gak pandai bikin deskripsi, langsung baca aja yah :)
semoga suka, jangan lupa untuk kasih like di setiap chapternya :)
Gavin Nikola Wijaya (17 tahun)
Nayara Samira Abyasa (17 tahun)
ig : a.mtmna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andi mutmainna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•34•
--
"Anterin aku ke rumah Riana aja Bim!" pinta Naya yang saat ini sudah berada di mobil Bima.
"Oke"
Hening..
Mobil Bima melaju dengan sangat cepat, dia menelusuri jalanan yang sudah sangat sepi, maklum saat ini sudah jam dua subuh. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Bima sampai di rumah Riana.
"Makasih yah Bim" ucap Naya dengan nada lemahnya.
"Iyah santai aja"
"Nay.." panggil Bima membuat Naya kembali menoleh.
"Gue saranin lo dengerin penjelasan Gavin dulu soal yang tadi. Gue yakin tadi Gavin ga sadar dengan perbuatan nya" sambung Bima.
Naya hanya membalas dengan senyumannya, dia tahu Gavin tadi sedang mabuk tapi tetap saja hatinya merasa sakit. Kenapa harus Luna yang datang, kenapa Gavin tidak memanggilnya jika dia membutuhkan seseorang.
"Gue pergi yah" pamit Bima menyadarkan Naya dari lamunanya.
"Iyah, hati-hati"
°°
Naya berjalan masuk ke pekarangan rumah Riana, dia mengetuk beberapa kali dan tak lama Riana sudah membukakan pintu untuknya. Sebelumnya Naya memang sempat menghubungi sahabatnya itu kalau dia akan datang.
Riana menatap kasihan pada Naya yang terlihat sedikit berantakan, mata sembab dan wajah yang memerah terukir jelas di wajah sahabatnya itu.
Riana langsung membawa Naya masuk ke kamarnya.
°°
Disisi lain Dean yang masih bersama Gavin dan Luna sudah terlihat sedikit kesal. Dia menarik Gavin keluar dari bar. Sejak kepergian Naya, Gavin tak berhenti bergumam asal membuat emosi Dean tersulut.
"Kalau lo cinta sama dia ngapain lo manggil cewe gila ini bego!!" sentak Dean dan langsung mendorong kasar tubuh Gavin, Luna yang masih berada disitu langsung membantu Gavin yang tersungkur ke tanah.
"Yan lo jangan salahin Gavin, dia emang manggil gue tapi dia mikirnya gue Laras!" pekik Luna membela Gavin.
"Halaah bacot lo, ngapain juga lo mau di panggil sama dia?! Andai lo bukan adek Laras dari dulu gue habisin juga lo" sarkas Dean.
"Naya gue mana Yan?!! Tadi gue denger suara dia" racau Gavin. Dean meremas rambutnya karena frustasi mendengar Gavin meminta Naya sedaritadi. Entah bagaimana caranya membuat Gavin sadar seratus persen.
"Naya gue mana woii!! Cukup Laras yang ninggalin gue, Naya jangan!!" teriak Gavin lagi membuat Dean emosi.
Dean menarik kerah baju Gavin, "Sadar begoo!! Naya udah ga ada disini, lo udah nyakitin dia. Dia udah pergi!!" sentak Dean.
"Bawa dia kesi--"
Bukkh..
Dean langsung meluncurkan pukulan nya ke wajah Gavin, dia kesal sendiri melihat Gavin yang terus berbicara tak jelas. Dia yang membuat Naya pergi dia pula yang meminta Naya kembali.
"Haahh sekarang lo udah sadar kan, sana cari Naya!!" ujar Dean setelah kehabisan tenaga memukul Gavin.
"Lo apa-apaan sih Yan, ke--"
"Diem lo, mending lo pulang sebelum Gavin sadar!" sentak Dean memotong ucapan Luna.
Luna yang menyadari dia sudah tidak di butuhkan lagi, langsung memilih beranjak pulang. Sepertinya keputusannya datang kesini memang salah besar.
°°
Paginya Gavin bangun dengan pandangan yang berputar, kepalanya pusing. Mungkin karena masih ada pengaruh dari alkohol yang dia minum semalam.
"Lah Bim? Kok lo ada disini?!" tanya Gavin saat melihat Bima tidur di sampingnya. Bima tak bergeming, dia tidak peduli dengan pertanyaan Gavin, dia sangat membutuhkan tidur saat ini.
Ceklek..
Dean baru keluar dari kamar mandi, dia melihat Gavin yang sudah duduk kebingungan di atas kasurnya, yaa dia membawa Gavin ke apartementnya.
"Udah sadar lo?!" sahut Dean seraya beranjak ke sofa yang juga berada di dalam kamarnya.
"Emang ada apa?!" tanya Gavin heran.
Dean menghela nafasnya, "Kalau lo mau tau sini gue ceritain!" tawar Dean seraya menyuruh Gavin duduk di sebelahnya. Dan tanpa basa-basi Gavin langsung beranjak dari kasur dan menghampiri Dean.
Dean menceritakan semuanya termasuk dirinya yang menghajar habis wajah tampan Gavin. Gavin yang mendengar itu langsung mengambil handphone Dean dan membuka fitur kamera untuk mengecek wajahnya.
"Gila lo Yan!! Lo punya dendam apa sama gue? Sampe pecah anjirr bibir gue" keluh Gavin.
"Ya salah sendiri ga mau sadar, jadinya gue emosi lah!"
"Daripada lo pusing sama muka lo, mending lo cari Naya dan minta maaf!" sambung Dean.
"Dia sekolah gak yah?!" tanya Gavin pada dirinya sendiri.
"Ya lo cek sendirilah bego!" celetuk Dean.
"Kayaknya gue ngeliat dia aja udah ga pantes dah, suami macam apa gue. Bukannya nyari istri sendiri malah manggil cewek lain haahh!" gumam Gavin yang sudah bersender di sandaran sofa.
"Makanya gue juga ga habis pikir sama lo semalem, lo ada apa sih sama Naya? Sampe mabuk-mabukan gitu. Terus pake acara manggil Luna lagi, gila lu" ujar Dean.
"Dia udah tau gue sama Luna pernah selingkuh di belakang Laras"
"Lah kok bisa?!"
"Gue yang ceritain!"
"Yaelahh bego lo udah ga ke tolong Vin, ngapain di ceritain?!"
"Ya karna gue rasa cepat atau lambat Naya juga bakal tau"
"Haah serah lo dah, idup lo rumit amat pusing gue" keluh Dean membuat Gavin terkekeh sesaat.
"Udah sana mandi, terus temuin Naya!" suruh Dean.
"Iyee iyeee! Bacot banget pagi-pagi"
"Eh betewe Naya di apart gue kan?!" tanya Gavin.
"Kagak, Bima nganterin dia ke rumah Riana. Lo kesana aja" balas Dean dan di angguki oleh Gavin.
°°
"Ngapain kamu kesini?!" tanya Riana dengan nada ketus.
Saat ini Gavin sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Riana menatap tajam pada Gavin, setelah Naya menceritakan semuanya dia juga ikut kesal dengan laki-laki yang berdiri di hadapannya ini.
"Gue cari Naya, istri gue" balas Gavin dengan nada datar.
"Ga bisa! Dia lagi istirahat, dia juga ga bakal mau ketemu kamu"
"Itu lo yang bilang kan, gue tau dia tetep butuh gue. Jadi biarin gue ketemu sama dia!"
"Ga bisa, Naya bahkan ga punya tenaga untuk ke sekolah gara-gara kamu Vin! Dan sekarang kamu malah mau ketemu dia, kamu mau liat dia tambah sakit??" sentak Riana, entah darimana dia mendapat keberanian membentak seorang Gavin Nikola.
"Dia sakit?!" tanya Gavin yang rautnya berubah khawatir.
"Iyah, dan itu gara-gara kamu! Aku aja ga tega ninggalin dia ke sekolah. Mending kamu pulang aja, kamu bakal buat dia makin sedih kalau kamu tetep maksa ketemu" ujar Riana kemudian ingin menutup pintu rumahnya.
"Tunggu Na!" tahan Gavin yang menahan pintu agar tidak tertutup.
"Gue janji ga bakal ganggu Naya, lo bilang dia lagi istirahat kan? Gue cuma mau liat kondisi dia, ga lebih" pinta Gavin.
Riana terlihat berpikir sebentar lalu kembali menatap Gavin yang terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya, dan akhirnya Riana memberi izin pada Gavin tapi hanya sekedar menjenguk tidak lebih.
Gavin mengikuti langkah Riana hingga masuk ke kamarnya, dia langsung melihat Naya yang terbaring lemah. Betapa jahatnya dia sudah membuat istrinya sendiri jadi seperti ini.
Gavin duduk di tepi kasur dan memandang wajah damai Naya yang sedang tertidur, ingin rasanya dia mendekap tubuh Naya, tapi tentu saja dia harus menahannya. Saat ini Gavin merasa tidak pantas, meskipun hanya untuk menyentuh istrinya sendiri.
•••
Naya sama Gavin nya di pisahin dulu yah hehe :D
like dan komen ♡♡♡