Gendhis harus merelakan pernikahan mereka berakhir karena menganggap Raka tidak pernah mencintainya. Wanita itu menggugat cerai Raka diam-diam dan pergi begitu saja. Raka yang ditinggalkan oleh Gendhis baru menyadari perasaannya ketika istrinya itu pergi. Dengan berbagai cara dia berusaha agar tidak ada perceraian.
"Cinta kita belum usai, Gendhis. Aku akan mencarimu, ke ujung dunia sekali pun," gumam Raka.
Akankah mereka bersatu kembali?
NB : Baca dengan lompat bab dan memberikan rating di bawah 5 saya block ya. Jangan baca karya saya kalau cuma mau rating kecil. Tulis novel sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Yune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam itu, di sebuah kafe yang cukup sepi, Dion duduk gelisah sambil menatap layar ponselnya. Ia menunggu Raka yang sedang dalam perjalanan. Tangannya menggenggam erat flash drive berisi rekaman percakapan Clara dan Abram. Ini bukan hanya tentang menyelamatkan karier Raka, tetapi juga tentang mengungkap kebenaran.
Tak lama kemudian, Raka tiba bersama Gendhis. Wajah pria itu masih menyiratkan kelelahan dan ketegangan yang belum mereda.
"Ada apa, Dion? Kau bilang ini mendesak," ujar Raka langsung, tanpa basa-basi.
Dion menggeser ponselnya di atas meja dan menyalakan rekaman suara yang ia ambil diam-diam. Dalam keheningan malam, suara Clara dan Abram terdengar jelas.
"Kau yakin rencana ini akan berhasil?"
"Tentu saja. Dengan video dan foto itu, Raka akan kehilangan pekerjaannya. Setelah itu, Gendhis pasti tidak tahan dan menceraikannya."
Raka mengepalkan tangannya. Gendhis mengerutkan keningnya, lalu menggenggam tangan suaminya untuk menenangkan.
"Aku sudah menduga mereka bekerja sama," gumam Raka dengan nada penuh kemarahan.
Dion melanjutkan, "Tidak hanya itu, tim IT yang ditugaskan oleh James telah mengonfirmasi bahwa video dan foto itu bukan hasil editan. Tapi, mereka ragu apakah pria di dalam video benar-benar kamu."
Gendhis mengangkat alisnya. "Maksudnya?"
Dion menarik napas dalam. "Mereka mengatakan bahwa wajah pria dalam video itu terlalu buram dan gelap. Pihak IT menduga ada kemungkinan teknik manipulasi pencahayaan digunakan untuk menciptakan kesan bahwa pria itu adalah Raka, padahal bisa saja orang lain."
Raka mengangguk mantap. "Kalau begitu, kita harus melawan. Aku tidak akan tinggal diam."
Gendhis menoleh ke suaminya dengan penuh keyakinan. "Kita temui pengacara secepatnya."
***
Keesokan harinya, Raka dan Gendhis tiba di kantor pengacara Hotma Perez. Kantor itu terletak di salah satu gedung pencakar langit di pusat kota, mewah dan elegan, mencerminkan reputasi pemiliknya.
Di dalam ruangan, seorang pria dengan setelan mencolok warna merah muda duduk di balik meja besar dari kayu mahoni. Kacamata hitam bertengger di hidungnya meskipun ruangan itu tidak terlalu terang. Jari-jarinya yang dihiasi cincin berlian mengetuk-ngetuk meja dengan santai.
"Selamat datang, Raka dan Gendhis," ujarnya dengan suara berat yang berkarisma.
Raka langsung mengenali sosok ini. Hotma Perez, pengacara flamboyan dengan gaya nyentrik, namun reputasinya sebagai pembela hukum terbaik di negeri ini tidak bisa disangkal.
"Saya sudah membaca kasus Anda," lanjut Hotma, menyesap kopi dari cangkir porselen mahalnya. "Dan saya suka tantangan. Apalagi kalau berurusan dengan orang-orang licik seperti Clara dan Abram."
Raka mengangguk. "Kami siap bekerja sama, Pak Hotma. Saya ingin membuktikan bahwa saya tidak bersalah."
Hotma menyeringai, menunjukkan deretan gigi putihnya. "Tentu saja, kita akan menang. Saya sudah memeriksa hasil forensik digital yang diberikan James, dan meskipun video itu tidak diedit, masih ada peluang untuk membuktikan bahwa pria di dalamnya bukan Anda."
Gendhis bertanya, "Bagaimana kita bisa melakukannya?"
"Saya akan meminta tim forensik independen untuk menganalisis lebih lanjut. Selain itu, kita juga bisa menuntut Clara atas pencemaran nama baik jika dia terus menuduh Raka tanpa bukti kuat," jawab Hotma.
Raka kemudian menyerahkan flash drive berisi rekaman suara Clara dan Abram. Hotma mengambilnya dan tersenyum puas.
"Ini dia. Senjata utama kita. Saya pastikan akan menjebloskan kedua orang yang menjebak Anda," ujar Hotma.
***
Sementara itu, di kantor kepolisian, Clara duduk dengan wajah penuh kepanikan. Di hadapannya, seorang penyidik menatapnya tajam.
"Saudari Clara, bisa Anda jelaskan hubungan Anda dengan Raka?" tanya penyidik dengan nada tegas.
Clara berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meski keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. "Saya memiliki hubungan spesial dengan Raka. Kami saling mencintai, tapi dia selalu menyangkalnya di depan umum."
Penyidik mengangkat alis. "Jadi Anda mengklaim bahwa Anda dan Raka memiliki hubungan?"
Clara mengangguk cepat. "Benar. Dan malam itu, kami menghabiskan waktu bersama di kamar hotel."
Polisi mencatat keterangannya dengan serius. "Tapi ada perbedaan antara memiliki hubungan dan menjebak seseorang. Apakah Anda yakin ingin mempertahankan pernyataan ini?"
Clara menggigit bibirnya, matanya sedikit berkedip gugup. Ia tahu bahwa semakin banyak ia berbicara, semakin besar kemungkinan kebohongannya terbongkar. Tapi ia harus terus bersikeras.
"Saya yakin," katanya akhirnya. "Saya hanya ingin dia bertanggung jawab."
Di ruangan berbeda, Raka duduk di kursi yang sama, tetapi dengan aura berbeda. Di sebelahnya, Hotma Perez duduk dengan santai, kaki disilangkan, dan senyum percaya diri di wajahnya.
"Saudara Raka, Anda mengetahui tuduhan yang diajukan oleh Clara?" tanya penyidik.
Raka mengangguk. "Saya mengetahuinya, dan saya dengan tegas menyatakan bahwa semua tuduhan itu tidak benar."
Hotma memasukkan tangannya ke dalam saku jas merah mudanya, lalu berbicara dengan nada santai. "Pak Penyidik, saya ingin mengajukan dua hal. Pertama, kami memiliki bukti rekaman suara yang membuktikan bahwa Clara dan Abram bekerja sama untuk menjebak klien saya. Dan kedua, tim forensik digital masih belum bisa memastikan bahwa pria dalam video adalah Raka. Jika ada keraguan dalam bukti, maka seharusnya klien saya tidak dianggap bersalah."
Penyidik mengangguk, mencatat semua pernyataan tersebut. "Kami akan meninjau bukti ini. Namun, sampai ada kepastian lebih lanjut, Saudara Raka diharapkan tetap kooperatif dalam penyelidikan."
"Tentu," jawab Hotma dengan senyum penuh kemenangan.
***
Di waktu yang sama, suasana di Perusahaan Starfood semakin panas. Para petinggi perusahaan mulai mendesak James untuk segera mencari pengganti Raka sebagai manajer pemasaran.
"Kami tidak bisa membiarkan perusahaan terlibat skandal seperti ini," ujar salah satu direksi dalam rapat darurat.
James menghela napas panjang, lalu menatap tajam orang-orang di ruangan itu. "Saya tidak akan memecat Raka sampai ada keputusan yang jelas dari kepolisian."
"Tapi, publikasi buruk ini merugikan perusahaan!" bantah seorang direktur lainnya.
James mengetuk jarinya di meja dengan tenang. "Saya tahu dampaknya, dan saya juga tahu bahwa seseorang sedang mencoba menjebak Raka. Jika kita memutuskan hubungan dengannya terlalu cepat, bisa jadi kita kehilangan seseorang yang benar-benar berintegritas."
Salah satu direksi lainnya mendesah. "Tetapi, tetap saja kita harus memiliki rencana cadangan. Jika kasus ini berlarut-larut, kita perlu mencari kandidat pengganti."
James terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Baiklah. Kita akan mempertimbangkan pengganti sementara. Tapi saya tetap akan menunggu hasil penyelidikan sebelum mengambil keputusan final."
Namun, dalam hatinya, ia tahu bahwa keputusan ini hanya akan memperkeruh keadaan.
***
Bersambung...
Terima Kasih telah membaca...
Aku minta doanya ya teman-teman sudah tiga hari aku sakit cacar. Ini aku paksakan menulis sedang kerjaan real life aku hentikan dulu. Minta doa semoga aku lekas sembuh... Sehat-sehat ya, Kakak-kakak pembaca. Maaf kalau beberapa hari ga update terus update lama. 😭😢
dengan diawali penderitaan dari tokoh2nya berakhir dengan bahagia semua....
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️❤️