BY : GULOJOWO NOVEL KE-8 😘
BRAAKK!!
Suara pintu yang di dobrak dengan keras membuat seorang laki-laki yang berprofesi sebagai guru BK itu membelalakkan matanya karena terkejut.
"APA YANG BAPAK LAKUKAN?!" Teriakan seorang kepala sekolah yang menjadi atasannya membuat laki-laki itu kesulitan menelan ludahnya.
"Ti-tidak pak, saya tidak melakukan apapun. Sumpah!" Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Namun sayangnya tidak ada yang percaya dengan omongannya itu saat melihat seorang gadis yang tergeletak tak sadarkan diri dengan kondisi baju seragamnya yang sudah terbuka keseluruhan kancingnya.
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk ikuti kelanjutannya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GuloJowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 34
Setelah kepergian Vida, sahabat dari istrinya itu Pak Ivan langsung masuk ke dalam kamar dan berpapasan dengan Mama Davira yang juga akan keluar dari kamar anaknya. Pak Ivan tidak tahu kalau ternyata di dalam kamarnya ada mama mertuanya.
"Ma,"
Mama Davira mengulas senyum. "Mama keluar dulu." Setelah itu Mama Davira segera berlalu meninggalkan kamar anaknya.
Pak Ivan melangkah menuju ke ranjang dan mendengarkan isak tangis istrinya dari balik selimut. Pak Ivan mendudukkan tubuhnya di samping sang istri. Ditariknya selimut itu perlahan namun istrinya itu memegangi selimutnya dengan kuat.
"Kenapa menangis? Apa ada yang sakit? Yang mana yang sakit biar aku lihat?" Pak Ivan menarik selimut lagi.
"Ish," Akhirnya Bentari melepaskan genggamannya pada selimut. Pak Ivan pun langsung menyingkap selimut itu dari tubuh sang istri.
"Kenapa heem?" Pak Ivan mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan rambut istrinya yang menutupi wajahnya, namun tangannya itu langsung ditepis oleh sang istri.
Bentari bangkit lalu tanpa aba-aba dirinya langsung memukuli dada suaminya. "Ini semua gara-gara bapak. Hiks.. hiks.."
Pak Ivan hanya diam saja dan membiarkan istrinya itu melampiaskan amarahnya tanpa berniat menghalanginya. Pak Ivan tahu kalau istrinya itu pasti selama ini merasa tertekan.
Pukulan tangan Bentari semakin melemah dan kepala Bentari langsung bersandar di dada bidang suaminya. "Hiks.. hiks.. Pak Ivan jahat. Kenapa Pak Ivan harus ada di dalam hidup Tari?"
Pak Ivan langsung merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. "Aku juga tidak pernah meminta semua ini. Akan tetapi aku juga tidak bisa melawan jika takdir sudah bekerja. Aku bisa apa Tari?" Pak Ivan semakin mengeratkan pelukannya karena isak tangis istrinya itu semakin terdengar menyayat hati. "Mungkin ini sudah menjadi takdir kita berdua untuk bersatu. Jadi belajarlah untuk menerimanya dengan ikhlas. Karena aku pun juga belajar menerima semua ini dengan ikhlas."
"Tap-tapi aku nggak bisa pak. Aku nggak bisa mencintai bapak. Hati ini nggak bisa dipaksakan."
"Bisa, pasti bisa! Kamu hanya perlu belajar. Belajar membuka hati mu untuk ku, suami mu. Pelan-pelan saja, aku tidak akan memaksa."
"Hiks.. hiks.."
"Sudah ya, jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu bisa sakit lagi." Pak Ivan mengusap air mata di kedua pipi istrinya. "Sekarang istirahatlah." Pak Ivan merebahkan tubuh istrinya itu perlahan kemudian menarik selimut untuk membalut tubuh istrinya.
*****
Karena sudah merasa sehat, Bentari memilih masuk kuliah karena dirinya sudah dua hari tidak masuk. Pak Ivan tidak mengizinkan istrinya berangkat sendiri. Jadi dirinya akan mengantarkan istrinya itu berangkat kuliah. Dan jika nanti kelas usai, Pak Ivan meminta kepada sang istri untuk menghubunginya agar dirinya bisa langsung menjemputnya.
Dengan setengah gondok Bentari meraih tangan suaminya dan langsung menciumnya. Namun setelahnya pak Ivan tidak mau melepaskan genggaman tangan keduanya dan malah semakin mengeratkan.
"Ish pak, apa lagi?" Bentari mencoba menarik tangannya namun genggaman itu malah semakin menguat.
"Cium yang benar, jangan seperti itu."
"Ish," Bentari merengut. Namun dirinya kembali mengulang mencium tangan suaminya dengan takzim.
Melihat itu pak Ivan mengulas senyum. "Kemari." Pak Ivan menarik tangan sang istri yang masih di dalam genggamannya untuk mendekat.
"Apa lagi?"
"Kemari."
"Ish," Lagi-lagi Bentari mengerucutkan bibirnya. Namun tak urung dirinya mendekat ke arah suaminya itu. Dan......
Cup! Pak Ivan langsung mengecup dalam dahi istrinya. Bentari pun memejamkan matanya menikmati kecupan hangat suaminya. Hati Bentari berdesir. Dapat ia rasakan ketulusan suaminya itu. Setelah itu Bentari segera keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam kampus. Pak Ivan segera memutar kemudinya meninggalkan kampus sang istri menuju ke sekolah tempatnya mengajar.
Bentari melangkah seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Vida sahabatnya. Namun dirinya sama sekali tidak menemukan sahabatnya itu. Saat tiba di lorong yang sepi, tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya.
"Eh," Hampir saja Bentari menjerit. Namun saat dirinya melihat siapa yang menariknya, Bentari langsung mengatupkan bibirnya rapat. Tubuh Bentari langsung dihimpit di tembok. Kepalanya dikunci dengan kedua tangan yang menempel di tembok hingga membuatnya tidak bisa berkutik.
"Kenapa tidak membalas pesan ku? Kenapa tidak mengangkat telpon ku? Apa pak Ivan marah sama kamu?"
"Daf-Daffa jangan seperti ini nanti ada yang lihat."
"Memangnya kenapa? Bukankah semua orang sudah tahu dengan hubungan kita? Lalu apa yang kamu takutkan sayang?" Daffa mendekatkan wajahnya dan hampir saja mencium Bentari. Namun sayangnya Bentari menghindar membuat Daffa kecewa. "Kenapa? Kenapa selama ini kamu tidak pernah mengizinkan ku untuk mencium mu?" Ya, selama ini memang keduanya tidak pernah melakukan kontak fisik sejauh itu. Hanya sekedar bergandengan tangan saja.
"Daf-Daffa, kita lagi di kampus. Jangan macam-macam."
Daffa terkekeh. "Berarti kalau tidak di kampus aku boleh macam-macam?"
"Bu-bukan begitu." Sanggah Bentari.
"Ngapain kalian?"
Bentari terlonjak saat mendengar suara seseorang mengagetkan mereka. Reflek dirinya langsung menoleh dan mendapati Vida berjalan ke arahnya.
"Vi-Vida," Susah payah Bentari menelan ludahnya. Dirinya merasa seperti sedang ketahuan selingkuh. Tapi bukankah itu benar? Memangnya kalau bukan selingkuh terus apa namanya? Menjalin hubungan dengan cowok lain di belakang suaminya.
"Ngapain kalian?" Ulang Vida.
"Ti-tidak Vid, kita hanya ngobrol sebentar." Sahut Bentari.
"Biasalah Vid, loe kayak nggak tahu aja. Gue kan rindu sama kekasih gue."
"Daffa! Ish," Bentari langsung menginjak kakii Daffa dengan kuat hingga membuat sang empunya kesakitan.
"Auuwh! Apa sih yang?!"
Melihat itu Vida tersenyum sinis. "Lanjutkan drama kalian." Setelah mengucapkan itu Vida langsung berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Vida tunggu!" Bentari mendorong tubuh Daffa yang ada di depannya dan langsung mengejar sahabatnya itu. Bentari tidak ingin Vida salah paham dan nantinya mengadu yang tidak-tidak kepada mamanya atau bahkan suaminya.
Vida semakin mempercepat langkahnya menuju ke kelas tanpa menghiraukan teriakan dari Bentari. Vida sungguh muak dengan sikap sahabatnya itu. Sahabat yang dikiranya baik ternyata tak ubahnya dengan wanita-wanita nakal diluaran sana. Wanita beristri namun masih mencari laki-laki lain demi kesenangannya. Vida pikir hanya laki-laki saja yang bisa berbuat seperti itu. Namun ternyata dirinya salah. Wanita pun juga bisa setega itu menghianati suaminya. Laki-laki dan perempuan sekarang sama saja! Sama-sama tidak bisa menjaga rumah tangganya dengan baik. Bukannya mereka saling melengkapi kekurangan pasangannya, namun mereka malah mencari kesenangan lain di luaran sana. Apa mereka itu tidak mikir sebelum melakukan itu semua? Bagaimana jika posisinya di balik dan dirinya yang diduakan oleh pasangannya? Apa nantinya mereka tidak akan sakit hati?
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
ambil aja,biar Bentari nyesal