NovelToon NovelToon
Silent Trauma —Another Me

Silent Trauma —Another Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Tamat
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Vey

[SEDANG HIATUS!]


Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.

Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.

Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.

Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?

Simak ceritanya di sini.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Diana terhuyung. Pijakannya di tepi balkon seolah melenyap saat mata hazel di bawah sana menatapnya. Tajam, dalam, dan tidak bergetar barang seinci pun. Gelas anggur di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai. Suara kaca pecah itu tersamarkan oleh riuh rendah pesta di atas karpet beludru yang tebal.

Dia mencengkeram mulutnya, menahan rasa mual yang mendadak naik ke kerongkongan. Kepalanya mendadak terasa seberat timah. Peluh dingin meluncur dari dahi, membasahi wajahnya yang pucat pasi.

"Sakit... tidak... aku tidak tahu, aku tidak tahu apa-apa!" gumamnya parau, hampir berteriak.

Air mata luruh deras, mengalir membasahi pipi. Dia meremas kepalanya sekuat tenaga, seolah ingin menghancurkan ingatan yang berusaha merangkak keluar. Dan akhirnya, pertahanannya runtuh. Kakinya lemas, membiarkan tubuhnya jatuh berdebam di atas lantai.

Hening sejenak.

Beberapa detik kemudian, tubuh yang semula menggigil itu mendadak rileks. Wanita itu kembali bangun dengan gerakan yang terlalu tenang. Dia duduk di atas karpet, air mata masih mengalir di pipinya, namun wajahnya kini kosong. Tanpa ekspresi. Hanya ada satu dorongan di benaknya: menjauh.

Dia melangkah pergi sembari menyeka sisa air mata dengan punggung tangan. Heels hitamnya menginjak pecahan gelas, menciptakan bunyi gemeretak yang kasar, namun dia tidak peduli. Langkahnya membawanya ke meja anggur di sudut ruangan, tempat paling gelap yang luput dari pandangan tamu-tamu terhormat.

Dengan gerakan pasti, tangannya meraih gelas pertama. Ditegaknya isinya dalam sekali teguk. Gelas kedua, ketiga, hingga kelima menyusul dalam hitungan menit. Tepat saat dia meraih gelas berikutnya, sebuah suara memutus ritualnya.

"Diana? Kau baik-baik saja?"

Wanita itu menoleh pelan. Kepalanya miring ke samping, matanya menyipit seolah sedang memindai antara kawan atau lawan.

"Diana, cukup. Kau sudah mabuk," Gavin menarik gelas itu, meletakkannya kembali ke meja.

Dia mengerjap. "Tuan Gavin?"

"Ya, ini aku. Ayo, aku antar kau pulang." Gavin meraih lengannya, namun segera ditepis dengan sentakan kasar.

"Tidak. Tuan Gavin. Berhenti. Cukup sampai di sini," ucapnya dingin.

Gavin tertegun. Atmosfer di sekitar wanita itu mendadak berubah, lebih dingin dari embusan pendingin ruangan di aula ini. "Diana? Apa maksudmu?"

"Semua perhatianmu," suaranya tajam, menusuk tepat di ulu hati Gavin. "Aku tahu kau menyukaiku, Tuan Gavin. Tapi maaf, kau hanya teman. Tidak lebih. Jadi, tolong hargai aku."

"A-aku... Diana, kau harus dengar dulu—"

Wanita itu berbalik, memberikan punggungnya yang kaku pada Gavin.

"Hanya teman," ucapnya mutlak sebelum melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Gavin yang mematung menatap karpet.

 

Di sisi lain ruangan, Rylan yang sedang dikelilingi mitra bisnis menangkap siluet yang sangat dia kenal.

"Terima kasih atas waktu kalian. Tapi maaf, saya harus pergi," Rylan tersenyum sopan, lalu segera membelah kerumunan menuju meja anggur.

"Diana, apa yang kau lakukan?" bisik Rylan, mencekal tangan wanita itu sebelum gelas anggur kembali menyentuh bibirnya.

Wanita itu menoleh. Dalam satu tatapan, Rylan tahu. Dia mengenal sorot mata ini. Dingin, liar, dan tak tersentuh.

"Xena, berhenti. Ada apa denganmu?"

Xena tidak menjawab. Dia hanya menatap cairan merah yang berkilat di dalam gelasnya. "Rylan, jangan mengganggu. Aku sedang menikmati pesta," ucapnya datar, nyaris tanpa intonasi.

Rylan menelan ludah kasar. Dia memijat pelipisnya sejenak, lalu dengan enggan memberikan gelas itu kembali. Satu tegukan mengalir masuk ke tenggorokan Xena. Dia menyeringai, melirik Rylan yang masih terpaku.

"Kau gila, Xena. Kontrol ekspresimu," bisik Rylan pelan, berusaha meredam detak jantungnya yang mulai tak beraturan.

Xena tertawa kecil, suara yang terdengar merdu sekaligus berbahaya. "Kenapa memangnya?"

Gadis gila, batin Rylan. Dia jelas sedang tidak baik-baik saja, namun masih sempat-sempatnya menggoda.

Rylan akhirnya memilih berdiri di sampingnya, ikut meraih gelas dan menemani Xena dalam diam.

"Aku akan berkeliling lagi. Ingat batasmu, Xena," pesan Rylan sebelum akhirnya melangkah pergi, meski hatinya diliputi rasa khawatir.

Tak lama berselang, seorang pria tak dikenal mendekati Xena. Mode waspada Xena langsung aktif.

"Halo, Nona. Sedang sendirian?" bisik pria itu di dekat telinganya. "Mau Kakak temani?"

Xena tidak menjauh, dia justru menyeringai. Jari telunjuknya menunjuk ke arah kamera CCTV di sudut langit-langit, lalu bibirnya bergerak perlahan. "Tuan, aku yakin kau tidak mau bermasalah dengan Lion Group. Aku wakil direkturnya."

Pria itu mencibir, wajahnya memucat sebelum akhirnya memutar arah dan menghilang di antara kerumunan.

Ekspresi Xena kembali mendingin. Dia menegak gelas anggur berikutnya, namun sebuah pikiran melintas, membuat genggamannya pada gelas mengeras.

"Kenapa bajingan itu bisa ada di sini? Seharusnya tidak. Ada seseorang di belakangnya," gumamnya sangat rendah. "Tapi dia sudah melihatku. Dia pasti akan bertindak."

Xena memegangi kepalanya yang mulai berdenyut hebat. Rasa pening mulai mengaburkan pandangannya. Dia melangkah menuju lantai dua, bersandar pada dinding di lorong yang sepi. Di sanalah, dalam kesendirian, air matanya kembali mengalir pelan.

Pesta mendekati ujungnya. Lumina Grand Hall mulai sunyi. Sebuah tangan hangat meraih bahunya.

"Xena, sudah kubilang tadi. Ingat batasmu."

Seolah mendapatkan jangkar, Xena menghambur masuk ke dalam pelukan Rylan. Rylan membeku, mencerna situasi yang tak terduga ini.

"Xena? Ada apa?" tanya Rylan heran. Xena hanya bisa terisak, membenamkan wajahnya di dada pria itu. Rylan akhirnya diam, hanya menepuk-nepuk punggungnya pelan, memberikan waktu.

Lima menit berlalu. Isakan itu mereda. Xena mengangkat kepalanya, matanya merah dan bengkak, cahayanya redup. "Rylan... tolong bawa aku pulang," pintanya lirih.

"Tentu saja."

 

Di dalam mobil, suasana sunyi menyelimuti mereka. "Xena, boleh aku bertanya?" tanya Rylan sambil memutar kemudi.

"Hmm."

"Kenapa kau merasa nyaman denganku? Padahal malam itu, aku..." Rylan menggantung kalimatnya.

"Mungkin karena Agensi Hibrida?" jawab Xena pelan. "Vicarious sekaligus Proxy Agency. Kurasa itu."

Rylan mengangguk, tidak ingin mendesak lebih jauh. Tak lama kemudian, suara napas yang teratur terdengar. Xena sudah tertidur pulas. Rylan menghela napas, teringat percakapan singkat dengan orang tuanya di pesta tadi, tentang "gadis baik" yang membantu mereka karena undangan yang tertinggal.

"Tunggu," gumam Rylan pelan. "Aku lupa menanyakan alamat rumahnya."

Dia melirik Xena, dilema antara membangunkannya atau tidak. Akhirnya, Rylan menginjak gas lebih dalam. "Karena aku tidak tahu rumahmu, aku membawamu ke tempatku. Maaf."

Rylan menggendong tubuh mungil itu menuju ruang pribadinya di lantai teratas perusahaan. Dia membaringkan Xena di ranjangnya, satu-satunya tempat paling pribadi miliknya.

"Tidur sepuasmu," bisik Rylan, hendak berbalik pergi.

"Tidak... jangan..." suara Xena terdengar sangat kecil. Tangannya mencengkeram kuat jemari Rylan.

"Xena, ada apa?" Rylan mendekat, menyadari bahwa meski matanya terpejam, air mata kembali mengalir.

"Jangan... jangan pukul aku... akan kulakukan..." racau Xena. Cengkeramannya semakin kuat, kuku-kukunya meninggalkan bekas di kulit Rylan. "Paman... akan kulakukan, jangan marah..."

Rylan terperanjat. Mimpi buruk? Masa lalunya? Apa yang terjadi?

Namun sebelum Rylan sempat berpikir lebih jauh, Xena menarik tangan Rylan ke arah wajahnya. Dalam keadaan tak sadar, dia menggigit lembut jari Rylan, menghisapnya seolah itu adalah satu-satunya pegangan yang dia miliki di dunia ini.

Tubuh Rylan merinding hebat. Sensasi panas menjalar ke seluruh sarafnya. Gerakan Xena menjadi lebih liar, tak terkendali. Dia berusaha menarik tangannya, namun Xena menahannya.

"Paman, jangan pukul aku.. Kali ini kulakukan dengan baik." Rengekan kecil itu membuat Rylan frustrasi sekaligus tak berdaya menahan reaksi tubuhnya sendiri.

Akhirnya, Rylan menyerah. Dia terduduk di lantai di samping tempat tidur, membiarkan tangannya tetap dalam genggaman dan pelukan Xena. Perlahan, Rylan ikut terlelap di sana, menjaga gadis yang penuh dengan rahasia menyakitkan itu.

1
yrputri
direktur Katrina perlakuannya cukup dingin ya /Smile/
yrputri
bagus 🤭
Risa Virgo Always Beau
Rylan kamu perhatian banget sama Diana deh
Risa Virgo Always Beau
Calantha itu nempel terus sama Rylan
Risa Virgo Always Beau
Rylan ternyata tipe orang yang tegas bahkan mengamati beberapa orang
Risa Virgo Always Beau
Rylan sangat membenci Calantha karena menduga Calantha yang memberi obat perangsang untuk dirinya
Risa Virgo Always Beau
Rylan di jebak obat perangsang ya sampai memaksa Xena melakukan hubungan layaknya suami istri
Risa Virgo Always Beau
Diana apa punya penyakit amnesia ya
Nuri_cha
aku kasih tahu ya Diana, kamu akan kecewa dengan calantha
Nuri_cha
rencana busukmu itu udah gagal Calantha 😐
Nuri_cha
nyata... Xena sudah mengambil alih tubuhmu Di
Xlyzy
Ini Bukan Diana deh ini kepribadian Lain nya dari diana
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
buset pertanyaannya. bisa ga usah curigaan ga? 🫵
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
ga usah diceritain. ga usah 😑
Three Flowers
Rylan gak tertarik sama kamu meski suci, karena hatimu jelas gak suci.. apalagi sekarang, dobel gak sucinya..
PrettyDuck
perlu banget. bahaya banget loh penyakitmu itu.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖
Three Flowers
nonton bokep versi mereka sendiri dong?😂
Three Flowers
hehehe... lucu sekali kalimat nya🤣
PrettyDuck
maap tapi aku ketawa 🥲
PrettyDuck
dia yg buat ulah dia yg dendam /Sweat/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!