Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Milikku
Lusi berteriak memanggil nama Hasan, Ia juga memarahi satpam karena tidak mau membukakan pagar dan mengijinkannya masuk kedalam.
" Satpam sialan, heeyyy cepat buka gerbang nya. "
" Weh bisa diam nggak sih, ganggu saja. " Bentak para tetangga yang benar-benar merasa terganggu dengan suara cempreng wanita itu.
Lusi akhirnya diam, namun mulutnya masih ngedumel. Ia terus memaki Hasan yang tega mengabaikan nya.
" Dasar Pria bodoh, bisa- bisanya dia mengabaikan aku. Apa matanya sudah buta, cewek secantik aku di anggurin. Baiklah Hasan, akan aku buat kamu cemburu dan kelak kau akan memohon- mohon padaku untuk balikan. Jangan panggil aku Lusi kalau aku tidak bisa menaklukkan Pria sepertimu. "
Sampai saat ini, Lusi masih saja mengira kalau dirinya akan mudah meluluhkan mantan kekasihnya itu sama seperti dulu.
" Assalamu'alaikum. "
" Waalaikum salam ! Eh, Nak. Kamu sudah kembali. " Umi nampak bahagia melihat kedatangan anak laki-lakinya.
Hasan mencium punggung tangan Umi nya, Umi langsung mengajaknya duduk dan bertanya mengenai hasil dari perjuangannya beberapa hari ini.
" Maaf Umi, sepertinya Hasan tidak berhasil. " Jawab Hasan dengan wajah murung.
" Maksudnya, dia tidak ikut pulang dan masih memilih tinggal disana. " Tanya Umi lagi.
Hasan menggeleng dan menceritakan semua perjuangan nya disana.
" Ya sudah Nak, tidak apa- apa. Yang penting saat ini dia ikut pulang, masalah gimana nanti itu murni keputusan dia. Kita tidak boleh memaksakan keinginan kita. "
" Tapi Umi, Hasan..... " Hasan ingin protes, Ia tidak setuju dengan pendapat Uminya.
Sedangkan Umi justru tersenyum melihat gelagat Putranya, tidak ada seorang pun yang mengenal karakter Putranya sebaik Ia mengenalnya.
" Nak, kalau memang dia di takdirkan menjadi jodoh mu, suatu saat pasti akan di persatukan. Berdo'a dan memohon, hanya Allah yang mampu membolak-balikan hati hambaNya, percayalah sama Umi. "
***
Sya bangun di pagi hari dan mulai merapikan kamarnya, Ia menemukan sebuah amplop di atas meja rias nya.
" Apa ini. " Gumam Sya.
Karena penasaran Sya pun membuka amplop itu, dia menarik kursi agar bisa duduk dengan nyaman.
Ia melangkah keluar sambil membawa amplop tadi di tangannya, Ia melihat Uminya yang sedang membantu Bibi menyiapkan sarapan.
" Eh sudah bangun Nak. "
" Iya Umi. "
Umi menoleh setelah merasa Putrinya diam saja.
" Ada apa Nak, apa kamu sudah lapar. Tunggu sebentar ya, ini sebentar lagi selesai. "
" Umi, apa Umi tidak memberikan ini kepada Mas Hasan. " Tanya Sya.
" Umi sudah kasih, tapi Hasan bilang dia tidak akan pernah membubuhkan tanda tangannya karena Ia tidak akan pernah meninggalkan kamu. Bukan hanya itu saja Nak. "
Umi melangkah ke kamarnya, tidak berselang lama Ia keluar dengan membawa sebuah amplop dan menyerahkannya kepada Sya.
" Dia juga memberikan nafkah setiap bulannya padamu. "
Dengan wajah bingung Sya mengambil amplop itu untuk melihat isinya.
" Tapi bagaimana mungkin Umi, bukannya dia akan menikah dengan kekasihnya yang juga sudah hamil anaknya. Umi, aku tidak berhak menerima ini. Lagipula, Ayah mertua juga pasti akan marah besar kalau tau Mas Hasan memberikan uangnya padaku sebanyak ini. " Ucap Sya
" Hamil Nak, apa maksudnya. " Tanya Umi yang sangat shock mendengar penuturan Sya.
Selama ini Umi tidak tau menahu tentang menantu nya itu, tapi kalau benar menantunya itu menghamili orang lain, tentu saja Umi tidak akan pernah setuju kalau sampai Sya memilih rujuk kembali.
" Iya Umi, cinta pertama Mas Hasan juga sedang hamil anak Mas Hasan. Anak itu lebih beruntung Umi, karena Ia hadir karena rasa cinta Ayah dan juga Ibunya. Sedangkan anak Sya, dia tidak.....
" Sudahlah Nak, tidak perlu berkecil hati. Sekarang lebih baik kamu sarapan dulu, jangan sampai jatuh sakit nanti nya. "
Sya mengangguk dan menuju ke ruang makan, pagi itu mereka sarapan bersama-sama.
Di saat sarapan dari luar terdengar seseorang mengucap salam, mereka berdua menjawab salam itu. Umi melihat siapa yang datang, rasanya wanita itu ingin marah kalau mengingat apa yang di katakan Putrinya, namun Ia tidak sampai hati memarahi menantunya.
" Ah Nak, sini sarapan sama-sama. Kamu pasti belum sarapan kan. "
Disaat masih sarapan Sya pamit lebih dulu, Ia ingin kembali ke kamarnya. Hasan ingin menyusul namun Umi menahannya.
" Nak, apa Umi boleh bicara sebentar. " Tanya Umi dan Hasan pun mengangguk.
" Iya, tentu saja boleh Umi. " Jawab Hasan.
Umi mengajak Hasan keruang tengah dan menanyakan perihal kehamilan yang di katakan Sya.
Hasan meminta maaf dan bersumpah kalau apa yang Uminya dengar itu tidak benar.
" Umi, itu tidaklah benar. Hasan berani bersumpah kalau itu bukan milik Hasan, Hasan tidak pernah melakukan hal itu kepada siapa pun selain dengan Istri Hasan. "
" Lalu, kalau bukan milik mu terus dia hamil dengan siapa. " Tanya Umi lagi.
" Dia hamil bersama Pria lain, Pria yang selama ini juga menjadi kekasihnya. Umi, Hasan mohon agar Umi percaya pada Hasan. Karena memang Hasan tidak pernah melakukan itu. "
Umi mengangguk, lagi pula tidak ada bukti kalau menantunya itu menghamili wanita lain di luar pernikahannya.
" Umi percaya padamu Nak, tapi jika kelak Umi tau kalau semuanya benar, maka Umi juga tidak akan tinggal diam. Pergilah temui Sya, mungkin dia juga berpikiran sama seperti Umi. "
Hasan berterima kasih dan segera menemui Istrinya, Ia harus menjelaskan semuanya agar kesalahan fahaman itu tidak berlanjut.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan