NovelToon NovelToon
MATA YANG MELIHAT MASA DEPAN

MATA YANG MELIHAT MASA DEPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir / Slice of Life / Mata Batin / Persaingan Mafia
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Susilo Ginting

Rendra Adyatama hanya memiliki dua hal: rumah tua yang hampir roboh peninggalan orang tuanya, dan status murid beasiswa di SMA Bhakti Kencana—sekolah elite yang dipenuhi anak pejabat dan konglomerat yang selalu merendahkannya. Dikelilingi kemewahan yang bukan miliknya, Rendra hanya mengandalkan kecerdasan, ketegasan, dan fisik atletisnya untuk bertahan, sambil bekerja sambilan menjaga warnet.
Hingga suatu malam, takdir—atau lebih tepatnya, sebuah Sistem—memberikan kunci untuk mendobrak dinding kemiskinannya. Mata Rendra kini mampu melihat masa depan 24 jam ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susilo Ginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Undangan Emas dan Pintu Menuju Zenith

Pagi itu, udara Jakarta terasa beda. Ada bau basah sisa hujan semalam yang kecampur sama aroma aspal panas dan asap knalpot. Buat kebanyakan orang, ini cuma hari Selasa biasa yang macet dan sumpek. Tapi buat Rendra, udara pagi ini baunya kayak kemenangan.

Dia duduk di bangku taman sekolah, nyender santai sambil ngeliatin daun-daun kering yang jatuh ditiup angin. Di tangannya ada sekaleng kopi dingin yang embunnya netes-netes kena jari. Dingin, basah, lengket. Sensasi fisik yang bikin dia sadar kalau dia masih napak di bumi, bukan ngawang di dunia digital tempat dia baru aja menjatuhkan karir seorang politikus besar.

Berita jatuhnya Darmawan masih jadi headline di mana-mana. Di TV kantin, di notifikasi HP anak-anak yang lagi lewat, bahkan guru-guru di ruang guru kedengeran bisik-bisik soal skandal itu.

"Gila ya, nggak nyangka banget," sayup-sayup Rendra denger suara Bu Siti, guru BK, pas lewat koridor. "Padahal di TV keliatan alim banget."

Rendra cuma senyum tipis, nyeruput kopinya. Rasanya pait, asem dikit, tapi bikin melek. Dia ngerasa kayak sutradara yang lagi duduk di pojokan bioskop, ngeliatin penonton bereaksi sama film yang dia bikin, padahal nggak ada satu pun yang tau kalau dia yang megang naskahnya.

"Kadang, topeng terbaik itu bukan yang paling tebal, tapi yang paling dipercaya orang. Begitu kepercayaan itu retak, topeng setebal apa pun bakal hancur jadi debu."

Rendra ngebatin kalimat itu sambil meremes kaleng kopinya yang udah kosong sampai penyok. Krakk. Suara kaleng remuk itu kedengeran nyaring di telinganya.

Siangnya, pas jam istirahat kedua, HP khusus Rendra bergetar di saku celana abu-abunya. Pola getarannya beda. Panjang-pendek-panjang. Itu kode khusus buat kontak prioritas tinggi.

Rendra minggir ke area belakang perpustakaan yang sepi, tempat biasanya anak-anak nakal ngerokok diem-diem. Bau apek buku tua kecampur sama bau samar asap rokok sisa tadi pagi.

Dia ngangkat telepon itu. "Halo."

"Cuaca hari ini cerah sekali, ya, Rendra?" Suara berat Tuan Wirawan terdengar di seberang sana. Nggak ada basa-basi, nggak ada salam. Cuma metafora.

"Sangat cerah, Tuan. Badai semalam sepertinya menyapu banyak sampah di jalanan," jawab Rendra tenang, ngikutin permainan kata-katanya.

Wirawan ketawa kecil. Suara ketawanya kering, kayak gesekan kertas amplas. "Saya suka caramu melihat situasi. Darmawan jatuh. Partai Keadilan kocar-kacir. Proyek Batavia Megacity aman dari gangguan politik untuk sementara waktu. Kebetulan yang sangat... menguntungkan."

Ada jeda sejenak. Rendra bisa denger suara denting gelas dan es batu dari seberang sana. Wirawan pasti lagi minum whiskey mahalnya di ruangan ber-AC dingin, ngeliatin kota dari ketinggian.

"Saya tidak percaya kebetulan, Tuan," kata Rendra.

"Saya juga tidak. Makanya saya menelepon. Elena bilang kau membantunya menenangkan ayahnya. Saya tidak tahu detail apa yang kau lakukan, dan jujur saja, saya tidak mau tahu selama hasilnya bersih. Tapi Rendra... kau mulai tumbuh terlalu cepat. Hati-hati, pohon yang tumbuh terlalu cepat batangnya gampang patah kena angin."

Itu pujian yang dibungkus ancaman. Wirawan tau Rendra ada andil dalam jatuhnya Darmawan, tapi dia nggak punya bukti. Dan selama Rendra berguna, Wirawan bakal ngebiarin dia tumbuh.

"Saya akan ingat itu, Tuan."

"Bagus. Elena ingin bertemu denganmu nanti malam. Dia bilang ada bonus yang harus diserahkan secara pribadi. Temui dia. Jangan bikin dia nunggu."

Klik. Sambungan putus.

Rendra ngeliatin layar HP-nya yang gelap. Dia bisa ngerasain detak jantungnya sendiri yang stabil tapi kuat. Elena mau ketemu. Ini bukan soal uang. Kalau soal uang, Elena bisa transfer. Ini soal sesuatu yang lain.

Pukul 20.00 WIB.

Rendra nggak pake seragam sekolah, jelas. Dia pake kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku, celana chino gelap, dan sepatu boots kulit. Tampilannya kasual tapi sharp. Dia masuk ke Velvet Lounge, sebuah klab privat di kawasan SCBD yang pintu masuknya aja nggak ada plangnya. Cuma tembok hitam polos dan penjaga berbadan kekar yang pake earphone.

Begitu pintu dibuka, Rendra langsung disambut sama hawa dingin AC yang wangi sandalwood dan vanila. Lampu di dalem remang-remang, didominasi warna ungu dan emas. Suara musik jazz instrumental ngalun pelan, bercampur sama suara gelas berdenting dan obrolan suara rendah orang-orang super kaya.

Di sini, uang bukan lagi masalah. Di sini, kekuasaan yang bicara.

Rendra ngeliat Elena duduk di meja pojok yang agak tersembunyi, di balik partisi kaca buram. Wanita itu pake gaun Sleeves warna zamrud yang bikin kulit putihnya makin bersinar. Dia kelihatan beda dari biasanya. Lebih rileks, tapi matanya tetep tajam kayak elang.

Rendra nyamperin dan duduk di depannya.

"Kak Elena," sapa Rendra.

Elena meminum sedikit wine nya, terus natap Rendra lama banget. Tatapannya itu kayak lagi nge scan, nyari celah, nyari kelemahan, tapi akhirnya berubah jadi tatapan kagum.

"Kau menakutkan, Rendra," kata Elena tiba-tiba. Suaranya halus, nyaris bisikan. "Darmawan itu politikus senior. Dia punya tim keamanan, dia punya bekingan. Dan kau... kau menghancurkannya dalam semalam tanpa keluar dari kamarmu."

"Saya cuma memvalidasi data, Kak. Sisanya biarkan gravitasi yang bekerja," jawab Rendra merendah. Pelayan dateng naruh segelas mocktail pesenan Rendra. Rasanya manis-asem stroberi, kontras sama obrolan mereka yang berat.

Elena senyum miring. "Jangan main-main denganku. Aku tau kau yang mengirim data itu ke Kejaksaan. Ayahku senangnya bukan main. Dia pikir itu mukjizat Tuhan. Aku nggak tega bilang kalau mukjizatnya pake jaket hoodie dan masih SMA."

Elena ngambil tas tangannya yang ada di meja, ngeluarin sebuah kotak beludru hitam kecil. Dia nyodorin kotak itu ke Rendra.

"Wirawan menyuruhku memberimu uang. Tapi aku rasa... kau sudah punya cukup uang dari permainan sahammu itu. Jadi, aku memberimu sesuatu yang lebih berharga daripada uang."

Rendra mengerutkan kening. Dia membuka kotak itu pelan-pelan.

Di dalemnya, bukan kunci mobil, bukan berlian. Di dalemnya ada sebuah kartu hitam matte yang terbuat dari logam berat. Dingin pas disentuh. Di kartu itu nggak ada nomor, nggak ada chip yang kelihatan. Cuma ada satu logo timbul warna emas di tengahnya: Gambar Matahari Hitam dengan tulisan kecil di bawahnya: THE ZENITH.

"Apa ini?" tanya Rendra, ngusap permukaan kartu yang kasar dan dingin itu.

Elena condong ke depan, suaranya makin pelan. "Itu kunci ke dunia yang sebenernya, Rendra. Kau pikir Wirawan itu puncak rantai makanan? Salah. Wirawan cuma manajer. Dia cuma pelaksana."

Jantung Rendra berdegup kencang. Zenith. Dia pernah denger nama itu sekilas di file W Network, tapi infonya minim banget.

"The Zenith adalah klab privat paling eksklusif di Asia Tenggara," jelas Elena. "Anggotanya bukan cuma pengusaha atau politikus lokal. Di sana ada mafia internasional, pedagang senjata, pialang informasi, sampai pejabat tinggi negara tetangga. Di sana, kesepakatan-kesepakatan yang nentuin nasib negara dibuat. Wirawan adalah anggota Silver. Kartu yang kau pegang itu... akses tamu VIP atas namaku."

Rendra natap kartu itu lagi. Ini bukan sekadar kartu member. Ini tiket masuk ke sarang naga yang sebenernya.

"Kenapa Kakak kasih ini ke saya?"

Mata Elena nampak sendu sebentar. "Karena aku capek, Rendra. Aku capek jadi boneka Wirawan. Aku capek ngejual hati nuraniku buat tanda tangan dokumen limbah itu. Aku butuh sekutu yang bisa ngelihat apa yang nggak bisa kulihat. Aku butuh kau masuk ke sana, lihat siapa bos nya Wirawan, dan cari cara buat... membebaskan aku."

Permintaan itu terdengar putus asa. Wanita sekuat Elena, yang biasa merintah ratusan karyawan, sekarang minta tolong sama anak SMA.

"Ini berbahaya, Kak. Kalau saya masuk ke sana dan ketahuan..."

"Kau nggak akan ketahuan. Kau punya mata itu, kan?" Elena nunjuk mata Rendra. "Gunakan itu. Masuk ke Zenith. Cari tau rencana besar mereka selanjutnya. Karena aku denger rumor... Batavia Megacity cuma permulaan. Ada sesuatu yang lebih besar yang lagi mereka masak."

Rendra menggenggam kartu logam itu erat-erat. Terasa dingin menusuk telapak tangannya.

"Baik," kata Rendra tegas. "Saya terima."

Keluar dari Velvet Lounge, Rendra nggak langsung pulang. Dia berdiri di trotoar, ngeliatin gedung-gedung pencakar langit yang lampunya kelap-kelip kayak bintang buatan.

Angin malam menerpa wajahnya, membawa rasa dingin yang beda dari AC di dalem tadi.

Rendra ngeluarin kartu Zenith dari sakunya, ngeliatin pantulan cahaya kota di permukaan logam hitam itu. Dia ngerasa kecil, tapi di saat yang sama ngerasa sangat kuat.

Dulu, cita-citanya cuma pengen kaya biar nggak dihina orang. Pengen punya uang biar bisa makan enak. Tapi sekarang, takdir membawa dia jauh melampaui itu. Dia bakal masuk ke lingkaran setan paling dalem, tempat di mana nyawa manusia mungkin cuma dihargai seharga satu chip poker.

"Hidup itu kayak mendaki gunung kaca tanpa alas kaki. Semakin tinggi lo naik, pemandangannya semakin indah, tapi jejak darah yang lo tinggalin juga makin banyak."

Rendra nyimpen kartu itu baik-baik di dompetnya, di slot paling dalem, di balik foto usang kedua orang tuanya.

Dia ngambil HP, ngetik pesan singkat ke Bagas.

To: Bagas

Siapin jas terbaik lo. Minggu depan kita bakal main ke tempat para dewa.

Rendra berbalik, menyetop taksi, dan menghilang di tengah lalu lintas Jakarta yang nggak pernah tidur. Permainan baru aja naik level. Dan Rendra siap buat mengacak-acak

meja permainannya.

1
ellyna munfasya
update thorrr 😤😤
Abady Ehm
katanya cerdas, kenapa uangnya gak dimasukin ke bank. cerita bodoh nih...
Gavinfllno: Kan uang nya di masukkan ke pasar bursa saham pak🙏
total 1 replies
Gege
kalimat generate AI nampak sekali thor... yo semangat ..kasih perintah lebih human waktu men generate..
Eva Akmal
seru
Gavinfllno: TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN NYA🙏
total 1 replies
Was pray
mengapa Rendra tidak menggunakan akun anonim untuk trading saham ? jadi tidak mudah dilacak identitasnya ?
Was pray
mengapa renda tidak memberi tingkat keamanan yg super kuat pada akun nya? otak nya belum sampai kah?
BungaSamudra
tulisanmu mengalir kek air. ritmenya pas banget pas dibaca 😍
Fairuz
semangat kak jangan lupa mampir
knovitriana
update
Ken
Tanda bacanya kurang dikit.
Semangat Thor
D. Xebec
lanjut next chapter bang, jadi penasaran gw, btw semangat 👍
D. Xebec
cerita nya menarik, tapi ada beberapa kata yang kurang huruf
D. Xebec
tulisannya masih banyak yang kurang huruf bang, perbaiki lagi, btw cerita nya menarik
Zan Apexion
menarik, Semangat ya👍
Monkey D. Luffy
kurang huruf N nya ini bang🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!