Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 14
Dan kini, cinta serta obsesinya tidak lagi sekadar fantasi, karena semuanya tampak jelas di depan mata.
Dr. Darcel adalah belahan jiwanya.
“Dasar psikopat bajingan!” teriak pria yang tergantung di kail itu sekuat tenaga, membuat Rowena meringis. “Aku bakal bunuh kamu! Aku bakal bunuh kamu!”
Dr. Darcel tidak menjawab. Wajahnya kosong tanpa ekspresi. Dia mengambil sebuah ember bersih dari sudut ruangan. Ada suara gesekan pelan saat ember itu diletakkan tepat di bawah tubuh pria tersebut, tetap tanpa sepatah kata pun.
“Mereka bakal nemuin kamu,” geram pria itu. “Aku tahu siapa kalian.”
Rowena sempat mengira dia sedang membicarakan kelompok tertentu.
“Kalian itu Bloodveil Butc—”
Kalimat itu terputus oleh suara basah yang mengerikan saat Darcel condong ke depan dan menekan pisau ke lehernya. Waktu seolah berhenti ketika kulit itu terbelah dan darah menyembur deras dari arteri. Wajah pria itu membeku dengan ekspresi yang membuat dada Rowena bergetar.
Darcel menatapnya, lalu mengerang pelan.
Sesuatu yang aneh menghantam tepat di antara paha Rowena.
Saat bau logam darah bercampur dengan aroma klorin menusuk hidungnya, terasa seperti ada yang rusak di otaknya. Seolah pupil matanya melebar, seperti terjadi korsleting di kepalanya ketika warna merah tua menutupi wajah pria itu. Sebuah erangan kecil lolos dari tenggorokannya sebelum sempat ditahan.
Kepala Darcel langsung menoleh ke samping. Mata ungunya menembus celah lemari tempat Rowena bersembunyi.
Dingin menjalar di sepanjang tulang punggungnya. Paru-parunya terasa terbakar saat dia menahan napas.
Seluruh tubuhnya mulai gemetar, memaksanya bersiap bertindak. Air mata mengalir dari matanya, mungkin merusak riasan wajahnya. Pikiran itu terasa aneh di situasi seperti ini. Namun jika dia harus dibunuh oleh belahan jiwanya, dia ingin terlihat cantik saat itu terjadi.
Walaupun mungkin Darcel justru menginginkannya tampak berantakan. Bisa jadi pria itu menyukai maskara yang luntur dan mata yang basah oleh air mata.
Mungkin dia akan menyodorkan kemaluannya ke mulutnya, hanya untuk melihat matanya berair dan riasannya hancur.
Tatapan Darcel akhirnya berpaling dari arah lemari, membuat tubuh Rowena sedikit mengendur. Matanya menyapu ruangan, mencari sumber suara. Dalam kepanikan, Rowena melirik botol pemutih yang menekan lututnya, berusaha membenarkan posisi.
Lalu,
BRAK!
Pintu lemari terbuka keras, dan jeritan melengking langsung pecah dari tenggorokannya.
Rasa empedu naik ke lidah Rowena saat wajah Dr. Darcel muncul, marah dan terkejut. Pria itu ada di sana, tepat di depannya. Rowena gemetar di bawah tatapannya, tak mampu mengucapkan apa pun.
“Rowena?” panggil Darcel dengan suara merdu.
Rowena membayangkan pria itu akan menerjang ke depan, sarung tangan kulit yang berlumuran darah mencekik lehernya dengan brutal. Dia membayangkan mata indah Darcel saat mencekiknya, rambut hitam itu jatuh menutupi wajahnya.
Dia merapatkan pahanya lebih erat, menahan erangan yang jelas tidak pantas. Tubuhnya berteriak menyuruhnya bergerak, melawan, lari. Namun tidak ada jalan keluar.
Dr. Darcel berjongkok di depan celah lemari.
Matanya menancap ke arahnya, penuh tanda tanya. “Apa kamu nguntit aku?”
Mata Rowena melebar.
Apa Darcel mencurigainya?
“Rowena,” panggilnya lagi.
Rowena bergeser di ruang sempit itu, bersembunyi di balik salah satu mayat yang tergantung.
“Sial,” gumamnya.
Kepalanya berputar. Dengungan Cold Room yang menyebalkan, bau darah yang menyumbat hidung, semuanya membuatnya limbung. Dia harus berpegangan pada tubuh dingin itu hanya agar tidak jatuh.
Darcel jelas tidak peduli kalau Rowena hampir kolaps. Dia melangkah terhuyung ke arahnya, pisau berlumuran darah masih berada di tangan bersarung hitam.
“Tunggu!” teriak Rowena.
Darcel mengabaikannya.
Rowena langsung berlari ke tepi ruangan dan melompat ke arah pintu. Darcel mengangkat kaki lalu menendang ember berisi darah segar. Isinya muncrat ke lantai. Sepatu Rowena menginjak genangan itu dan dia terpeleset. Lututnya menghantam lantai dengan keras. Telapak tangannya terasa panas saat menahan tubuh.
Dia jatuh tepat di genangan darah yang masih hangat. Kepalanya terasa ringan, pusing. Bau dan sensasinya menyelimutinya.
Dorongan kuat muncul untuk memasukkan jari-jarinya yang berlumuran darah ke mulut. Tubuhnya gemetar menahan keinginan itu, karena dia sendiri tidak tahu apakah ini saat terburuk atau justru terbaik untuk menyerah pada dorongan aneh tersebut.
Dari tenggorokannya lolos suara tercekik, setengah isak, setengah erangan, saat dia menatap darah yang melekat di jemarinya.
Lalu tangan bersarung kulit mencengkeram kemejanya dan mengangkat tubuhnya seperti boneka.
Punggung Rowena menghantam dinding logam Cold Room. Tangan Darcel mencengkeram dagunya, jari-jarinya menekan pipinya.
“Sial,” erangnya pelan, menatap wajah Dr. Darcel dengan pipi berlumuran darah.
Rasa kagum langsung menghantamnya.
Ya Tuhan, pria itu tampan.
Dan kuat.
Rowena tidak bisa bergerak sedikit pun ketika Darcel menekan tubuhnya ke dinding.
Dia menjilat bibir, membayangkan Darcel membalikkan tubuhnya, menurunkan celananya, dan seterusnya.
Pikiran liar, brutal, dan gila bercampur dengan dinginnya dinding Cold Room di punggungnya.
“Rowena,” geram Darcel. Amarah menyala di mata ungunya.
Ini jelas tidak pantas. Terangsang setelah melihat pria yang dia taksir membunuh seseorang.
Namun celana dalam Rowena mulai basah saat Darcel menekan tubuhnya lebih dekat, aroma darah melekat kuat. Dia memiringkan kepala, mengintip ke belakang Darcel.
Benar saja.
Sekarang ada empat mayat.
Sebagian dirinya merasa takut. Namun sebagian lain justru ingin jatuh ke dalam pelukan pria itu.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Darcel tiba-tiba.
Nada suaranya menciptakan getaran yang menjalar nikmat ke seluruh tubuh Rowena. Biasanya Darcel selalu membuka percakapan dengan senyum sopan dan suara datar. Namun versi Darcel yang marah dan gelap ini, jujur saja, lebih dia sukai.
Pikirannya yang sudah kacau makin teraduk, membelokkan rasa takut menjadi gairah, dan mengubah gairah menjadi sesuatu yang candu dan mendebarkan.
“Kamu merusak rencanaku,” sembur Darcel.