satu, tapi langsung menariknya kembali seolah takut salah pilih.

Beberapa menit berlalu. Devan menimbang, membandingkan, menatap ulang… sampai akhirnya ia mengembuskan napas keras.

“Tau ah, beli semua aja,” gumamnya putus asa namun mantap.

Di kasir, pegawainya menatap tumpukan pembalut itu dengan mata sedikit melebar.

“Ini semuanya?” tanyanya memastikan.

Devan mengangguk tenang, lalu menyerahkan kartunya.

“Baik,” ucap pegawainya sambil memindai barang. “Mau beli suplemennya sekalian, pak?”

Devan melirik ke arah rak kecil di samping kasir, melihat suplemen kesehatan yang ditunjuk. Tanpa pikir panjang ia berkata, “Hm. Boleh.”

Setelah semuanya dibayar dan dikemas, ia keluar dengan beberapa kantong yang tampak penuh. Bukan cuma dari apotek, rupanya ia sempat mampir ke minimarket juga.

Sesampainya di apartemen, Devan memanggil, “Jovita.”

Tak lama setelah itu Jovita muncul dari kamar. Matanya langsung membesar saat melihat kantong-kantong belanjaan itu.

“Kenapa banyak banget?” tanyanya, suaranya tercampur antara bingung dan tidak percaya.

“Aku gak tau kamu pake mana, jadi kubeli semua,” jawab Devan enteng.

Jovita membuka salah satu kantong. Matanya makin melebar. Ada berbagai jenis pembalut, jumlah yang mungkin cukup untuk persediaan beberapa bulan. Lalu obat pereda nyeri. Lalu suplemen kesehatan. Dan ketika ia membuka kantong lain, wajahnya makin berubah.

Es krim. Roti. Kue. Camilan. Minuman kesukaannya. Semua ada.

“Jadi kamu keluar lama banget buat ini semua?” tanya Jovita, masih tak percaya.

Devan mengangguk. “Ini,” katanya sambil mengangkat suplemen. “Katanya bagus buat kesehatan. Terus ini, bagus buat imunitas.” Nada suaranya terdengar seperti sales yang sedang presentasi.

“Aku juga beli ini. Kamu suka makan ini dulu,” katanya sambil menunjukkan soft cake favorit Jovita.

“Kamu juga suka yang ini, kan?” lanjutnya sambil mengangkat minuman yang tepat sekali sesuai selera Jovita.

Jovita hanya diam, mengamati satu per satu. Kebingungan berubah menjadi rasa heran. Sebagian kecil hatinya bahkan hangat.

Devan tiba-tiba mendesah. “Ah, tadinya aku mau beli yang caramel, tapi lagi kosong. Kamu suka itu dibanding ini.”

Jovita terdiam. Kini keterkejutannya bukan soal belanjaan yang menumpuk… tapi tentang bagaimana Devan bisa mengetahui semua detail kesukaannya.

“Gimana kamu tau?” tanyanya pelan.

Devan menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil, bangga, tapi juga sedikit menggoda.

“Ingatanku emang kuat. Jangan salah paham, aku juga mengingat kesukaan orang lain.”

Jovita hanya mengangguk. Sementara Devan meliriknya lagi, senyumnya berubah menjadi lebih lembut sebelum ia berkata, “Kalau gitu, aku masuk dulu.”

Ia pergi ke kamarnya, meninggalkan Jovita yang tetap berdiri di ruang tamu sambil melihat semua belanjaan itu.

Beberapa detik kemudian, Jovita menunduk… lalu terkekeh kecil. Geli. Heran. Dan entah kenapa, hatinya terasa hangat sekali.

Dia benar-benar tidak menyangka… Devan bisa semanis itu.

***

Pernikahan mereka sudah berjalan sebulan. Selama itu, Devan pelan-pelan terus berusaha meruntuhkan dinding yang Jovita bangun. Ia paham betul, sulit bagi Jovita membuka hati setelah yang ia alami. Tapi dengan sabar, Devan selalu ada di sisi, memberikan perlakuan hangat yang membuat Jovita perlahan merasa aman.

Hasilnya, tanpa sadar ia mulai bergantung pada keberadaan Devan. Bahkan sekarang, ia sudah tidak mengunci pintu kamar lagi saat malam.

Pagi itu, Jovita baru saja terbangun ketika mendengar suara gaduh dari ruang tamu. Suara keras, seperti paku dihantamkan ke tembok.

Begitu keluar dari kamar, ia melihat Devan berdiri di atas tangga lipat, satu tangan memegang palu, satu tangan menahan paku.

“Ngapain pagi-pagi?” tanyanya heran, kepalanya mendongak ke arah pria itu.

Devan menoleh cepat. “Aku membangunkanmu?” Nada suaranya terdengar sedikit bersalah, tapi tangannya tetap sibuk memaku. “Foto pernikahan kita baru dikirim semalem, kamu gak tau?”

"Foto pernikahan?" gumam Jovita dalam hati.

Ia menoleh ke lantai, melihat beberapa bingkai foto besar bersandar rapi pada dinding. Gambar-gambar itu masih terbungkus plastik, tapi ia bisa melihat sekilas warna putih gaunnya.

“Kamu mau masang di dinding?” tanyanya.

“Iyalah,” jawab Devan tanpa ragu.

“Buat apa?”

Devan berhenti memukul paku, menundukkan wajah untuk menatapnya.

“Wajahku keliatan tampan di situ, sayang kalau gak dipamerin,” katanya penuh percaya diri.

Jovita memandangnya dengan ekspresi tidak percaya. “Siapa yang mau liat? Kita gak pernah kedatengan tamu.”

“Biarin lah. Aku yang bakal lihat,” balas Devan ringan.

Jovita memutar mata lalu berjalan ke dapur. Devan sempat meliriknya dari atas tangga, bibirnya terangkat kecil, sebelum melanjutkan memukul paku.

“Eh, bantuin ambilin fotonya,” panggil Devan.

“Nanti dulu,” ujar Jovita sambil mengambil minum. Baru setelah itu ia kembali ke ruang tamu, menyerahkan bingkai satu per satu padanya.

Begitu semuanya dipasang, Devan turun dari tangga dan berdiri beberapa langkah untuk melihat hasilnya. Ia menyilangkan tangan, terlihat puas. Meski ia bercanda soal wajahnya sendiri, matanya justru terpaku pada wajah Jovita di foto itu.

Jovita juga menatap foto itu, tapi ekspresinya berbeda. “Apaan dah? Kenapa senyum aku begitu?” gerutunya pelan, wajahnya merengut.

Devan terkekeh kecil. Jovita langsung menoleh, dahinya mengernyit penuh curiga.

“Jadi kamu cuman mentingin wajah sendiri? Kenapa milih foto ini?” tanyanya kesal, lalu buru-buru masuk ke kamar sebelum Devan sempat membela diri.

Devan hanya terkekeh lagi, memandangi pintu kamar yang tertutup, lalu kembali menatap foto pernikahan mereka, wajahnya tak bisa menyembunyikan senyum kecil yang sama sekali tidak sombong seperti yang ia ucapkan tadi.

***

Matahari sudah tinggi. Di lorong menuju ruang meeting, Mawar berjalan sambil menenteng beberapa dokumen. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan Rosmala yang baru saja selesai membahas pekerjaan bersama Heri.

“Mawar,” sapa Rosmala sambil tersenyum ramah.

Mawar ikut tersenyum, sopan seperti biasa. “Apa kabar tante? Udah lama gak ketemu.”

“Hm. Baik. Kamu gimana?”

“Aku baik juga,” jawab Mawar lembut.

Rosmala menatap Mawar sejenak, ada rasa bersalah yang mengganjal di hatinya. Sejujurnya ia masih menyayangkan Devan tidak jadi menikah dengan Mawar, setidaknya, itu dulu keinginannya. Tapi anak itu keras kepala, dan Rosmala akhirnya harus menerima kenyataan.

“Tante minta maaf ya, karena tante maksa jodohin kamu sama Devan, kamu jadi merasa dipermalukan.”

Mawar menggeleng cepat. “Gak masalah. Dari awal Devan gak tertarik sama aku,” ujarnya sopan, tidak ingin membuat suasana canggung.

Rosmala menghembuskan napas panjang, tetap saja ia merasa tidak enak.

“Tante pikir kamu gak dateng ke pernikahannya karena sakit hati, tapi ternyata kamu ke Prancis. Tante baru tau dari ayahmu.”

Mawar mengangguk, tidak memperpanjang topik itu. Lalu ingatannya terarah pada hal yang ia lihat saat datang ke apartemen Devan beberapa waktu lalu.

“Aku udah mengunjungi mereka dan beri ucapan selamat langsung, juga ngasih hadiah pernikahan,” katanya.

Rosmala makin merasa tidak nyaman. Mawar begitu baik, sampai rasanya ia semakin bersalah.

“Tapi tante…” Mawar ragu sejenak, seperti mempertimbangkan apakah ia perlu mengatakan ini atau tidak. Rosmala menunggu, sedikit penasaran.

“Apa Devan gak suka dingin?”

Rosmala terkejut. Alisnya mengernyit bingung. “Gak suka dingin?” ulangnya, memastikan tidak salah dengar.

Mawar mengangguk. “Masalahnya… waktu aku berkunjung ke apartemen mereka, mereka keluar dari kamar terpisah. Katanya karena mereka punya preferensi suhu berbeda.”

Ekspresi Rosmala berubah makin bingung. Itu tidak masuk akal. Selama ia hidup bersama Devan, anak itu justru paling tidak tahan panas. Kalau terlalu panas, kulitnya langsung merah dan gatal.

“Kamu yakin?” tanya Rosmala, memastikan sekali lagi.

Mawar mengangguk tanpa ragu.

Dan saat itu juga, Rosmala merasakan sesuatu yang tidak beres.

To be continued

1
Muhammad Isha
iklan buatmu dek
knovitriana
iklan buatmu
Kisaragi Chika
bagus sih
Ayleen Moonscale
si arum pahit ini jangan lupaaaaa
Ayleen Moonscale
kesel banget👹
Nindi
Hmm jadi penasaran, itu foto siapa Devan
Fairuz
semangat kak jangan lupa mampir yaa
Blueberry Solenne
🔥🔥🔥
Blueberry Solenne
next Thor!
Blueberry Solenne
Tulisannya rapi Thor, lanjut Thor! o iya aku juga baru join di NT udah up sampe 15 Bab mampir yuk kak, aku juga udah follow kamu ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!