Aruna gadis sederhana dari keluarga biasa mendadak harus menikah dengan pria yang tak pernah ia kenal.
Karena kesalahan informasi dari temannya ia harus bertemu dengan Raka yang akan melangsungkan pernikahannya dengan sang kekasih tetapi karena kekasih Raka yang ditunggu tak kunjung datang keluarga Raka mendesak Aruna untuk menjadi pengganti pengantin wanitanya. Aruna tak bisa untuk menolak dan kabur dari tempat tersebut karena kedua orang tuanya pun merestui pernikahan mereka berdua. Aruna tak menyangka ia bisa menjadi istri seorang Raka yang ternyata seorang Ceo sebuah perusahaan besar dan ternama.
Bagaimana kehidupan mereka berdua setelah menjalani pernikahan mendadak ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Seorang sosok tinggi, berpakaian rapi, melangkah masuk dengan tenang. Sepatu menggesek lantai sebentar, lalu ia berjalan mantap menuju kasir tempat Nawa berada.
Nawa menatapnya sejenak, merasa pernah bertemu dengannya.
"Permisi.."
Nawa tertegun, matanya membeku ketika sosok seorang lelaki tampan berdiri tepat di hadapannya.
"Ya Tuhan… tampan sekali," batin Nawa, matanya tak kuasa beralih dari sosok itu. "Tunggu, bukannya ini lelaki malam itu.." tambahnya di dalam hati.
Reno melambaikan tangan saat melihat Nawa hanya diam saja. ia berdehem, "Ehem.. permisi..." Ulangnya.
Nawa pun tersadar ketika lelaki itu berdehem pelan. Ia tersenyum kecil, namun tatapannya masih enggan berpaling darinya.
"Mas cheese cake ?!" Seru Nawa, membuat Reno mengerutkan dahi menatapnya.
"Iya.. Ini Mas Cheese Cake malam itu kan. Wah, selamat siang Mas. Apa mau beli cheese cake lagi ?" tanya Nawa dengan riangnya.
"Tidak. Kali ini saya mau black forest saja."
Nawa menyiapkan kue pesanan Reno, mengambilnya dari etalase lalu membungkusnya dengan rapi. Sesekali ia melirik ke arah Reno yang tampak sibuk menatap layar ponselnya dengan wajah datar.
"Ck. Cuek banget, untung aja tampan." Gumam Nawa lirih.
"Ini Mas pesanannya. Oh iya... maaf, kalau waktu malam itu rasa kuenya kurang pas. Soalnya chef profesionalnya lagi cuti. Lagian buru-buru juga kan udah mau pulang. Eh Mas nya malah maksa." cerocos Nawa saat memberikan bungkusan kue pada Reno.
Reno mengangguk, "Tak apa. makasih." ucapnya lalu melangkah pergi keluar toko. Membuat Nawa hanya menatapnya cengo.
"Wah.. Udah gitu doang. Nggak ada basa basi nya gitu ? Ck.. nggak ada gunanya juga gue tadi nyerocos kaya begitu." Nawa menghela nafasnya, kembali melanjutkan pekerjaannya.
* *
Raka menghentikan mobilnya perlahan, lalu menoleh. Tatapannya melembut saat melihat Aruna masih terlelap di kursi sebelahnya. Ada rasa hangat yang menjalari dadanya, seakan waktu ikut berhenti hanya untuk membiarkannya menatap wajah tenang itu sedikit lebih lama.
Perlahan, tangan Raka terulur, menyibakkan sehelai rambut yang jatuh menutupi wajah Aruna. Gerakannya begitu lembut, seakan tak ingin mengganggu tidurnya. Senyum tipis terukir di bibir Raka.
Aruna perlahan tersadar saat merasakan sesuatu mengganggu tidurnya. Raka cepat-cepat menarik tangannya, mencoba menenangkan diri sambil mengatur ekspresi wajahnya agar tak terlihat gugup.
"Udah sampai ya.. Ini dimana ?" Aruna mengerjap pelan melihat sekitar.
"Butik. Ayo turun." balas Raka lalu turun dari mobil
Melihat Raka sudah keluar dari mobil, ia pun menyusulnya. Mengikuti Raka dari belakang sembari menatap ke sebuah butik mewah di depannya.
"Ngapain kita kesini ?"
"Udah masuk saja, kamu akan tahu setelah masuk." Raka membuka pintu, dan menyuruh Aruna untuk masuk lebih dulu.
Aruna menatap sekeliling butik dengan mulut sedikit terbuka. Dari luar sudah terlihat mewah, tapi saat ia melangkah masuk, rasa kagumnya memuncak—interiornya luas, lampu kristal berkilau, dan deretan gaun yang tertata rapi membuatnya terpana.
Aruna perlahan meraih salah satu gaun, menyentuh kainnya yang halus. Rasanya lembut di ujung jarinya, membuatnya semakin kagum pada kualitas dan keindahan gaun itu.
"Selamat Siang, selamat datang di butik kami." seru seorang wanita cantik dari dalam, membuat Aruna menurunkan tangannya.
"Mari Tuan Muda, saya sudah siapkan semua yang Tuan Muda butuhkan di dalam. Mari Nona."
Mereka mengikuti langkah pemilik butik. Begitu masuk, Aruna tertegun melihat beberapa gaun yang sudah tertata rapi, seolah menantinya untuk dicoba.
"Mari Nona.. Bisa dicoba satu persatu gaunnya." ucap pemilik butik lembut
Aruna melirik Raka, "Tunggu dulu.. Ini ngapain juga tiba-tiba kamu ajak aku untuk mencoba gaun segala."
"Nanti malam kamu ikut saya ke pesta ulang tahun pernikahan Tuan Johanes, beliau salah satu rekan bisnis terbesar saya. Jadi saya meminta kamu menemani saya datang ke pesta itu."
"Nggak.. aku nggak mau. Kenapa nggak datang sama Papa aja."
"Ya nggak bisa Aruna. Beliau meminta saya bawa istri, masa bawa Papa. Ada-ada saja kamu ini."
"Tapi.. "
"Udah, sekarang kamu masuk. Habis ini juga kita masih ke salon buat make over." Raka dengan cepat mendorong tubuh Aruna untuk masuk ke dalam ruang ganti.
Setelah Aruna menemukan gaun yang sempurna, mereka pun meninggalkan butik dan melangkah menuju salon, siap memulai sesi makeover yang akan menyempurnakan penampilan Aruna.
"Harus banget yah ke salon ? Aku bisa kok make up sendiri."
"Nggak usah protes. masuk."
Aruna berjalan masuk ke dalam salon, menurut saja apa kata Raka.
"Selamat Sore Tuan Muda"
Raka mengagguk, "Buat dia secantik mungkin. Tetapi saya tidak suka yang berlebihan."
"Baik Tuan."
* *
Aruna melangkah keluar, mendekati Raka dengan anggun. Gaun malam merah marun yang panjang membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna, dihiasi payet halus di bahu dan pinggang yang menambah kesan elegan. Riasan wajahnya cantik tanpa berlebihan, rambutnya digerai dengan kerling lembut di bagian bawah, membuat penampilannya berbeda dan memikat.
Sedangkan Raka berdiri di depannya sedang memainkan ponsel ditangannya, ia mengenakan tuxedo hitam slim fit dengan dasi kupu-kupu dan sepatu kulit hitam yang mengilap membuat ketampanannya semakin bertambah.
Saat terdengar langkah kaki mendekat, Raka mendongak. Seketika ia terpaku, matanya terbelalak menatap Aruna dengan penampilan yang begitu berbeda dari biasanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, kagum sekaligus terpesona.
Cantik.
Ditatap dengan pandangan yang intens, Aruna salah tingkah dan langkahnya goyah. Nyaris jatuh, ia terhenti di tangan Raka yang segera menangkapnya. Dalam genggaman itu, kehangatan Raka membuat Aruna sedikit tenang, meski hatinya masih berdebar.
"Kamu baik-baik saja ?". tanya Raka
"Iya nggak apa-apa, cuma nggak terbiasa aja pakai hells. Jadinya oleng deh tadi." balas Aruna dengan senyum canggung.
Raka meraih tangan Aruna dengan lembut, lalu menggandengnya. Aruna tersentak sejenak, hatinya berdebar, namun tak menolak genggaman hangat itu.
"Jangan di lepas. Nanti kamu terjatuh lagi." lirih Raka, sempurna membuat rona merah di pipi Aruna.
"Jantung gue.. Tolong.." teriak Aruna dalam hatinya.
Di dalam mobil, Raka sempat melirik Aruna. Gadis itu terlihat gugup dan diam sejak tadi, membuat Raka merasa sedikit khawatir.
"Kamu kenapa, gugup gitu ?"
"Si-siapa yang gugup."
"Itu mukanya kenapa merah ?" Aruna reflek memegang pipinya, lalu menurunkannya kembali.
"Ya..gerah aja, ini masih lama sampainya ?" tanya Aruna mengganti topik.
"Sebentar lagi.."
Tiba-tiba ponsel Raka berdering. Dengan cepat Raka mengangkat telfonnya.
"Iya Oma, ada apa ?"
"Aruna sama Raka. Kita mau ke pesta Tuan Johanes. Kalian makan malam saja, nggak usah menunggu kita."
"Iya. Raka pasti jagain Aruna."
Setelah itu panggilan berakhir.
"Kenapa Oma ?"
Raka mendengus, "Biasa posesifnya kumat lagi."
Aruna mengernyit heran, "Namanya juga orang tua, khawatir itu wajar kok."
"Wah.. Ini rumahnya ? besar banget kaya istana ?" Aruna menatap kagum saat mobil melewati pintu gerbang.
Mereka sampai di depan rumah, terlihat tamu-tamu sudah saling berdatangan memasuki rumah.
"Aruna. Ingat, Jangan jauh-jauh dari saya! Kamu harus selalu di dekat saya." ucap Raka sebelum mereka keluar dari dalam mobil.
"Iya. Iya, bawel." balasnya.
Mereka pun keluar dari dalam mobil. Aruna dan Raka berjalan berdampingan, tangan Aruna menggandeng tangan Raka. Ia benar-benar gugup saat memasuki pintu masuk rumah. Sungguh, ia baru pertama kali datang ke pesta seperti ini. Dan pastinya isinya orang-orang yang berduit semua.
"Wah.. Ternyata lo datang juga. Cewek kaya lo itu nggak pantas ada di pesta seperti ini!."
* * * *
selesai kan lah masalh yang pertama duluu,biar orang tidak bosan dengan alur yang malah campuo🤣🤣
moga aja polisi cpet nangkep tuh sundel biar cpet masuk jeruji besinya 😡😡