Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Satu
Seperti Deja Vu, kali ini Aruna terbangun dengan kondisi tubuh lemas. Ia melihat sekeliling dan menyadari bahwa dirinya berada di kamarnya sendiri. Kemudian ia bangun terduduk sembari mengurut kepalanya pelan. Teringat lagi kejadian beberapa saat lalu ketika ia kelepasan melampiaskan emosinya.
Rasanya malu sekali sekarang, jika saja ia bisa mengulang waktu lagi maka Aruna akan bersikap lebih tenang. Bahkan gara-gara itu ia sampai tak sadarkan diri. Tubuhnya memang benar-benar terlalu lemah, baru terkena sedikit guncangan saja sudah membuatnya tak berdaya.
Tapi, bukankah Abi sempat datang ke kamarnya?
Aruna mendengar ucapan pria itu cukup jelas tapi ia hanya diam saja, bahkan berpura-pura kembali tertidur meski faktanya dirinya memang benar-benar tertidur. Ia tak habis pikir apa yang membuat seluruh keluarga Adijaya jadi berubah terhadapnya. Jika hanya Abi, masih bisa sedikit ia pahami. Lalu bagaimana dengan lainnya?
Gadis kecil itu mengernyit ketika kepalanya berdenyut pelan, kemudian ia baru ingat seharusnya dirinya ke sekolah sekarang. Aruna langsung mengambil ponselnya dan melihat jam yang menunjukkan pukul 11 siang. Artinya ia sudah sangat terlambat jika nekat untuk tetap pergi.
Setelahnya ia melihat kotak pesan dan benar saja, ada beberapa pesan dari Ganesha yang bertanya dimana dirinya dan kenapa belum datang ke sekolah. Lalu pesan lainnya yang mengatakan bahwa salah satu keluarganya datang ke sekolah karena kasus kemarin. Sontak saja Aruna langsung melotot tak percaya.
Salah satu dari mereka benar-benar datang ke sekolahnya?
Siapa?
Apakah Abimanyu?
"Mia, apa kau di luar?" panggil Aruna.
Cklek.
"Nona, bagaimana keadaan anda?" tanya Mia yang sudah masuk.
"Aku baik. Mia, siapa yang pergi ke sekolahku saat ini?" tanya Aruna lagi.
"Ah, Tuan Elvio bersama Tuan Alvaro setahu saya, Nona," jawab Mia.
Aruna semakin melongo.
Elvio dan Alvaro?
Bukan Abimanyu?
The Hell?!
"Lalu bagaimana dengan Kak Abi?"
"Tuan Abimanyu harus ke kampus jadi tak bisa ijin sedangkan Tuan Antares ke sekolah dan tidak diijinkan untuk membolos," jelas Mia.
"Mereka benar-benar ke sekolahku?" Aruna masih bertanya tak percaya.
Mia mengangguk pelan tak mengerti, "Ya, apa terjadi sesuatu, Nona?"
"Tidak. Aku hanya kaget. Bukankah aneh mereka tiba-tiba menjadi peduli padaku, Mia?" lirih Aruna pelan tapi dapat di dengar oleh Mia.
"Apanya yang aneh, Nona? Bukankah wajar? Anda adalah bagian dari keluarga Adijaya," ucap Mia dengan tegas.
Aruna mendengus, "Jangan membuatku mengatakan hal yang sudah kau pahami. Oh, kau sudah melakukan yang aku suruh?"
Seolah baru mengingatnya, Mia mengangguk dan berjalan menuju salah satu laci meja. Mengeluarkan amplop cokelat dan berjalan menuju Aruna untuk menyerahkan benda itu.
"Semua yang ingin anda ketahui ada di dalam situ, Nona. Bahkan saya memotret mereka sebagai buktinya," kata Mia
Gadis kecil itu mengangguk dan membuka amplopnya, ia mengeluarkan beberapa foto di dalam juga keterangan tentang keadaan panti. Masih terlihat normal dan tidak terjadi sesuatu yang buruk. Bahkan anak-anak panti terlihat bermain dengan bahagia.
Namun, baru Aruna sadari bahwa keadaan panti sedikit berubah, bangunan yang dulu tampak reyot itu kini terlihat seperti baru. Bukan hanya itu, pagar kayu yang dulu mengelilingi panti kini berubah menjadi pagar besi. Di halaman terdapat beberapa permainan yang baru pertama kali di lihat juga olehnya. Sudah begitu, anak-anak panti menggunakan baju-baju bagus yang masih layak pakai, tidak ada bolongan di sana-sini juga warna yang lusuh dan kotor.
Apa ini?
"Kau yakin ini tempat yang benar?" tanya Aruna lagi.
"Ya, saya sudah mengecek namanya sampai tiga kali. Ada apa, Nona?'
"Panti asuhan terlihat berbeda. Aku sampai tak mengenalinya sama sekali," ucap Aruna.
"Ah! Anda belum tahu, Nona?"
Aruma mendongak dan menatap Mia bingung, "Tentang apa?"
"Tuan Elvio memberikan dana kepada Panti untuk renovasi juga tambahan-tambahan fasilitas lainnya. Juga membelikan banyak pakaian-pakaian baru, sepatu, sendal, tas sekolah, serta peralatan belajar untuk anak-anak panti," jelas Mia.
Aruna sampai terdiam kaku.
"Se-sejak kapan?"
"Apa maksud anda sejak kapan, Nona? Tentu sejak Tuan Elvio datang untuk mengadopsi anda. Tuan sendiri yang datang setiap bulannya untuk mengecek keadaan panti dan mendanai apa saja yang di perlukan."
Sudah selama itu?
Tapi, kenapa ia tak tahu apa pun?
Ia pikir Elvio membenci keberadaannya, jadi rasanya wajar jika pria itu mengabaikan panti tempatnya dulu. Tapi merenovasi bahkan membiayai kehidupan anak-anak panti benar-benar di luar prediksi Aruna.
Apa di masa lalu Elvio juga melakukan itu?
"Kenapa tak ada yang mengatakan apa pun padaku?"
"Tuan besar mengatakan untuk tak perlu mengatakan apa pun soal itu, jadi kami tak ada yang berani membicarakannya. Maafkan aku, Nona."
Aruna menggeleng, "Tidak. Aku tidak menyalahkanmu, Mia. Jadi, anak-anak di panti dalam keadaan baik-baik saja?"
"Ya, mereka sehat dan bersekolah dengan baik berkat Tuan Besar," ucap Mia lagi.
Meski tak ingin mengakuinya tapi perasaan lega langsung menghampiri Aruna. Padahal ia sudah cemas setengah mati tentang keadaan panti asuhannya karena Marina. Jika begini maka tak ada yang perlu ia cemaskan lagi.
"Aku rindu mereka," lirih Aruna pelan sekali. Hal itu dapat di dengar oleh Mia dan membuat pelayan itu kaget. Apa artinya itu? Apa Aruna berniat pergi meninggalkan mereka?
"Nona, saya akan membawakan makan siang untuk anda lalu anda harus meminum obat setelahnya dan kembali beristirahat," ujar Mia.
"Aku sudah lelah tidur sedari tadi, Mia. Kondisiku juga baik-baik saja dan aku bosan sekarang. Haruskah kita datang mengunjungi mereka?"
Mia menatap Aruna bingung, "Mereka?"
"Ya, mereka. Panti Asuhan Heaven! Aku tak sabar ingin bertemu dengan mereka lagi setelah beberapa tahun berlalu. Siapkan banyak kue juga cemilan untuk kubawa ke sana, Ada," titah Aruna.
Mia mengangguk ragu tapi ia menurut. Masih berfikir apakah Aruna benar-benar berniat pergi dari rumah ini?