NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Hari yang Menentukan Takdir

Benua Timur, Donghai Xianzhou.

Sebuah benua luas yang membentang tanpa batas.

Di sini, para kultivator dihormati bak dewa.

Mereka mampu membelah gunung dengan satu tebasan pedang.

Menghancurkan kota dengan satu serangan telapak tangan.

Menempuh ribuan li hanya dalam beberapa tarikan napas.

Di dunia ini, kekuatan adalah hukum.

Yang kuat berbicara.

Yang lemah mendengarkan.

Karena itulah setiap keluarga kultivator menganggap bakat sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada emas dan batu roh.

Seorang jenius dapat mengangkat seluruh keluarga menuju kejayaan.

Sedangkan seorang sampah kultivasi hanya akan menjadi beban seumur hidup.

Tepat pada Hari ini.

Kota Qinghe tampak jauh lebih ramai dari biasanya.

Jalanan dipenuhi kereta kuda.

Para pedagang berteriak menawarkan dagangan.

Para kultivator terlihat berlalu lalang .

Namun pusat perhatian seluruh kota tertuju pada satu tempat.

Tepatnya di kediaman Keluarga Feng.

Salah satu keluarga kultivator terbesar di Kota Qinghe.

Meski hanya cabang dari Keluarga Feng utama yang berada di Kerajaan Ombak Surgawi, pengaruh mereka tetap tidak bisa diremehkan.

Hari ini adalah hari yang sangat penting.

Hari Pengujian Akar Spiritual.

Hari ketika anak-anak berusia tujuh tahun menjalani pengujian bakat untuk menentukan masa depan mereka.

Di halaman utama keluarga.

Ratusan anggota keluarga telah berkumpul.

Para tetua duduk berjajar di atas panggung batu giok.

Di tengah lapangan berdiri sebuah kristal besar setinggi dua meter.

Itu adalah Batu Pengukur Roh.

Artefak Spiritual tingkat tinggi yang digunakan untuk menguji akar spiritual.

Di bawah panggung.

Puluhan anak berdiri dengan wajah tegang.

Sebagian menggenggam tangan orang tua mereka.

Sebagian lagi terus menelan ludah.

Tidak ada yang bisa tetap tenang.

Karena hasil pengujian hari ini akan menentukan nasib masa depan mereka.

"berikutnya."

Suara Tetua Agung Feng Jianhong bergema.

Seorang anak laki-laki maju.

Tangannya gemetar ketika menyentuh kristal.

Beberapa saat kemudian ,cahaya kuning redup muncul.

Tetua pencatat segera berseru.

"Akar Spiritual Tingkat Tiga."

Suasana tidak banyak berubah.

Hasil tersebut tergolong biasa.

Anak itu menundukkan kepala lalu kembali ke kerumunan.

Satu demi satu anak maju.

Hasilnya tidak terlalu istimewa.

Hingga akhirnya.

Seorang tetua melihat daftar nama di tangannya.

Lalu sedikit menghela napas.

"berikutnya."

"Feng Bai Hu."

Sesaat suasana menjadi aneh.

Beberapa orang terlihat saling berpandangan.

Bahkan para tetua memperlihatkan ekspresi tak berdaya.

"Si gendut itu?"

"Apa dia benar-benar datang?"

"Kurasa dia sedang tidur di suatu tempat."

"Tidak mungkin dia ingat hari pengujian."

"Anak itu bahkan sering tidur saat kelas pengenalan kultivasi."

Berbagai bisikan terdengar.

Sementara itu.

Di sudut lapangan.

Seorang bocah gemuk sedang duduk di bawah pohon.

Sibuk menghitung koin tembaga di tangannya.

"hehehe kemarin aku membantu Paman Zhang menghitung keuntungan toko mendapat lima koin."

"Membantu Bibi Liu menjual jamur roh mendapat tiga koin."

"Hm..."

Bocah itu mengernyit.

"Kalau aku kumpulkan selama beberapa bulan, mungkin akan cukup membeli tiga Pil Pengumpul Energi tingkat rendah."

Matanya langsung berbinar.

"hehehehe, Itu jauh lebih efisien daripada bermeditasi berjam-jam."

"FENG BAI HU!"

Suara menggelegar membuat seluruh tubuhnya melonjak.

"Hah?!"

Bocah itu buru-buru berdiri.

Kemudian tersadar bahwa seluruh lapangan sedang menatap ke arahnya.

Wajahnya langsung berubah canggung.

"Oh.Giliranku rupanya."

Beberapa orang memegangi dahi mereka.

Bocah itu benar-benar lupa.

Feng Bai Hu berjalan santai menuju tengah lapangan.

Tubuhnya memang sedikit gemuk dibandingkan anak seusianya.

Pipinya bulat.

Wajahnya tampak polos.

Tidak ada sedikit pun aura seorang jenius.

Bahkan lebih mirip anak pedagang pasar.

Setelah tiba di depan kristal.

Ia menatap Batu Pengukur Roh cukup lama.

Lalu mengangkat tangan.

"Tetua."

"Ada apa ?"

"Kalau batu ini rusak, siapa yang bayar?" ucap Bai hu dengan nada penuh tanya

".hening."

Seluruh lapangan mendadak sunyi.

Wajah para tetua menghitam.

Tetua Agung hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Bai Hu menjawab dengan jujur.

"Karena benda sebesar ini pasti mahal."

"Kalau rusak, aku tidak mampu menggantinya."

"Lebih baik memastikan dulu." ucap Bai hu menjelaskan

Beberapa anggota keluarga mulai tertawa.

Anak ini benar-benar berbeda dari yang lain.

Tetua Agung menarik napas panjang.

"Sentuh saja."

"Kalaupun rusak itu bukan urusanmu."

Mata Bai Hu langsung berbinar.

"Benarkah?"

"Benar!" jawab Tetua agung

"Baik Tetua."

Ia segera menempelkan telapak tangannya ke kristal.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik

tepat pada detik berikutnya.

BOOOOOOM!

Ledakan cahaya emas meledak dari dalam kristal.

Langit berubah warna.

Awan berputar.

Energi spiritual dalam radius puluhan kilometer mendadak bergolak.

Semua orang terperanjat.

"Apa?!"

"Mustahil!"

"Cahaya emas?!"

Mata para tetua membelalak.

Retakan mulai muncul di seluruh permukaan kristal.

Krak!

Krak!

Krak!

Tetua Agung langsung berdiri.

Tubuhnya bergetar hebat.

"Akar Spiritual Surgawi..."

"Ini Akar Spiritual Surgawi!"

BOOM!

Kristal itu akhirnya meledak runtuh menjadi ribuan pecahan.

Suasana langsung sunyi.

Tidak ada yang berani bernapas.

Semua orang menatap bocah gemuk yang masih berdiri di tengah cahaya emas.

Bahkan para tetua tampak kehilangan kemampuan berbicara.

Akar Spiritual Surgawi.

Bakat yang hanya muncul sekali dalam beberapa generasi.

Bakat yang mampu mengubah nasib seluruh keluarga.

Bakat yang selama ini hanya mereka dengar dari legenda.

Dan sekarang.

Pemilik bakat itu berdiri tepat di depan mereka.

Namun...

Bai Hu tidak terlihat bahagia.

Ia justru menatap pecahan kristal di tanah.

Kemudian perlahan mengangkat tangan.

"Ehm...??"

Tidak ada yang menjawab.

Ia melanjutkan.

"Tadi Tetua bilang aku tidak perlu ganti rugi,lagipula ini bukan salahku?"

"..."

"..."

"..."

Beberapa tetua hampir muntah darah.

Di saat seluruh keluarga sedang terguncang karena munculnya jenius tak tertandingi.

Anak itu justru masih memikirkan biaya ganti rugi.

Tetua Agung akhirnya tertawa keras.

"Hahahaha!"

"Tidak perlu!"

"Mulai hari ini kau adalah harapan terbesar keluarga!"

Sorak-sorai langsung meledak.

"Jenius!"

"harapan keluarga!"

"Langit akhirnya memberkati Keluarga Feng!"

Seluruh lapangan menjadi lautan kegembiraan.

Namun di antara kerumunan.

Tiga sosok sedang memperhatikan Bai Hu.

Mereka adalah kakak Bai Hu.

Kakak sulung.

Feng Tian Yu.

Pemuda berusia enam belas tahun dengan aura pedang tajam.

Jenius nomor satu generasi muda keluarga.

Kakak kedua.

Feng Yun He.

Pemuda cerdas yang ahli formasi dan strategi.

Dan kakak ketiga.

Feng Ling Yue.

Gadis cantik berusia dua belas tahun yang terkenal karena bakat kultivasinya.

Ketiganya menatap adik mereka dengan ekspresi berbeda.

"Akar Spiritual Surgawi..."

gumam Tian Yu.

"Aku sudah menduga dia tidak sederhana."

Yun He mengangguk.

"Aku juga."

Ling Yue tersenyum lembut.

"Aku bilang apa? Adik kecil kita memang hebat."

Namun tepat saat itu.

Mereka melihat Bai Hu berjalan menuju Tetua Agung.

Kemudian berbisik sesuatu.

Tetua Agung yang awalnya tertawa bahagia terlihat langsung membeku.

"Apa katamu?"

Bai Hu mengulangi.

"Kalau aku menjadi jenius keluarga.Bukankah seharusnya ada hadiah?"

Wajah Tetua Agung berkedut.

"Hadiah?"

"Iya,hadiah mungkin batu roh."

"Atau emas."

"Atau rumah."

"Atau toko."

"..."

Semua orang yang mendengar hampir jatuh pingsan.

Baru saja menjadi jenius nomor satu keluarga.

Dan hal pertama yang dipikirkan bocah itu adalah hadiah uang.

Tetua Agung merasa kepalanya mulai sakit.

Entah mengapa Ia mulai memiliki firasat buruk.

Sangat buruk.

Anak ini kemungkinan akan tumbuh menjadi orang yang jauh lebih merepotkan daripada yang mereka bayangkan.

Bersambung...

""### Hayy ,, Ini adalah novel keduaku ,, selamat membaca dan jangan lupa untuk souport dan likenya , terimakasi##""

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!