Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru 2
"Nanti waktu pulang kita ke rumah baru ya?"ucapnya, kami sedang berada didalam mobil menuju kantor.
"Kenapa?"tanyaku
"Ya mau lihat-lihat, sekalian kita nginap disitu kalau perlu" ujarnya dengan wajah menggoda. Jadi merinding.
"Gak, kita lihat aja. Gak usah nginap"
"Hehe. Iya-iya."Dia tertawa, aku mengerucutkan bibir kesal, selalu saja dia menggodaku
"Aku kerja dulu bang"
"Hati-hati sayang, kiss dulu dong" menunjuk pipi kanannya
Apa-apaan dia, tak tau malu apa, kalau dilihat orang gimana?
"Gak akan ada yang lihat dek"
Melihat sekitar, sudah banyak orang, semoga saja tidak ada yang melihat. Mengecup pipinya cepat.
"Satu lagi biar adil" katanya
"Gak mau, malu"
"Pipimu merah, pengen cium boleh"katanya gemas
"Hah?"
"Berarti boleh"
Aku keluar mobil, memengang dua pipi, malu..
'apa benar semerah itu?'
***
#IPARKU_MASA_LALUKU_28
Sorenya seperti yang dijanjikan, kami sedang menuju rumah yang sudah dibeli oleh bang Yusuf. Tepat didepan rumah kami turun.
Rumah ini terlihat sangat asri dengan warna putih dan hitam nampak menawan, berlantai dua, dengan taman mini serta ada pohon disampingnya.
"Ayo masuk,"ajaknya seraya membuka pintu
Aku hanya mengikuti dari belakangnya, melihat sekitarnya, memang seperti rumah impian.
"Ini ruang tamunya"
Ruang yang besar,diterangi oleh lampu, lampunya memang biasa,ĺ ini memberi efek sederhana dan mewah dengan dekorasi ruangan yang sangat menawan. Dia menarik tanganku mengikutinya .
"Ini dapur"tunjuknya, dapur dengan konsep minimalis, dengan kulkas, rak-rak diatasnya, panci, wajan juga, serta dilengkapi meja dan kursi khusus didalam dapur.
Bang Yusuf membuka kulkas mengambil minuman dingin dari dalam kulkas, dan duduk disalah satu kursi.
"Gimana?"tanyanya setelah meminum minumannya.
"Bagus" Aku ikut mengambil sebotol air dalam kulkas, ternyata didalam kulkas sudah terisi dengan lengkap, aku pun ikut duduk dihadapannya
"Tapi kok lengkap isi kulkasnya?"tanyaku penasaran
"Memang disengaja, karena abang kalau pulang kesini selalu mendadak, jadi lengkap bisa langsung dimasak" jelasnya
"Kalau busuk sayurnya gimana?"tanyaku lagi
"Gak busuk, kalau udah 2 atau 3 hari gak dimasak abang suruh ambil aja sama bibi, biar gak terbuang, jadi bisa dimakan sama bibi dan keluarganya"jelanya lagi
Aduhh. Aku kok tambah meleleh ya dengan sikapnya..
"Udah minumnya?"
"Udah!"
"Ayo kita kekamar" Bang Yusuf menarikku tanganku menaiki tangga kelantai atas, membuka salah satu pintu.
"Ini kamar kita"
Aku benar-benar takjub dibuatnya. Kamarnya luas dengan rak buku bentuk segi-enam, sofa serta tempat tidur didalamnya. Aku membuka gorden, terlihat matahari sore dari balkon kamar, indah sekali.
"Gak boleh melamun sayang, suka gak?"
Bang Yusuf sudah memelukku dari belakang
"Suka!"jawabku seraya menyandarkan tubuh didadanya.
"Jadi, kita nginap disinikan?"
"Gak , kita pulang aja, aku mau mandi. Lagian disini gak ada baju ganti"
"Bagus dong"ucapnya sambil menaik-turunkan alisnya
"Apa yang bagus, lagian disini gak ada baju ganti, dasar mesum"
"Itu lebih bagus"
Ck. Apanya bagus
"Aaa...abang, turunin " bang Yusuf membawaku dalam kamar mandi, dengan cepat menyalakan shower hingga tubuh kami basah dengan masih memakai baju lengkap.
Lihatlah sekarang ini adalah pemaksaan yang nyata, susah memang membantah. Sungguh bang Yusuf menyebalkan.
Aku menggerutu tak henti, bagaimana tidak, aku yang masih setengah basah tak diizinkan pergi, malah terus dipeluk agar basah semua. Ter-la-lu kalau kata Rhoma Irama.
Aku menggigil kedinginan karena baju basah tadi, aku hanya memakai baju handuk yang ada disini. Menyembulkan kepala disela-sela pintu, melihat keadaan sekitar, aman. Tak ada bang Yusuf.
Sudah ada baju ganti warna merah muda serta mukenah diranjang sepertinya bang Yusuf yang menyiapkannya.
Merenggut cepat gaun dan kembali masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaian.
Sejak kapan tipe pakaian bang Yusuf begini, gaun selutut tanpa lengan. Memalukan, bisa dikira aku menggodanya nanti.
Celigak-celinguk melihat keberadaan bang Yusuf, tak ada juga. Dengan cepat meraih mukenah, belum kupakai tiba-tiba pintu terbuka.
Terciduk sudah daku. Dasar baju, aku benci. Hiks...hiks. Bang Yusuf memalingkan muka dengan wajah memerahnya, apa aku seburuk itu.
"Kita shalat?"tanyanya dingin. Tumben sekali.
"Iya" jawabku
Memakai mukenah cepat dan melaksanakan shalat berjamaah bersama.
Aku benar-benar malu dengan baju ini, setelah shalat isya pun aku masih memakainya. Malu sekali rasanya. Aku hanya menunduk.
"Dek, abang lapar" ujarnya duduk disebelahku seraya mengusap perutnya
Dengan berat hati aku membuka mukenah itu, tak mungkin memasak dengan ini, mukenah ini sangat cantik, bisa-bisa terbakar, kan aku bukan ahli.
Cepat aku berlari keluar kamar menuruni tangga dan mulai mengeluarkan bahan yang ingin dimasak.
Mencuci beras beberapa kali, tak sulit menemukan karena memang tertata didekat wastafel, dan memasaknya dikosmos. Mengupas kentang dan wortel, serta menyiapkan udang dan bakso pasti akan jadi sop yang enak.
"Masak apa dek" Aku tak menjawab, masih fokus dengan bahan masakan.
"Boleh dibantu gak"ucapnya pelan ditelingaku. Tubuh seakan membeku ditempat. Mengerjap beberapa kali.
"Bo-boleh", dengan sigap dia meraih pisau dan wortel ditanganku mulai memotong.
"Dek, jangan bengong. Cepet " aku tersadar, mengerjap beberapa kali dan kembali ke tugas awal.
Merebus air memasukkan beberapa bumbu, tak lupa udang dan bakso. Setelah semua terpotong aku mencucinya, ikut memasukkan dalam kuah sop yang sudah mendidih.
Akhirnya, masakan siap serta nasi pun sudah matang, menyendoknya untuk bang Yusuf bergantian untukku.
"Abang cobain,"
"Gimana, enak?"
"Enak, kalau perlu abang aja habiskan semua."ujarnya
"Aku kan juga mau makan"
Mulai menyuapinya satu sendok sup serta nasi, Lumayan. Kenapa lumayan karena yang enak tuh kayak sup yang dimasak Ibu.
Usai makan aku kembali ingin ke kamar menyembunyikan diriku sendiri. Sementara bang Yusuf masih betah diruang tamu.
Menaiki tangga kelantai atas, terlihat lampu berkelap-kelip sendiri, kata bang Yusuf cuma kami yang ada disini, apa jangan-jangan hantu, disusul dengan bunyi pintu berdecit.
Berlari kembali kebawah, bang Yusuf pasti sudah lama meninggalkan rumah ini hingga berhantu. Huaaa. Dia sudah berada di ujung tangga, dengan cepat menghambur ke dekapannya.
"Kenapa lari-lari "tanyanya melihatku berlari kearahnya dengan bingung
"I-itu, kita pulang aja ya?"rengekku
"Memangnya ada apa?"
"Ada hantu"
"Hantu?"
"Iya"
"Masa sih? "Tanyanya ragu
"Beneran, tadi lampu berkelap-kelip sendiri sama bunyi pintu, tuh diatas"
Bang Yusuf mulai berjalan keatas,aku yang ketakutan tak berani melepaskan tangannya. Memejamkan mata tak mau melihat apa pun hanya mengikuti langkahnya.
"Ini udah rusak, besok akan ada yang memperbaiki " jelasnya tentang lampu itu, dan mematikannya.
Satu persatu melewati pintu kamar, hanya kamar kami yang pintunya terbuka. Bang Yusuf membuka pintu dan menyalakan lampu, terasa tubuhnya tiba-tiba membeku didepan pintu.
"Bang, Abang kenapa?" Dia tak menjawab, masih membeku ditempat.
"Bang!" Tetap tak menjawab. Dia berbalik kearahku, tatapannya datar kedepan tanpa melihatku disampingnya.
"Jangan ganggu aku!" Menekankan setiap katanya
Aku membulatkan mata terkejut, ada apa dengannya.
"Abang, jangan becanda. Ini gak lucu"ucapku mulai tergugu ketakutan, mundur perlahan.
"Ini tempat tinggalku,jangan pernah menggangguku"Dia makin mendekat, apa dia kesurupan. Dia sangat mengerikan
"Sadar bang, ini gak lucu"ucapku
aku benar-benar takut. seseorang tolong aku
"Aku akan ambil tubuh ini sebagai tumbal. Camkan itu"katanya lagi, mengerikan
"Tidak!!, jangan ambil dia"Aku berhambur memeluk tubuh bang Yusuf, tak mau kehilangannya.
"Lepaskan!"bentaknya seraya memberontak pelan
"Tidak, Bang sadarlah. Jangan tinggalin aku. Hiks.. " terasa tangannya membalas pelukanku, seketika aku membeku
"Kena!!, hahaha"tawanya mengelegar memenuhi ruangan
'Apa ini!'
***
Hola Author hadir lagi, jangan lupa like, vote, comen and follow me
Author masih belajar buat nulis, dan Author cuma nulis buat hobi jadi maklum semua ya, terkadang Author gak punya ide buat nulis.
Dukungan kalian yang buat Author semangat.
love you all 😍😍😍
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati