Di negara barat, menyewa rahim sudah menjadi hal lumrah dan sering didapatkan.
Yuliana adalah sosok ibu tunggal satu anak. Demi pengobatan sang anak, ia mendaftarkan diri sebagai ibu yang menyewa rahimnya, hingga ia dipilih oleh satu pasangan.
Dengan bantuan alat medis canggih, tanpa hubungan badan ia berhasil hamil.
Bagaimana, Yuliana menjalani kehamilan tersebut? Akankah pihak pasangan itu menyenangkan hatinya agar anak tumbuh baik, atau justru ia tertekan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Clara Hamil
"Bagaimana? Hasilnya sudah keluar?" tanya Clara sembari menempelkan ponselnya di depan telinga.
Ia tampak mendengarkan jawaban dari suara sambungan telepon itu. Bola mata Clara melebar dan senyumnya mengembang, seolah mendapatkan berita yang baik.
"Benarkah? Akhirnya!" jerit Clara bahagia, tangannya terulur menyentuh perutnya yang rata.
Setelah mendapatkan kabar gembira itu, wanita itu pun mengulum senyum menatap benda pipih bergaris dua merah di sana.
"Karena hasilnya sudah sesuai, aku akan beritahu Sean kalau hamil, dan semoga wanita itu juga diusir nantinya," batinnya mengulum senyum lebar, sembari menggenggam erat benda pipih tersebut.
Clara bangkit, berjalan santai keluar dari kamarnya. "Sean! Sayang!" serunya dengan penuh semangat dan suara yang terdengar begitu senang.
"Iya, aku di bawah!" balas Sean ikut berteriak.
Clara mengulum senyum. Tangannya menyisir lembut rambutnya, merapikan sedikit penampilan untuk menuruni tangga menemui suaminya.
Saat sudah berada di lantai empat, ia melihat Sean yang tampak fokus pada layar iPad di pangkuannya.
"Sean," suara lembut Clara membuat pria itu menoleh, dan memberikan senyuman terbaiknya.
Clara berjalan lembut, menghampiri, dan segera duduk di samping Sean.
"Sean, aku punya sesuatu untuk kamu," ucap Clara menarik tangan Sean dan meletakkan kepalanya di pundak pria itu.
"Apa itu?" tanya Sean.
"Sesuatu yang pasti kamu suka," balas Clara lagi, membuat Sean tersenyum gemas.
"Tentu saja. Apapun yang kamu berikan, pasti aku suka," tanggap Sean.
Sean meletakkan iPad di sebelahnya, lalu menarik Clara naik ke pangkuannya.
"Apa itu hem?" tanyanya menatap penuh kelembutan pada wanita itu.
Clara tersenyum perlahan mengeluarkan benda di tangannya, dan memperlihatkan bagian dua garis merah pada Sean.
Bola mata Sean melebar. Jelas ia sangat mengerti benda apa itu. Wajahnya syok dan terkejut membuatnya tidak mampu berkata-kata.
"Ini?" Sean meraihnya dengan tangan sedikit gemetar.
"Aku hamil Sean. Aku hamil," ucap Clara sembari mengulum senyum lebar dan mata yang berkaca-kaca.
Sean masih terdiam. Ia menatap wajah Clara dengan serius untuk mendapatkan jawaban pasti, lalu beralih menatap perut Clara yang rata.
Bahagia, dan khawatir menjadi satu. Ia turut bahagia karena harapan Clara menjadi nyata. Namun, rasa khawatirnya bercabang dua. Khawatir anak dalam kandungan Yuliana akan tersingkirkan, baik dari dunia, ataupun dari hatinya sendiri. Dan juga khawatir jika Clara kembali sakit karena kehamilan sebelumnya yang dua kali keguguran.
Dan dua perasaan itu membuatnya masih belum bisa berkata apapun.
Clara menarik wajah Sean agar menatapnya. "Sean, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak senang? Apa karena kamu sudah mengharapkan anak di kandungan wanita itu?" tanyanya dengan wajah yang sedih.
"Hah?" Sean segera mengendalikan perasaannya. Ia mengusap lembut wajah Clara. "Bukan seperti itu sayang. Aku bahagia, sangat bahagia, tapi juga khawatir, kalau kamu sakit lagi. Kamu ingat kan, waktu kamu keguguran, kamu selalu di rawat di rumah sakit, dan koma berhari-hari, aku takut itu sayang," ungkap Sean dengan sedikit menutupi sisi lainnya.
Clara tersenyum kecil, dan menggelengkan kepala. "Tidak Sean, aku yakin kali ini aku akan kuat. Aku akan menjaga apa yang aku konsumsi," ucapnya dengan penuh tekad dan keyakinan, membuat Sean hanya bisa mengulum senyum.
Tangannya terulur mengusap lembut perut rata itu. "Baby, apa kamu benar-benar hadir di dalam sana?" batinnya kembali mendongak menatap Clara.
"Kita ke rumah sakit ya," ajaknya yang dibalas anggukan yakin dan senyum lebar dari istrinya.
Clara menangkup wajah Sean dan menatapnya dengan serius. "Anak ini pasti akan lahir Sean. Aku akan berusaha. Jadi, kita tidak butuh anak dalam kandungan wanita itu, iyakan?" ucapnya dengan tegas, mengucapkan kalimat akhirnya itu, berharap Sean akan patuh padanya.
Sean terdiam beberapa saat, pikirannya bergelut dengan benaknya. Dengan berat hati ia mengangguk mengiyakan, membuat Clara mengulum senyum lebar.
"Kalau begitu ayo buat wanita itu keguguran," ajak Clara lagi membuat bola mata Sean melebar.
"Kita—, kita juga harus bicara sama Mommy dulu," ucapnya mulai merasa gugup hingga keringat dingin hadir di keningnya.
"Mommy pasti tidak setuju Sean. Mommy ataupun wanita itu pasti tidak mau menggugurkan kandungan itu, jadi ayo kita buat dia keguguran saja," ucap Clara membuat bola mata Sean semakin melebar tajam.
Haruskah seperti itu?
Kenapa ia merasa, Clara terlalu keterlaluan untuk mencapai keinginannya.
Namun, detik berikutnya, jika dipikirkan dalam posisi Clara, Sean mengerti kenapa Clara begitu tak menyukai anak dalam kandungan itu.
Meski itu anak mereka. Clara hanya ingin menjadi seorang Ibu seutuhnya yang mengandung dan melahirkan anak mereka sendiri.
"Bagaimana ini?" batinnya mulai kembali dilema. Mengingat Clara yang selalu melakukan apapun untuk mencapai keinginannya, membuatnya takut Clara melakukan sesuatu yang buruk pada Yuliana.
Clara menangkup wajah Sean dengan lembut namun juga tegas, membuat dunia Sean seolah berhenti menatap bola mata itu.
"Ingat Sean, aku ingin anak itu digugurkan. Aku tidak ingin ada keturunan keluarga Sawyer yang bukan dari rahimku!" ucap Clara dengan tegas membuat Sean semakin lemas, dan pandangannya tiba-tiba menghitam. Mungkin karena terlalu syok setiap ucapan Clara membuat kesadaran seakan menghilang.
Sean memejamkan mata erat, mencoba untuk tenang dan mengumpulkan kesadarannya kembali. Namun, tiba-tiba saja sebuah suara lembut terdengar.
"Daddy ...." Suara lembut yang diiringi sesosok anak kecil yang tersenyum muncul dalam bayangannya, namun hanya sekilas membuatnya seketika terkejut dan melebarkan mata, hingga suasana kembali menghadapkannya pada Clara.
"Sean, kenapa kamu diam saja?" tanya Clara yang sudah bangkit dari pangkuannya.
"Kamu tidak senang ya? Kamu mau mempertahankan anak itu?" ucap Clara mendesak sebuah jawaban.
Bibir Sean bergetar tak tau harus memberi jawaban apa. Setiap ucapan Clara ia dengar dan otaknya menerima dan mencernanya, namun benaknya bergantian mengingat setiap kenangan yang dia rasakan gerakan perut Yuliana.
Sean menghela nafas kasar, lalu mengulum senyum tipis menatap istrinya. "Kita pikirkan itu nanti ya. Kita pastikan anak kita dulu. Karena pasti tidak mudah juga menyingkirkannya, dia punya Mommy dan Daddy yang membela," tuturnya dengan lembut.
Ucapannya yang bermaksud melindungi Yuliana, yang terkesan akan mendukung istrinya.
"Hm?" Clara cemberut, namun akhirnya ia mengangguk. "Aku yakin, aku hamil, dan aku bisa menghadapi kehamilan ini. Jadi, ingat janji kamu Sean!" ucapnya dengan tegas membuat Sean hanya bisa menanggapi dengan senyum tipis yang terpaksa, dan tatapan yang kosong.
Semangat kak bikin ceritanya! aku tunggu episode selanjutnya.🔥
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚓𝚗𝚐𝚗 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚒𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐 thur
Semangat bikin kelanjutan ceritanya kak🔥💪
lanjut
Semangat kak Bikin ceritanya! 💪🏻🔥
kapan ya part sean tau clara berkhianat sama anak yg di kandung clara bukan anak sean, biar menyesal seumur hidup sean,