"Setelah anak itu lahir, mari kita berpisah. Tanda tangan semua surat-surat ini," ucap pria dingin tersebut pada wanita yang telah mengandung benihnya.
Sebuah kesalahan telah mereka lakukan di Italy, membuat keduanya harus menikah untuk menutupi aib keluarga. Bagaimana kisah Dito si suami dingin dengan Tiwi, istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Bersama
Pria Dingin Itu Suamiku Bagian 34
Oleh Sept
Dito terdiam, matanya kemudian beralih pada bucket bunga yang sudah jatuh di atas lantai.
"Sepertinya aku salah datang ke sini," batin Dito yang merasa tertolak seketika itu juga. Namun, satu hal yang membuatnya kaget, karena tiba-tiba Tiwi memukul tubuhnya.
"Kenapa baru datang? Kenapa ...?"
Tiwi terus memukul tubuh Dito, semakin lama pukulan itu semakin melemah.
Tidak jauh dari sana, Sienna yang sudah pakai baju princess dengan bando seperti boneka datang mendekat dituntun oleh babysitter.
Tiwi kemudian menghentikan aksinya, sedangkan Dito, pria tersebut membeku. Cantik sekali princessnya itu. Menggemaskan, manis sekali. Pipinya cubby, apa boleh dia sekedar menyentuh pipinya? Dito sepertinya takut saat akan menyentuh Sienna.
Nyonya Haidar melihat dari jauh dengan suaminya.
"Anak itu bodohh sekali, Pa. Hanya bisa diam menunggu di depan ... di dalam mobil," ucap nyonya Haidar sambil melihat pemandangan yang langka. Setelah sekian lama, akhirnya Dito muncul di depan Tiwi dan anak mereka.
Sementara itu, Tiwi yang mulai bisa kontrol emosi. Dia kemudian meraih Sienna. Menggendong putri kecilnya yang sangat imut dan mirip sekali dengan papanya.
"Boleh aku menyentuhnya?" tanya Dito hati-hati.
Kepala Tiwi mengangguk pelan, kemudian memberikan Sienna pada ayah kandungnya tersebut.
Sienna kecil terlihat bingung, sejak tadi hanya mendongak menatap wajah Dito.
Dito mengusap kepala Sienna, saat itu hatinya terasa nyeri. Seperti ada yang menyentil jantung pria tersebut. Ia menahan napas, menahan sesuatu yang terasa tiba-tiba sesak.
Apalagi mata Sienna yang bening itu terus saja menatapnya. Membuat Dito semakin terenyuh, sampai ia peluk saja Sienna dan juga Tiwi. Hingga Tiwi juga cukup terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu
Tiwi merasa canggung, apalagi Dito memeluknya erat dan lama. Sampai Tiwi berdehem, barulah Dito melepaskan pelukannya.
***
Kecanggungan di antara mereka sedikit tertolong karena kelucuan aksi Sienna yang sangat menggemaskan.
Sienna yang mulai bisa jalan berkali-kali hampir jatuh, tapi masih di tempat empuk, jadi semuanya tidak khawatir.
Ketika para anak panti sudah pulang, Dito tidak ikut pulang. Karena ternyata Sienna minta dipangku papanya tersebut. Sambil sering mendongak menatap soso pria tersebut.
Sepertinya, darah yang mengalir di dalam tubuh Sienna sangat kental dengan papanya. Ada ikatan darah yang tidak terlihat tapi terasa.
Tiwi yang semula sangat keras hati, setelah habis minum obatnya, karena sampai sekarang, dia masih sesekali minum obat dari dokter. Masih check beberapa bulan sekali ke rumah sakit.
Kini, ia kembali berkumpul bersama yang lain. Di ruang keluarga, sekarang dilihatnya Sienna yang tenang dalam pangkuan mantan suaminya itu.
"Sienna ... ikut siapa, sayang?" tanya sang nenek yang melihat pemandangan itu dengan hati yang senang.
Sementara itu, tangan Dito tidak henti-hentinya mengusap rambut Sienna yang tebal dengan lembut.
Karena sudah hampir sore, Sienna mulai rewel, ia pun ditidurkan oleh Tiwi. Kemudian ditunggu babysitter.
Tiwi keluar, ternyata Dito masih di sana.
"Aku pulang dulu," pamit Dito dengan gaya kikuk. Karena masih merasa canggung.
Tiwi lalu mengangguk.
"Bolehkah besok aku ke sini?"
Tiwi menggantupkan bibir, kemudian mengangguk pelan.
"Mau aku bawakan apa?"
Tiwi menggeleng.
Kedua orang ini terlihat kaku, seperti kanebo kering. Sama-sama kikuk seperti ABG yang baru PDKT.
Sampai nyonya Haidar yang mengintip sejak tadi merasa gemas sendiri.
"Ya sudah, aku pulang."
"Hati-hati."
Dito seperti enggan pulang, tapi karena bukan siapa-siapa lagi di rumah itu, ia pun akhirnya memutuskan pulang.
***
Belum ganti hari, eh malamnya Dito habis mandi langsung ke rumah orang tua Tiwi lagi.
Alasan mau memberikan mainan untuk Sienna, padahal juga modus mau ketemu Tiwi.
Sampai jam 8 malam, Dito bermain dengan Sienna. Begitu anaknya berangkat tidur, Dito mulai galau karena harus pulang lagi.
Kini, keduanya duduk di teras rumah. Sambil menikmati kopi panas sebelum pulang. Biar gak ngantuk saat nyetir.
"Wi."
"Hem."
Dito terlihat bingung ngomongnya. Malah sibuk memegangi keningnya sendiri.
"Kenapa? Sudah gak ngantuk, kan? Aku lihat tadi kamu menguap terus."
"Sudah ... sudah nggak. Ya sudah, aku pulang sekarang."
Tiwi mengantar sampai depan mobil, dan Dito pun membuka pintu mobilnya. Namun, saat ia akan masuk, dia kemudian berbalik.
Dito melangkah mendekati Tiwi, kemudian memberanikan diri memegang tangan mantan istrinya itu.
"Tinggal lah bersamaku," bersambung.