Apakah persahabatan laki-laki dan perempuan itu ada? Apa akan semurni persahabatan sesama perempuan? Bagaimana kalau setiap persahabatan yang ditawarkan memiliki tujuan terselubung demi kebaikan diri sendiri? Apakah Kamidia mampu menebarkan kehangatan hatinya pada setiap orang yang telah memanfaatkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kata orang, khilaf berbuat jahat masih bisa dirubah namun watak tidak bisa diubah. Begitulah yang Ami pikirkan tentang Bagas. Selamanya watak Bagas tak akan pernah bisa berubah.
Ami mengembangkan senyumnya, teringat perkataan Ningrum. Memang perkataannya banyak benarnya. Ia memang yang suka duluan dengan Bagas. Maka Ia juga yang harus mengakhiri rasa sukanya tersebut pada Bagas. Ami menyadari perbedaan tipis antara rasa suka dan iba yang Ia miliki.
"Mau sama ibu-ibu punya anak 2? Tuh SPG susu balita banyak. Kece-kece lagi." Ami tersenyum jahil.
Bagas langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Gak Mi. Kapok sama istri orang. Maunya yang single aja sekarang."
"Makanya jangan kecentilan. Nyari yang bening melulu. Lo pernah mikir gak sih Gas? Lo emang masih muda, masih ganteng, banyak yang suka. Lo bisa dapetin cewek cantik manapun yang lo mau. Terus memangnya lo gak bakalan tua? Gak bakalan keriput? Dan cewek cantik yang lo dapetin juga akan menua bareng sama lo. Kalo Dia udah gak cantik apa lo masih mau sama Dia?" Ami menggunakan perkataan yang kemarin Ningrum katakan padanya untuk menasehati Bagas.
"Ya nanti cari lagi yang cantik lagi, gampang." jawab Bagas seenaknya. Memang begitulah sifatnya, seenaknya dan susah diubah.
"Ya semoga aja dapet ya. Apa yang cantik itu akan ngurusin lo saat lo tua dan sakit-sakitan nanti?" Ami melipat kedua tangannya di dada. Ia melihat keadaan sekitar takut ada supervisor yang datang dan melihatnya hanya ngobrol dan tidak kerja. Untunglah store sedang sepi jadi Ia bisa meneruskan obrolannya dengan Bagas tanpa khawatir ada yang mengomelinya.
Bagas tersenyum lagi. Ia berjalan mendekati Ami dan mendorong trolly belanjaannya. "Kan dulu gue pernah bilang sama lo, Mi. Kalo gak ada satupun yang cocok untuk gue nikahin, ya gue bakal nikahin lo. Lo juga sama, kalo lo ngerasa gak ada yang cocok untuk jadi suami lo, tinggal bilang sama gue dan kita merried. Dari SMP sampai sekarang perkataan gue gak pernah berubah."
Kali ini Ami yang akan tersenyum sinis. "Emangnya gue bakal mau sama lo?"
"Ya pasti mau lah. Kurang apa coba gue? Ganteng, banyak yang suka, ditambah sekarang gue udah punya pekerjaan tetap. Ya kan?" ujar Bagas dengan penuh percaya diri.
"Maaf Gas, kayaknya lo salah paham deh sama gue. Kita cuma sahabatan, gak lebih. Lagi juga gue gak mau sama lo yang suka gonta-ganti pasangan sesering lo gonta-ganti jaket."
"Lah kenapa enggak? Gue sehat Mi. Gue sering periksa ke dokter kok. Gue gak ada penyakit kelamin apapun. Dan masalah kita sahabat, kan gak ada larangan sahabat nikahin sahabatnya." Bagas mulai agak terpancing emosinya mendengar perkataan Ami.
"Tapi gue gak mau nyerahin keperawanan yang udah gue jaga seumur hidup gue dengan cowok yang udah sering berhubungan dengan banyak cewek." jawab Ami tegas.
"Justru itu yang gue mau Mi. Keteguhan lo. Gue tau lo masih perawan sampai sekarang. Lo pacaran sama orang juga sebatas pegangan tangan sama cium bibir aja, gak lebih. Sebrengsek-brengseknya gue, gue akan pilih istri yang baik yang akan jadi ibu anak-anak gue kelak." Bagas menatap mata Ami yang sekarang sudah membuang pandangannya dengan kemarahan di dadanya.
"Gue balik sekarang. Sorry gue gak nungguin lo pulang. Gue masuk shift malem tapi gue sempet-sempetin buat nemuin lo. Bukannya seneng, gue malah dapet ceramahan panjang lebar. Lo tau siapa gue. Lo tau sifat gue kayak gimana. Gue akan berubah jadi lebih baik, tapi perlahan Mi. Dan gue harap lo tetep ada di sisi gue saat gue udah berubah lebih baik lagi."
Bagas lalu meninggalkan lorong tempat Ami kerja. Wajahnya kesal. Emosi. Kedatangannya terasa sia-sia. Padahal Ia dateng hendak menemui Ami karena Ia kangen dengan sahabatnya yang satu itu. Ia kangen nongkrong bareng dan main time zone bareng lagi.
Seharusnya Ia masih tidur di rumah, menyiapkan fisik untuk kerja shift malam agar tidak ngantuk. Ia bela-belain mendatangi Ami tapi hanya ceramah yang Ia dapat.
Tanpa Ami tau, perlahan Ia mulai berubah. Sejak Ia kerja, tak ada waktu untuk jadi playboy seperti biasanya. Kelihatannya saja Ia enak, motor baru beli cash, sepatu dan jaket serta helm branded semua. Bahkan Ami pun gak tau kalau Ia hanya punya waktu libur 1 hari saja dalam seminggu.
Kerjaannya gila-gilaan. Kerja di pabrik otomotif dengan upah lemburan yang lumayan besar membuatnya rajin kerja lembur. Pulang kerja hanya tidur saja lalu kerja lagi. Begitu terus setiap harinya.
Kadang Ia terlalu lelah untuk mandi. Ia mau curhat sama Ami tapi untuk apa? Ia tak mau Ami cemas. Ia tau sahabatnya itu seperti layaknya ibu dan istri baginya. Cerewet dan cemas akan keadaannya.
Jika Ami tahu kalau Bagas menghabiskan waktunya selama ini dengan bekerja maka Ia akan mengomel lebih panjang lebar lagi. Mau bagaimana lagi? Usaha dagang kakaknya sudah sepi sejak pembangunan pasar baru, kiosnya yang letaknya agak dibelakang mulai sepi pengunjung.
Kakaknya sudah susah memberinya uang saku. Apalagi sejak kakaknya menikah dan punya istri. Ia harus hidup dengan kedua kakinya sendiri. Ia juga sekarang tinggal sendiri di sebuah kontrakkan kecil.
Bagas tetep punya pacar tapi hanya pacar di tempat kerja saja. Pacaran saat jam istirahat saja, tidak melewati batas lagi seperti yang Ami pikirkan. Tapi memang kadang kalau image seseorang rusak maka selamanya akan dianggap rusak.
Bagas menuju kasir dan membayar belanjaannya. Ia melihat cokelat silverqueen rasa kacang mede kesukaan Ami. Ia sengaja membelinya dua buah untuk Ami. Ditaruhnya kembali cokelat tersebut, untuk apa? Toh Ia akan sibuk kerja dan kalau ia simpan tidak akan termakan. Ia tidak begitu suka cokelat.
Bagas membayar belanjaannya lalu bergegas pulang. Ia harus mengejar bis jemputan untuk menuju pabrik tempatnya bekerja. Jika telat maka Ia harus menunggu bis jemputan berikutnya yang berarti Ia akan telat masuk kerja.
Biarlah kemarahan Ami mereda dulu baru Ia akan muncul lagi di hadapan Ami. Toh bagi Bagas hanya Ami pelabuhan terakhir hatinya. Hanya Ami yang akan membuatnya berhenti menjadi playboy dan hidup benar.
Bagas sadar, Ia hanya tamatan SMA dan tidak lanjut kuliah seperti Ami. Uang darimana untuk kuliah? Untuk makan sehari-hari saja sulit. Ia harus bekerja, namun Ia berjanji pada dirinya sendiri kalau Ia akan bekerja dengan rajin dan giat. Agar Ia bisa menafkahi keluarganya kelak.
Bagas tidak mau sembarangan mencari istri. Ia tidak mau rumah tangganya hancur berantakan. Hidup sebagai anak yatim piatu tanpa mengenal cinta kedua orangtuanya membuatnya sadar bahwa peran kedua orang tua penting. Untuk itulah Ia masih selektif dalam memilih pasangan. Ia takut jika Ia memacari Ami maka Ia justru akan merusak sesuatu yang Ami jaga selama ini jika Ia khilaf dan tak bisa menahan nafsunya. Dengan bersahabat maka Ia bisa terus disisi Ami dan menjaganya dari sifat jahat dirinya sendiri.
awas, nti aku hrs dpt royalti loh thor 😁😁