menjadi sukses dan kaya raya tidak menjamin kebahagiaanmu dan membuat orang yang kau cintai akan tetap di sampingmu. itulah yang di alami oleh Aldebaran, menjadi seorang CEO sukses dan kaya tidak mampu membuat istrinya tetap bersamanya, namu sebaliknya istrinya memilih berselingkuh dengan sahabat dan rekan bisnisnya. yang membuat kehidupan Aldebaran terpuruk dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni Luh putu Sri rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Dari dalam mobil, pandangan Aldebaran tak lepas dari sosok pemuda yang tampak akrab dengan Lilia. Genggaman tangan kirinya semakin kuat pada roda kemudi, mata Aldebaran menyipit tajam saat melihat bagaimana bocah itu merangkul bahu mungil Lilia dan tertawa bersama milikinya yang membuat darahnya semakin mendidih, namun, ia tak bisa melakukan apapun selain melihat mereka berdua berjalan memasuki gedung sekolah.
"Sial!"
Tanpa Aldebaran sadari, dari balik kaca besar lantai dua sebuah kafe mewah, di sebrang jalan di depan sekolah—Diana berdiri anggun dengan gaun panjang warna krem yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Kacamata hitam menggantung di ujung hidungnya, dan bibir merahnya melengkung tipis melihat interaksi hangat Aldebaran dengan Lilia di depan mobil sebelumnya.
Gadis muda itu tertawa kecil saat Aldebaran dengan canggung membetulkan tali tas sekolahnya yang melorot sebelum gadis itu melangkah ke dalam area gedung sekolah. Sebuah senyuman lembut melintas di wajah pria itu, senyuman yang Diana kenal terlalu baik.
“Jadi, ini gadis kecil yang kau ambil dari jalanan itu,” gumam Diana pelan. Nadanya nyaris berbisik, namun sarat dengan cemooh. Matanya menyipit, mengamati setiap gerak-gerik mantan suaminya. Dia melihat cara Aldebaran menatap Lilia—pandangan yang dulu pernah ia kira hanya miliknya seorang. Tapi ada sesuatu yang lain di sana sekarang, sesuatu yang lebih dari sekadar kasih sayang ayah kepada anak.
"Aldebaran," ucapnya dalam nada sinis sambil menarik napas panjang, “kau selalu terlalu transparan. Apa kau benar-benar berpikir aku tidak bisa membaca pikiranmu hanya dari mata itu?”
Diana menyisir rambut hitam panjangnya dengan jari, menyalakan sebatang rokok tipis, lalu menghembuskan asap dengan tenang. Matanya terus mengikuti mobil Aldebaran yang perlahan menjauh dari halaman sekolah. Dia tertawa kecil, suara itu terdengar seperti dering bel kristal yang dingin.
“Ah, cinta,” gumamnya sambil memiringkan kepala, seolah berbicara kepada dirinya sendiri. “Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku, Aldebaran. Aku tahu semua tentang kau. Dan gadis kecil itu? Dia akan menjadi kunci untuk mengembalikan semuanya—kekayaanmu, posisimu, dan, tentu saja, dirimu.”
Sebuah ide mulai terbentuk dalam pikirannya, begitu tajam dan terencana seperti pisau yang diasah. Diana menuruni tangga kafe dengan langkah anggun, setiap langkahnya penuh percaya diri. Ponselnya bergetar di dalam clutch mahal yang ia genggam, tapi dia tidak terburu-buru untuk menjawabnya. Dia sudah memiliki rencana, dan itu jauh lebih penting daripada apa pun saat ini.
Mobil mewahnya menunggu di luar. Sopir pribadi membukakan pintu untuknya, dan Diana masuk dengan tenang, menyandarkan punggung pada jok kulit yang empuk. Jari-jarinya mengetuk ringan ponsel di pangkuannya, wajahnya yang menawan tersenyum penuh arti.
“Sediakan semua informasi tentang gadis itu,” katanya dengan nada datar setelah menekan nomor salah satu koneksinya. “Sekolahnya, latar belakangnya, apa saja. Aku ingin semuanya di mejaku dalam 24 jam.”
Setelah panggilan berakhir, Diana memandang keluar jendela, matanya menatap kosong pada keramaian jalanan. “Aldebaran,” gumamnya, suaranya bergetar halus dengan emosi yang terpendam. “Aku selalu tahu kau akan mencoba melupakan aku. Tapi tidak akan semudah itu.”
Dia tertawa pelan, seperti seorang aktris dalam drama yang baru memulai aksinya. “Anak itu... Dia akan menjadi alatku untuk mengembalikan semuanya. Dan saat aku selesai, kau akan berlutut memohon agar aku kembali.”
Mobil meluncur lebih cepat, membawa Diana menuju kediaman megahnya yang terasa dingin dan kosong. Namun, dia tidak peduli. Karena dalam pikirannya, sebuah permainan baru saja dimulai, dan kali ini, dia bertekad menjadi pemenang.
Sementara itu Aldebaran yang masih larut dalam pemandangan yang berhasil menyulut api kecemburuannya yang kini perlahan mulai membakar hatinya. Namun, ia menahan semua gejolak perasaan dalam hatinya, ia menelan kembali rasa cemburunya meski tak seluruhnya. Mata pria itu masih menunjukan kemarahan sebelum akhirnya ia memutar balik mobil sedan mewahnya menuju ke kantor.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan kota yang sibuk pagi itu, wajah pria itu menegang, rahangnya mengatup rapat seperti pahatan marmer tanpa ekspresi yang dingin, tapi matanya menunjukan kemarahan yang tak tertahankan.
"Sial! Aku benar-benar cemburu." Desis Aldebaran, ia memukul konsol mobilnya dengan frustasi, saat mobilnya berhenti di lampu merah di persimpangan jalan. "Hanya karena anak SMA!! Aku hampir gila hanya karena kelakukan anak 16 tahun..." Geramnya dalam mobil. Untuk meredakan kemarahan dan rasa cemburu yang semakin mencengkram hatinya, beberapa kali Aldebaran menghantamkan pukulan pada kemudi mobilnya dengan marah, ia tak memperdulikan rasa nyeri di lengannya akibat pukulan itu, rasa sakit itu tidak lebih sakit dari rasa sakit di hatinya yang terus bergejolak karena rasa cemburu yang mencekik hingga terasa di lehernya.
Lapisan kaca film mobil yang gelam, menjadi penghalang satu-satunya antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya, para pengendara yang juga berhenti di persimpangan itu tak tahu betapa frustasi dan marahnya pria itu. Sepanjang perjalanan dari sekolah tadi Aldebaran tak bisa menguasai emosinya yang terus meledak di dalam dirinya, yang semakin mengaburkan antara proteksinya sebagai seorang ayah yang seharusnya melindungi putrinya dengan segala daya, tapi ia malah terjebak dalam perasaan yang tak pantas terhadap Lilia.
Saat Aldebaran sampai di kantornya, mobil sedan mewah itu melaju cepat ke parkiran kantor—sebuah gedung pencakar langit dengan jendela-jendela besar yang menggambarkan kesempurnaan yang dingin lebih seperti monolit tanpa jiwa yang menggambarkan bagaimana Aldebaran selama ini, seorang pria yang mendambakan kesempurnaan dalam pekerjaan dan bisnisnya tak peduli apa yang harus di korbankan demi mencapai tujuannya.
Pria itu memarkir mobilnya dengan sembarangan tak seperti biasanya yang selalu perfeksionis dan efisien, pria itu membuka pintu mobil mewahnya dan dengan marah ia membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara denting logam yang menggema di area parkir yang luas.
"Sial! Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih! Apa bocah itu benar-benar pacar Lilia?" Gumamnya kesal, Aldebaran menyisir rambutnya dengan kasar mencoba meredam emosinya. Namun, pemandangan bagaimana pemuda itu dekat dengan Lilia dan bagaimana lengannya menggantung di bahu mungil dan ramping putrinya terus menghantui pikiran pria itu.
"Jangan-jangan dia orang yang di maksud Lilia..." Pikir Aldebaran, "tidak mungkin...Tapi... Aldebaran, kau lihat sendirian bagaimana penampilan anak itu,kan? Dia benar-benar jauh dari kata sempurna," katanya sambil mondar-mandir di tempat parkir sambil sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. "Maksudku, dia... Dia lebih mirip anak berandalan daripada seseorang yang bisa melindungi putriku."
Semakin Aldebaran memikirkannya semakin banyak skenario yang melintas dalam pikirannya tenang pemuda itu lakukan dengan Lilia di luar pengawasannya yang semakin membuat Aldebaran frustrasi.
"Aku...tidak menyangka kalau aku akan sampai seperti ini hanya karena cemburu pada bocah SMA." Batin Aldebaran, yang masih berusaha mengendalikan emosi yang terus berkecamuk dalam hatinya.
Bersambung....
semangat upnya..