Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27.
"Robi, bawakan setelan baru dengan ukuran yang biasa dipakai Kiara. Aku tidak mau dia keluar dari sini dengan pakaian yang berantakan seperti itu."
"Baik pak." Sahut Robi.
Kiara diam saja, Robi keluar dari ruangan. Kenan melirik ke arahnya. dia melihatku? ah ternyata dia setampan itu. Kiara menunduk malu karena pipinya kini memerah bak tomat.
"Pak kenan...." Kiara memanggil sambil menatap kenan malu-malu.
"Duduk di sana dan rapikan dirimu. jangan membantah lagi." Kata kenan sambil tangannya ikut memerintah.
Tak butuh waktu lama Robi masuk membawa paper bag berisi setelan kemeja baru dan Kiara menerimanya. karena jarak mereka cukup dekat, Kiara berbisik pelan hampir menempel di telinga Robi.
"Robi... di ruangan ini ada kamar tersembunyi kan?" Di sekeliling hanya tembok dan rak buku yang tertata rapih.
Sebagai mantan anak pemilik perusahaan, Kiara tahu betul kalau ruangan CEO pasti punya fasilitas istirahat di balik dinding. persis seperti ruangan ayahnya dulu tempat dia sering numpang tidur siang.
"Ada Nona." jawab Robi pelan.
"Bagian mana? bisa tunjukkan?" Kiara menatap Robi penuh harap. Robi mengangkat jari dan menunjuk satu sisi.
Di seberang sana, Kenan yang sedang duduk di kursi kebesarannya mulai menatap intens. matanya ada sirat tajam melihat pemandangan itu. dia tidak suka wajah Kiara yang hampir menempel di pipi Robi.
"Kalian jangan coba-coba selingkuh di depanku!" Kata Kenan dengan nada dingin.
Robi dan Kiara sontak kaget dan menatap Kenan bersamaan. ada apa dengannya? dia cemburu dengan Robi? seketika jiwa usil Kiara meronta-ronta melihat wajah cemburu Kenan.
"Asal Bapak tahu saja, Pak Robi ini sebenarnya mantan saya." Kiara memanasi sementara Robi kaget bukan main.
Robi melirik Kiara dengan tatapan seolah ingin berteriak.
"Nona, tolong jangan cemari nama baik saya!" Tapi Kiara justru tidak peduli.
"Oh ya, mantan paling berkesan. disitu ternyata kamarnya. kenapa melihatku begitu mantan kandung? jangan bilang selain Pak Kenan. kamu juga suka lihat aku berantakan begini? Aku imut kan? Ah... aku masih ingat betapa manisnya kamu waktu kita teleponan dulu." goda Kiara sambil mengerlingkan mata.
Robi yang sudah terlanjur panik ingin memegang tangan Kiara supaya jelaskan ke Pak Kenan. mungkin begitu isi hati Robi yang malang.
Tanpa rasa bersalah, Kiara melenggang pergi masuk ke dalam kamar itu. meninggalkan Kenan yang kini menatap Robi dengan sorot mata penuh permusuhan. Robi sendiri sudah keringat dingin setengah mati. mencoba membersihkan nama baiknya dengan mengatakan, mana mungkin Nona mantan saya Pak ha. ha. ha. mengenal saja baru-baru ini. Kenan tidak peduli, dia sudah dikuasai api cemburu.
Kiara masuk ke kamar yang ternyata sangat luas dan mewah. sambil membuka bajunya. Ia berharap kedua pria di luar sana benar-benar bertengkar. seru juga kalau terdengar sampai kedalam.
"Robi, siapkan jawabanmu nanti!"
Kiara baru saja melepas kemeja lamanya yang kusut. tiba-tiba pintu didobrak keras dari luar. Dia lupa mengunci pintu saking senangnya mengerjai mereka dan melihat mewahnya fasilitas kamar itu.
"Akhhhhhhhhhh! Siapa? Siapa?!" teriak Kiara refleks menutupi tubuhnya dengan kemeja baru yang belum sempat dipakai.
Kenan tidak menjawab. dengan langkah lebar, dia langsung menarik pinggang Kiara dan menguncinya di atas ranjang king size yang empuk.
"Jadi kalian benar-benar punya hubungan?"
Dia sangat marah, Kenan menatap mata Kiara seolah mengatakan dia tidak suka wanita itu punya hubungan atau memiliki mantan.
"Ha... ha... ha... mana mungkin Pak. itu cuma bercanda sumpah! jadi bisa lepaskan saya Pak. saya mau bersih-bersih ini!" Kiara mencoba meronta, tapi tenaganya bukan tandingan Kenan.
Kenan tidak melepaskannya. tatapannya mendalam, penuh gairah yang sulit disembunyikan lagi.
"Aku menginginkanmu, Kiara."
"Tapi Pak..."
Kiara menahan tangan kenan yang mulai meraba-raba perutnya. apa-apaan dia, kenapa tiba-tiba berpikiran mesum. pekik Kiara tertahan.
"Aku tidak akan melewati batasku jika kamu tidak mengizinkan." bisik Kenan, menahan diri di sisa kewarasannya.
"Boleh?"
Kiara menatap mata Kenan yang penuh kesungguhan. perlahan, dia mengangguk malu. memberikan izin yang ditunggu pria itu. keduanya benar-benar melakukannya disana siang itu. untuk kedua kalinya tanpa pengaruh apapun.
***
Satu jam kemudian, Kiara dan Kenan keluar dari kamar secara bersamaan. Kiara berjalan dengan langkah yang sedikit gemetar, tenaganya benar-benar terkuras habis. Ia rasanya ingin tidur saja sampai besok, tapi kondisi memaksa dia tetap berjalan normal meski kakinya sudah tidak sanggup menopang. ahh andai ini dirumah dia ingin istirahat, tenaga kenan benar-benar mirip hewan buas.
Robi yang masih menunggu di luar ruangan langsung berdiri. melihat wajah Kiara yang kelelahan seketika dia panik. takutnya kedua orang itu mungkin bertengkar didalam sana.
"Nona, Anda baik-baik saja? mau saya panggilkan dokter?" tanya Robi yakin kemungkinan pertengkaran benar-benar terjadi di dalam sana.
"Bosmu baru saja habis perkosa aku, tahu tidak?!" jawab Kiara asal tapi memang kenyataan, dia sungguh kesal karena tenaganya sudah habis akibat pria itu.
"Kiara!!!!" Kenan membelalak kaget dan sontak menutup mulut Kiara dengan tangannya, sementara wanita itu hanya cekikikan di balik telapak tangan besar Kenan.
"Tapi serius.... kaki saya capek banget Pak." keluh Kiara sambil melepaskan tangan Kenan.
Robi nyaris menjatuhkan ponsel di tangannya mendengar pengakuan jujur bin ajaib dari Kiara. Ia menatap Kenan dengan tatapan tidak percaya.
"Pak Kenan... Nona... kalian serius melakukan hal itu di kantor?"
"Jangan kepo!" potong Kenan cepat, wajahnya sedikit memerah menahan malu.
Setelah berdiskusi panjang mau tak mau, Kiara harus turun kembali ke divisinya. Ia sekarang resmi menjabat sebagai Manajer Tim Analis menggantikan Yara yang sudah didepak keluar gedung. saat ia masuk, semua teman-temannya sudah menunggu dengan wajah penasaran.
"Kira-kira manajer pengganti kita siapa ya?" tebak Hugo gelisah.
"Asalkan jangan yang kaya Yara." tambah Grace cepat.
"Bener tuh." sahut Noah setuju.
"Aku tidak pedulikan itu, yang penting sekarang bagaimana dengan keadaanmu Kiara? apa kamu dihukum? wajahmu tampak lelah." Tasya prihatin.
Kiara berdehem pelan.
"Aku baik-baik saja, jangan cemas. dan sebenarnya manajer baru kalian adalah aku." ucap Kiara sambil menunjuk dirinya sendiri.
Semuanya melongo kaget, lalu sorak-sorai bahagia pecah di ruangan itu. Kiara hanya tersenyum tipis lalu menatap ruangan Yara yang kini menjadi miliknya. Ia masuk ke sana dan memanggil Tasya untuk ikut dengannya.
"Duduk Tasya," Ucap Kiara lembut setelah pintu tertutup.
"Sebenarnya aku tahu ada sesuatu yang terjadi padamu. matamu masih bengkak sejak pagi. Jadi jelaskan apa yang kamu tutupi dariku?"
Tasya terdiam, wajahnya mendadak sendu.
"Kiara... aku..."
"Saat dengar aku cerita soal masalahku, apa kamu merasa aku ini merepotkan?" tanya Kiara serius.
"Sama sekali tidak. Aku senang kamu menganggapku penting dan bisa mempercayakan rahasiamu padaku." jawab Tasya yakin.
"Lalu kenapa kamu tidak begitu padaku? kenapa kamu menanggung bebanmu sendirian? apa aku tidak cukup baik?"
Tasya akhirnya menyerah. dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Arkan semalam. tentang Ayahnya dan Ibu tirinya yang manipulatif, dan keinginannya untuk mengambil hak asuh adiknya tapi terkendala biaya. Kiara mendengarkan setiap kata dengan penuh empati, sesekali menggenggam tangan sahabatnya itu untuk menguatkan.
Bunyi notifikasi di ponsel Tasya. wanita itu memeriksa dan betapa terkejutnya Kiara mentransfer sejumlah uang dengan nominal yang sangat besar.
"Kiara... ini?"
"Itu sebagian dari apa yang aku dapat hari ini. semoga bisa membantumu."
"Kiara.... makasih," Tasya berhambur memeluk Kiara dengan penuh haru.
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭