Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Yudiz melangkah masuk ke dalam villa dengan perasaan lega, tidak menyadari "bom waktu" yang menempel di kerah bajunya.
Ia melihat Rani sedang duduk di tepi ranjang besar yang bertabur kelopak bunga mawar, tampak cantik meski sisa-sisa kelelahan masih membekas di wajahnya.
"Sayang, tempatnya bagus, kan? Kamu suka?" tanya Yudiz sambil tersenyum lebar dan duduk di samping Rani, mencoba merangkul bahu istrinya.
Rani menoleh, berniat menyambut pelukan suaminya. Namun, matanya tiba-tiba terpaku pada noda merah muda yang kontras di atas kain kemeja putih bersih milik Yudiz.
Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenali warna itu; itu noda lipstik, dan itu bukan miliknya.
Rani terdiam seketika. Ingatannya kembali pada keraguan Nyai Salmah, pada kecantikan Laila, dan pada rasa tidak percaya diri yang selama ini ia tekan dalam-dalam.
"Bi..." suara Rani terdengar dingin, jauh dari nada manja yang tadi ia tunjukkan di mobil.
"Iya, Sayang? Kenapa? Kamu pusing?" Yudiz tampak khawatir, sama sekali tidak peka dengan apa yang dilihat istrinya.
Rani menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang tiba-tiba mendesak ingin keluar.
Ia melepaskan tangan Yudiz dari bahunya perlahan, lalu berdiri dengan kaku.
"Aku mau ke kamar mandi dulu, Bi. Panas di sini," ucap Rani ketus, tanpa menatap mata Yudiz sedikit pun.
Yudiz tertegun. Ia merasa ada perubahan suhu yang mendadak di antara mereka.
"Panas? AC-nya sudah nyala, Sayang. Kamu nggak mau minum dulu?"
Rani tidak menjawab. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan dentuman yang cukup keras, meninggalkan Yudiz yang mematung kebingungan di tepi ranjang.
Di dalam kamar mandi, Rani menyalakan kran air agar suaranya tidak terdengar keluar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar.
"Baru sampai, Bi. Baru saja sampai," bisiknya perih.
"Apa secepat itu kamu menemukan penggantiku di sini?"
Sementara itu, Yudiz yang merasa ada yang salah, mulai memeriksa dirinya sendiri.
Saat ia melewati cermin di lemari pakaian, matanya menangkap noda merah di kerahnya. Wajahnya seketika pucat pasi.
"Astaghfirullah, noda ini! Pasti tadi saat resepsionis itu jatuh!" gumam Yudiz panik.
Ia segera mendekat ke pintu kamar mandi. "Rani! Rani, dengar dulu. Ini nggak seperti yang kamu lihat!"
Rani tertegun di depan pintu kamar mandi, jemarinya yang gemetar urung memutar kunci.
Layar ponselnya menyala, menampilkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Dengan jantung berdebar, ia membukanya.
Matanya membelalak. Foto itu sangat jelas—Yudiz sedang memeluk seorang wanita di lobi.
Sudut pengambilan gambarnya membuat mereka terlihat sangat mesra, seolah-olah sedang berpelukan dengan penuh perasaan.
Rani memejamkan mata erat-erat, air matanya hampir jatuh, namun ia segera menghapusnya dengan kasar.
"Tidak, Rani. Kamu bukan orang lemah yang langsung menangis," bisiknya pada diri sendiri.
Ia teringat semua kejadian belakangan ini. Nyai Salmah yang tiba-tiba baik, hilangnya Laila, dan sekarang foto ini.
Insting "balap"-nya muncul; ia tidak boleh gegabah di lintasan yang licin. Jika ia meledak sekarang, ia tidak akan tahu siapa dalang di balik semua ini.
"Aku akan menyelidiki sendiri. Kalau aku marah sekarang, Abi pasti akan punya seribu alasan. Aku harus tenang," gumamnya sambil menarik napas dalam-dalam berkali-kali sampai emosinya stabil.
Rani memasang wajah datar, lalu perlahan membuka pintu kamar mandi.
Ia melihat Yudiz yang berdiri gelisah di depan pintu dengan wajah pucat.
"Rani, Sayang. Soal noda di kemeja ini, tadi ada resepsionis yang hampir jatuh dan—"
"Iya, Bi, nggak apa-apa," potong Rani dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Ia berjalan melewati Yudiz dan duduk kembali di ranjang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mungkin tadi kena noda saat di bandara atau gimana. Aku cuma gerah saja tadi, sekarang sudah agak mendingan."
Yudiz terpaku. Ia bingung melihat perubahan sikap Rani yang begitu cepat dari ketus menjadi tenang.
"Kamu nggak marah?"
Rani menggeleng, matanya menatap tajam namun tampak lembut.
"Kenapa harus marah? Kita ke sini mau bahagia, kan? Sudah, Abi ganti baju dulu sana, baunya sudah nggak enak."
Yudiz merasa lega luar biasa, namun ia tidak menyadari bahwa di balik senyum itu, Rani sedang menyusun rencana.
Rani memperhatikan gerak-gerik suaminya, sementara tangannya diam-diam menyimpan nomor asing tadi.
Begitu suara gemericik air terdengar dari kamar mandi, wajah tenang Rani langsung berubah menjadi dingin dan penuh amarah.
Ia menyambar kunci kamar dan melangkah cepat menuju lobi. Instingnya mengatakan bahwa wanita itu bukan sekadar jatuh secara tidak sengaja.
Sesampainya di lobi, ia melihat resepsionis tadi sedang tertawa kecil sambil merapikan riasannya.
Tanpa basa-basi, Rani meloncati pembatas meja kayu dan langsung menjambak rambut wanita itu dengan kuat.
"Aduh! Sakit! Siapa kamu?!" teriak wanita itu histeris.
"Kamu tanya siapa aku?! Aku istri pria yang tadi kamu peluk-peluk sampai lipstik murahanmu itu menempel di bajunya!" bentak Rani dengan mata berapi-api.
"Jangan pikir karena aku sedang sakit, kamu bisa menggoda suamiku!"
Suasana lobi seketika riuh. Para tamu lain mulai menonton.
Wanita itu berusaha melepaskan diri, namun tenaga Rani yang emosi jauh lebih kuat.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan setelan rapi datang berlari.
"Ibu, tolong lepaskan! Tenang, Ibu!" ucap sang Manager villa sambil mencoba melerai tangan Rani. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik, jangan ada kekerasan."
Rani akhirnya melepaskan jambakannya setelah ditarik oleh Manager, namun napasnya masih memburu.
Wanita resepsionis itu menangis ketakutan di sudut meja.
"Bicarakan baik-baik? Staf Anda sudah tidak sopan kepada suami saya!" teriak Rani kepada Manager.
Di saat yang sama, Yudiz yang baru selesai mandi dan mendapati Rani tidak ada di kamar, langsung berlari ke lobi hanya dengan mengenakan kaos oblong dan celana santai.
Ia tertegun, jantungnya seolah berhenti melihat istrinya berdiri di tengah kerumunan bersama Manager villa dengan rambut yang sedikit acak-acakkan.
"Rani?! Apa yang terjadi di sini?" tanya Yudiz dengan wajah pucat pasi.
Rani menoleh ke arah Yudiz, matanya berkaca-kaca namun penuh kemenangan.
"Tanya saja pada staf kesayanganmu ini, Bi. Dan jangan harap aku percaya kalau ini cuma kejadian 'tidak sengaja' lagi."
Sang Manager menatap Yudiz dengan serius.
"Pak Yudiz, sepertinya ada kesalahpahaman besar. Mari kita bicara di kantor saya agar tidak mengganggu tamu lain."
Yudiz segera menghampiri Rani, mengabaikan tatapan penasaran orang-orang di lobi.
Ia merangkul bahu istrinya yang masih gemetar karena emosi, mencoba menyalurkan ketenangan melalui sentuhannya.
"Rani, sudah Ayo kita kembali ke kamar," bisik Yudiz lembut sambil menatap Manager dengan isyarat agar mereka diberi waktu.
Yudiz menuntun Rani kembali ke dalam villa. Begitu pintu tertutup, Rani langsung melepaskan rangkulan Yudiz dan duduk di kursi kayu dengan napas yang masih tersenggal.
Amarahnya perlahan luruh, berganti dengan rasa sesak yang menghimpit dada.
Yudiz berlutut di depan istrinya, menggenggam kedua tangan Rani yang terasa dingin.
Ia menatap lurus ke dalam mata Rani yang mulai basah oleh air mata.
"Sayang, dengarkan aku. Demi Allah, aku tidak ada niat sedikit pun untuk berpaling. Kejadian tadi benar-benar di luar kendaliku. Dia jatuh, dan aku refleks menangkapnya. Aku bahkan tidak sadar ada noda lipstik itu sampai kamu bersikap aneh tadi," ucap Yudiz dengan suara bergetar penuh kejujuran.
Rani menunduk, air matanya jatuh mengenai tangan Yudiz.
"Tapi ada yang mengirimkan foto itu, Bi. Ada orang yang mengawasi kita. Aku takut..."
Yudiz tertegun mendengar soal foto itu, namun ia segera menarik Rani ke dalam pelukannya.
Ia mendekap kepala istrinya erat, mencium puncak kepalanya berkali-kali.
"Aku tidak tahu siapa yang mencoba merusak kita, tapi aku janji akan mencari tahu. Yang harus kamu tahu sekarang cuma satu: di hatiku tidak ada tempat untuk wanita lain. Aku hanya mencintaimu, Sayang. Hanya kamu," bisik Yudiz dengan nada sangat dalam.
Rani terisak di dada Yudiz, merasakan detak jantung suaminya yang berdegup kencang—tanda bahwa pria itu juga merasa takut kehilangan dirinya.
"Maafin aku sudah mempermalukan kamu di lobi, Bi," gumam Rani pelan.
"Nggak apa-apa. Itu bukti kalau kamu sayang sama aku. Tapi sekarang, kita harus lebih waspada. Ada seseorang yang mengikuti kita sampai ke sini," sahut Yudiz dengan tatapan yang berubah tajam ke arah pintu kamar.
Yudiz mulai menyadari bahwa ini bukan sekadar insiden kecil, melainkan rencana terencana.
ada org kyk gtu bergelar seorg ibu tp kelakuannya buruk mnding rani walau dianggep liar tp gk jht, ini udh ngncurin rmh tangga anaknya, menantu nya dibikin jiwanya terpuruk /Grimace/