Karisma Putri, perempuan berusia tiga puluh dua tahun harus menerima kenyataan pahit bahwa sang suami yang bernama Radit, laki- laki yang begitu dia cintai sepenuh hati telah menodai pernikahannya dengan cara berselingkuh dengan perempuan dari masa lalunya.
Tak hanya itu, ternyata selama sepuluh tahun pernikanannya bersama Radit, dan sudah dikaruniai dua orang anak,Risma baru mengetahuinya jika suaminya itu tidak pernah mencintainya dan tidak pernah bahagian hidup bersamanya.
Risma baru mengetahui jika cintanya selama ini kepada Radit hanya bertepuk sebelah tangan.
Lalu apakah Risma bisa mempertahankan keutuhan rumah tangganya di tengah kehancuran hatinya...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Fitnah
Setelah makan siang bersama ,Ririn dan Risma pulang dan menjemput anak- anak di sekolah. Setelah sampai rumah, Risma menyiapkan makanan untuk anak- anaknya. Kebetulan tadi Risma membeli beberapa makanan di food court untuk mereka.
"Mas Rafa sama Sabila makan dulu ya, ibu mau ke rumah tante Anggi...." ucap Risma.
"Ade ikut..." ucap Sabila.
"Jangan sayang, kalian capek baru pulang sekolah. Nanti selesai makan kalian istirahat saja ya, ibu nggak lama kok..." sahut Risma.
"Tapi nanti boleh nonton Tv nggak bu...?" tanya Sabila.
"Boleh... Mas Rafa, jagain adeknya ya..."
"Iya bu..."
Risma lalu pergi ke rumah Anggi menggunakan sepeda motornya. Sesampainya di sana Risma langsung membuka pintu pagar dan berjalan menuju teras rumah kemudian mengetuk pintu.
"Tok..tok..."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Bayu membuka pintu.
"Tante Risma..."
"Bayu, mama ada nggak...?" tanya Risma.
"Mama di rumah nenek tante..." jawab Bayu.
"Oh ,di rumah nenek ya, ya udah kalau gitu tante ke rumah nenek saja. Makasih ya Bayu..." ucap Risma.
"Iya tante...."
Risma lalu pergi ke rumah bu Ratna yang jaraknya hanya seratus meter dari rumah Anggi. Sesampainya di halaman rumah bu Ratna, Risma lalu menghentikan sepeda motornya. Kemudian Risma mengetuk pintu. Tak lama kemudian Bu Ratna membuka pintu.
"Oh, bagus Risma, akhirnya kamu datang juga..." ucap bu Ratna dengan wajah tak bersahabat.
"Maaf Umi, apa Anggi ada di sini...?" tanya Risma.
"Iya, dia ada di sini. Dia lagi nunggu kamu..." jawab bu Ratna dengan jutek.
"Memangnya ada apa sih Mi...?" tanya Risma.
"Ada apa..ada apa... Nggak usah pura- pura nggak tahu deh kamu..." Bu Ratna melotot.
Bi Ratna lalu masuk ke dalam rumah, lalu Risma mengikutinya.
"Anggi, tuh si Risma sudah datang..." ucap bu Ratna begitu sampai di ruang tengah.
Iya, di ruang tengah ada pak Salim, Anggi dan juga Aryo.
"Risma....!" seru Anggi sambil bangun dari duduknya.
Dengan cepat Anggi lalu menghampiri Risma dan tanpa aba- aba Risma menampar kedua pipi Risma
"Plak...plak."
"Anggi..." seru pak Salim.
Risma memegangi pipinya yang terasa panas. Dia bingung kenapa tiba- tiba Anggi menamparnya.
"Kurang ajar kamu Risma...! Dasar perempuan murahan...! Bisa- bisanya kamu menggoda mas Aryo...! Dasar p*lc*r kamu....!" Anggi mendorong tubuh Risma. Kemudian menarik hijabnya hingga terlepas.
"Anggi, kendalikan diri mu, kamu jangan berbuat seperti itu sama Risma...!" seru pak Salim mencoba menghentikan Anggi.
"Abah nggak usah ikut campur..! Ini urusan ku dengan perempuan murahan ini..." seru Anggi pada Pak Salim.
Anggi kemudian menarik rambut Risma dengan kuat.
"Aauuww... Sakit Anggi..lepaskan...." Risma berteriak kesakitan.
Sementara itu bu Ratna tersenyum merasa puas dengan apa yang dilakukan oleh Anggi pada Risma. Sedangkan Aryo hanya duduk dan sesekali melirik pada Risma. Dan pak Salim tidak bisa berbuat apa- apa. Dia hanya menatap kasihan pada Risma.
" Lepaskan tangan kamu..! Apa salah aku Anggi...!"
"Oh, jadi kamu pura- pura b*go..! Iya..!" Anggi lalu melepaskan rambut Risma kemudian berjalan ke arah meja dan mengambil sesuatu di sana.
"Apa ini....!" Anggi melempar beberapa lembar foto ke muka Risma.
Risma lalu mengambil foto- foto tersebut yang berserakan di lantai.
"Nggak... Kenapa ada foto- foto seperti ini...!" Risma menggelang- gelengkan kepalanya sambil melihat foto- foto dirinya bersama Aryo waktu di vila.
Dalam foto tersebut Aryo memeluk Risma di pinggir danau, ada juga saat mereka berada di sebuah kamar, posisi mereka seperti sedang berciuman dan yang terakhir foto Aryo yang sedang menindih tubuh Risma di atas tempat tidur.
"Nggak Anggi,,, foto ini nggak benar... Kejadiannya nggak seperti di foto, aku bisa jelaskan sama kamu Anggi..." ucap Risma.
"Mau jelaskan apa lagi hah...? Mas Aryo saja mengakui kok kalau foto itu foto kamu dan mas Aryo di vila...''
"Kamu ngapain aja di vila bersama mas Aryo hah...!" Anggi kembali mendorong tubuh Risma dengan kasar.
"Kami nggak ngapa- ngapain Anggi... Ini hanya salah paham saja...."
"Mas Aryo , tolong jelaskan kalau ini hanya salah paham saja..." ucap Risma pada Aryo. Tapi Aryo hanya diam saja sambil menunduk.
"Hei Risma, kamu nggak usah mengelak lagi, foto ini sudah menjelaskan semuanya kok, kamu selingkuh dengan Aryo. Dasar nggak tahu malu...!" ucap bu Ratna.
"Nggak Mi itu nggak benar sama sekali..." jawab Risma sambil menangis.
"Abah, semua itu nggak benar abah, aku nggak selingkuh dengan mas Aryo. Abah percaya sama aku kan bah...?" tanya Risma pada pak Salim.
Tapi pak Salim hanya diam saja tidak menjawab apa- apa. Pak Salim juga bingung. Mau percaya , tapi rasanya tidak mungkin Risma bisa melakukan perbuatan hina itu. Tapi mau tidak percaya , foto itu sudah menjelaskan apa yang terjadi antara Risma dan Aryo.
"Abah, tolong percaya sama aku Bah, aku nggak selingkuh dengan mas Aryo, ini salah paham saja....."
"Sudah lah Risma, kamu nggak usah mencari alasan...! Kamu memang nggak tahu malu, berlagak lugu tapi ternyata kamu perempuan murahan..! Bisa - bisanya kami menggoda adik ipar sendiri. Menjijikan tahu nggak...!" seru Anggi.
"Ada apa ini..." tiba- tiba terdengar suara seorang laki- laki dari arah ruang tamu. Risma dan yang lainnya menoleh ke sumber suara secara bersamaan.
"Mas Radit..." ucap Risma.
Iya, Radit datang bersama dengan Eva. Kebetulan jumat besok tanggal merah, jadi kamis sore Radit dan Eva sudah pulang dari kota B.
"Mas Radit...hik..hik...." Anggi menangis sambil mendekat ke arah sang kakak lalu memeluknya.
"Ada apa Anggi, kok kamu nangis...?" tanya Radit mengusap punggung sang adik.
"Hik...hik...Risma mas...hik..hik..."
"Risma kenapa...?
"Risma menggoda mas Aryo, mereka selingkuh hik..hik..." jawab Anggi sambil menangis.
"Apa...?" Radit tentu saja terkejut mendengar aduan sang adik. Tak hanya Radit yang terkejut Eva pun sama terkejutnya dengan Radit.
"Kamu ini bicara apa Anggi..." Radit merasa tidak percaya dengan ucapan Anggi.
"Iya mas, mereka berbuat mesum di vila mertua Anggi..hik..hik.." jawab Anggi.
"Nggak mas.. Nggak... Itu nggak benar... Kejadiannya nggak seperti itu mas..." ucap Risma mendekat ke arah Radit.
Radit pun bingung harus percaya sama siapa.
"Nih Radit, kalau kamu tidak percaya kamu lihat saja kelakuan istrimu itu..." bu Ratna memberikan bukti foto kepada Radit.
Radit mengambil foto dari tangan bu Ratna kemudian melihat semua foto itu. Dada Radit naik turun dengan cepat karena nafasnya memburu menahan emosi.
"Apa maksud semua ini Risma...!" seru Radit marah.
"Mas Radit, aku bisa jelaskan semuanya mas, kejadiannya tidak sama dengan yang ada di foto..." jawab Risma sambil menangis.
"Itu semuanya nggak benar mas, aku dijebak sama Aryo mas...hik..hik..." sambung Risma.
"Dijebak gimana maksud kamu...?" Radit mencengkeram lengan Risma.
Sementara Aryo masih saja diam membisu sambil duduk di sofa menundukkan kepalanya.
"Mas dengarkan aku dulu, aku akan jelaskan semuanya...." ucap Risma.
Sambil menangis Risma menceritakan apa yang terjadi dengan dia dan Aryo. Dari mulai Aryo yang berjanji akan memberi bukti perselingkuhan Radit hingga dia membawanya ke sebuah Villa dan terakhir percobaan Aryo ingin melecehkan Risma.
"Itu semua tidak benar...! Kamu jangan bohong Risma...!'' seru Aryo tiba- tiba bersuara.
"Bohong apa mas, aku mengatakan yang sebenarnya..." sahut Risma.
Aryo tersenyum sinis pada Risma.
"Kamu bilang aku mau melecehkan kamu...?" Aryo tertawa.
"Melecehkan apa...? Kamu terlalu pede Risma. Kamu pikir aku tertarik dengan tubuh kamu hingga aku melecehkan kamu, hah...! Ngaca dong kamu Ris, apa menariknya kamu buat aku...? Istriku bahkan lebih cantik dari kamu., suami kamu saja sudah tidak mau menyentuhmu. Ngapain aku mau melecehkan kamu..." lanjut Aryo.
Risma menggeleng- gelengkan kepalanya dengan air mata terus mengalir.
"Justru kamu yang suka kegatelan sama aku kan, kamu ingat tidak waktu kita ketemu di sekolah sehabis mengantar anak- anak kamu ngomong apa sama aku...?" tanya Aryo.
"Kamu curhat kan sama aku kalau kamu sudah lama tidak disentuh oleh Radit, padahal kamu sangat menginginkan tubuh Radit. Lalu kamu membujuk aku agar aku mau menjadi selingkuhanmu. Kamu ingin balas dendam sama Radit yang sudah menikahi Eva..."
"Nggak... Nggak....itu nggak benar...! Kamu jangan fitnah aku mas Aryo. Sudah jelas- jelas kamu yang suka bicara tidak sopan sama aku...!" seru Risma.
"Nggak mas, yang dikatakan mas Aryo itu semuanya nggak benar...." ucap Risma pada Radit. Radit menatap tajam pada Risma.
"Lalu kenapa kamu mau diajak ke vila sama Aryo..? Kenapa Risma...! " seru Radit.
"Dia yang maksa aku ke vila, dia janji akan memberikan bukti perselingkuhan kamu sama Eva...."
"Dasar bodoh kamu Risma...!" seru Radit.
"Kamu sudah melakukan apa saja dia sana sama Aryo..! Katakan Risma..." Radit berterik di depan Risma.
"Nggak mas ...nggak...hik..hik..."
"Dia memberikanku minuman, setelah aku meminum minuman itu, badanku terasa panas, lalu Risma membawaku ke kamar. Setelah itu, aku tidak sadar apa yang Risma lakukan padaku, ketika aku sadar kami sudah tidak memakai pakaian, dan Risma tertidur pulas di sampingku..." ucap Aryo dengan penuh keyakinan.
"Nggak...nggak itu sama sekali nggak benar.. mas Aryo kamu jangan memfitnah aku mas..!" seru Risma tidak terima dengan pernyataan Aryo.
"Aku hanya mengatakan apa yang aku alami Risma...." Aryo menatap tajam pada Risma.
"Kurang ajar kamu Risma...! Dasar p*l*c*r kamu.. ! "
"Plak..plak...." Anggi kembali menampar kedua pipi Risma.
"Auww...." Risma merintih kesakitan.
"Kamu jahat mas Aryo...! Kamu sudah memfitnah aku...! Demi Alloh aku nggak melakukan itu...! Justru kamu yang telah menjebakku dan berusaha melecehkanku...!" seru Risma.
"Sudah diam kamu Risma....!" Radit berteriak di depan Risma.
"Kenapa kamu bisa melakukan perbuatan serendah itu Risma...!" seru Radit sambil mencengkeram kedua lengan Risma dengan kuat.
"Enggak.. Mas ...enggak... Aku nggak pernah melakukan itu... Itu fitnah mas. Mas Aryo bohong mas.. Percayalah padaku... Demi Alloh aku tidak melakukan itu.." suara Risma mulai melemah.
"Jangan bawa- bawa nama Tuhan untuk sebuah kebohongan Risma..." ucap Aryo sekali lagi dengan penuh keyakinan hingga semua orang yang ada di ruangan itu percaya padanya.
Radit menatap Risma dengan tajam, matanya memerah menandakan dia begitu marah pada Risma.
"Baiklah, saat kata- kata jujur yang keluar dari mulutku tak lagi punya arti buat kalian, biarkan Tuhan yang akan membuat kalian percayai dan meyakini kebenarannya suatu saat nanti..." ucap Risma dengan air mata yang terus mengalir.
"Ikut denganku...." Radit menarik tangan Risma dengan kasar dan membawa Risma pergi dari ruang tengah.
"Lepaskan aku mas, kamu mau bawa aku ke mana.." ucap Risma yang terus diseret oleh Radit keluar dari rumah bi Ratna.
Radit terus menyeret Risma dan tak perduli dengan rintihan Risma yang tangannya kesakitan karena dicengkeram oleh Radit dengan kuat.
"Lepaskan tangan aku mas sakit...hik..hik..."
Sekali lagi Radit tidak memperdulikan ucapan Risma. Radit lalu menuju garasi. Kemudian dia membuka pintu mobil. Iya, mobil Radit sudah beberapa minggu ini di simpan di garasi rumah bu Ratna.
"Masuk..." Radit mendorong tubuh Risma dengan kasar masuk ke dalam mobil. Kemudian Radit menutup pintu mobil dengan kasar hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Radit kemudian ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Tanpa bicara apapun Radit menjalankan mobilnya meninggalkan rumah bu Ratna. Sepanjang perjalanan Radit fokus menyetir dengan wajah masih dipenuhi oleh emosi. Sedangkan Risma masih saja menangis. Penampilannya begitu berantakan. Bahkan dia sudah tidak memakai hijab lagi karena ditarik oleh Anggi hingga terlepas dan dilempar entah ke mana.
Kedua pipi Risma pun memerah bekas tamparan Anggi sebanyak dua kali. Rambut Risma yang panjang pun terlihat acak- acakan karena tadi sempat dijambak oleh Anggi hingga ada beberapa helai rambut yang terlepas. Dan satu lagi, pergelangan tangan serta lengan Risma terasa sakit dan memerah karena tadi dicengkeram oleh Radit dengan cukup keras.
Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi mereka telah sampai di depan rumah. Radit turun membuka pintu pagar lalu memasukkan mobil ke dalam garasi. Radit lalu turun terlebih dulu dan menutup kembali pintu pagar. Sementara Risma masih saja duduk di dalam mobil sambil menangis.
Radit lalu kembali ke mobil menghampiri Risma.
"Turun..." dengan kasar Radit menarik tangan Risma. Risma turun dari mobil dan Radit terus menyeretnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ayah dan ibu...." ucap Rafa dan Sabila menghampiri Radit dan Risma.
"Kalian masuk kamar..." ucap Radit kepada Rafa dan Sabila.
"Ayah, ibu kenapa...?" tanya Rafa heran melihat penampilan sang ibu yang acak- acakan.
"Masuklah ke kamar..." ucap Radit dengan tegas.
"I..iya Ayah..." Rafa dan Sabila merasa takut kemudian masuk ke dalam kamar.
Radit kembali menarik Risma dan membawanya ke dalam kamar mereka. Radit lalu mengunci pintu kamar dari dalam. Setelah itu Radit mendorong tubuh Risma hingga jatuh ke atas kasur.
"Mas, kamu mau ngapain aku..." ucap Risma.
"Kamu mau aku sentuh kan Ris, saking kamu ingin disentuh sampai kamu melakukan hal melakukan pada Aryo...." jawab Radit sambil melepas pakaian bagian bawah.
Dia lalu mendekat ke arah Risma yang sudah bangun dan duduk ketakutan melihat Radit.
Dengan kasar Radit kembali mendorong tubuh Risma ke kasur, dengan cepat Radit menarik pakaian Risma hingga robek.
"Masss... Apa yang kamu lakukan... Tolong jangan seperti ini mas aku mohon... Hik..hik...."
Radit sama sekali tidak memperdulikan tangisan Risma dia kembali merobek pakaian Risma dan melempar satu demi satu pakaian yang sudah robek ke sembarang arah.
"Mas tolong jangan perlakukan aku seperti ini..." Risma terus memohon.
Lagi- lagi Radit tidak memperdulikan ucapan Risma.Setelah semua kain terlepas dari badan Risma, Radit menindih badan Risma.
Bersambung...
inget y radit.... beda istri beda rizkinya...
km mnikah dgn risma.... jabatanmu di kantor makin moncer.... krna risma mngabdi dan mndoakan suaminya setulus hati....
tpi justru doa yg tak hnti risma langitkn siang malam.... km balas dgn pnghianatan dan ktidak adilan...
istri sah km beri nafkah seadanya... sdangkn selingkuhanmu km beri berlipat2 ganda untuk ber senang2...
tapi.. semoga setelah ini si Radit jadi beneran balangsak dan makin ancur dehhhh 😡😡😡😡
makin mblangsak & makin g smbuh2 saat km tau betapa rafa sangat2 mmbencimu...