❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 - The Reason
Pagi itu seperti kemarin aku sudah berada di dalam mobil Javier.
Sesuai ucapannya kemarin, hari ini kami akan pergi ke makam mamanya.
Sebenarnya Javier tidak perlu membawaku ke sana. Toh kami akan bercerai pada akhirnya. Untuk apa memperkenalkan seseorang kepada mamanya kalau orang itu nantinya juga akan pergi dari hidupnya?
Kulirik Javier yang menyetir dengan tenang seperti biasa. Tidak ada raut sedih di wajahnya. Atau mungkin karena ini sudah menjadi rutinitasnya jadi ia terlihat biasa saja.
Entah kenapa tiba-tiba aku ingin tahu tentang mamanya.
“Mas...” panggilku pelan.
“Hmm...” gumam Javier tanpa menoleh.
“Boleh aku tahu... kenapa Mama kamu meninggal?” tanyaku hati-hati.
Javier langsung menoleh sekilas ke arahku dengan ekspresi sedikit terkejut.
Mungkin dia tidak menyangka aku akan menanyakan hal seperti itu.
“Kalau kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa,” ucapku cepat. “Aku tahu itu pasti berat.”
Javier terdiam sejenak sebelum kembali fokus ke jalanan.
Mobil kami dipenuhi keheningan beberapa detik.
Mungkin memang sulit baginya untuk membicarakan hal itu.
Aku pun kembali menatap keluar jendela dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
“Mama...” Javier akhirnya membuka suara.
Aku langsung menoleh kepadanya.
“Mama kena kista.”
“Kista?” ulangku pelan.
Javier mengangguk kecil.
“Mama udah bertahan lama. Tapi pada akhirnya Mama nggak kuat lagi.”
Aku langsung mengambil ponsel dan mencari tahu tentang kista di internet.
“Ihh... ngeri banget,” gumamku sambil membaca artikel yang muncul di layar. “Apalagi kalau yang kena ovarium terus rahimnya harus diangkat. Ihh... aku jadi takut. Naudzubillah.”
Aku spontan mengetuk-ngetukkan jari ke pintu mobil karena cemas sendiri.
Javier melirikku sekilas.
“Kenapa kamu jadi takut begitu?”
“Ya takut lah, Mas. Aku kan perempuan.” Aku langsung menoleh kepadanya. “Kalau ada apa-apa sama rahimku terus harus diangkat gimana masa depanku?”
“Masa depan kamu?” Javier terlihat bingung. “Maksudnya?”
“Punya anak, Mas.” Aku kembali melihat layar ponselku. “Katanya kan perempuan belum sempurna kalau belum melahirkan.”
Javier terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bicara.
“Menurutku perempuan yang nggak sempurna itu perempuan yang nggak bisa menempatkan dirinya sendiri.”
Aku langsung menoleh kepadanya.
“Dan nggak tahu cara menjaga dirinya,” lanjut Javier tenang. “Perempuan itu harus dihargai. Jadi dia juga harus tahu cara menghargai dirinya sendiri.”
“Maksud kamu perempuan itu harus lemah lembut dan feminim gitu?” tanyaku sambil menoleh kepadanya.
“Ya nggak juga.” Javier menggeleng pelan. “Maksudku perempuan yang tahu sopan santun, tahu situasi, dan bisa menghargai dirinya sendiri.”
Javier diam sejenak sebelum kembali melanjutkan.
“Menurutku perempuan itu berharga. Makanya aku nggak suka lihat perempuan yang sampai merendahkan dirinya sendiri.”
Aku menatap Javier beberapa detik.
“Yang kayak gitu mungkin terpaksa.”
“Kamu dukung perempuan kayak gitu?” Javier langsung menoleh sekilas kepadaku.
“Ya nggak.” Aku menggeleng cepat. “Tapi pasti mereka punya alasan sampai jadi begitu. Tuntutan ekonomi mungkin.”
“Berarti kalau kamu punya masalah ekonomi kamu bakal kayak gitu?”
“Ya nggak lah! Enak aja.” Aku langsung menatap tajam ke arahnya. “Aku nggak akan biarin siapa pun sentuh aku.”
“Siapa pun?” Javier menaikkan sebelah alisnya. “Termasuk suami kamu?”
Aku mendengus kecil.
“Kalau suamiku itu kamu, aku nggak akan biarin.”
Javier langsung terkekeh pelan.
“Terus suami yang kayak apa yang boleh sentuh kamu?”
Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.
“Yang mencintaiku.”
Javier menoleh sekilas kepadaku.
“Siapa yang mencintai kamu?”
Aku langsung salah tingkah sendiri.
“Ya nggak tahu.” Aku buru-buru memalingkan wajah ke jendela. “Udah ah, jangan banyak nanya.”
“Lah tadi kamu duluan yang nanya-nanya aku.”
Aku hanya menghela napas panjang lalu memilih diam sambil menatap jalanan di luar.
Beberapa menit kemudian mobil Javier memasuki area tempat pemakaman umum.
Setelah turun dari mobil, kami membeli bunga terlebih dahulu lalu berjalan menuju makam mamanya Javier yang berada cukup jauh dari pintu masuk.
Suasana makam pagi itu cukup tenang. Hanya ada suara angin dan beberapa orang yang juga sedang berziarah.
Sesampainya di makam, aku dan Javier langsung menaburkan bunga di atas pusara mamanya.
“Hai, Ma...” ucap Javier pelan sambil menatap batu nisan di depannya. “Maaf akhir-akhir ini aku jarang ke sini. Aku sibuk ngurus Ruang Rindu dan...”
Javier sempat menoleh ke arahku sebelum kembali melihat makam mamanya.
“Aku dijodohin sama Papa, Ma.”
Aku menatap Javier diam-diam.
“Dan ini perempuan yang dijodohin sama aku.”
Aku langsung menunduk kecil lalu ikut berbicara pelan.
“Halo, Tante. Saya Naya.”
“Satu bulan lagi kami akan menikah, Ma,” lanjut Javier pelan.
Beberapa detik ia terdiam.
“Ma... coba Mama masih ada di sini.” Javier tersenyum kecil tapi terlihat pahit. “Pasti aku nggak akan kayak gini. Nggak akan dipaksa nikah sama Papa.”
Aku langsung menoleh ke Javier.
Selama ini dia terlihat begitu santai mempersiapkan pernikahan kami sampai aku berpikir dia benar-benar tidak keberatan dengan perjodohan ini.
Tapi ternyata... bukan begitu kenyataannya.
Dia juga terbebani.
“Tapi meskipun begitu...” Javier kembali menatap makam mamanya. “Kalau memang ini jalan yang harus aku jalani, aku akan menjalani semuanya sebaik mungkin.”
Aku diam mendengarkannya.
“Dan aku akan jadi laki-laki seperti yang Mama ajarkan.” Javier tersenyum tipis. “Bertanggung jawab dan menghargai perempuan.”
Entah kenapa dadaku terasa sedikit aneh mendengar itu.
Selama ini Javier memang sering menyebalkan dan seenaknya sendiri. Tapi ternyata ada sisi seperti ini dalam dirinya.
Dan sepertinya... Javier sangat menyayangi mamanya.
Tak lama kemudian Javier mulai berdoa. Aku pun ikut menundukkan kepala dan berdoa dalam diam.
Setelah beberapa menit, kami akhirnya berdiri dan berjalan kembali meninggalkan makam itu bersama-sama.
“Mas...” panggilku pelan saat kami baru kembali masuk ke dalam mobil.
Javier yang baru saja memasang sabuk pengaman langsung menoleh kepadaku.
“Aku tahu kamu nggak suka sama perjodohan kita ini,” ucapku hati-hati. “Tapi dengan kamu beli rumah dan nyiapin semuanya kayak gitu, aku pikir kamu serius jalanin pernikahan ini.”
Aku menatap Javier beberapa detik.
“Tapi tadi di makam... kamu kelihatan tertekan.” Aku menggigit pelan bibir bawahku. “Sebenernya yang kamu rasain gimana sih?”
Javier tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu menatap lurus ke depan.
“Dengan perjodohan ini...” Javier mengembuskan napas pelan. “Aku senang akhirnya bisa keluar dari rumah.”
Aku diam mendengarkannya.
“Tapi di sisi lain...” Javier tersenyum kecil hambar. “Aku harus jadi kepala keluarga. Harus jadi pemimpin.”
Ia menoleh sebentar ke arahku lalu kembali melihat ke depan.
“Aku di Ruang Rindu juga pemimpin. Tapi mimpin rumah makan sama keluarga itu beda.”
Entah kenapa untuk pertama kalinya aku bisa merasakan ketakutan Javier.
Selama ini aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri sampai lupa kalau Javier juga sama-sama dipaksa masuk ke situasi ini.
“Kamu nggak perlu sampai mikir sejauh itu,” ucapku pelan. “Aku kan udah bilang dari awal. Kita menikah cuma status aja.”
Javier langsung menoleh kepadaku.
“Kita cuma bakal jadi dua orang yang tinggal di satu atap,” lanjutku. “Kayak orang ngekos di tempat yang sama.”
Aku mencoba tersenyum kecil.
“Kamu nggak perlu mikirin aku. Nggak perlu nafkahin aku juga. Aku kerja, aku bisa hidup sendiri.”
Aku menatap Javier serius.
“Jadi kamu nggak usah merasa terbebani sama status suami.”
Beberapa detik Javier hanya diam menatapku.
“Nggak bisa gitu, Nay.”
Aku mengernyit kecil.
“Di mata orang aku tetap suami kamu,” lanjut Javier tenang. “Kalau kamu bikin kesalahan pasti aku yang disalahin.”
“Kamu nggak usah mikirin omongan orang.” Aku langsung membalas cepat. “Kalau aku bikin kesalahan ya udah biarin aja. Kamu nggak usah ikut campur. Nggak usah merasa harus tanggung jawab.”
Javier tiba-tiba terkekeh pelan.
“Kayaknya sekarang aku ngerti kenapa selama ini kamu nggak punya pacar.”
Aku langsung menoleh tajam.
“Maksud kamu?”
“Kayaknya Tuhan emang nahan orang-orang yang suka sama kamu.” Javier tersenyum tipis. “Kalau pun ada yang suka sama kamu, kayaknya bakal percuma.”
Aku langsung mengerutkan kening.
“Karena kamu nggak pernah benar-benar mau membuka diri.”
Entah kenapa dadaku terasa tidak nyaman mendengarnya.
“Dan kayaknya...” Javier kembali melanjutkan dengan santai, “kamu juga punya ekspektasi tinggi sama laki-laki.”
Aku langsung diam.
“Kamu maunya laki-laki yang suka sama kamu itu kayak di drama-drama, kan?”
Kalimat itu langsung menusukku tepat di bagian yang paling ingin kusembunyikan.
Aku tidak bisa membantahnya.
Karena memang benar.
Aku memang punya ekspektasi tentang laki-laki. Tentang cinta. Tentang hubungan.
Laki-laki yang mencintai pasangannya dengan tulus.
Laki-laki yang memperjuangkan orang yang dia sayangi.
Dan laki-laki yang tahu cara menghargai perempuan.
Setelah itu Javier tidak bicara lagi.
Ia langsung menyalakan mobil lalu mulai menyetir meninggalkan area makam.
Sepanjang perjalanan pulang suasana di dalam mobil terasa sunyi. Javier fokus mengemudi sementara aku sibuk memikirkan perkataannya tadi.
Mungkin Javier benar.
Mungkin selama ini aku memang terlalu takut membuka hati sampai tanpa sadar membangun tembok terlalu tinggi untuk siapa pun yang ingin mendekat.
Beberapa menit kemudian mobil Javier berhenti tepat di depan rumahku.
Aku langsung melepas sabuk pengaman.
Namun saat hendak membuka pintu mobil, aku kembali menoleh ke arah Javier.
“Mas...” panggilku lirih.
Javier menoleh pelan.
“Aku bukannya nggak mau buka hati.”
Aku menggenggam erat tali tasku.
“Aku cuma nggak mau terluka.”
Setelah mengatakan itu aku langsung turun dari mobil dan berjalan cepat menuju rumah tanpa berani melihat Javier lagi.
Entah kenapa setelah percakapan tadi dadaku terasa sesak.
Selama ini aku selalu menganggap Javier tidak akan pernah mengerti perasaanku. Bahwa baginya pernikahan ini hanyalah tentang tanggung jawab dan status.
Tapi ternyata dia memperhatikan lebih banyak hal daripada yang aku kira.
Dan yang paling menyebalkan...
Javier ternyata lebih peka daripada yang aku kira.