Di sebuah negara bernama Xenia, sepuluh tahun yang lalu ... terjadi sebuah ledakan dari bom khusus yang berisi cairan yang dinamakan "kinetik-x" yang membuat makhluk mengalami Aberasi dan berubah menjadi monster dan mendominasi dunia.
Demi melawan ancaman dari para makhluk aberasi, dan dua pasukan khusus dibuat
The Abrasi Response Team = TART
The Anti-Abrasi Defense force = TADF
TART adalah latar kantor Ethan yang bekerja untuk menginvestigasi makhluk aberasi yang bersembunyi di pelosok-pelosok dan pergi ke mana pun ada makhluk aberasi dengan satu belt system yaitu belt Ethan yang dapat merubahnya menjadi sosok berarmor yang menghabisi para makhluk aberasi demi melindungi orang-orang.
bagaimana perjuangan Ethan sebagai "Armor Saviour Vanguard" dan rekan-rekannya melawan makhluk aberasi dan dalang dibalik semua ini?!
ikuti ceritanya!
note:
ini temanya sci-fi dan kesatria ber-armor jadi kayak ala-ala Kamen Rider gitu hehe.
author cewek tokufans soalnya 😉
yang tokufans merapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Q.M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33: padahal Aku hanya ingin hidup tenang bersamamu....
Setelah mendengar ajakan Rin, Stella Kembali ke kelasnya dan menunggu bel masuk kelas berbunyi, ia sebenarnya agak bingung karena ajakan tiba-tiba itu, Rin sendiri adalah anak yang ahli pramuka dan ditawarkan untuk magang di sekolah SD, yup! ajakan yang tadi adalah agar Stella membantunya sebagai mentor di acara anak-anak SD itu karena guru yang harusnya menemaninya tidak bisa datang.
Renungan gadis itu terhenti kala Luna mulai duduk di sampingnya, Gadis pendiam itu baru beberapa hari ini duduk dengannya yang karena keinginan Stella sendiri, ia merasa kasihan melihat Luna yang selalu duduk sendirian juga seperti tak punya teman, Stella selalu berusaha membuka topik dahulu dengan Luna, tapi gadis itu agak menutup diri.
padahal Stella ingin sekali memiliki satu orang sahabat dan entah mengapa meski Luna pendiam ia cukup nyaman berada di sisinya, tunggu ... bukannya Stella populer dan memiliki banyak teman?
ya, teman banyak tapi tak ada yang benar-benar peduli, dekat dan seperti sahabat baginya sehingga bisa membagikan keluh kesahnya.
sebenarnya teman-teman Stella sendiri tak semuanya tulus ada yang hanya ingin berteman karena gadis itu populer, karena Stella sering mentraktir mereka dan lain sebagainya tanpa Stella sadari, buktinya beberapa hari yang lalu Stella sempat tak hadir di sekolah dan saat itu rupanya ada pengumuman untuk membawa alat-alat uji coba IPA di keesokan harinya, tapi....
Sama sekali tak ada yang mengabarinya lewat pesan....
Stella yang naif itu tentu tak menyadari hal itu tapi hanya ada satu orang yang mau meminjamkannya saat itu, yaitu Luna....
Orang yang jarang berbicara dengannya tapi sangat peduli padanya, Luna sendiri menutup diri karena minder dengan Stella bagaimanapun posisi mereka di kelas amat berbeda, populer dan culun.
Luna juga saat itu hendak mengabari Stella lewat pesan tapi takut karena tidak terlalu dekat dan terlalu minder, alhasil ia sengaja membawa alat-alat uji coba lebih banyak dari yang lain.
Peduli dalam diam, mungkin itulah yang cocok dengannya.
dan kali ini Luna dengan gugup memanggil Stella....
"Stella ... maafkan aku tapi tadi aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Rin "
"eh? ohhh tak apa sih, jadi kau tau tentang ajakan Rin? " tanya Stella.
Luna mengangguk lalu berkata "Aku hanya ingin bilang ... lebih baik kau ajak seseorang seperti keluargamu untuk mengantar saja mengawasi sebentar, karena ini kan kegiatan di luar sekolah jadi pasti agak beresiko.... " nasihatnya, amat terlihat kan? seberapa pedulinya Luna pada Stella?.
Stella mengarahkan pandangannya ke atas seolah sedang berpikir lalu menjawab dengan senyum ramahnya lagi "Ahh ya! aku tentunya akan izin dulu dengan kakakku dan memintanya menemaniku! "
"Kakak? aku baru tau kau punya kakak, laki-laki atau perempuan? " tanya Luna tertarik.
"kakakku laki-laki dan ia adalah orang paling baik menurutku, paling baik dan hangat sedunia! kuharap ia takkan pernah berubah! bahkan jika aku telah tiada nanti. aku ingin ia juga bisa bersosialisasi dengan baik sepertiku dan mengenal orang-orang baru dan hidup bahagia bersama mereka! "
Mata Stella memancarkan harapan dan ketulusan yang nyata, hati gadis itu menghangat setiap mengingat kebaikan kakaknya, tanpa disadari Luna pun ikut tersenyum tipis.
kemudian Stella kembali menoleh dengan antusias dan bertanya "bagaimana denganmu? Luna? siapa saja keluargamu? apakah mereka sangat baik?"
dengan senyum tipisnya Luna menatap jauh ke depan seakan menerawang memorinya, ia menjawab "Tidak ada ... aku sudah tak punya siapapun lagi, aku hanya sendirian dan mungkin sampai kapanpun akan terus begitu.... " senyum itu menyiratkan kesedihan membuat hati Stella teriris dan merasa bersalah.
"Maaf ... aku tak tau tentang itu.... " jawab Stella merasa tidak enak.
Luna menggeleng pelan "Tidak kok, aku sudah terbiasa dan menerima semuanya, terimakasih sudah mau menjadi temanku.... "
KRINGG!
Bel berbunyi dan membuat mereka kembali fokus pada pelajaran dan obrolan itu pun berakhir begitu saja.
...****************...
Tapi di luar dugaan, Stella kini datang sendirian. Mentari pagi menyinari Lembah Angin. Stella, dengan celana jeans, kaus, jaket tebal, dan ransel, mencari Rin dan lokasi perkemahan. Ia mendekati tebing tinggi, namun tak terlihat tanda-tanda perkemahan. Posisinya terlalu rendah untuk melihat area di atas.
Stella mendaki. Setibanya di puncak, kehampaan menyambutnya. Tak ada tenda, tak ada anak-anak. Kecewa, ia merasa sia-sia datang jauh-jauh, bahkan nekat kabur dari larangan Zephyr—sebelumnya ia di larang pergi oleh Zephyr karena Rin bukanlah orang yang dekat dengan Stella, tapi karena Stella ingin hidup Damai dan menjalin pertemanan sebanyak-banyaknya, di Obsidian mereka tak punya kesempatan untuk berteman karena orang-orang saling bermusuhan ia memilih ikut dan tetap pergi—Namun, sesuatu yang jauh lebih buruk tengah menanti.
Siluet Rin terlihat jelas. Stella mendekat, bingung. Keheningan mencekam. Apakah ia salah tempat? Batal? Pikirannya melayang pada persiapannya yang matang dan pelariannya dari larangan Zephyr.
Perlahan, ia memanggil, "Rin... apakah itu dirimu?"
Rin berbalik perlahan, gerakannya terukur. Senyum tipis terukir, namun sorot matanya dingin dan tajam. Pisau kecil dari balik punggungnya melesat ke leher Stella. Dengan refleks luar biasa, Stella melakukan gerakan meliuk cepat ke samping, menghindari serangan mematikan itu.
"Rin? Apa-apaan ini? Apa yang kau lakukan?!" Stella terkejut dan cemas.
Tatapan Rin lebih berbahaya. Kebencian membara dalam sorot matanya. "Semuanya karenamu! Kau telah merebut segalanya dariku!" Rin menyerang lagi, ayunan pisau pertama diarahkan ke sisi kanan tubuh Stella. Stella menangkis dengan lengan kiri, pisau beradu dengan lengannya, menimbulkan suara gesekan logam dan kain. Serangan kedua Rin mengarahkan belati ke perut Stella. tapi Dengan gerakan cepat, Stella membungkuk menghindari serangan tersebut, lalu melakukan tendangan balik ke arah kaki Rin.
Stella karena bukan manusia—dia makhluk Obsidian tapi masih terlalu muda jadi meski ia juga menyerap energi Cosmic Shard untuk hidup ia belum memiliki kekuatan yang bisa mengubahnya jadi sesosok monster—menghindar dengan lincah. Namun, ia sadar situasi tak bisa terus berlanjut. Ia mengepalkan tangan dan meninju perut Rin dengan pukulan keras, tepat mengenai ulu hati. Suara "Bugh!" terdengar samar. "Berhenti, Rin! Jangan gunakan kekerasan! Kita bisa selesaikan ini! Ceritakan padaku, apa yang terjadi?!"
Rin berdecak, tertawa hambar. "Selesaikan? Tak ada yang perlu diselesaikan! Kau merebut peringkat kelasku! Itu satu-satunya yang kumiliki!" Matanya berkaca-kaca, menunjukkan kesedihan, amarah, dan kebencian. "Duniaku runtuh saat kau merebutnya! Kau telah merebut segalanya!"
Stella terdiam, tak mengerti. Namun, ia merasakan kepedihan Rin dan kegelapan yang menyelimuti gadis itu. Rin, anak angkat konglomerat, hidup dalam aturan ketat, tekanan, dan tuntutan. Tak pernah merasakan kebebasan. Ia harus selalu menjaga tata krama, meraih prestasi, menjadi sempurna agar tak dibuang. Peringkatnya adalah hidupnya, kini direbut Stella. Kekerasan fisik dan verbal ia terima dari orang tua angkatnya. Ia kesepian, menderita, dan depresi, hingga kehilangan akal sehatnya.
Air mata Rin mengalir. Dengan sorot mata penuh kegilaan dan frustasi, ia berteriak, "Kau memiliki segalanya! Kecantikan! Kebaikan! Kepintaran!"
"Tapi itu bukan alasan untuk saling menyakiti!" bantah Stella, tenggorokannya tercekat. "Dunia ini luas! Kenapa semua orang saling menjatuhkan? Kenapa saling menyakiti? Kebahagiaan orang lain seharusnya membuat bahagia, bukannya sebaliknya!" Air matanya tumpah. "Apakah hidup damai terlalu mahal?"
"Kau benar, seharusnya tak saling menyakiti. Tapi tak semua orang seberuntung mu! Kau tak mengerti bagaimana rasanya muak melihat orang baik mendapatkan apa yang tak bisa kumiliki! Kau takkan pernah mengerti!" Kata-kata Rin membuat Stella tersentak. Ia tertampar oleh kenyataan pahit. Kebencian antar individu ada karena takdir dan nasib yang berbeda. Iri hati muncul, keinginan merasakan apa yang tak bisa dirasakan. Dunia yang ia impikan, dunia tanpa saling menyakiti, takkan pernah terwujud.
Rin menyerang lagi dengan serangkaian serangan cepat. Stella menangkis beberapa ayunan pisau dengan lengan dan tangannya, menghindari tusukan dengan gerakan meliuk dan membungkuk. Ia membalas dengan tendangan dan pukulan, mencoba memanfaatkan celah pertahanan Rin. Rin melompat mundur untuk menghindari pukulan Stella yang mengenai dagunya. Stella mencoba meninju perut Rin, namun Rin memblokirnya dengan lengan bawah, lalu membalas dengan tendangan cepat ke arah wajah Stella. Stella menangkis tendangan tersebut dengan tangannya, namun terhuyung mundur. Rin memanfaatkan kesempatan itu dan melayangkan tendangan ke arah kaki Stella. Stella kehilangan keseimbangan di tepi tebing. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Jeritannya tertahan di tenggorokan saat tubuhnya mulai hendak jatuh.
"Stella!!!!!" panggil seseorang.
Tepat sebelum tubuh Stella menghantam dasar jurang, Luna muncul bak kilat. Dengan gerakan lincah dan tepat, Luna mendorong Stella dari tepi, menyelamatkan nyawanya. Sayangnya, momentum kuat dari jatuhnya membuat Luna kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terpelanting ke jurang, jatuh dengan keras ke dasar jurang yang berbatu. Suara benturan keras terdengar, disusul oleh teriakan Luna yang tertahan. Darah segar mengalir dari pelipis kiri Luna, mengalir di antara rambutnya yang hitam namun ia masih sadar, Stella segera menyusul ke bawah dan menghampiri Luna.
Ia memangku tubuh lemah itu, lalu bertanya dengan isakkan "kenapa kamu bisa ada di sini? dan kenapa sampai sebegitunya kau menyelamatkanku? "
Dengan lemah Luna menjawab "hari itu kau membuatku menyadari bakatku sejak itu aku mengagumimu kita memang teman sebangku dan terbiasa mengobrol tentang hal-hal santai saja karena aku takut membahas hal yang lebih personal ... karena perbedaan seorang populer sepertimu, aku takut lebih dekat, tapi aku sangat peduli padamu.... " matanya memancarkan ketulusan "Saat mendengar pembicaraanmu kemarin, terdengar terlalu mencurigakan sehingga untuk berjaga-jaga aku mengikutimu...."
Stella terharu, selama ini ia punya banyak teman, tapi tak ada yang benar-benar dekat dan dirasa amat peduli dengannya, rupanya teman sebangkunya sendirilah yang sangat peduli padanya "Padahal selama ini tak ada teman yang benar-benar peduli sebegininya ... terimakasih ... kamulah sahabat sejatiku yang sebenarnya.... "
"Aku senang ... bertemu denganmu.... " ujar Luna lirih sebelum tak sadarkan diri.
Stella panik terus memanggil Luna, tapi tanpa disangka Rin sudah menyusulnya, siap Menyerangnya lagi.
Mereka bertarung lagi, meski terluka dan kelelahan, Rin bergerak lincah sementara Stella fokus menghindari serangannya, terbesit sebuah ide di benak Rin, ia menyimpan pisaunya dan bertarung dengan tangan kosong, ia memukul dan Stella menangkis dengan kedua tangannya dan di saat itulah satu tangan Rin mengambil belatinya....
JLEBB!
ia berhasil menembus pertahanan Stella.
Pisau belatinya menancap amat dalam di bagian perut Stella. Stella menjerit kesakitan, tubuhnya ambruk ke tanah. Darah segar memancar dari luka itu, membasahi tanah di bawahnya. Stella merasa dunia berputar, pandangannya mulai kabur. Nyeri yang menusuk menghantam tubuhnya, namun ketahanan fisiknya yang berbeda mencegahnya mati seketika. Ia hanya bisa berbaring lemah, menunggu pertolongan yang tak pasti sementara Rin tertawa penuh kegilaan, setelah beberapa saat Zephyr tiba —ia datang setelah mendapati Stella tak ada di pesawat dan mulai mencari keberadaannya lewat GPS—, nafas terengah-engah. Ia melihat Stella terluka parah. dunianya seolah runtuh seketika, dadanya bergemuruh penuh amarah, Mata merahnya menyala, Ia berubah wujud Obsidian Zephyr.
"Arghhhhhhhhh! " Teriaknya penuh kemarahan.
Ia siap mengamuk dengan cepat ia melesat ke arah Rin dan mencekik gadis itu, dengan nada tinggi penuh amarah ia berteriak "kenapa kau melakukan ini pada Stella?! kenapa?! "
Rin menjawab tanpa penyesalan "karena aku benar-benar membencinya, tak ada alasan lain, aku muak melihatnya juga karena dia telah merebut peringkat ku! "
Zephyr bertambah emosi ia mengangkat gadis yang ia cekik itu ia membanting tubuh itu ke tanah berulang-ulang....
menciptakan suara hantaman yang mengerikan....
BRAKK!
BRAKK!
BRUUK!
"kyaaaaaa! arghhhhhh! " jerit Rin di setiap serangan dari Zephyr menjadi simfoni rintihan yang mengerikan.
tak hanya itu ia mengeluarkan kekuatannya lalu mengalirkan petir hitam, menyetrum Rin, lolongan teriakan Rin terdengar namun ia tak peduli, ia bahkan mencabik-cabik hingga puas lalu menusuk tubuh yang sudah kehilangan nyawanya sejak tercabik tadi.
Zephyr mendekati Stella yang lemah dan nyawanya susah amat di ujung tanduk. Ia memeluknya, tangis tak terbendung. "Oi! Stella! Stella! Bertahanlah!" berusaha mengangkat tubuh itu tapi Stella menghentikannya.
Udara dingin mulai menyergap dan Tiba-tiba suara petir menggelegar layaknya menggetarkan bumi.
JEDER!
gumpalan awan kelabu itu pertanda hujan akan segera muncul rintik-rintik air mulai turun seolah-olah langit pun ikut menangis merasakan kesedihan mereka.
"Sudahlah ... aku memang takkan bertahan lebih lama lagi.... " memang benar pendarahannya sudah amat banyak yang tentunya sudah tak mungkin terselamatkan dan Stella sendiri merasa kesadarannya takkan bertahan lama.
"Apa yang kau katakan Stella?! aku akan mencari cara menyembuhkanmu! "
"Itu percuma Kakak, kita tak bisa pergi ke rumah sakit manusia karena kita bukan bagian darinya, yang kuinginkan sekarang juga hanyalah kau ada di sisiku sampai akhir, aku ingin membuat kenangan yang terakhir ... jadi tolong dengarkan aku yah? " Fakta pahit itu menampar Zephyr jadi ia menuruti Stella untuk mendengarkan gadis itu.
Zephyr mengangkat tubuh Stella ke dekapannya, wajahnya dipenuhi kepanikan dan kesedihan yang mendalam, seakan akan kehilangan segalanya. Stella, harta paling berharga yang dimilikinya, terbaring penuh luka menganga, darah terus merembes dari tubuh mungilnya. Mata yang biasanya bersinar ceria kini sayu, kehilangan kilaunya, redup bagai bintang yang padam.
Air mata membasahi pipi Zephyr, membaur dengan darah Stella. Ia merasakan sakit yang amat sangat, tangisnya pecah. Stella, dengan sisa kekuatannya, mengangkat tangan lemahnya, menyentuh pipi sang kakak.
Rintik-rintik hujan tadi turun menjadi lebih cepat dan lebih banyak, hujan gerimis tadi kini sudah berubah menjadi hujan yang amat deras.
SRASH!
Tetesan air mulai membasahi dual orang itu rambutnya tergerai ke bawah karena basah, Darah yang terus mengalir dari tubuh Stella bersatu dengan genangan air hujan.
Di penghujung hayatnya, Stella ingin menyampaikan kata-kata terakhir sebagai kenangan abadi. Setiap tarikan napas terasa berharga. Ia berusaha keras untuk berbicara, melawan rasa sakit yang menyiksa. Akhirnya, suaranya terdengar lirih,
"Kakak, maafkan aku tidak menurutimu tadi... Tapi sebenarnya aku hanya ingin menciptakan kenangan baru di sini, sebanyak mungkin bersama teman baru, berbagi kebahagiaan bersama, termasuk Rin juga...." Air mata mengalir di pipinya. Keinginannya untuk menciptakan kenangan indah berakhir tragis.
"Aku tidak mengerti kenapa semuanya berakhir seperti ini, tapi aku tidak menyesalinya karena aku menyadari bahwa ada seseorang yang amat peduli sampai rela berkorban untukku...." Pandangannya jatuh pada Luna yang terbaring tak sadarkan diri. Zephyr mengikuti arah pandang Stella. "Selamatkan dia, ya? Pastikan ia tetap hidup."
Tangis Zephyr semakin pecah. Bahkan di saat-saat terakhirnya, Stella masih memikirkan orang lain. Ia memang adik perempuannya yang baik hati. Dadanya sesak, rasa sakit fisik dan batin menghantamnya. Dengan bibir bergetar, Stella berbisik,
"Padahal ... aku hanya ingin hidup tenang bersamamu..... "
Tangan Stella jatuh lemas dari pipi Zephyr. Matanya yang sayu terpejam sempurna. Otot-ototnya mengendur, jantungnya berhenti berdetak, napasnya tak lagi berhembus. Kehidupan Stella ... telah berakhir....
"Stella? Stella! bertahanlah sedikit lebih lama lagi! kumohon.... " suaranya nyaris tak terdengar di akhir ketika tertampar kenyataan bahwa adiknya kini telah tiada lagi di dunia ini....
Stella sudah pergi meninggalkannya....
Matanya menangkap darah Stella yang bercampur di genangan air hujan, adiknya yang manis kini hanya tinggal tubuh tak bernyawa yang ada di dekapannya.
Perlahan tangannya mengepal memperlihatkan urat-urat tangannya yang menonjol.
"Mereka harus membayarnya rasa kehilangan yang kurasakan, nyawa Stella ... mereka harus membayarnya! mereka juga harus ikut merasakannya! "
-
-
-
Tragedi itulah yang membuat Zephyr menjadi sosok mengerikan seperti sekarang, ia ingin membuat manusia merasakan apa yang ia rasakan, dan selanjutnya kita akan melihat apa yang ia lakukan setelah kematian Stella.
Kekacauan apa yang pertama diperbuatnya? apa siasatnya? juga bagaimana tentang Luna, teman Stella itu? nantikan kelanjutannya!
Bersambung....